Cerita sebelumnya.
Senja berkali-kali
menampar pipinya sambil menatap wajah yang ada di kaca. Ini memang wajahnya
tapi wajah di usia 17 tahun. Seharusnya sekarang usianya 22 tahun dan sudah
kuliah. Mengapa bisa kembali ke lima tahun di belakang? Apakah memang kepalanya
terbentur terlalu keras?
“Kamu
gila Nja?”
Sandy melemparkan
bantal ke arahnya. Senja menangkap bantal putih tersebut dan langsung ikut
berbaring di ranjang. Matanya menatap langit-langit.
“Aku
bingung.”
“Harusnya
tadi kita ke rumah sakit, bola kasti itu membuat kamu gila.”
Senja memukul
Sandy dengan bantal. Ia kesal Sandy terus mengatainya gila. Dia yakin dia tidak
gila. Dia sedang bingung mana dunia nyata dan mimpi sekarang. Tapi tubuhnya
merasakan sakit, berarti sekarang bukan mimpi.
“Kamu
percaya tidak kalau aku cerita?”
“Apa?”
“Kita
sudah dewasa, terus kita sebenarnya saudara kandung, aku dan kamu kembar, terus
aku diadopsi di keluarga ini.”
“Bagaimana
mungkin kita saudara? Kamu lahir di mana, aku lahir di mana?”
“Memangnya
di mana?”
“Mana
aku tahu kamu lahir di mana. Kamu lupa kita jadi tetangga sejak kapan?” Sandy
memelototkan matanya.
“Mana
aku tahu San.”
“Sama
aku juga tak tahu.”
“Huuuu
kamu tuh ya….”
Sandy tiba-tiba
terdiam dan menatapnya.
“Ada
apa?”
“Kalau
nanti kamu sudah dewasa kamu mau dapat suami seperti apa Nja?”
“Ada
apa sih?”
“Aku
kan harus mempersiapkan diriku Nja.”
“Apanya
yang perlu dipersiapkan?”
“Nja,
kamu harusnya sadar, tidak ada laki-laki lain yang akan mau jadi suamimu
nantinya selain aku.”
“Heyyyyyyyyyyy….”
Senja mencubit
pinggang Sandy. Tanpa ia duga Sandy bergerak ke atas tubuhnya. Pemuda yang
usianya sama dengan dirinya itu memegangi kedua tangannya sambil menatap
matanya lekat-lekat.
“Lima
tahun lagi, maukah kamu…”
Jari telunjuk
Senja langsung menutup bibir Sandy. Gadis itu tak ingin mendengar kalimat itu. Ia
sudah bisa menebaknya. Sandy mencintainya, seperti yang ia lihat di alam
usianya 22 tahun. Bagaimana jika mereka benar-benar saudara?
“Kita
tidak boleh menjalin hubungan seperti itu Sandy.”
“Mengapa?”
“Karena
kita saudara sedarah. Aku kembaranmu.”
***
Kedua
orang tua Sandy yang terlihat lebih mudah lima tahun dari yang diingat Senja
terbahak. Pertanyaan Senja sangat lucu bagi mereka.
“Tidak
ada istilah anak yang diadopsi apalagi jika kamu merasa kamu anak yang tertukar
dan semacamnya. Kamu pikir ini sinetron Nja? Sandy memang punya saudara tapi
bukan kamu. Lagi pula kembarannya laki-laki dan sudah meninggal dunia.”
“Jadi
itu mimpi?” Senja mengggigit bibirnya.
“Bukan
mimpi Nja tapi kamu kebentur bolanya terlalu keras,” celetuk Sandy.
Senja
membisu. Apabila memang mereka bukan saudara berarti dia bisa menjalin hubungan
dengan Sandy? Ah, bingung.
Bersambung….

Ceritanya kren mbak, penasaran nunggu sambungannya neh
BalasHapuswah baca juga nih?
Hapuslanjuuuuttt... ^____^
BalasHapusmuehehhehehe
Hapus“Nja, kamu harusnya sadar, tidak ada laki-laki lain yang akan mau jadi suamimu nantinya selain aku.” waah kalimat manis sekaligus pahit tuh, manis karena secara tersirat berarti lamaran, pahit karena secara gamblang berarti menghina :))
BalasHapusbiasanya kan cowok suka menghina karena suka :D
HapusMbak...salut
BalasHapussibuk mash bisa nulis panjaaanggg gini
cerbungnya kereeenn banget
jd inget masa lalu.
BalasHapusmakin kompleks nih ceritanya mba :)
BalasHapusMakin seru ceritanya... Lanjuut..
BalasHapusudah ending :)
Hapus