Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2012

100 Kencan Buta: Prolog

Masih ingat sama Maura? Kisah cinta dengan 100 kencan buta? Sebenarnya harusnya prolog duluan nih baru masuk episode 1. tapi karena belakangan dibuat mau tak mau sekarang dimunculkan. Selamat membaca. 100 Kencan Buta Prolog Selama ini aku beranggapan aku adalah seseorang yang tidak dilihat oleh orang lain. Bahwa apa pun yang aku lakukan tak akan ada yang peduli. Seakan-akan aku transparan. Tembus pandang. Bahkan suara yang aku perdengarkan bisa jadi hanya Taga yang mendengarnya. Penasaran siapa Taga? Dia pembuat kopi terbaik yang aku kenal. Selama ini hanya dia yang bisa membuatkan aku kopi. Sampai-sampai untuk mendapatkan kopinya yang enak aku harus menjadi pengunjung setia di cafe tempat dia bekerja. Jika Taga tak ada tak ada satu orang pun yang berani membuatkanku kopi. Hai, kita belum berkenalan sebelumnya. Iya, itu aku. Perempuan dengan cepol di kepalanya. Berpenampilan ala balerina. Duduk di kursi sudut cafe dengan secangkir kopi dan sebuah laptop berwarna putih.

Fahd: Wajah Pagi

Paling susah diajak bangun pagi. Hani: "Fahd bangun, sekolah. Udah pagi." Fahd: "Nanti aja." Hani: "Kok nanti? Telat lo." Fahd: "Masih PAUD nggak papa telat. Kan belum SD." Hani: "Mehhhhh... -_______-"."

TEATER: HARUSKAH VULGAR?

Saya sejak tahun 2005 sudah suka sekali dengan yang namanya pementasan teater. Hampir tiap bulan saya akan menonton teater dan pulang dengan perasaan senang. Bagaimana tidak? Saya menonton pementasan secara langsung. Seperti anda yang pernah nonton OVJ secara langsung pula. Sensasinya pasti beda jauh dengan nonton dari kotak segi empat yang tak pernah saya miliki di Pontianak sini. Apabila disuruh memilih nonton film di bioskop atau nonton pementasan teater, saya lebih memilih yang kedua. Beberapa teater terakhir yang saya tonton saya merasakan bahwa dialog yang digunakan dalam pementasan terasa vulgar. Baiklah, saya memang berusia 25 tahun tak ada masalah bagi saya untuk mendengar kalimat seperti itu. Tapi, hey, saya selalu membawa adik saya Fahd yang berusia 6 tahun untuk menyaksikan pementasan sejak tahun kemarin. Vulgar di sini tidak hanya kalimat yang menurut saya menceritakan tentang aktivitas ranjang baik dengan lawan jenis atau sesama jenis, tetapi juga kalimat makian yang

Original Flame dari Oriflame 2

Satu hal yang paling mencolok dari tim yang saya ikuti sekarang di Oriflame adalah dari awal kami diajarkan untuk memahami produk dan menggunakannya sesuai dengan jenis kulit. Beberapa kali saya hampir tergelak ketika bertemu dengan tim yang lain ternyata mereka hanya sibuk berdagang dan menutup poin tanpa memahami produk bahkan sama sekali tak menggunakan. Prinsip saya dari awal adalah bagaimana caranya kamu menjual sesuatu yang sama sekali tidak kamu percaya manfaatnya untuk dirimu sendiri? Lucu, sebar katalog dan promo besar-besaran tapi tidak menggunakan. Itu sama saja penipuan dan percaya deh orang yang ditawari saat mengetahui konsultan yang berhadapan dengannya sekarang tidak menggunakan produk perawatan Oriflame akan dengan mudahnya menolak produk yang anda jual. Biasanya pembeli akan tanya sama konsultannya begini: “Kamu sendiri pake produk yang mana?” Bayangkan jika anda, sebagai seorang konsultan yang sama sekali tak paham produk, menjawab: “Saya menggunakan produk A unt

Original Flame dari Oriflame

Sudah berapa lama jadi konsultan Oriflame? Apa saja yang anda tahu dari produk yang ada di Oriflame? Selama ini menggunakan produk perawatan yang mana? Mengapa memilih menjadi konsultan Oriflame? Saya pengen cerita sedikit nih tentang awal mulanya saya terjeblos ke Oriflame dan tak pernah menyesal. Hari itu saya diajak untuk mencoba produk Oriflame secara gratis oleh Dina, yang sekarang menjadi upline saya. Saya yang memang sama sekali tak memahami fungsi dan cara merawat wajah tentu saja sangat ingin tahu produk yang sesuai untuk kulit wajah saya. Sejak awal kulit wajah saya memang kusam dan banyak banget masalahnya. Maklum tak paham cara merawatnya. Setelah menggunakan produk dan diajari secara lengkap oleh tim saya akhirnya berminat untuk gabung sebagai konsultan Oriflame. Niat awalnya hanya ingin belanja murah dan bisa merawat wajah. Jadi sebagai pengguna dulu. Ingin tampil cantik dan luar biasa. Waktu itu kebayang dalam pikiran saya, akan ada satu hari saya akan bertemu dengan

100 Kencan Buta (Bagian Khusus) Taga Jatuh Cinta

Bagian 1 . Bagian 2. Bagian 3 . Bagian 4 . Bagian 5 . Bagian 6. Bagian 7 . Bagian 8 . Bagian 9 . Bagian 10 . Bagian 11 . Bagian 12 . Bagian 13. Bagian 14. Bagian 15. Bagian 16. Bagian 17. Bagian 18. Buat teman-teman yang mengikuti kisah Maura dan Taga dan sudah saya selesaikan, ada yang tidak puas dengan endingnya? Tidak tahu deh ada yang berpikir bagian-bagian mendekati akhir terkesan dipaksakan atau semacamnya. Tapi jujur, saya memang memaksakan diri untuk menyelesaikan beberapa episode terakhir. Dari awal saya memang tidak menyiapkan banyak episode sehingga pas sibuk berat dan tak ada koneksi internet selain ponsel ceritanya sempat terbengkalai. Entah ke mana alur yang ingin saya jalin. Apa pun alasannya yang paling penting saya sudah menyelesaikannya. Itu saja. Ini adalah bagian terpisah dengan tokoh yang sama. Semoga bisa membuat teman-teman suka. Ingin memuaskan, sayangnya saya bukanlah pemuas, *eh. Hari itu aku melihat seorang perempuan dengan penampilan serupa balerina dudu

Masih...

Kadang kita jomblo bukan karena kita belum menemukan lawan jenis yang bisa dijadikan pasangan, melainkan karena orang yang kita temukan bukan orang yang akan berjalan beriringan hingga akhir di jalan yang kita pilih. - Rohani Syawaliah, 25 tahun, tidak galau lagi karena belum punya pasangan. Saya hanya menemukan lelaki mental pekerja.

Kutipan Amoy

Ingat untuk selalu dandan yang cantik karena kita tidak pernah tahu kapan kita ketemu mantan-mantan-dan-mantan-mantan kita. - Rohani Syawaliah, 25 tahun, masih belum mengoleksi pacar. Postingan sebenarnya banyak. Tapi jaringan internet ponsel belum bisa dibagi untuk hotspot laptop. Jadinya posting pendek begini deh.

Ayo, Donor Sekarang!

Saya sih belum pernah donor. Paling sering bantuin mencari pendonor. Maklum mahasiswa Universitas Tanjungpura ada puluhan ribu. Otomatis mudah mencari darah di asrama mahasiswa Untan. Mengapa saya belum pernah donor? Bukan saya tidak mau. Berat badan saya tidak cukup untuk memenuhi persyaratan sebagai pendonor. Updatenya telat banget. Baru saja ingat belum update.

100 Kencan Buta [Bagian 18: SELESAI) Satria Sitaga

Bagian 18 Satria Sitaga Bagian 1 . Bagian 2. Bagian 3 . Bagian 4 . Bagian 5 . Bagian 6. Bagian 7 . Bagian 8 . Bagian 9 . Bagian 10 . Bagian 11 . Bagian 12 . Bagian 13. Bagian 14. Bagian 15. Bagian 16. Bagian 17. Jika mencinta adalah awal dari saling melukai, aku siap melihat ceceran darah dari hatiku. - Maura, 25 tahun, masih di rumah sakit. Aku melihat ruangan yang sama yang sebelumnya aku tinggalkan. Taga berdiri dekat pinggiran jendela menatapku. Aku membaui aroma bunga mawar putih di ruangan ini. Di meja bunga indah itu berdesak-desakan di dalam vas. Infus sudah terpasang lagi di lenganku. “Bisakah jangan melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini lagi?” Mata Taga yang bening menusuk hatiku. Aku membencinya. Sangat. Tapi kurasa paling menyakitkan aku mulai menyadari aku menyukainya. Dia telah ada di ruang kosong hatiku yang selama ini ditinggalkan lelaki yang menghuninya. Kemudian semuanya malah jadi seperti ini. Menyakitiku. “Apa pedulimu?” “Tentu saja aku p

Fahd: Bahagia Itu Sederhana

Usia 6 tahun bukan berarti Fahd susah memahami keadaan. Sering dia menginginkan mainan ketika jalan ke pusat perbelanjaan tetapi saya bisa membuat dia mengurungkan niatnya untuk membeli mainan, bahkan apa pun. Saya tidak perlu marah atau membentak. Cukup bicara baik-baik. "Fahd tahu uang kakak tidak banyak. Kita bisa beli mainan yang Fahd mau. Tapi Fahd mau makan apa kalau uangnya tidak digunakan buat beli beras? Apa mainannya bisa dimakan kalau Fahd lapar?" Fahd kecewa. Tidak menangis. Dia diam beberapa saat kemudian melupakan mainan yang dia inginkan. Itu cara saya. Beberapa hari ini dia menginginkan burger. Harganya tidak mahal. Hanya Rp6.000. Tapi beberapa kali saya lupa menarik uang di ATM sehingga tak bisa membelikannya. Saat dia melihat isi dompet saya, Fahd tak banyak tanya mengapa "crabby patty" yang dia inginkan tak datang-datang. Dalam pikirannya dia menganggap saya sedang tak punya uang. Malam ini saya sudah membelikannya karena malam ini

100 Kencan Buta [Bagian 17) Satria

Bagian 17 Satria Bagian 1 . Bagian 2. Bagian 3 . Bagian 4 . Bagian 5 . Bagian 6. Bagian 7 . Bagian 8 . Bagian 9 . Bagian 10 . Bagian 11 . Bagian 12 . Bagian 13. Bagian 14. Bagian 15. Bagian 16. Kubiarkan cinta menetaskan rindu. Membesar di sarang-sarang hati. Malam ini kumasih merindukanmu. - Maura, 25 tahun,  merindukan siapa ya? Langkahku masih sedikit lemah. Tapi terus kupaksakan untuk mendatangi cafe tempat aku bertemu Taga. Aku berharap ada Taga di sana. Sedetik aku merasa sangat sakit di dalam hatiku. Mengapa aku jadi begini? Apakah Yo memang benar? Bahwa selama ini aku telah jatuh cinta pada Taga? Bahwa Taga satu-satunya orang yang telah memiliki hatiku? Tak ada yang lain? Aku menemukan kursiku dan duduk di sana. Mataku bertemu dengan sepasang mata yang sangat kukenal. Taga? Mengapa sekarang dia ada di kursi lelaki yang terakhir harus aku kencani? Bukankah Satria yang aku tunggu? “Kenapa kamu ada di sini sekarang? Bukannya kamu masih harus dirawat di rumah sakit?”

100 Kencan Buta [Bagian 16) Taga

Bagian 16 Taga Bagian 1 . Bagian 2. Bagian 3 . Bagian 4 . Bagian 5 . Bagian 6. Bagian 7 . Bagian 8 . Bagian 9 . Bagian 10 . Bagian 11 . Bagian 12 . Bagian 13. Bagian 14. Bagian 15. Setiap inci hatiku perlahan melangkah menuju pintu hatimu, aku hanya butuh kunci untuk membukanya. Akankah kamu berikan anak kunci itu? - Maura, 25 tahun, pindah profesi jadi tukang reparasi. Mataku membuka, melihat cahaya mentari yang menyusup melalui gorder yang ditiup angin perlahan. Jendela terbuka sedikit. Aku melihat ruangan yang aku tempati. Putih. Semuanya putih. Seorang perawat tersenyum padaku. Dia sedang memeriksa infus yang terhubung di lenganku. Aku di rumah sakit? “Saya panggilkan dokter dulu ya Mbak Maura.” Bayangan kecelakaan itu bekelebat di kepalaku. Sebuah truk. Beberapa sepeda motor. Suara rem. Kemudian semuanya menjadi gelap. Kepalaku masih nyeri. Saat tanganku bergerak memegangnya ada perban melilit di sana. Pusing. Sudah berapa lama aku di sini? Seorang dokter masuk disertai