30 April 2012

100 Kencan Buta [Bagian 2] Lelaki Pertama: Dani

Simak soundtracknya sambil baca.
Tumblr_m38k25ywbd1rs0d62o1_500_large



Aku bukan pengharum ruangan yang kamu cari saat ruangan bau atau sumpek. - Maura, 25 tahun, untuk pertama kalinya kencan dengan seseorang yang belum dikenali.

Taga meletakkan segelas kopi di depanku dan segelas air jeruk di depan lelaki yang berrambut gondrong itu. Dari resume yang aku baca, Taga berbaik hati menuliskan resume tentang lelaki yang aku kencani setiap harinya, lelaki ini seorang pegawai bank swasta. Usianya 28 tahun. Tinggi dan berkulit putih. Bukan tipe lelaki yang susah mendapatkan kekasih.

“Maura suka makan apa?”

“Apa aja.”

Aku tahu dari balik meja kasir Taga memperhatikan kami. Senyum anehnya itu selalu saja tersampir di wajahnya. Ingin kulempar dengan gelas kopiku saat ini juga. Sayangnya tak bisa.

“Suka ke mana?”

407950_267247783335277_136079789785411_790687_2091608525_n_large

“Sini.”

Aku berusaha tersenyum, membalas senyum Dani yang sejak tadi tak lepas sedetik pun. Bisa jadi itu memang bawaan lahir. Senyum yang sudah dicetak Tuhan sejak dia dalam kandungan dan memiliki bibir.

“Suka film apa?”

“Lebih suka buku dibandingkan dengan nonton.”

Dani mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku mulai jenuh. Dani tidak punya pertanyaan yang lebih menarik dibandingkan semua pertanyaan di atas? Apakah aku yang harus bertanya?

“Maura kegiatannya selain menari balet apa?”

“Balet?”
Girlstock20_large
“Bukannya Maura penari balet? Aku suka sekali dengan penari balet. Tubuh mereka lentur dan gerakannya anggun sekali. Apakah memang penari balet tuh suka minum kopi atau hanya kamu aja?”

“Memangnya ada yang salah dengan kopi?”

“Kurang anggun.”

Baiklah, dia salah menganggapku sebagai penari balet. Penampilan ini memang selalu menipu semua mata yang sekilas melihatku. Apakah sisanya, 99 lelaki lainnya juga salah menilaiku? Mereka menganggapku sebagai penari balet atau apa?

“Pertama aku bukan penari balet, jadi aku tidak tahu apakah penari balet itu minum kopi atau tidak. Kedua aku penulis dan aku sangat suka minum kopi.”

Tumblr_m14rmmoxnm1qjsrvdo1_400_large
Wajah Dani sejenak berubah. Air mukanya yang tadinya ramah menguap entah ke mana. Dia sama sekali belum meneguk air jeruknya. Lagipula kami baru 15 menit berada di sini. Belum haus mestinya.

Lelaki ini melambaikan tangan pada Taga. Dia menyiapkan lembaran uang untuk membayar minuman kami. Hari pertama berakhir dalam waktu 15 menit? Bukan hal yang mengecewakan bukan? Setidaknya dia masih mau bertahan di depanku.

“Aku ada urusan, mungkin lain kali kita bisa bikin janji lagi.”

Kalimat penutupnya bisa terbaca olehku. Ketika seorang lelaki mengatakan lain kali, sebenarnya lain kali itu tidak akan pernah ada. Dia hanya ingin menutup pertemuan pertama dan terakhir ini dengan kalimat yang sopan. Bagaimana akan ada lain kali? Dia bahkan tidak meminta nomor ponselku.

Tumblr_m21xawqxag1qjsrvdo1_400_large

Taga menyunggingkan senyum sambil menambah kopi ke dalam gelasku. Setelah meletakkan teko kopi itu dia kembali menemaniku. Duduk di kursi satu-satunya yang ada di meja ini. Aku ingin mengunyah daftar nama yang masih sedemikian panjang harus aku jalani.

“Menyerah?”

Aku menggelengkan kepalaku. Sejenak senyumnya menipis. Apakah itu artinya dia kecewa dan menginginkan aku menyerah kalah? Taga sama sekali tak peduli dengan pelanggan yang semakin ramai. Dia tak berniat membantu rekan kerjanya yang lain untuk melayani semua orang yang baru saja tiba itu. Banyak yang datang dengan kantong belanjaan di tangan kanan dan kiri mereka.

“Banyak yang datang tuh.”

“Biarkan saja, urusan kita belum selesai.”

Tumblr_m38jfrhjz31rtxo6ao1_500_large
Senyum di wajahnya terhapus.

“Aku rasa ini tidak akan berhasil Taga, 100 lelaki pun yang aku kencani tak ada yang bisa menyukaiku.”

“Pasti ada, Ra. Pasti.”

“Siapa yang akan menganggapku sebagai penari balet lagi? Apakah penari balet itu lebih menarik dibandingkan dengan penulis sepertiku? Apa aku harus berhenti minum kopi?”

“Aku tak tahu jika Dani tertarik padamu karena dia menganggapmu penari balet.”

“Dia mengira aku penari balet dan dia tak menyukaiku yang suka minum kopi. Lelaki model apa yang sukanya air jeruk tanpa es dan menginginkan penari balet sebagai pasangannya?”

530348_304109259662443_100001901153484_750206_1103108982_n_large
“Ini baru lelaki pertama, tenang. Masih banyak lagi yang harus kamu temui.”

Girlstock20_large
Taga menyentuh jemariku. Sejenak dunia yang aku lihat berubah menjadi berwarna merah jambu. Dadaku gemuruh. Jantungku berdetak lebih kencang. Aaaaaaaarrrrrrggggggggghhh! Perasaanku tak karuan begini. Aku akhirnya menarik tanganku yang dipegang Taga dan menyimpannya di bawah meja, di atas lututku. Aku tak berani menatapnya lagi. Aku sedikit menunduk.

“Aku menghargai bantuanmu, tapi sekarang aku tidak akan menyerah bukan karena aku ingin dapat pasangan. Aku hanya ingin membuktikan sama kamu, aku tidak kalah. Kamu yang akan kalah dan memenuhi semua tuntutanku.”


Taga tersenyum.

“Apa pun yang kamu minta Yang Mulia.”

Hatiku menghangat.
404770_267247450001977_136079789785411_790678_1768488653_n_large

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 2] Lelaki Pertama: Dani
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).