29 April 2012

100 Kencan Buta [Bagian 1] Taga

Simak soundtracknya sambil baca.



432113_10150529286938085_153524713084_9010479_110963306_n_large

Kamu pikir aku tuh halte busway? Selama kamu tidak keluar jalur kamu bisa menggunakan bus mana pun? - Maura, 25 tahun, penulis yang jomblo.

Setiap kali melihat orang-orang yang tertawa bersama pasangannya, entah gebetan, pacar, tunangan, bahkan suami di pusat perbelanjaan, ada satu bagian di dalam diriku yang merasa sangat kosong. Apakah cinta memang harus menunggu? Melewati detik ke menit, ke jam, hingga hari baru pun datang lagi. Kemudian melihat satu persatu orang yang aku kenal pun dimiliki oleh orang yang mencintai mereka. Apakah cinta itu menurutmu?

Lihat ke sini, ke mataku, mata yang sedikit memerah karena kurang tidur. Aku terlalu banyak membaca buku di tengah malam dan terlambat tidur. Bangun tetap harus pagi seperti biasa. Ada jadwal kerja yang harus aku penuhi. Meskipun sebenarnya tidak pernah ada pemaksaan untuk aku masuk kantor. Hanya deadline yang harus aku penuhi. Ah, lagi pula semuanya bisa dikirim melalui surat elektronik.

76283_163734217000682_160379574002813_321478_7137357_n_large

Hai, kenalkan. Aku Maura. Seorang penulis lepas di beberapa majalah remaja. Aku menulis di rubrik fiksi. Aku memiliki rambut yang tidak begitu panjang, cukuplah untuk aku cepol setiap harinya. Aku kurang suka rambutku tergerai. Daripada seorang penulis fiksi yang bisa jadi dalam bayangan orang adalah perempuan rapi dan wangi aku lebih mirip penari balet dengan tubuh kurus ceking dan cepolku. Dada juga tak melebihi dada rata-rata penari balet. 

Bedanya adalah aku tak bisa menari layaknya mereka.

Kamu pikir aku tak pernah memiliki kekasih sebelumnya? Ceking-ceking begini aku memiliki keberanian dibanding perempuan dengan dada yang lebih besar untuk menyatakan cintaku pada seseorang. Meskipun dari 10 lelaki yang menerima pernyataan cintaku kemungkinan 1 menerima saja sangat kecil. Jangan tanyakan mengapa, karena jika aku tahu penyebabnya aku tidak akan berada di sebuah cafe di pusat perbelanjaan dengan laptop menyala dan fiksi yang belum kelar juga. Cinta adalah rahasia dan indahnya baru aku temukan di dalam karyaku sendiri.

Aku sangat suka menulis kisah cinta yang sempurna. Lelaki yang mengejar-ngejar wanita tanpa takut dengan nyawa. Berakhir dengan bahagia tanpa air mata. Cinta yang demikian baru ada di tulisanku yang menjejali tidak hanya satu majalah remaja. Aku memiliki beberapa nama pena sehingga majalah-majalah tersebut tidak terlihat menerbitkan karya penulis yang itu-itu saja.

Tumblr_ldv132goxr1qajjppo1_500_large

Aku, Maura. Ditemani laptopnya yang masih menyala dan segelas kopi yang masih mengepul menikmati semua pemandangan yang menusuk perasaanku sendiri. Aku tak tahu apakah semestinya di dalam kehidupan kita harus memiliki pasangan. Karena jika memang demikian kenyataannya berarti aku adalah orang yang paling tidak berbahagia saat ini. Aku selalu gagal dalam percintaan. Belum lagi hubungan dengan keluarga yang semakin memburuk.

Aku, Maura. Tak menyelesaikan kuliahnya karena kesal dengan persyaratan yang harus dipenuhi untuk lulus sarjana. Keluarga menolakku. Kecewa. Aku mengerti dan memilih pergi dengan semua tulisanku. Menyambung hidup hari demi sehari. Apakah kebahagiaan berarti memiliki keluarga yang menerimamu? Nah, satu lagi fakta aku akan menjadi orang yang tak bahagia karena tak punya keluarga yang seperti itu lagi.

Tumblr_m2p7gaza3o1qihqh3o1_500_large

Teman dekat aku juga tak punya. Aku terlalu larut dengan tulisanku dan melupakan semua hubungan dengan manusia selain rekan kerja.

“Maura!”

Dia lagi, orang yang sama yang akan aku temui di sini setiap kali aku mampir. Seorang pelayan. Namanya Taga. Aku akan menambahkan 'as' di depan namanya jika dia mengusiliku. Cafe memang sepi pagi begini. Dia akan menyempatkan diri untuk mengobrol denganku beberapa menit sebelum melanjutkan pekerjaannya. Kadang aku berpikir dia bukanlah karyawan yang baik. Tapi entah mengapa dia tidak dipecat juga meskipun sering mengobrol denganku di sela jam kerjanya.

“Ada apa?”

562881_397731076916938_458672905_n_large

Taga langsung duduk di hadapanku. Hanya ada satu kursi di mejaku ini. Meja kecil di sudut yang selalu tak dipilih oleh orang lain. Aku, Maura, orang yang paling menyukainya. Jauh dari perhatian orang lain meskipun dari sini aku bisa melihat siapa pun yang lewat.

“Cerita baru lagi?”

“Biasa, lanjutkan cerbung di beberapa majalah. Tinggal menuliskan bagian akhirnya.”

Taga tersenyum. Senyum yang tak bisa kuartikan maknanya.

“Aku selalu membaca ceritamu.”

“Semuanya?”

“Semua majalah yang memuatnya. Aku kira kamu punya sekitar 10 nama pena.”

Img1464899666_large
“Sepuluh?”

“Termasuk nama aslimu, sembilan dari sepuluh itu nama penamu bukan?”

“Baiklah, kamu benar. Sekarang maumu apa?”

“Aku melihat satu benar merah dalam semua ceritamu.”

“Apa?”

Aku menyesap kopi yang mulai dingin itu. Taga tersenyum lagi. Oh Tuhan hentikan senyum anehnya itu.

“Kamu butuh pacar.”

“Semua orang juga butuh Taga. Bukan hanya aku.”

“Kamu kesepian tepatnya. Semua bayangan yang kamu inginkan terpantul dalam cerita yang kau tulis.”

“Lalu?”

“Aku punya daftar nama. 100 nama lelaki yang mau mengencanimu. Jika kamu tertarik.”

Seratus? Seratus lelaki yang ingin mengencaniku? Taga gila!

“Bagaimana mungkin?”

“Kamu sudah tiga tahun nongkrong di sini, hampir setiap hari. Berada di sudut yang sama. Kamu pikir kamu tidak terlihat oleh orang dengan duduk di sini? Semua orang melihatmu Maura. Kursi ini bahkan tak ada yang berani mengganggunya. Seakan-akan sudah tertulis dengan jelas ini milikmu. Hanya kamu yang berhak duduk di sini.”

“Aku tidak tertarik, kamu hanya mempermainkanku bukan?”

“Aku sangat serius.”

Aku, Maura. Sangat menyukai tantangan. Apa tantangannya mengencani seratus lelaki tak kukenali?

“Taruhan, kamu benar-benar mengencani semuanya aku akan melakukan apa saja yang kamu minta. Seratus hari.”

“Kalau aku tak menyelesaikannya?”

“Kamu harus melakukan apa pun yang aku minta.”

“Tapi ini bukan melakukan sesuatu yang ilegal bukan?”

“Tentu saja. Ini hanyalah permintaan seorang Taga.”

Blogimg_9543_large

Aku menghabiskan kopiku. Tandas dalam lima detik. Aku terlihat seperti orang yang minum air putih dingin dibandingkan minum kopi. Kopi tanpa gula.

263108803200487335_taljrgxg_c_large

“Setuju. Aku akan buat surat perjanjiannya. Ada materainya, supaya kamu tidak curang denganku.”

Taga menyalamiku. Dia tersenyum lagi. Senyum anehnya.  

Bersambung....

Related Posts

100 Kencan Buta [Bagian 1] Taga
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).