29 Februari 2012

TERKENAL DI DUNIA MAYA JADI TERKENAL JUGA DI DUNIA NYATA

TERKENAL DI DUNIA MAYA JADI TERKENAL JUGA DI DUNIA NYATA



Siapa yang meramalkan bahwa sekarang ini semuanya bisa ditempuh dengan dunia maya. Banyak orang yang eksis di dunia maya akhirnya benar-benar eksis di dunia nyata. Semua orang mengenalnya begitu saja. Kita sebut saja beberapa nama yang awalnya bukan seleb, seperti Greyson Chance atau Maria Aragon. Setelah mengunggah videonya di Youtube bisa menjadi orang yang dikenal oleh banyak orang, tidak hanya di negaranya, tapi juga di seluruh dunia.

Bagaimana dengan saya?

Awal mulanya saya memang berselancar di Friendster, kemudian akhirnya mulai mencicipi facebook, twitter, plurk, foursquare, blog, dan masih banyak lagi akun media sosial yang saya miliki. Kita mulai satu persatu ya?

1.      Facebook
Sekitar tahun 2008 saya membuat akun di facebook dan mulai mencoba berbisnis kerudung di sana. Akun saya waktu itu namanya Hani Jualan Kerudung. Absurd banget ya namanya? Saya membeli beberapa kerudung polos yang kemudian saya desain sendiri dengan payet dan saya jual dengan harga yang bervariasi. Mulai Rp35.000-Rp100.000.

Beberapa tahun saya dikenal dengan sebutan Hani Jualan Kerudung di kampus. Banyak yang memesan kerudung hasil jahitan saya dan menyukainya. Orang yang sebelumnya sama sekali tidak tahu saya, saat ketemu pada berbisik-bisik: “Itu Hani yang jualan kerudung desain sendiri kan?”

Paling sering kejadiannya sih di kampus ya, saya yang dulunya seperti halimunan dan tembus pandang tiba-tiba saja menjadi pusat banyak orang.

2.      Twitter
Melalui twitter saya mengenal akun percetakan online untuk buku apa pun. Akunnya nulisbuku. Berawal dari teman yang meretweet twit dari akun tersebut menghantarkan saya untuk memberanikan diri menerbitkan buku sendiri. Menjualnya sendiri. Promosi juga sendiri. Perlahan beberapa bulan kemudian banyak yang membeli dan mengenal saya bukan lagi sebagai Hani yang jualan kerudung tapi Hani yang juga penulis buku.

Teman-teman di twitter nambah. Ada yang dari Pontianak ada juga yang dari pulau yang lain. Akhirnya saya dianggap seorang penulis dari Kalimantan. Lalu buku tersebut saya setorkan pada seleksi penerimaan anugerah buku yang diselenggarakan oleh Borneo Tribune.

Siapa sangka buku saya berhasil menggeser semua kontestan dan mendapatkan juara pertama. Menjadi buku fiksi pertama yang menerima penghargaan Borneo Tribune Book Award. Senang karena karya saya mendapat penghargaan dari masyarakat.

Seandainya waktu itu saya tidak punya twitter dan tidak mengenal nulisbuku. Saya tidak akan berani untuk menempuh jalur gerilya di self publishing dan menyetak buku sendiri. Orang yang saya kenal di dunia nyata sekarang juga mulai mengakui keberadaan saya. Padahal awalnya saya seakan tak terlihat oleh banyak orang.

3.      Blog
Belum setahun saya ngeblog di blog Rohani Syawaliah ini. Awalnya saya menulis di dagdigdug dan blogspot lama saya. Tapi waktu itu belum punya teman sama sekali di dunia perblog-an. Blog saya sepi pengunjung dan isinya kegalauan yang saya yakin tidak begitu menarik untuk dibaca. Siapa coba yang mau tahu tentang galaunya seorang Hani. Saya kan bukan selebritis yang informasi pribadinya bisa dijual mahal di dunia maya.

Akhirnya di blog ini saya membuat variasi topik yang ingin saya berikan. Seperti kuliner yang saya tahu ada di Pontianak atau makanan khas Kalimantan Barat, ini lumayan menarik untuk dibaca bukan? Atau tempat-tempat yang ada di Kalimantan Barat, seperti Tugu Khatulistiwa atau tempat wisata lainnya. Banyak orang yang tidak tahu pasti tertarik untuk tahu.

Beberapa bulan setelah membuat blog ini dengan beberapa topik yang informative akhirnya saya disebut seorang blogger dari tanah Borneo. Gara-gara ngeblog juga saya bisa ke tempat yang selama ini saya idam-idamkan, Bali.

Buat teman-teman yang berada di Jawa biaya ke Bali pasti tidak semahal dari Kalimantan Barat. Soalnya dari Pontianak harus naik pesawat ke Jakarta, baru deh dari Jakarta bisa ke Bali.

Photobucket

Sekarang saya tidak hanya dikenal oleh orang dari tanah yang sama. Tapi melalui blog teman-teman dari seluruh dunia bisa tahu tentang saya. Bahkan tinggal mengetikkan keyword ‘Rohani Syawaliah’ di google, halaman pertama isinya saya semua. Google saja mengakui keberadaan saya.

Itu adalah sebagian cerita saya di dunia maya yang akhirnya membuat saya dikenal di dunia nyata oleh banyak orang. Semua itu pastinya tidak bisa terjadi apabila tidak didukung oleh jaringan internet yang murah dan cepat. Sejak tahun 2010, saya menggunakan AXIS sebagai provider yang mendukung kegiatan berselancar saya di dunia maya. Saya paling ingat promosi yang paling sulit saya habiskan setiap harinya. Menggunakan Rp1.000 untuk internetan langsung dapat 10MB.

Belum lagi bonus telpon dan SMS-nya. Wajar apabila AXIS menggunakan tagline GSM yang Baik. Memang baik sih ya? Seperti sekarang saya menuliskan ini karena AXIS sedang membagikan banyak hadiah untuk blogger yang mengikuti perlombaan mereka. Hari ini hari terakhir lo, buruan ikutan juga Eksis dengan Internet.


28 Februari 2012

Catatan Hati di Warung Kopi Winnie 2

Catatan Hati di Warung Kopi Winnie 2


Baiklah, saya masih saja menghabiskan sisa malam saya di Warung Kopi Winnie malam tadi. Saya membuat catatan lagi seperti malam sebelumnya. Selamat membaca.

27 Februari 2012
Sekarang saya berada di rute terbaru dalam kehidupan saya. Menjadi gadis nongkrong warung kopi. Malam itu lagnit cerah. Tidak ada gerimis menusuk tulang seperti malam sebelumnya. Saya mendapatkan meja di tengah. Malam ini saya mengajak beberapa teman, lelaki tentunya, untuk join di meja saya. Tapi mereka belum tiba. Entah akan menyusul atau tidak saya tidak benar-benar tahu karena saya tidak begitu peduli mereka akan menemani saya atau tidak.

Warung Kopi Winnie ini mengingatkan saya pada seseorang yang sangat saya kagumi. Pay Jarot Sujarwo. Seorang penulis yang sangat produktif. Apa pun bisa dia tulis dan ramu menjadi buku. Bahkan cerita konyolnya sebagai orang udik yang keliling Belanda pun bisa menjadi buku dengan judul SEPOK. Saaya baru saja memesan buku ini. Belum membaca tapi dari halaman facebook buku ini saya tahu ceritanya ditulis dalam bahasa Melayu Pontianak. SEPOK bisa diartikan sebagai perilaku seseorang yang kampungan, udik.

Semua bahasa Pay yang cair dan mengalir apa adanya pasti merasukin setiap inci buku ini. Saya teringat sebuah buku beliau yang sempat saya beli. Buku yang sangat lucu judulnya KALAU LAPTOPKU TIDAK HILANG, MUNGKIN BUKU INI TIDAK AKAN TERBIT. Sesuai juduulnya, buku ini memang terbit karena laptop Pay hilang. Semua karena keteledorannya sendiri.

Malam naas itu dia sedang mengedit naskah yang akan ia bukukan. Kemudian tertidur di ruang tamu. Laptop menyala. Pintu depan terbuka. Besok paginya laptopnya telah lenyap. Tapi bukan Pay namanya apabila tidak memanfaatkan momen untuk membuat karya yang fenomenal. Akhirnya terbitlah bukunya dalam waktu singkat.

Saya? Beli dong. Bahkan saya datang pas launching buku tersebut.

Balik lagi ke cerita saya di warung kopi. Malam kedua ini sangat specsal. Saya bertemu dengan mantan kekasih yang tidak disetujui orang tua saya sebagai pelabuhan terakhir yang ingin saya pilih. Polki. Jika kalian membaca Merajut Jembatan Pelangi, kalian akan sadar siapa dia. Tidak seperti kisah Kayra dan Polki yang berakhir bahagia. Kisah saya dan “Polki” (Popeye) kandas di tengah jalan. Dia menikah dihari ulang tahun saya yang ke-25. Kado yang sangat indah untuk perayaan ulang tahun bukan?

Saat saya tanya: “Dari 365 hari yang ada di tahun 2011 tidak adakah hari yang lain selain tanggal 26 Juni yang harus kamu pilih sebagai hari pernikahanmu?”

Beberapa minggu yang lalu, saat saya galau tingkat dewi, ketika itu saya baru saja putus dari kekasih saya yang terakhir, saya menghubunginya. Dialah orang pertama yang terlintas di kepala saya. Saya curhat sesuka hati saya. Saya tumpahkan semua kekesalan dalam hati saya. Ujung-ujungnya dia mengaku istrinya telah ‘isi duluan’ saat mereka menikah. Dia tak punya banyak pilihan tanggal. Semuanya mendesak dan harus dilangsungkan sesegera mungkin. Jadi 26 Juni adalah penyelamat hubungan mereka. Setidaknya kekesalan saya di hari itu terobati sekarang. Saya ikhlas harus merayakan ulang tahun berikutnya dan ingat di bagian Bumi yang lain, ada yang merayakan pernikahannya.

Tulisan kali ini saya menuliskannya terlebih dahulu dengan tangan. Saya merasa lebih baik menulis dua kali. Menulis dengan tangan saya rasanya berimbang. Tidak ada pikiran yang tertinggalkan.

Jika memang ratusan malam pun yang saya habiskan di sini dan saya tidak menemukan apa yang saya cari setidaknya saya bisa menerbitkan buku dengan judul ‘Catatan di Warung Kopi Winnie’.

Balik lagi ke Pay, dia juga pernah menceritakan warkop ini dalam monolog yang dia buat dan pentaskan di Pusat Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat beberapa tahun yang lalu. Satu kata untuk monolog Pay, KEREN.

Dua orang yang saya tunggu tak ada kabarnya. Saya sedikit mengantuk. Apabila orang minum kopi untuk menghilangkan ngantuk maka kopi ini tidak ada pengaruhnya pada stamina saya. Mengantuk akan tetap mengantuk walaupun saya meminum segelas besar kopi hitam ini.

Saat saya menuliskan ini, seseorang menyapa saya. Belum, bukan, dia tidak mengajak saya berkenalan. Dia hanya bertanya tentang kursi kosong di sekitar meja saya. Dia Tanya apakah kursi itu ada pemiliknya? Saya ternyata masih Hani yang pemalu itu. Saya menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala sebagai tanda ‘kursi itu memang tidak ada pemiliknya’. Pertanyaan berikutnya yang dia ajukan adalah apakah dia boleh meminjamnya? Saya ingin mengatakan ‘tentu saja’, tapi saya hanya bisa mengangguk kecil. Tidak butuh satu menit, interaksi kami berdua berakhir. Tak ada tukaran nomor hape apalagi Tanya-tanya nama. Tentu saja hal terakhir itu tidak terjadi. Bagaimana mungkin?

Yah, setidaknya ada hal baru yang terjadi hari ini. Selain itu orang-orang yang ada di sini berbeda dari yang kemarin. Meskipun tidak menutup kemungkinan ada yang datang lagi seperti saya.

Sebelum ke sini sebenarnya saya ke Mega Mall Ayani. Menyebar katalog Oriflame edisi Maret. Saya tidak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang mangkir untuk membayar hutangnya. Saya yakin dia berusaha sangat keras untuk menghindari saya. Tapi Pontianak entah mengapa terasa kecil untuk orang seperti dia. Selalu saja bertemu tak sengaja dengan saya. Lucu, iya.

Malam ini saya pesan dua potong pisang goreng srikaya. Saya lapar. Itu saja. Di warkop ini tidak ada nasi dan makanan jenis berat lainnya, jadi mau tidak mau pisang goreng pengganjal perut saya. Kopi segelas, masih cukuplah untuk saya.

Di sini saya tahu, saya terlihat aneh karena minum kopi hitam. Namun, di tempat saya dibesarkan minum kopi adalah hal yang sangat umum dilakukan semua orang, termasuk anak-anak bahkan perempuan. Oh, mata saya sedemikian beratnya ternyata. Saya mengantuk, teramat mengantuk. Sebelum pulang saya harus menghabiskan semua yang sudah saya pesan bukan? Saying apabila harus dibuang. Bayarnya kan pakai uang bukan dedaunan.

Demikian tulisan saya di Warung Kopi Winnie malam tadi. Senang bisa berbagi.

27 Februari 2012

Catatan Hati di Warung Kopi Winnie

Catatan Hati di Warung Kopi Winnie


Berikut adalah tulisan yang saya ketik dari tulisan tangan saya semalam di Warung Kopi Winnie Jalan Gajah Mada, Pontianak Kalimantan Barat.

Kopi tinggal sepertiga. Pisang srikaya sudah saya habiskan. S... on Twitpic

26 Februari 2012
Here we are. Semenjak menyandang status jomblo. Belum 1 bulan. Guncangan hebat dalam kehidupan saya rasanya adalah tahun ini. Berapa kalipun saya mencoba menunjukkan betapa bahagianya saya dengan kehidupan saya yang sekarang tetap ada sesuatu yang sangat mengganjal. Tidak akan ada yang menelpon hanya untuk mengucapkan selamat pagi atau selamat tidur.

Intinya tidak ada seseorang yang benar-benar peduli dengan keadaan saya. Seseorang yang benar-benar ingin tahu kabar keseharian saya. Saya merasa diri saya terkunci dalam sebuah ruangan entah apa dan saya tidak tahu cara membuka pintunya.

Saya rasa harus ada yang saya ubah untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Pasti ada yang salah dengan saya. Ada yang kurang yang harus saya tambahkan. Minimal saya harus mengubah rutinitas yang saya jalani selama ini.

Menemukan seseorang yang menjadi jodoh kita adalah sebuah hak bukan? Jika tak menemukannya di rute yang biasa saya tempuh selama 3 tahun ini, pasti ada yang salah bukan? Salah rute dan saya tidak boleh terlalu lama bertahan di rute yang sama kemudian berharap jodoh saya yang akan mengubah rutenya.
Sekarang saya sedang menempuh rute yang tak biasa. Mendatangi tempat-tempat yang tak biasa. Seperti malam ini, saya memutuskan untuk menuliskan postingan ini di buku kecil saya sebelum mengetiknya. Menuliskannya di sebuah warung kopi yang terkenal di Jalan Gajah Mada. Di depan Hotel Orchardz, Warung Kopi Winnie. Saya duduk sendirian di tengah keramaian. Menyesap kopi hitam saring, perlahan-lahan, ditemani sepotong pisang goreng srikaya yang manis dan harum. Harga kopinya hanya Rp3.000 dan pisang goreng srikayanya Rp2.500/potong. Saya hanya menghabiskan segelas kopi dan sepotong pisang goreng.

Saya terus menulis dan tak peduli dengan begitu banyak pasang mata yang menatap saya. Saya menunggu, hingga seseorang datang menyapa saya mungkin.

Sebelum saya ke sini, saya menanyakan pertanyaan yang teramat mustahak di dalam kepala saya. Tentang kekurangan saya sehingga tidak ada satu orang pun yang menghampiri kehidupan saya. Ada yang bilang karena saya terlalu banyak bicara. Padahal apabila belum akrab biasanya saya tidak banyak mengeluarkan kata-kata. Ada jug yang bilang saya kurang simpel dandanannya.

Saya mulai berpikir untuk menjadi perempuan yang lebih pendiam. Sedangkan kesimpelan saya hanya memperhatikan pakaian. Dandanan yang ada di wajah saya, saya pikir sudah cukup simpel. Gadis mana yang akan keluar tanpa bedak di wajahnya dan bibir pucat tanpa pulasan lipstick?

Wajah saya tidak sejak awal memang tidak didukung oleh bibir yang sudah merah tanpa tambahan apa-apa, siapa yang akan tertarik dengan wajah yang tidak dirawat?

Sekarang saya sudah sampai pada tahap mengomel dan tidak ada yang menghampiri saya selain pengemis dengan kantong plastik di tangannya.

Saya jadi teringat dengan cerita Bang Wahyu, teman saya. Dia selalu tidak perduli dengan tanggapan orang lain, ketika dia menyukai seorang perempuan dia akan mengajaknya kenalan. Tak masalah jika dia menemukan gadis itu di lampu merah. Bang Wahyu akan rela mengejarnya dan meminta nomor hapenya.

Sekarang saya baru sadar satu hal. Tulisan  saya tak sebagus SMA dulu. Saya memang jarang menulis dengan tangan beberapa tahun terakhir ini.

Saya mengedarkan pandangan beberapa kali dan ternyata tak ada satu lelaki pun yang bersinar di sini. Terdengar klasik, tapi ketika saya menyukai seseorang saya yakin saya akan melihat ‘cahaya’-nya di antara semua orang yang ada di sini.

Apakah kamu seirng mengalami yang saya alami?

Aih, kopi hitam saring yang disajikan sekarang terasa sangat pahit karena tadinya saya makan pisang goreng srikaya. Manisnya membuat lidah saya peka dengan kopi pahit saya. Eh, ada fotografer ganteng yang kemarin saya temui di lomba foto lumix. Saying dia ternyata sekarang sudah menuju parkiran. Dia sudah selesai ngopi rupanya. Dia pulang.

Apa yang kamu pikirkan ketika melihat seorang gadis berkerudung nongkrong di warkop sendirian pukul 10.00 malam? Jika kamu berpikir ibu saya akan marah apabila dia tahu apa yang saya kerjakan, kamu salah. Ibu saya tidak pernah memberlakukan jam malam dan sekarang saya tinggal di rumah kontrakan. Jauh dari keluarga. Lagi pula saya sudah 25 tahun, sebentar lagi 26. Sudah cukup dewasa untuk menggunakan waktunya hingga tengah malam bukan?

Beberapa bulan ini saya memikirkan banyak hal. Seperti ingin mengajak Koran lokal untuk bekerja sama. Menjadikan saya penulis tetap di rubrik fiksi mereka misalnya. Semacam penulis lepas tapi menjadi penulis tetap tanpa jadwal atau jam kerja. Hanya deadline yang harus saya penuhi setiap minggunya. Tapi saya tidak tahu harus menghubungi siapa. Kadang agak ngeri untuk memulainya. Terlintas juga di kepala saya pertanyaan: “Memangnya mereka mau menjadikan saya penulis tetap untuk mengisi rubrik fiksi mereka?

Satu hal yang paling saya sukai dengan menuliskan apa yang terlintas di kepala menggunakan tangan adalah saya selalu menulis lebih panjang dan lebih cepat. Tidak ada godaan untuk main game atau mengganti-ganti lagu. Ini bahkan telah menghabiskan 6 lembar kertas catatan yang saya dapat di pertemuan On|Off ID. Ini sudah di lembaran ke-7. Artinya sudah 13 halaman. Sebuah prestasi yang sudah lama tidak saya capai. Soalnya saya lebih sering menulis dengan word. Hemat kertas dan tinta.

Saya pikir menulis dengan tangan adalah terapi. Terapi buat orang yang baru saja putus cinta belum genap satu bulan. Terapi untuk seseorang yang pengen pindah rute dalam kehidupannya.

Oh iya, sebelum saya nongkrong di warkop sebenarnya saya nongkrong di Pontianak Convention Centre. Biasa, nyari mangsa, mumpung di sana sedang ada pameran produk elektronik. Tapi rute yang tak biasa ini juga sepertinya belum jelas arah tujuannya. Lucunya, saya bertemu dengan Budi di sana. Dia memperhatikan saya. Satu jam pertama saya ternyata tidak ingat dia siapa. Setelah 1 jam berlalu saya baru sadar.

Budi Prasetyo adalah pria yang  pernah mendekati saya beberapa tahun yang lalu. Dulu saya menghindarinya. Sekarang pun saya tidak berpikir untuk menjadi kekasihnya. Seberapa mengenaskannya kesendirian saya saat ini pun saya tidak ingin menjadi pacarnya.

Dia masih terlihat seperti dulu. Cowok menyebalkan yang tergila-gila pada saya. Apa yang saya tidak suka dari dirinya? Banyak… dia perokok berat. Tidak pintar merawat diri sehingga bau badan tidak karuan ketika siang menyengat. Saya pernah makan siang satu kali dengannya dan tidak mau lagi. Mengapa? Dia orangnya memalukan. Masa’ waktu itu dia bilang mengajak saya makan di situ karena sedang ada promo paket makan siang murah. Padahal dia tidak perlu bicara seperti itu. Tidak masalah buat saya dia mengajak saya makan di mana pun dan kapan pun.

Hal menjijikkan lainnya adalah dia menjilati jemarinya setelah makan. Ini hampir membuat saya muntah, bahkan sekarang pun saya masih ingin muntah menceritakannya kembali. Ok, cukup cerita tentang Budi. Dia memang bukan cowok yang akan membuat saya jatuh cinta. Alih-alih jadi teman, saya lebih suka menghindar darinya.

Saya malam ini memang tidak menemukan apa yang saya cari. Bahkan belum ada yang mengajak saya berkenalan. Tapi seorang jurnalis, bapak-bapak, menyapa saya. Dia tanya apakah saya jurnalis jug? Saya jawab iya, meskipun kejurnalisan saya sudah berakhir masanya. Saya tidak mungkin bilang semua yang saya tulis di sini adalah curhat mengenaskan saya.

Saya tidak ingin menyembunyikan semuanya saja. Saya memang belum menemukan bahagia dalam cinta. Setidaknya saya bahagia dengan cara saya menghadapi kesendirian ini. Melihat hal-hal baru di warkop. Bisa jadi akan berkenalan dengan seseorang di sini. Entah teman biasa atau teman hidup saya tidak tahu. Hanya belum mala mini. Saya harus pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Saya butuh istirahat dan tempat melupakan kehidupan untuk beberapa jam.


Itu dia tulisan saya semalam di sebuah warung kopi. Setelah diketik ternyata memenuhi 6 halaman. Cukup panjang untuk dibaca dihari Senin yang sibuk ini. Selamat menikmati.

26 Februari 2012

25 Februari 2012

Dari Balik Hati Senja [Bagian 4]



Cerita sebelumnya.

Senja menatap sosok Sandy dari kejauhan. Dia memutar langkahnya ke jalur yang tidak biasa ia lewati. Saat ini, minimal detik ini, Senja merasa butuh waktu yang lebih panjang untuk tidak bertemu dengan Sandy. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa.

“Nja, Senja!”

Senja menoleh ke belakang dan menemukan sosok Nugrah. Sosok yang sekarang juga tak ingin ia temui. Tidak bisakah setiap cowok yang tidak ia inginkan jangan muncul di depannya.

384724_301426863225522_144860508882159_1029579_406054356_n_large

“Aku menyesal. Aku ingin kembali kayak dulu lagi.”

“Tidak ada yang bisa kembali kayak dulu lagi Nu. Tidak ada. Bisakah setiap orang di dunia ini jangan mencariku?”
403095_355662321135309_144860508882159_1175518_1788296965_n_large
Sandy yang sejak tadi mencari Senja menemukan dua sosok yang sangat dikenalnya. Setengah berlari ia menyusul Senja dan Nugrah.

“Ada apa Nja?” Sandy menatap gadis yang terlihat kesal itu.

“Aku mau pulang. Antar aku pulang.”

“Aku saja…” Nugrah menawarkan bantuan.

Complicated-5b3a6d111ab90d6f34899b9b42e09aad_h_large

“Aku tidak ingin bertemu lagi denganmu.” Senja menepuk dada Nugrah perlahan. Menyisakan senyuman dingin yang tak mampu Nugrah terjemahkan.

***
Senja menghempaskan tubuhnya ke ranjang Sandy. Sahabatnya itu menghilang ke dapur mengambilkannya minuman. Beberapa menit kemudian membawa dua gelas minuman dingin di tangannya. Meletakkan semuanya di atas meja dan membiarkan kebisuan melanda mereka berdua.

“Jadi mengapa orang tuamu memintaku datang ke sini?”

“Tanya sendiri saja, mereka ada di ruang tamu sekarang.”

“Jangan bohong, jangan main-main lagi, dan jangan cium aku lagi.”

“Aku serius, bahkan ketika aku menciummu.”

Senja merasa detak jantungnya berhenti mendengar ucapan Sandy. Buru-buru ia menyambar tasnya dan berlari turun melalui tangga. Langkahnya melambat di ruang tamu. Sudah ada orang tua Sandy di sana. Seorang lelaki menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Gadis itu mengibaskan rambutnya dengan cuek.

“Sandy bilang Senja harus bertemu dengan Om sama Tante, ada apa ya?”

“Jun, ini Senja. Senja ini Jun.”

Senja bingung diperkenalkan dengan seorang laki-laki asing di rumah Sandy. Apa artinya? Senja menatap ke atas tangga dan melihat wajah sendu Sandy. Ada yang tidak dikatakannya. Dia menyembunyikan sesuatu.

Sandy menghembuskan napas berat melihat laki-laki yang di ruang tamu itu tersenyum pada Senja. Tidak butuh lama untuk laki-laki mana pun menyukai Senja. Dia sendiri bahkan jatuh cinta sejak kecil padanya. Sekarang dia berada di persimpangan yang sangat membingungkan. Kedua orang tuanya malah ingin membuat Senja dekat dengan anak teman ayahnya. Bukankah mereka juga punya anak laki-laki yang bisa mencintai Senja lebih baik dari siapa pun.

***

Tengah malam, Senja menyelinap ke balkon kamar Sandy. Ia mendengar tangisan di seberang sana. Bahkan ia merasakan dadanya sendiri sesak. Ia tidak tahu harus bersedih karena apa, tapi di dalam dadanya rasanya ada yang menekan hingga ia sendiri kesakitan. Sumbernya apakah di sana? Apakah Sandy penyebabnya?

Perlahan ia memutar pegangan pintu. Ia gagal membukanya. Tentu saja ia gagal, siapa yang akan membiarkan pintu terbuka tengah malam begini. Ia ingin kembali tapi ia juga ingin tahu ada apa dengan Sandy.

“Senja…”

Senja melihat mata Sandy basah, pipinya juga basah.

“Ada apa San? Mengapa menangis?”

Senja langsung memeluknya erat-erat. Beberapa menit mereka hanya tenggelam dalam diam. Senja tak pernah melihatnya menangis seperti ini sebelumnya. Tidak bahkan waktu kecil sekalipun. Tangan gadis itu membelai kepala Sandy perlahan.

“Kamu tahu tidak tanggal lahir kita bisa sama disebabkan karena apa?”

“Ada apa San? Ada apa sih? Ada apa dengan tanggal lahir kita?”

“Kita kembar Nja, kembar. Kita saudara kembar.”

“Tidak mungkin, orang tua kita beda San.”

Sandy menggelengkan kepalanya.

“Orang tuaku adalah orang tuamu. Mereka tadi sore memperlihatkan semuanya padaku. Orang tuamu yang memohon untuk memilikimu dulu. Mereka tidak akan pernah memiliki anak karena Tante Putri tidak punya rahim lagi. Kita saudara kandung Nja.”

“Mustahil.”

Sekarang giliran mata Senja yang basah.

24 Februari 2012

Dari Balik Hati Senja [Bagian 3]

Dari Balik Hati Senja [Bagian 3]


253882_1946683980401_1041585787_2191951_5632352_n_large 

Senja menyibak tirai jendela kamarnya. Matanya langsung bertemu dengan sepasang mata Sandy yang ternyata sudah berada di jendela seberang sana. Sudah mandi dan rapi. Senja baru saja bangun. Masih bau dan rambutnya awut-awutan.

“Apa-apaan berdiri di sana mematung?” tegur Senja dengan kesal.

 247988_1946680580316_1041585787_2191941_2024403_n_large
Sandy tak menyahut. Lelaki itu bergerak ke balkon kamarnya dan menyeberang ke balkon kamar Senja. Gadis itu hanya menggeeleng-gelengkan kepala sambil menarik napas. Sandy gelagatnya aneh sejak kemarin. Sekarang menyeberangi balkon seperti yang sering mereka lakukan sejak kecil? Bagaimana jika tetangga melihat itu?

“Pagi Nja.”

“Mau apa sih?”

Senja menguap sambil meregangkan otot lengannya. Sandy memeluknya dari belakang. Sejenak Senja bisa mendengar detak jantung Sandy dari punggungnya sendiri. Tapi detak jantungnya tak kalah keras berdetak. Tak ada perlawanan yang datang darinya.

“Aku harus mandi, lepaskan aku.”

“Kamu tidak merasakan apa-apa? Mimpi apa semalam?”

 Boys-couple-cute-girls-hug-favim.com-313159_large
“Pertanyaan aneh, sudah pulang sana. Aku mau mandi. Memangnya hanya kamu yang bisa rapi dan wangi? Aku juga bisa.”

“Senja, jawab dulu. Kamu mimpi apa?”

Sandy tak melepaskan pelukannya sedetik pun. Senja terpaksa menarik dirinya perlahan. Mendorong Sandy beberapa langkah. Membuat jarak antara mereka.

“Ada apa San?”

Tok! Tok!

“Senja! Bangun!”

Terdengar suara ibunya dari balik pintu yang diketuk.

“Sudah bangun kok. Mau mandi bentar lagi.”

“Ada suara siapa di kamarmu? Kamu bawa teman cowok menginap?”

“Hanya Sandy kok.”

“Sandy menginap?”

“Dia hanya menyeberang balkon tidak menginap. Aku suruh pulang sebentar lagi.”

Ibunya tak melanjutkan pertanyaannya dan Senja mendengar langkah ibunya menjauh dari pintu. Langkah itu terdengar di anak tangga.

“Sekarang pulang.”

“Masalahnya apa Senja?”

“Kamu yang jadi masalahku sekarang.”

“Aku? Bagian mana yang jadi masalah?”

Senja terpaksa duduk di pinggir ranjangnya sambil menarik napas yang teramat panjang.

“Aku sudah melihatmu sejak kecil hingga sekarang San. Semua model rambutmu aku sudah lihat. Semua tren yang kamu ikuti aku tahu. Kita selalu bareng sejak lahir, jika boleh kukatakan demikian. Kita seperti saudara kembar. Tapi kenyataannya kamu bukan saudaraku. Sekarang rasanya baru kemarin aku melihatmu menyeberangi balkon itu dengan tubuh mungilmu dan sekarang kamu sudah berubah menjadi seorang pria gagah yang ganteng dan popular di kampus. Aku harusnya sadar sejak awal kita akan membesar seperti sekarang ini…”

“Kamu bilang aku ganteng Nja?”

Senja terdiam. Tanpa sadar dia mengatakan sesuatu yang harusnya tidak dia katakan. Ia tak bisa menebak Sandy akan melakukan apa mendengar pujian semacam itu.


“Kamu melihatku dari kaca mata perempuanmu Nja? Kamu melihatku sebagai lawan jenis sekarang? Bukan teman sepermainanmu lagi? Bukannya selama ini tak pernah ada pemahaman seperti itu dalam hubungan kita?”

“Kamu salah mengerti…”

Sandy bergerak ke arahnya. Tanpa diduga, Sandy melabuhkan bibirnya di bibir Senja. Bibir mereka bertemu beberapa saat. Mata Senja sejenak terpejam dan dia membiarkan ciuman itu terjadi tanpa bisa menolaknya. Hatinya menghangat. Lebih hangat dari rasa yang ia dapati dengan Nugrah. Lebih berwarna dan lebih indah.

Tumblr_lj1um8rnme1qhkrmbo1_500_large

Sandy menarik wajahnya menyisakan sedikit jarak agar ia bisa menatap wajah Senja. Wajah tercantik yang ia kenali sejak kecil. Selalu menjadi pemandangan terindah yang ingin ia lihat setiap pagi dari jendela kamarnya.

“Mandi sana. Aku harus berangkat kuliah.”

Senja tak menyahut. Kejadian tadi sangat mengejutkannya sehingga ia tak mampu berkata-kata. Sebelum pergi Sandy mendaratkan kecupan hangat di dahinya. Senja tertegun. Apa yang terjadi dengan dirinya?

Bersambung

23 Februari 2012

Dari Balik Hati Senja [Bagian 2]

Dari Balik Hati Senja [Bagian 2]


Senja melempar buku yang terpaksa dibelinya ke ranjang. Jenny sudah pulang. Sandy duduk di pinggiran jendela kamar Senja. Wajah mereka ekspresinya sangat bertolak belakang. Senja merengut dan Sandy menahan tawa. Gadis itu mengambil karet dan mengikat rambutnya dengan kasar. Rambutnya terikat seadanya. Mata mereka bertemu beberapa detik.

 9218374206806825_c9xewy15_f_large
“Senang sekarang?” suara Senja yang jernih terdengar sangat ketus.

“Aku tidak memintamu untuk berbohong pada Jenny, kamu sendiri yang bohong. Sekarang semua salahku?”

“Setidaknya kamu bisa cari cara agar aku tidak perlu berada di antara kalian.”

“Ada apa dengan Jenny? Dia salah apa sama kamu?”

“Kamu tahu sendiri Jenny bukan tipe cewek yang cocok buat kamu. Kamu lihat saja, dia hanya mempermainkanmu. Kamu buat ya San? Dia tuh kerjaannya gonta-ganti pacar. Bukan hanya di kampusku tapi di semua kampus universitas kita. Bahkan anak-anak dosen yang berada di kampus lain pun pernah dipacarinya.”

“Berarti dia populer, harusnya aku bangga bisa menjadi bagian dari kepopuleran itu.”

Senja menarik napas sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.

“Kamu tahu? Aku tidak peduli kamu mau pacaran sama siapa, mau sama Jenny atau cewek lain yang sepuluh kali lebih player dari Jenny juga tak ada masalah. Sekarang pulang sana.”

“Kamu cemburu?”

Senja melotot mendapat tuduhan semacam itu.

“Bicara apa kamu?”

“Akuilah kalau memang kamu cemburu. Kamu tidak ingin aku dekat dengan orang lain karena sekarang kamu jomblo dan kamu iri aku punya pacar.”

“Kamu bisa baca wajahku, kamu bisa lihat sendiri aku cemburu atau tidak.”

Sandy mendekat. Duduk di sebelah Senja dan memperhatikan wajahnya dari jarak yang sangat dekat. Beberapa puluh detik yang terdengar hanya detak jantung mereka. Entah kapan terakhir kalinya mereka berdua saling menatap sedekat ini. Tapi bukan begini rasanya. Bukan.

“Sudah?” Senja mendorong tubuh Sandy agar menjauh darinya.

“Kamu sedang memikirkan sesuatu yang lain tadi. Apa?”

“Kamu sendiri yang bilang bisa membaca ekspresi wajahku. Kamu sendiri yang jelaskan apa yang ada di dalam kepalaku.”

Sandy menatap mata Senja lekat-lekat.

“Kalau kamu tidak suka aku dekat dengan perempuan mana pun kamu tinggal bilang Nja. Detik itu juga aku tidak akan dekat dengan Jenny atau cewek yang lain.”

“Maksud kamu?”

Sandy terlihat gugup. Ia tak bisa mengatakan apa yang dia lihat di mata Senja. Dia melihat sesuatu yang tak biasa. Sesuatu yang tak pernah ada sebelumnya. Apakah ia telah membacanya dengan benar?

“Pulang sana. Ini kamar cewek. Tidak baik berlama-lama di sini.”

“Akhir-akhir ini kamu selalu mengatakan hal seperti itu. Kamar cewek. Privasi. Aturan yang bermacam-macam. Sejak kapan ada jarak antara kita Nja?”

“Sejak kita sudah duduk di bangku kuliah dan aku sadar kita beda jenis. Bisa diterima penjelasanku?”

“Bukan itu yang aku lihat.”

“Apa yang kamu lihat San?”

“Kamu bukan iri karena kamu jomblo dan aku punya Jenny. Kamu cemburu sebagai perempuan. Kamu menyadarinya sekarang, bahwa kita lawan jenis, itu yang membuat jarak antara kita akhir-akhir ini.”

“Omong kosong macam apa itu San? Mana mungkin aku punya perasaan semacam itu. Kita sahabatan dari kecil. Tidak mungkin ada yang bisa mengubah itu semua. Aku tidak suka Jenny itu saja.”

“Jujur Senja.”

Senja menggelengkan kepala berkali-kali dengan cepat sambil tertawa. Sandy berpikiran terlalu jauh. Jenny memang bukan pengaruh yang baik untuknya. Harusnya sejak awal dia sudah mengingatkan Sandy tentang siapa Jenny bukannya malah menghindari untuk bertemu bertiga. Akhirnya Sandy sudah memiliki hubungan khusus dengannya.

Sandy memegang belakang leher Senja perlahan membuat jarak wajah mereka semakin dekat. Sekarang mereka bahkan mendengar dengusan napasnya berdua. Hidung Senja hampir menyentuh hidung sahabatnya itu. Ia tak menarik wajahnya. Dibiarkannya Sandy menatapnya dalam jarak sedekat itu. Mereka bertatapan lama.

 420931_370903856271019_226262497401823_1355650_1478279915_n_large-453x300_large

“Jujur dengan dirimu sendiri Senja.”

Sandy melepaskan lehernya dan meninggalkannya begitu saja. Melangkah pulang. Ke rumah sebelah.