8 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 11) Lelaki Kesembilan: Anas

Bagian 11
Lelaki Kesembilan: Anas


Jika kamu menginginkan cinta yang tak pernah kamu rasakan, lakukanlah perjuangan yang tak pernah kamu jalani sebelumnya. - Maura, 25 tahun, penulis jomblo yang sedang bimbang.
2184262_juliett_k_maff1aabbcccc_large
Aku menyisir rambutku kemudian membuat bulatan kemudian merapikannya. Sama seperti biasa. Cepol balerina. Aku tak butuh perubahan apa-apa untuk kencan malam ini. Semuanya masih sama seperti biasa. Aku hanya merasa ada yang kurang. Tak ada Taga lagi di cafe kesukaanku itu. Langkahku lunglai. Aku duduk di kursiku tanpa semangat apa-apa.

“Sudah lama?”

Suara asing menyapaku. Senyumanku hampir mengembang saat aku menyadari siapa yang ada di depanku sekarang. Aku tak akan pernah lupa dia. Anas. Nama yang aku pikir bukanlah Anas yang aku kenal.

Anas tanpa permisi langsung duduk di depanku. Wajahnya terlihat lebih gelap dibandingkan beberapa tahun yang lalu aku bertemu dengannya. Dia? Apakah aku harus bercerita tentangnya? Aku saja penasaran mengapa dia sekarang ada di sini? Bukankah dia kuliah di pulau yang berbeda denganku?

Baiklah, kita mundur saat usiaku 17 tahun. Aku sudah cukup kecewa dipermalukan oleh Aji saat kelas satu. Kemudian aku jatuh cinta lagi pada pandangan pertama pada seorang lelaki yang sebenarnya sudah aku kenal saat duduk di bangku sekolah dasar. Sosoknya saat berusia 18 tahun benar-benar sesuai dengan lelaki yang aku impikan selama ini.

Tumblr_m2qnij8ags1qfm87to1_500_large
Waktu itu aku tergila-gila dengan Collin Hanks. Sosok anak kecil yang dulu hanya selintas pandang kuingat ternyata berubah menjadi sosok remaja yang serupa dengan Collin Hanks. Terdengar bodoh? Namanya juga remaja. Jatuh cintalah aku pada lelaki yang tak kutahu namanya tersebut. Sekarang memang aku sudah tahu namanya Anas. Lengkapnya saja yang aku tak pernah tahu. Hingga akhirnya namanya tertera lengkap di daftar yang Taga berikan padaku.
Cinta yang awalnya aku pikir akan terjalin romantis harus kandas saat surat yang menyatakan perasaanku jatuh pada saudara sulungnya. Itu adalah hal terbodoh. Menyatakan perasaan tanpa pernah tahu nama asli lelaki yang disukai. Hanya tahu rumahnya. Ujung-ujungnya pernyataan itu salah terima.

Apa yang terjadi? Sudahlah. Biarkan Anas yang menjawabnya.

“Dapat salam dari abangku. Dia minta maaf karena pernah mengkhianatimu.”

“Bukan masalah lagi, sudah delapan tahun berlalu. Cinta yang dulu aku rasakan juga bukan cinta yang sebenarnya. Hanya cinta monyet biasa.”

“Sampai kapan kamu akan menyembunyikannya Maura?”

Tumblr_m01ne2qhok1qet7c1o3_500_large
Mata Anas yang jernih dan berwarna coklat menusuk jantungku. Mata yang sama pernah membuat hatiku tergila-gila. Membayangkannya siang dan malam. Berharap suatu hari akan benar-benar menjadi miliknya seutuhnya. Menyentuh jemarinya dengan ujung jemariku.

“Menyembunyikan apa?”

“Bahwa kamu tak pernah mencintai abang tapi sebenarnya mencintaiku.”

Bantu aku. Aku tak sanggup lagi.

“Bagaimana kamu menemukanku?”

“Aku melihatmu di sini, dua tahun yang lalu. Aku tak berani menyapamu. Kamu begitu sibuk dengan tulisanmu. Dari pelayan yang biasa membuatkanmu kopi aku tahu bahwa kamu sama sekali tak memiliki kekasih. Masih sama seperti dulu. Apakah tidak terlalu lancang aku katakan bahwa kamu masih menungguku?”

Aku menggigit bibirku perlahan. Anas membuatku kelu.

“Katakan Maura. Katakan bahwa surat yang kamu tulis itu untukku. Bukan buat abang.”

“Cafe ini panas ya, kamu merasa panas tidak?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan Maura.”

Aku menelan ludah. Lidahku tak lagi mampu bergerak.

“Akui Maura. Jangan biarkan aku mati penasaran dan menunggumu lebih lama lagi.”

“Menungguku?”

Anas menyentuh jemariku dengan jemarinya. Buru-buru aku mengalihkan tanganku dan menggunakannya untuk memanggil pelayan yang masih berdiri di dekat kasir.

“Kita pesan minum dulu?”

Anas hanya mengangkat bahu. Dia pasti kesal aku menolak jemarinya. Pelayan datang membawakan menu dan siap mencatat pesanan kami.

“Jus jeruk dua.”

Aku memesan dengan cepat. Pelayan itu pun pergi setelah mencatatnya.

“Ada apa Maura? Apakah kamu lupa dengan perasaanmu padaku dulu?”

“Anas, itu dulu, saat aku berusia 17 tahun. Sudah terlambat kamu meminta perasaan yang sudah lama hilang.”

“Kita bisa memulai yang baru jika kamu mau.”

485881_291546054267383_100002359710204_672446_1314110828_n_large
“Anas, kalaupun perasaan yang telah hilang itu bisa kukembalikan, hubungan itu tidak akan membawa kita ke mana-mana. Aku tak mungkin masuk dalam keluargamu. Apa kata mereka nanti? Abangmu tetap memiliki status yang sama. Seseorang yang pernah menjadi kekasihku. Tidak adil untuknya.”

“Dia sudah mengkhianatimu dan kamu masih memikirkan perasaannya?”

“Dia mengkhianatiku karena dia tahu perasaanku yang sebenarnya. Kamu tahu rasanya berpacaran dengan perempuan yang ternyata menyukai saudaramu sejak awal?”

“Abang tahu?”

“Dia mengkhianatiku karena aku tak ingin hubungan kami berakhir. Aku yang minta agar dia memberikan aku waktu untuk belajar mencintainya. Dia tak mau. Dia tak pernah mau itu.”

Minuman kami datang. Pelayan itu membuat percakapan kami yang memanas menjadi sunyi. Beberapa menit berlalu dalam kebisuan. Aku tak tahu harus berkata apa. Sekali teguk gelas jus jerukku kosong. Aku menyambar tas dan memilih pergi.

Dari banyak orang di dunia ini, aku tak ingin mengingat tentang Anas. Tentang kisah bodohku yang berakhir dengan ketololan. Aku mencintai Anas malah berhubungan dengan saudaranya. Seluruh keluarganya tahu aku mantan kekasih anak sulung mereka. Bagaimana mungkin aku menjalin hubungan baru lagi dengan Anas? Anak kedua mereka?

“Maura!”

Anas memanggilku dan aku sama sekali tak peduli. Aku hanya berjalan secepat mungkin. Aku ingin pulang. Langkahku terhenti karena Anas menarik tanganku. Cengkramannya sangat kuat. Aku tak bisa melawan.

“Aku mencintaimu bertahun-tahun Maura. Bertahun-tahun. Sejak pertama kali kamu muncul di warung kopi ibuku. Empat belas tahun yang lalu. Kamu dengan rambut pendekmu yang lucu. Ini tak ada hubungannya dengan apa pun yang kamu miliki sekarang. Bisakah jadi Maura yang aku kenal dulu itu.”

Tumblr_m3om61ehhr1r32wqpo1_500_large
Aku tak dapat membendung air mata yang mengalir deras di pipiku. Aku jatuh ke pelukannya. Cinta yang dulu pernah kugenggam ternyata tak pernah aku lepaskan.

***

“Bagaimana bisa kamu sekarang ada di sini?”

Aku menatap Anas yang duduk di sampingku di bangku Taman Universitas Tanjungpura. Tangan kami sama-sama memegang gelas minuman yang berukuran sangat besar. Aku menghirupnya perlahan.

“Abangku sering memintaku untuk menemani istrinya yang sedang sakit di Rumah Sakit Sudarso.”

“Istrinya sakit?”

“Iya, setelah melahirkan anak kedua mereka, dia sering mengalami pendarahan hebat. Terakhir aku menemaninya operasi. Rahimnya sekarang sudah diangkat. Dia tak lagi masuk rumah sakit.”

“Sejak dua tahun dia ada di Pontianak?”

“Sekarang mereka sudah pulang. Dua tahun pula aku bingung apakah harus menemuimu. Padahal kita sering berada di cafe yang sama.”

“Mengapa hari ini kamu berani mendatangiku? Tidak sejak awal?”

“Aku tak pernah berani. Aku takut kamu membenciku karena abang meninggalkanmu.”

“Lantas?”

“Abang yang memaksaku.”

“Dia?”

“Dia yang bilang aku harus mengejar sesuatu yang aku inginkan sampai dapat. Kalaupun tidak kudapatkan setidaknya aku tak menyesal telah mencoba.”

Tangan kanan Anas menggenggam jemariku. Jantungku berdetak kencang. Dia masih terlihat bersinar seperti pertama kali aku jatuh hati padanya.

“Tapi aku tak memintamu untuk menghentikan 100 kencan ini Maura. Lanjutkanlah, kamu berhak untuk menentukan siapa yang ingin kamu jadikan orang terakhir memegang hatimu.”

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya dengan senyum tipis. Di sinari cahaya rembulan yang mulai diselimuti awan pekat, Anas bercerita banyak. Tenang pernikahan abangnya. Tentang keponakan pertamanya yang sangat lucu. Tentang hari-hari dia menemukan keberanian untuk menemukanku. Dia juga mengatakan akan berterima kasih pada Taga karena telah membuat semuanya menjadi nyata. Iya, Taga.

“Aku akan keluar kota dalam waktu beberapa bulan. Saat aku kembali nanti aku harap semua kencan itu telah berakhir Maura.”

“Kapan kamu berangkat?”

“Besok.”

“Secepat itu?”

“Kamu pikir aku sanggup membiarkan laki-laki lain jalan denganmu saat aku sendiri ada di Pontianak?”

543087_431780750165373_100000003564577_1604977_248472429_n_large
Aku tergelak.

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 11) Lelaki Kesembilan: Anas
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).