Cerita sebelumnya.
Senja
menghirup udara di taman dengan wajah yang masih pucat. Tapi sekarang ia tidak
lagi membutuhkan selang-selang ke tubuhnya untuk bertahan hidup. Ia hanya perlu
sebuah kursi roda. Dokter Sandy melepaskan pegangan kursi rodanya. Ia sudah
mendorongnya ke tengah taman. Ada bangku untuk dia duduk di sana.
“Bagaimana
kamu tahu nama saya?”
Akhirnya
dokter itu tidak bisa menahan pertanyaan yang beberapa hari ini ia simpan.
Pasien yang koma itu tahu namanya. Padahal seingatnya saat dibawa ke sini
kondisinya sudah sangat kritis.
“Saya
mengalami banyak sekali mimpi aneh Dok. Di dalam mimpi saya ada dokter. Tapi
bukan sebagai dokter.”
“Saya
sebagai apa di dalam mimpi kamu?”
Senja
terdiam. Ia tak mampu menceritakan apa yang ada di dalam mimpinya. Semua rasa
itu. Semua hal yang ternyata tidak nyata itu. Sandy yang ada di depannya
sekarang seorang dokter yang sama sekali asing. Senja sendiri bahkan tidak
yakin ini adalah sesuatu yang nyata. Bisa jadi ini sama saja dengan dunia yang
ia lihat sebelumnya.
Sandy
temannya dari kecil. Sandy teman SMA-nya. Sandy teman kampusnya. Sandy
suaminya. Sekarang yang ada di depan matanya Sandy, seorang dokter. Bagaimana
mungkin Sandy berubah terus di dalam dunia yang ia lihat? Di dalam kepalanya,
ia merasa sangat mengenal Sandy.
“Apakah
ini nyata?”
Senja
membelokkan arah percakapan di antara mereka. Dokter muda itu tersenyum dan
membelai pipinya.
“Tentu
saja ini nyata. Saya bisa menyentuh kamu. Kamu bisa melihat saya. Bagaimana
mungkin ini tidak nyata?”
“Butuh
beberapa waktu buat saya Dok untuk yakin sekarang adalah dunia yang sebenarnya.
Bukan satu di antara banyak mimpi yang saya alami.”
“Apakah di dalam mimpi-mimpi yang kamu alami itu saya mencintai kamu?”
Detak
jantung Senja berdetak hebat. Bahkan di dunia yang membuat dirinya sebagai
pasien dan Sandy sebagai dokternya pun, cinta itu masih ada. Entah ini mimpi,
entah ini nyata. Ia hanya ingin menikmatinya. Bahkan jika ini adalah mimpi yang
terus terjadi, menghilang, berganti, ia ingin menikmatinya. Senja hanya punya
hari ini untuk mencintai Sandy. Besok belum ia jelang dan hari kemarin telah ia
lalui.
Dua
puluh empat jam yang ia miliki memberikannya pilihan. Bukankah hidup masalah
pilihan? Senja memilih untuk bahagia dengan semua yang ia miliki sekarang.
Sandy megecup bibirnya hangat. Senja berharap ciuman itu tidak akan berakhir
dan mengantarkannya pada mimpi-mimpi yang lain. Ia takut Sandy tidak dalam
mimpi selanjutnya.
SELESAI

kereeeeennn. :D
BalasHapusfoto2nya juga keren. hehehehe
mangkanya di twitter ngecwit ngebet nikah mulu. hohohohoho :D
*tutup muka pake hape*
Hapus:)
BalasHapusjadi ingin mencium.. Han* *******
wohoooooooooo :)
Hapus(T^T keren ceritanya... gak nyesel semalem ngelanjut baca lagi dari 4 sampe 9...
BalasHapusTapi itu photo yang ke 5 saya gak boleh liat ya...
kan belum 18++
muehehehheheheh :)
Hapuskok bias keelgat tulisa ini ya.... lama sudah tidak kesini lagi... nyusul deh bacanya...
BalasHapushehehehehe
HapusHappy ending yaa..okee.. (._.)
BalasHapusapakah kamu kecewa? tapi belum tentu hepi ending juga kalau kamu mau berimajinasi lebih liar, misalnya senja nggak benar2 terbangun sebenarnya?
Hapusakhirnya senja. . . memilih menjalani hidup yang tepat . . . .. . tapi belom lengkap klo belom ada anak cucu. . . hehehhehe
BalasHapuskunjungan malem ah. . . . . ada cemilan ndak nih. . .
:)
Hapus