7 Mei 2012

100 Kencan Buta [Bagian 10) Lelaki Kedelapan: Aji

Tumblr_m3nrqgqtnz1r6ipclo1_500_large


Jangan pernah mengambil cinta di hati seseorang jika kamu tak yakin akan mampu mengembalikannya. - Maura, 25 tahun, penulis yang merasa cintanya hilang.

Tumblr_lwkpebh0k91r6d8amo1_500_large_large

Mataku menangkap sosok yang datang dan langsung duduk dengan sopan di depanku. Kursi yang biasanya kosong itu kini setiap malam diisi oleh orang yang sama sekali tidak aku kenal. Dia menyalamiku setelah duduk. Aku masih mengingat nama kedelapan. Aji.

“Aji.”

“Maura.”

Asi7rjlciainmrk_large
“Dari banyak hal yang aku pikir tak mungkin terjadi ternyata yang paling mustahil sekalipun tetap bisa terjadi.”

“Maksudnya?”

“Kita bisa duduk berdua di sini. Selama ini aku pikir ini tidak mungkin Ra.”

Dia memanggilku dengan sebutan yang tak asing. Seakan-akan kami telah saling mengenal sebelumnya.

“Duduk denganku sebenarnya bukanlah hal yang paling mustahil Aji. Masih banyak hal mustahil lainnya.”

“Tapi aku pikir kamu tidak akan datang malam ini. Setelah semua yang terjadi di antara kita.”

Img1486416537_large

“Kita? Memangnya apa yang terjadi?”

Aji menatapku dalam diam. Bola matanya menatap bola mataku. Dalam.

“Kamu masih ingat aku kan Ra?”

“Kamu? Kita pernah kenal sebelumnya?”

“Apa kamu lupa? 10 tahun yang lalu. Ketika kamu masuk SMA. Teman sekelasmu dulu.”

“Kita sekelas waktu SMA?”

Aku tidak amnesia tapi mengapa aku lupa dengan teman sekelasku sendiri waktu sekolah? Padahal biasanya aku sangat mudah mengingat orang. Tak melupakan begitu saja. Mengapa?

“Aku yang duduk di belakangmu. Di bangku kedua.”

Aku memutar otak mencoba menyatukan kepingan mozaik yang hilang dari ingatanku. Sepuluh tahun yang lalu dan aku melupakannya. Mengapa?

“Kamu lupa? Kamu jatuh cinta padaku saat kita pertama kali bertemu.”

Aji menerangkan dengan susah-payah. Sedetik kemudian semuanya menjadi jelas. Aku tidak melupakannya. Aku hanya menyimpannya di bagian ingatanku yang paling dalam sebagai kenangan yang terburuk. Laki-laki inilah cinta pertamaku saat duduk di bangku SMA. Laki-laki yang menolakku dan mempermalukanku di sekolah. Aku tiba-tiba bisa melihat kembali semuanya dengan jelas. Bahkan aku bisa mendengar tawanya. Tangisanku. Tepuk tangan teman-teman sekelas yang lain.

Img1486416548_large
Dia menolakku. Setelah memintaku menembaknya di depan kelas. Teman-teman yang lain seolah tanpa dosa menyemangatiku dengan tepuk tangan. Padahal mereka tahu, Aji akan menolakku. Aji sudah memiliki kekasih yang lain. Pastinya bukan seperti diriku.

“Untuk apa kamu di sini sekarang?”

Suaraku berubah menjadi beku.

“Aku ingin minta maaf sama kamu, Ra. Aku ingin memperbaiki semua yang telah terjadi di antara kita. Selama ini aku terus merasa bersalah karena telah jahat sama kamu.”

Tentu saja itu sangat jahat. Aku perempuan. Bisa-bisanya kamu meminta seorang perempuan untuk mengatakan isi hatinya di depan banyak orang dan kemudian kamu tolak untuk mempermalukannya?

“Aku sudah melupakan itu semua Aji. Tak ada yang perlu kamu simpan sebagai rasa bersalah.”

“Tapi, Ra.”

“Aku sekarang sudah punya kehidupan yang sangat baik. Aku bahagia. Aku bahkan bersyukur waktu itu kamu menolakku. Aku tak bisa membayangkan jika kamu memilih berada di pihak keluargaku untuk menghalangiku mengejar semua impianku.”

Img1486416576_large

Pelayan yang tadinya sibuk melayani pelanggan yang lain mendekati kami. Menunda obrolan yang sangat tidak enak ini. Seandainya aku tahu, Aji yang tertulis di daftar itu adalah Aji yang sama yang telah mempermalukanku, aku tak akan datang malam ini. Kenangan yang teramat buruk itu ternyata tersimpan rapi di bagian otakku yang paling bawah. Seakan-akan aku melupakannya padahal tidak sama sekali.

Aji memesan minuman dan makanan untuk kami berdua. Aku hanya menunggu. Melihat semua yang ada pada dirinya. Dia tak bahagia. Ada derita yang ia tanggung sendiri sekarang.

“Kamu tak bahagia dengan kehidupanmu ya?”

“Iya, aku bercerai dengan istriku.”

“Pacarmu yang dulu itu?”

“Iya, perempuan yang aku pacari sejak SMA itu.”

Perempuan yang membuat kamu menolakku Aji.

Img1486416595_large

“Aku sama sekali tak menyangka akan melihatmu di sini Maura. Hampir tak ada yang berubah pada dirimu. Seakan-akan kamu berhenti menua di usia 15 tahun. Masih sama ketika pertama kali bertemu di kelas 1 dulu.”

“Sudah berapa lama kamu tahu aku di sini?”

“Setahun yang lalu aku mulai berkunjung ke sini karena memang tempat kerjaku tak jauh letaknya. Teman-temanku juga sering mampir ke sini. Kamu selalu ada di meja yang sama setiap hari. Sama sekali tak peduli dengan orang di sekitarmu. Menyelesaikan tulisan demi tulisan.”

“Aku memang tak banyak berubah Ji, tapi perasaan yang ada sepuluh tahun yang lalu itu sudah tidak ada. Aku tak mencintaimu. Lagi pula itu tak lebih dari sekadar cinta monyet yang dirasakan anak-anak. Jika sekarang kamu menuntut cinta itu untuk hadir kembali. Kamu salah.”

25252978_large

“Bukan begitu, Ra. Aku ingin memulai semuanya dari awal. Aku ingin kamu.”

Pelayan datang membawakan pesanan. Menghentikan perdebatan kami. Setelah meletakkan semua makanan dan minuman yang tadi Aji pesan pelayan itu pun berlalu.

“Seandainya memang semuanya bisa dimulai dari awal, Ji.”

“Kamu tak mau memaafkanku, Ra?”

“Sudah berlalu sepuluh tahun, Ji. Aku bahkan sudah melupakannya. Aku memang sangat polos waktu itu. Aku tak bisa melihat apa-apa selain kamu.”

“Aku pengen Maura yang dulu.”

“Aku masih Maura yang dulu, Ji. Bedanya hanya sekarang lebih dewasa dan lebih banyak pertimbangan.”

529787_294012344018246_145413098878172_706323_1329971220_n_large
“Maura yang dulu selalu menurut apa kataku.”

“Itu dulu, Ji. Sekarang aku tak mencintaimu lagi.”

Aku memang pernah mencintaimu, Ji. Sekarang pun bisa jadi aku masih bisa mencintaimu. Logikaku yang tak mengizinkanku. Akal sehatku yang menghalangi. Aku menghirup teh hangat yang dipesankan Aji untukku. Dia tak pernah tahu sebenarnya aku tidak begitu suka dengan teh.

“Maura, aku tahu di lubuk hatimu yang paling dalam kamu mash menyimpan cinta untukku. Kamu jangan bohongi perasaanmu sendiri.”

“Aji, buka matamu lebar-lebar. Jika memang aku masih mencintaimu, harusnya sejak dulu aku mencarimu. Bukan sekarang baru kulakukan.”

Aji membisu. Aku menunduk. Beberapa saat berlalu tanpa kata-kata apa pun di antara kami. Aku mengunyah roti yang ada di depanku perlahan dan menghirup teh di gelasku hingga tandas.

“Sekarang saatnya pulang. Kamu tak ingin mengantarku?”

Aku melempar senyuman pada Aji.

“Kalau memang kamu memintanya, Ra.”

“Kita anggap ini adalah sebuah awal yang baru persahabatan kita. Tak akan lebih dari itu Ji. Ini reunian kan?”

Z220555159_large
Aji menganggukkan kepalanya. Senyumnya mengembang.

***

Aji berjalan di sisi kiriku. Aku tak memberikan kesempatan dia meraih tanganku. Aji bukanlah orang baru. Aku tak boleh memberikan harapan apa pun padanya. Jangan sampai dia berharap akan ada sebuah hubungan lebih dari pertemanan di antara kami.

Lampu jalan yang sama. Cahaya temaram yang serupa. Mengiringi langkah kami. Di jalan ini pula aku ingat Taga. Pertama kali dia mengantarku pulang. Kecupan yang aku daratkan di pipinya. Dia sama sekali tak memberikan reaksi apa-apa. Sekarang masih terasa sama. Hanya orang yang menemaniku bukan Taga.

Tumblr_m33bcgqnkn1rrszsuo1_500_large
“Kalau aku mau aku bisa saja memintamu melakukan hal bodoh seperti yang kamu minta padaku saat SMA dulu.”

Aku mulai membuka percakapan kembali. Aji tersenyum pahit. Aku membuka kesalahan lama yang pernah ia lakukan padaku.

“Lantas mengapa tak kamu lakukan? Agar kita impas, Ra?”

“Hidup bukanlah pembalasan dendam. Sampai kapan aku harus hidup dengan motivasi untuk membalas dendam pada orang yang telah melakukan kesalahan padaku?”

Tumblr_m3nqn78fa71r60zhwo1_400_large

Aji menarikku dan langsung melabuhkan bibirnya di bibirku. Pelukannya yang erat. Aku harusnya tak membiarkannya melakukan ini. Tapi akal sehatku sudah berhenti bekerja. Aku pernah menyukainya. Dulu. Rasanya sekarang masih tersisa cinta yang sama. Aku saja yang terlalu gengsi untuk mengakuinya. Merasa menang dengan menolaknya.

Di bawah temaram lampu aku melihat wajahnya yang bahagia. Dia tahu. Dia membacaku. Aku cinta tapi aku tak ingin. Aku tak mau.

“Maaf. Aku tak bisa.”

“Ra, kamu masih mencintaiku. Akui itu.”

“Aku tak pernah mencintaimu lagi, Ji.”

“Menikahlah denganku.”

Aku tergagap. Aji melamarku?

“Menikahlah denganku, Ra. Aku ingin kamu menjadi istriku.”

Bagaimana sekarang?

“Kamu tak perlu menjawabnya sekarang. Kamu bisa menjawabnya saat semua kencan yang harus kamu temui berakhir. Kamu boleh mengencani berapa lelaki pun sebelum menjawabnya. Aku akan sabar menunggu.”

Aji meninggalkanku di depan sebuah rumah berwarna gading. Langkahku lunglai. Mengunci pintu dengan perasaan campur aduk. Harusnya aku tak membiarkan Aji menemukan titik lemahku. Hatiku pernah mencintainya sangat dalam. Dia tahu itu. Tanpa berganti pakaian aku langsung rebah di tempat tidur.

576348_328842610517934_114982095237321_807140_814950107_n_large

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 10) Lelaki Kedelapan: Aji
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).