9 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 12] Lelaki Kesepuluh: Jaka

Bagian 12
Lelaki Kesepuluh: Jaka



Sebuah kisah cinta tak perlu akhir yang bahagia, karena cinta sejati tak akan pernah ada akhirnya. - Maura, 25 tahun, penulis jomblo.

Jaka. Namanya, Jaka. Lelaki dengan alis tebal yang indah. Dia peminum kopi sama sepertiku. Kami lima detik pertama sudah saling merasa cocok. Setidaknya untuk menjadi teman. Dia sangat pintar bercanda. Bahkan dia sama sekali tak terlihat sedang berkencan denganku. Seandainya aku tak memikirkan tentang Anas. Seandainya dulu aku tak pernah jatuh cinta sedalam itu. Bahwa Anas bukanlah bagian terbesar yang aku inginkan di dunia ini. 

“Pernahkah sebelumnya kamu jatuh cinta pada lelaki dan tak bisa melupakannya?”

Aku, Maura. Tersenyum malu. Itu adalah pertanyaan yang bisa dijawab oleh setiap perempuan di dunia ini dengan satu kata 'ya'. Aku menganggukkan kepalaku.

“Aku juga pernah, ada satu lelaki yang mengisi hatiku hingga sekarang.”

Aku terdiam sejenak. Menunggu Jaka melanjutkan ucapannya. Dia barusan menyebutnya lelaki. Tanda kutip, tebalkan, 'lelaki'. Apakah aku harus menanyalakan Caps Lock? LELAKI!

Jaka mencintai lelaki? Apakah aku harus membuka celananya untuk memastikan bahwa apa yang aku pikirkan ini benar. Aku tidak masalah dia penyuka sesama jenis. Tapi mengapa dia mengencaniku?

“Aku minta maaf jika telah melibatkanmu dalam semua ini. Hanya kamu yang bisa membantuku Maura.”

Jaka meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Bagaimana mungkin aku bisa membantumu?”

“Hanya kamu yang dekat dengan lelaki yang aku cintai.”

Anas?

“Siapa?”

“Taga.”

Jaka menundukkan kepalanya. Pipinya merona. Tanda-tanda dia sedang disiksa oleh cinta? Demam asmara?

“Aku tak tahu harus bertanya pada siapa. Tapi hanya kamu yang berteman dengannya. Dia selalu ada di dekatmu. Kalian pasti bersahabat kan? Kamu mau membantuku kan?”

“Tapi...”

“Aku hanya ingin kamu mencari tahu apakah dia juga menyukai atau tidak.”

Mata Jaka hampir berair ketika aku tak membuka suara sama sekali.

“Tolong aku Maura. Aku hampir gila memikirkan ini semua. Aku ingin seperti lelaki lain yang menyukaimu, menginginkanmu. Tapi aku tak bisa. Taga terlalu mempesona.”

Baiklah. Tak perlu melanjutkan lebih lebar lagi.

“Aku akan coba cari tahu, tapi sampai hari ini aku masih belum bertemu dengannya.”

“Apa pun syarat yang kamu ajukan akan aku terima, asalkan kamu bisa membantuku.”

“Tentu saja aku akan membantumu dengan senang hati jika memang bisa. Tenang saja.”

“Terima kasih Maura. Aku tak tahu harus bagaimana membalas semua ini.”

“Aku belum membantumu sama sekali Jaka. Nanti saja berterima kasihnya.”

“Sekarang kita mau ngapain?”

“Biasanya aku yang bertanya. Kali ini lebih baik kamu yang memutuskannya.”

“Kamu tahu belakang Bandar Udara Supadio?”

“Tahu, itu jauh kan dari sini.”

“Mau ke sana denganku?”

“Ini sudah malam.”

“Sebentar saja. Aku akan bentangkan keindahan langit untukmu.”

Entah bagaimana aku langsung menerima bujukan Jaka. Sekarang aku sudah di belakangnya. Mengendarai sepeda motor menuju Jalan Ahmad Yani II. Menuju Bandara Supadio. Bagian belakangnya tepatnya. Sepanjang jalan sepi. Tak banyak kendaraan yang berlalu-lalang.

Langit malam menyelimuti bumi dengan cahaya gemintang yang berkilauan. Aku terkejut melihat bintang itu ternyata lebih gemerlap dari tempat ini. Lapangan yang penuh rerumputan. Beberapa pasangan yang sedang dimabuk asmara terlihat menikmati pemandangan itu tanpa memperdulikan kedatangan kami.

“Hattttcchhhiiiiimmm!”

Bersinku yang keras merusak suasana indah itu. Beberapa pasang mata mendelik menunjukkan kesan terganggu.

“Maaf, aku alergi dingin.”

“Aku tahu, makanya aku membawamu ke sini.”

Wajah Jaka terlihat tak ramah lagi.

“Jaka?”

“Aku bahkan tahu Taga tak pernah memiliki perasaan lebih padaku. Selama ini dia hanya melihatmu. Tertawa bersamamu. Tapi tak pernah bersamaku.”

“Taga pasti tidak tahu perasaanmu padanya. Kamu harusnya bilang sejak awal. Bukannya malah mendaftar untuk berkencan denganku.”

“Aku akan membalas semua sakit hati yang Taga berikan.”

“Jaka...”

“Dingin ini mungkin tak akan membunuhmu. Tapi akan membuatmu sakit. Bisa jadi sakit parah. Apalagi jika tengah malam di sini tanpa pakaian. Kamu pasti bisa jatuh sakit kan?”

Aku melirik beberapa pasangan yang berlalu pergi. Jangan tinggalkan aku di sini bersama Jaka. Aku ingin teriak tapi suara di tenggorokanku tercekat. Tatapan Jaka yang sinis membuatku semakin takut.

“Nikmati pemandangan langit malam ini Maura. Bisa jadi ini adalah terakhir kalinya kamu melihat bintang.”

Suaranya dingin menusukku.

***


Aku memeluk lututku. Tubuhku tak berbalut pakaian lagi. Tinggal celana dalam dan bra yang melindungi. Aku kedinginan. Tapi tak berani meninggalkan semak-semak ini. Jaka telah pergi setelah mengancamku dengan belati yang mengkilat. Aku sendirian. Tengah malam. Siapa yang bisa membantuku sekarang?

Gigiku gemerutuk menahan dingin yang semakin menusuk tulang. Bagaimana sekarang? Bagaimana?

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 12] Lelaki Kesepuluh: Jaka
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).