10 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 13) Lelaki Kesebelas: Rendy

Bagian 13
Lelaki Kesebelas: Rendy

Tumblr_m3t2naap741run4b3o1_500_large
Ada kalanya kamu harus mencari cinta yang sejati untukmu, tapi ada saatnya kamu harus berhenti dan menunggu karena bisa jadi cinta itu sedang mencarimu. - Maura, 25 tahun, baru habis lari pagi.

Aku terbangun di sebuah kamar yang sangat asing. Tubuhku hangat karena telah ditutup pakaian yang tebal dan selimut. Kemudian aku melihat ke bagian kananku. Sumber kehangatan yang paling kuat sedang mendengkur dengan perlahan. Wajah itu masih tak membuka mata. Napas hangatnya menyapu wajahku. Tangannya melingkar di pinggangku. Aku merasa tak nyaman hati tapi tubuhku tak menolak dekapan itu sama sekali.
Tumblr_m3q440iyc91r48gl8o1_500_large
Tubuhku tak bisa digerakkan. Diriku benar-benar rapat ke dadanya. Kuamati wajahnya dengan teliti. Tampan juga. Heyyyy... ada apa denganku? Apakah aku lupa dengan siapa harusnya aku mengatakan itu?

“Hattttccchiiiimmmm.”

Bersinku yang keras mengejutkan lelaki yang tadinya tidur dengan pulas itu. Matanya terbuka dan senyumannya mengembang. Pelukannya masih melingkar di pinggangku.

“Sudah lama bangunnya?”

Dia menyapaku sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi pipiku. Mata kami bertatapan lama. Aku menatap belahan bibirnya beberapa detik. Terpesona. Napasnya begitu harum. Mendebarkan jantungku.

“Tidurmu begitu nyenyak.”

Bibirnya mendarat di dahiku. Beberapa detik aku menahan napas karena terkejut dia melakukan itu. Lelaki itu membelai pipiku. Aku semakin berdebar. Detak jantungku hampir berhenti menunggu kelanjutan gerakannya.

“Kamu siapa? Bagaimana aku bisa berada di sini?”

148702_290794237678351_153175588106884_632177_1162600515_n_large
Aku tak ingin membayangkan bahwa dia menemukanku dalam keadaan hampir bugil di semak-semak, malam tadi.

“Aku yang membawamu ke sini.”

“Kamu lihat...”

“Maaf, aku terpaksa, kamu sudah pucat dan kedinginan begitu. Sebenarnya aku ragu untuk mendatangimu di sana. Tapi aku curiga ketika melihat laki-laki yang membawamu itu pergi begitu saja.”

“Kamu melihatnya?”

“Maaf kalau aku lancang muncul sehari sebelumnya. Aku Rendy, lelaki di daftar kencanmu. Lelaki kesebelas kalau aku tak salah ingat.”

Lelaki kesebelas? Aku lupa. Aku tak membawa catatan itu sekarang.

“Aku hanya penasaran dengan lelaki yang mengencanimu.”

“Aku tak pernah menyangka ada lelaki yang seperti Jaka. Dia membuatku...”

Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku sendiri. Rendy tersenyum dan membelai rambutku.

“Dia memang bukan laki-laki yang baik, tapi kamu juga tidak tahu siapa aku yang sebenarnya. Aku bisa jadi lebih jahat lagi dibanding dia.”

“Kalau kamu lebih jahat mungkin sekarang aku tidak berada di tempat tidur yang nyaman dan hangat begini.”

“Kamu menggigil, aku ketakutan setengah mati.”

“Aku...”

Tumblr_m3szm60ahy1run4b3o1_500_large
“Maaf kalau aku telah menyentuhmu. Aku tak punya pilihan. Di rumah ini tak ada siapa pun. Kamu begitu kedinginan.”

Aku menutup bibirnya dengan jemariku dan menggelengkan kepala.

“Tak apa. Aku tidak marah. Aku harusnya berterima kasih karena kamu telah menjagaku. Kamu pasti sepanjang malam terjaga. Matamu masih merah.”

“Apakah tetap tak apa karena aku tahu ukuranmu?” Rendy menekankan pada kata ukuran.

“Maksudmu apa? Kecil?”

Lelaki itu hampir tergelak saat aku mengangkat tanganku ingin memukulnya.

“Bukan begitu. Aku tidak bermaksud mengatakan tentang kecil besarnya.”

“Sekarang kamu sudah mengatakannya.”

“Maaf. Kamu yang mulai duluan Maura.”

“Aku penasaran cara kamu bisa menemukanku. Apa kamu punya radar?”

“Maaf karena telah iseng mengikuti kalian. Aku tak bisa menunggu sampai malam ini untuk bertemu denganmu. Kamu terlalu menggoda untuk aku biarkan jalan dengan laki-laki lain.”

Rendy menyentuh hidungku.

“Kamu pasti lapar, aku bikinkan sarapan dulu. Tetap di sini.”
Il_570xn.320356843_large
Aku mengangguk dan membiarkan dia keluar dari selimut yang melindungiku. Lelaki itu membiarkanku di dalam kamarnya yang tertata rapi. Aku merapatkan selimut dan berbaring lagi. Mataku menatap langit-langit kamarnya. Ada sesuatu yang berkilat membuatku terpana. Ada sesuatu di atas sana. Perlahan aku turun dari ranjang dan mengatupkan tirai jendela. Ada gambar wajah di atas langit-langit kamarnya. Belum begitu jelas karena lampu di kamar ini masih menyala. Butuh beberapa menit bagiku menemukan tombol untuk mematikannya. Cepat-cepat aku tekan. Gelapnya hanya beberapa detik karena detik berikutnya cahaya di langit-langit kamarnya menampakkan wajah seorang perempuan.

Perempuan dengan rambut yang dicepol. Perempuan yang tersenyum sambil menekuri layar laptopnya. Aku ternganga melihat wajahku sendiri. Sejak kapan Rendy membuat ini semua? Apakah ini tandanya dia sangat mencintaiku? Seseorang yang baru aku kenali sekarang. Ternyata telah melihatku sejak lama.

Lampu menyala, Rendy telah berdiri di dekatku. Tangannya membawa semangkuk bubur. Mangkuk itu ia letakkan di meja. Kemudian ia menarikku ke ruangan lainnya yang pintunya di sudut kamar. Aku lebih terkejut lagi menemukan wajahku lebih banyak di sana. Bahkan wajahku malam tadi. Wajah pucatku yang menggigil.

Detak jantungku semakin cepat. Aku benar-benar tak mampu berkata apa-apa. Rendy tak melepaskan tanganku. Menggenggamnya erat.

“Ini rahasia yang aku simpan sendiri. Aku berharap suatu hari punya kesempatan untuk memperlihatkannya padamu.”

Air mata perlahan jatuh ke pipiku. Selama ini, aku yang selalu berpikir untuk menutup diri karena tak mempercayai akan ada seseorang yang akan bisa mencintaiku apa adanya. Tapi hari ini dan beberapa hari sebelumnya, berkali-kali aku bertemu dengan lelaki yang melihat diriku begitu istimewa. Semua ini karena Taga yang berbaik hati mempersiapkan seratus kencan buta untukku.

“Mungkin terlalu cepat kamu melihat bagian yang ini. Padahal akan aku perlihatkan suatu hari nanti. Setidaknya bukan sekarang. Bukan untuk membuatmu jatuh cinta padaku.”

“Sayangnya aku malah ada di sini sekarang. Tak bisa kamu usir bukan?”

“Aku tahu kencan kita jadwalnya nanti malam. Tapi bisakah kamu jangan pulang. Di sini saja temani aku sampai besok.”

“Sampai besok?”

“Sampai kamu akan kencan dengan lelaki berikutnya.”

“Kamu mau mengantarkan aku ke tempat kencannya?”

“Tentu saja.”

Rendy membelai pipiku yang sedetik kemudian merona.

“Sekarang saatnya makan bubur, kamu harus cepat sehat bukan. Kencan hari ini masih panjang.”

“Sejak kapan kamu mulai memotretku?”

“Sejak pertama kali melihatmu di sudut cafe itu. Sibuk dengan kopi dan laptopmu.”

“Kamu melihatku?”

“Siapa yang tak akan melihat perempuan yang sangat lucu seperti kamu Maura?”

Hatiku penuh oleh kegembiraan saat ini. Terima kasih Taga. Banyak sekali yang telah kamu lakukan hingga hari ini pun aku merasa sangat berbahagia. Aku tahu kejadian semalam cukup mengejutkan. Tapi memang itu yang harus aku tanggung. Aku yang salah karena menerima ajakan Jaka untuk pergi sejauh itu.

“Biarkan aku menjadikanmu Tuan Putri hari ini.”

Tumblr_m3qq7ipvh21qa4ahwo5_1280_large

Satu gerakan Rendy telah menggendongku. Aroma tubuhnya menyeruak ke paru-paruku. Bau yang menghangatkanku. Dia membawaku ke tempat tidur. Mendudukkanku di sana. Meraih bubur dan mulai menyuapiku. Sedikit malu aku makan. Makan dengan cepat seperti biasa.

“Cara makanmu juga lucu. Perempuan biasanya makannya tidak secepat kamu. Tapi kamu tidak peduli sama sekali. Makan secepat mungkin. Pasti karena kamu sangat suka menulis ya? Sampai-sampai tak mau kehilangan menit-menit untuk menulis.”

Tumblr_m3exh1uwni1r00xmjo1_500_large
Aku mengangguk malu.

“Sekarang kamu mau ngapain?”

“Memangnya kamu mau mengajakku ngapain?”

Tumblr_m3nzufui3c1qbb77eo1_500_large
“Banyak.”

“Tapi...”

“Sekarang kita belanja.”

***

Lelaki ini membawaku ke sebuah butik dengan mobil sportnya. Rendy membelikanku sebuah gaun yang indah. Memaksaku untuk didandani di salon. Membuang tampilan balerina yang sudah melekat padaku selama ini. Bahkan dia membawaku ke sebuah restoran. Makan malam dengan lilin di meja. Sangat romantis. Rendy mengenakan kemeja putih dengan garis hitam yang samar-samar.

Tumblr_m3t084bk9o1rr3d0qo1_500_large
Semua keromantisan itu berakhir dengan senyuman. Sepanjang malam itu pula Rendy tak henti-hentinya membuatku senang. Dia sangat baik dan memperlakukanku seperti seorang putri. Seandainya aku bisa menghentikan waktu. Ingin kukunci detik ini menjadi milikku selamanya.

Rendy menyalakan lampu kamarnya dan menyiapkan ranjang. Aku bingung apakah malam ini aku akan tidur lagi dengannya? Bagaimana seandainya dia melakukan sesuatu yangg kurang ajar? Tapi tadi aku sudah melihat sekeliling rumahnya. Tak ada kamar lain selain kamar ini.

“Tidurlah, aku akan tidur di sofa.”

Ucapan Rendy menenangkanku.

“Tidurlah denganku, selama kamu bisa menjaga untuk tidak...”

“Yakin?”

Aku yakin. Sangat yakin dengan Rendy.

Dia masuk ke selimut yang sama denganku setelah mematikan lampu. Aku sendiri melabuhkan kepalaku di dadanya sambil melihat wajahku yang ada di atas langit-langit. Aroma tubuhnya kuhirup dalam-dalam. Aku tak tahu kapan lagi aku akan bertemu dengannya. Napas kami begitu dekat. Aku menunggu. Berharap dia akan menciumku. Di bibir. Tapi beberapa puluh menit berlalu. Rendy sama sekali tak terlihat akan melakukan apa-apa. Dia benar-benar hanya memelukku. Menjagaku.

Dengkurnya sama sekali tak terdengar. Itu tandanya dia masih terbangun. Aku melihat jam dinding yang menunjukkan hampir pukul tiga pagi. Perlahan aku bergerak dan mencium pipinya dua kali. Kiri dan kanan. Matanya langsung terbuka. Bibir kami hanya berjarak satu senti. Aku berharap dia maju duluan. Rendy mematung.

Kami hanya bertukar napas beberapa kali dan akhirnya aku yang mendekatkan bibirku. Tanganku memegangi pipi Rendy. Dia membalas ciumanku perlahan. Jantungku rasanya hampir meledak. Rendy memegangi pinggangku. Menarik diriku semakin dekat. Ciumannya yang lembut memabukkanku. Apakah aku mula jatuh cinta padanya?

Tumblr_m3fz9pga6p1qcbiy3o1_500_large
Ciuman itu berakhir setelah Rendy menarik bibirnya sambil tersenyum.

“Sudah waktunya tidur. Tidurlah. Mimpi yang indah.”

Kecupan lembut ia daratkan di dahiku. Pelan-pelan aku terlelap ke alam mimpi. Tidur dengan nyenyaknya.

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 13) Lelaki Kesebelas: Rendy
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).