24 Januari 2012

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 25]


            Tapi hampa terasa di sini tanpamu
            Bagiku semua sangat berarti lagi
            Kuingin kau di sini
            Tepiskan sepiku bersamamu
            Takkan pernah ada yang lain di sisi
            Segenap jiwa hanya untukmu
            Dan takkan mungkin ada yang lain di sisi
            Kuingin kau di sini
            Tepiskan sepiku bersamamu
            Bagiku semua sangat berarti
            Kuingin kau di sini
            Bagiku semua sangat berarti lagi
            Kuingin kau di sini
            Takkan pernah ada yang lain di sisi
            Segenap jiwa hanya untukmu
            Takkan mungkin ada yang lain di sisi
            Kuingin kau di sini
            Tepiskan sepiku bersamamu
            Hingga akhir waktu
            Hingga akhir waktu
            Takkan pernah ada yang lain di sisi
            Segenap jiwa hanya untukmu
            Dan takkan mungkin ada yang lain di sisi
            Kuingin kau di sini
            Tepiskan sepiku bersamamu
            Hingga akhir waktu
            Hingga akhir waktu
                                                            (Hingga Akhir Waktu, Nineball)

            
Aku kecewa lagi pada diriku sendiri. Aku menyakiti hatiku lagi. Aku tak sanggup untuk menerima kenyataan ini. Sekarang semuanya terasa lebih berat dari sebelumnya. Lebih berat dari keputusanku untuk lari dari pernikahanku dengan Rheka. Aku harus menikah dengan Habibi disaksikan oleh orang yang paling aku kasihi. Aku tak mampu membayangkan semua itu terjadi. Aku tak punya kekuatan sebesar itu untuk menatapmu lagi Polki. Semuanya selalu karena aku yang begitu gegabah menentukan pilihan. Padahal aku boleh menolaknya. Bukankah Abi dan Umi tak pernah memaksakan yang harus aku pilih.
           
 Angin yang meniup jilbabku terasa tak lagi dingin. Semuanya terasa hampa. Rerumputan yang hijau juga tak lagi nampak indah di mataku. Berbeda dengan saat kita pertama kami bertemu. Saat pertama kali aku membiarkan kamu menyentuh hatiku dengan cintamu. Sejauh mataku memandang aku hanya merasakan kehampaan yang menyesakkan dadaku. Ya Allah kenapa seperti ini? Jalan apa lagi yang harus aku tempuh? Aku tak mungkin selamanya lari dari pernikahanku. Aku harus mempertanggungjawabkannya.
            
“Kak, pulang yuk…”
            
Cempaka menarik tanganku agar segera meninggalkan tempat itu. Aku masih ingin di sini. Aku merasa ini tempat yang cocok untuk aku menenangkan hatiku dan membiarkan dadaku bernapas lebih lega.
            
“Kakak masih ingin di sini.”
            
Aku tak peduli Cempaka akan tetap menemaniku atau membiarkan aku sendiri saja. Aku hanya ingin di sini. Memikirkan semuanya dari awal dan merasakan kesakitanku sendiri. Luka ini karena kesalahanku Polki. Salahku yang pengecut untuk menerima ajakanmu kabur berdua. Kita malah kabur sendiri-sendiri. Kenapa kita berlabuh di tempat yang sedekat ini? Dekat namun kita tak pernah tahu kita berada di tempat yang hanya butuh waktu beberapa menit untuk bertemu. Seharusnya sejak awal kita dipertemukan agar posisi kita rumit begini. Aku lelah terjepit terus.
            
“Apa pun yang terjadi dalam hidup kita pasti yang terbaik Kak. Itu sudah takdirnya.”
            
“Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya?”
            
Air mataku semakin deras mengalir. Cempaka mengusap pipiku yang basah. Aku tak sanggup lagi. Aku memeluknya. Tangisanku meledak semakin keras. Ternyata aku tak sekuat dirimu Cempaka. Kamu begitu sabar menjalaninya semua. Aku mendapat calon suami sebaik Habibi malah patah hati. Kurang apa lagi dia sampai aku masih berat hati merelakan Polki menikah dengan perempuan sebaik Annisya? Bukankah Annisya akan membahagiakan Polki suatu hari nanti. Polki mungkin akan lebih bahagia dengannya. Aku hanya bingung apakah aku bisa bahagia dengan pernikahanku nanti?
            
“Pulang yuk?”
            
Aku mengangguk sambil menghapus semua air mata yang telah membanjiri wajahku. Aku tak akan sanggup membiarkan hatiku sendiri terluka. Tapi aku juga tak mungkin melukai hati orang sebanyak ini. Lebih banyak lagi dari sebelumnya. Tak hanya Habibi yang akan kecewa dengan kenyataan yang ada di depan mata. Annisya akan murka karena aku akan meminta calon suaminya untukku. Aku meminta padamu, bolehkah aku memintanya?
            
Kehampaan itu masih saja menggelayuti hatiku. Berakhir sudah semuanya. Aku yang membuatnya berakhir. Aku sejak awal memang tidak mampu mempertanggungjawabkan cinta yang pernah aku torehkan di hatimu Polki. Aku yang bersalah. Andai saja aku bisa memutar waktu dan kembali ke masa-masa yang manis itu. Aku tak ingin cinta kita berakhir sampai di sini.
            
Aku menghentikan langkahku karena aku menemukan sebentuk wajah yang sangat aku kenal di depanku. Matanya juga basah. Melebihi basahnya mataku. Harus berapa kali aku ingatkan Polki? Laki-laki tak boleh menangis. Laki-laki harus kuat. Lagi pula yang salah dalam hal ini bukan kamu. Tapi aku. Aku yang menghancurkan semuanya. Aku yang tak menjaga hatimu. Aku yang memusanahkan hatimu. Hati yang selama ini mencintaiku dengan lembut.
            
“Kak?”


Cempaka memintaku untuk bereaksi dengan kehadiran Polki yang entah sejak kapan ada di sini. Aku ingin memeluknya tapi tak mungkin aku boleh melakukan itu. Ia bukanlah suamiku. Calon suami saja bukan. Kalau bisa aku ingin melakukan semua hal yang dulu pernah kami lakukan. Namun semenjak menjadi santriwati di sini aku kemudian menyadari bahwa semua itu bukanlah suatu hal yang dibolehkan dalam Islam. Semuanya salah.
            


“Apa yang kamu lakukan di sini?”
            
Suaraku terdengar begitu hebat bergetar. Aku bahkan tak mampu membendung air mata yang sangat deras mengalir. Cempaka memegangi tubuhku yang mungkin hampir limbung. Aku tak sanggup menahan semuanya sendirian. Aku ingin mengakhiri semuanya saja. Aku tak tahu bagaimana caranya.
           
 “Aku mencarimu dimana-mana.”
            
“Bukankah semuanya sudah jelas Polki. Aku tak pernah mengkhianatimu dengan menikahi Rheka. Aku mencarimu juga. Aku tak mengira kita berada di tempat yang begitu dekat.”
            
“Aku rasa semuanya memang sudah tertulis di garis tangan kita masing-masing. Bahwa ini adalah takdir yang sama sekali tak mampu kita ubah.”
            
“Apa kamu tak akan mengajakku kabur seperti waktu itu? Apa kamu lupa lamaranmu yang telah aku terima?”
            
“Kita sudah membuat pilihan masing-masing. Harusnya kita berani mempertanggungjawabkannya. Kita sudah dewasa. Saat kita menjawab iya kita harus melanjutkannya. Tak mungkin berpaling lagi Kayra.”
            
“Sekarang kamu yang jadi pengecut Polki.”
            
“Ini bukan masalah menjadi pengecut atau tidak. Ini adalah janji kita pada keluarga itu. Kamu mau mengecewakan mereka?”
            
“Tapi apa kamu pernah memikirkan apa yang akan terjadi dengan hati kita?”
            
“Sedikit terluka tapi setelah itu akan kembali baik-baik saja setelah beberapa waktu. Kita harus belajar mencintai sesuatu yang kita miliki bukannya memaksa untuk memiliki sesuatu yang kita cintai.”
            
“Apa kita bisa?”
            
“Seiring berjalannya waktu kita pasti bisa Kayra. Suatu hari kita akan mencintai apa yang kita miliki. Kita juga akan mengingat semua yang pernah kita lewati sebagai sebuah kenangan terindah yang tak akan terlupakan. Jangan terlalu menyiksa hatimu dengan keadaan ini. Kita sudah dewasa.”
            
“Lantas kenapa kamu menangis?”
            
“Karena aku ternyata masih mencintaimu seperti dulu. Sedalam apa pun aku berusaha menguburnya, aku tetap mengingatmu sebagai seorang perempuan yang mau mencintaiku apa adanya.”
            
“Sampai sekarang aku masih mencintaimu.”
            
“Mulai besok kamu harus belajar melupakan Popeye-mu karena ternyata di dunia nyata Olive nggak hanya ada satu orang. Begitu juga kamu harus menemukan Popeye yang tercipta untukmu. Pasti akan menemukan satu di antaranya. Masih banyak yang lainnya.”
            
Polki berlalu setelah mengatakan apa yang memang aku butuhkan. Aku hanya butuh kata-kata itu untuk meyakinkan hatiku menghadapi ini semua. Toh aku tak mungkin lari terus dari orang yang menawarkan seumur hidupnya untukku. Aku tak bisa lari. Langkahku sudah terhenti di sini. Bukanlah suatu hal yang mudah untuk aku bangun. Kehidupan yang sudah susah payah aku bangun dari sebuah langkah pelarian.
            
Aku terdiam menghadapi keluargaku sendiri yang rasanya begitu asing. Untungnya semuanya dalam keadaan sehat. Ya Allah terima kasih karena telah menjaga mereka. Aku menatap Rheka yang ternyata datang juga ke sini. Aku sekarang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya beberapa waktu yang lalu. Dan hanya akan ada satu kata. Maaf. Hanya itu yang perlu aku katakan kepada kedua orang tuaku terutama mama. Namun aku tak menemukan Dagna. Harusnya dia adalah orang yang paling ingin bertemu denganku untuk menghujatku.
            
“Silakan berbincang-bincang lebih dulu. Saya tinggal sebentar.”
            
Abi meninggalkan ruang tamu. Ia merasakan kebekuan yang tercipta antara kami sekeluarga. Aku memang tak pernah mengatakan yang sejujurnya. Apa yang sebenarnya terjadi dalam keluargaku. Aku juga menutup rapat cerita tentang Polki. Bukan apa-apa. Itu akan menjadi masalah yang memberatkan tak hanya untukku tapi juga untuk Polki. Cinta terlarang yang tak akan pernah bersatu tak akan mungkin aku pertahankan. Tak ada gunanya.
           
 “Kamu kenapa pergi Kayra?”
           
 “Maaf.”
            
“Tidak apa-apa.”
            
Benjo menggenggam tanganku. Ia mengalirkan kekuatan yang sangat besar untuk aku bertahan. Aku menatapnya dalam. Selama ini tak pernah ada kedekatan antara kami berdua namun sekarang aku merasakan bahwa ia menyayangiku. Keadaan yang membuat kita terpisah dalam keluarga. Padahal kamu satu-satunya orang yang tak pernah membuatku jengah.
            
“Mana Dagna?”
           
“Dagna sudah beberapa minggu meninggalkan kita semua Kay.”
            
Aku menatap Benjo meminta kepastian penyebabnya. Aku tak tahu sama sekali apa yang terjadi dalam keluargaku selama beberapa bulan ini. Apalagi aku tak pernah mengaktifkan nomorku agar ada yang bisa menghubungiku. Bahkan Mopty tak pernah tahu dimana keberadaanku. Aku benar-benar tak mau ada yang menyusulku di sini. Aku ingin memulai sesuatu yang benar-benar baru dalam kehidupanku. Terutama untuk hatiku. Hati yang terus-menerus aku sakiti dengan keegoisanku.
            
“Kenapa?”
            
“Mama dan papa memang merahasiakan ini. Sebenarnya Dagna terinfeksi HIV. Dia meninggal karena tak mau terapi. Kesehatannya terus memburuk. Akhirnya ia pergi meninggalkan kita semua.”
            
“Sejak kapan ia terinfeksi?”
            
“Sejak ia kuliah di Amerika. Pulang dari sana ia sudah positif.”
            
Benjo menjawab pertanyaanku. Aku menghela napas begitu berat. Jadi selama ini ia terlihat dingin karena ia juga punya masalah tersendiri. Akhirnya aku bebas darimu Dagna. Bagaimanapun juga kesedihanku berbuntut senang. Aku lelah dengan keberadaanmu. Ya Allah terima kasih untuk semua bantuan yang telah diberikan.
            
“Bagaimana kamu bisa berada di sini Kayra? Ada apa sampai mama dan papa diminta datang ke sini?”
            
Aku mulai membacakan dongeng pelarianku yang berakhir di sini. Tak ketinggalan aku mengatakan tentang pernikahanku berikutnya. Semuanya aku ungkapkan tanpa ada yang aku tutupi. Aku tak mau ada satu hal pun yang terlewatkan. Aku membeberkannya tanpa menatap Rheka. Aku tak mau Rheka merasa ada saingan baru yang harus ia hadapi. Sekarang ia tak punya saingan sama sekali karena Habibi adalah calon satu-satunya dan terakhir. Aku tak akan menukar pernikahan ini dengan apa pun dan siapa pun.
            
“Kali ini Kayra nggak akan lari lagi Ma. Ini pilihan Kayra. Habibi adalah calon suami yang terbaik yang pernah ada dalam hidup Kayra. Kayra tak akan menyia-nyiakannya.”
           
 “Kamu yakin tak akan berpaling untuk kedua kalinya?”
            
Aku menggeleng dengan penuh keyakinan. Aku tak akan menumpahkan air mataku untuk kesekian kalinya. Semuanya sudah terlalu banyak aku keluarkan untuk menyesali takdir yang sudah menungguku. Ini takdir, aku tak mungkin melawannya. Aku sudah menentukan sebuah pilihan. Bukankah Polki sendiri yang mengatakan bahwa aku harus belajar mencintai sesuatu yang aku miliki. Aku akan memiliki Habibi dan aku harus belajar untuk mencintainya.
            
“Kayra percaya memang ini yang harus Kayra jalani.”
            
Aku mencoba tersenyum walaupun terasa pahit di bibirku. Dadaku terasa sesak dengan perhelatan yang terus menyiksa. Aku ingin merasa sedikit melegakan hati. Tapi tetap saja tak bisa. Bukan karena aku lemah. Namun percintaan yang dulu pernah begitu indah terus membayangi ruang kepalaku. Ya Allah kuatkan hatiku. Hati yang terus aku sakiti dengan emosi yang menginginkan semuanya berjalan seperti yang aku mau.
            
“Kamu tambah cantik.”
           
 “Terima kasih.”
            
Aku merasa kikuk duduk di samping Rheka. Dulunya tangannya akan terus menggenggam tanganku dengan erat. Bahkan ia selalu menyediakan bahunya untukku bersandar. Angin meniup mataku lembut. Rasanya aku masih tak mampu melupakan semua kesalahan yang aku lakukan padanya. Rheka maukah kamu menerimaku kembali menjadi sahabatmu? Aku hanya menunduk memandangi bangku yang aku duduki bersamanya.
           
 “Maafkan aku.”
           
 “Tak apa-apa. Mungkin memang itu yang terbaik. Aku memang egois.”
            
“Terima kasih Ka.”
            
“Aku masih mencintaimu Kay. Tapi aku ikhlas kalau kamu memang memilih Habibi sebagai suamimu.”
            
“Aku tak tahu apakah pilihanku sudah benar.”
            
Alis Rheka terangkat sedikit mendengar ucapanku. Aku selalu tak sanggup menahan untuk menutupi keberadaan Polki yang ada di sini. Rheka. Aku masih saja ragu untuk melupakan semua impianku membina rumah tangga dengannya. Aku terus saja menginginkan Polki menjadi suamiku.
           
 “Aku akan menikah dengan Habibi. Tapi aku masih tak mampu melupakan Polki.”
            
“Sedalam itukah cintamu padanya?”
            
Aku merasa ada getaran kekecewaan di suaranya. Ia menahan sesuatu yang aku tak tahu apa namanya. Apakah kamu masih cemburu pada Polki? Aku mencintainya. Sangat. Kamu tahu itu sejak awal.
            
“Harusnya kamu tahu itu Ka. Aku punya hati yang menginginkan aku bersama Polki selamanya.”
            
“Masalahnya kamu tak pernah tahu dimana keberadaannya.”
            
“Polki ada di sini.”
            
“Ada di sini?”


“Kami akan menikah dalam waktu yang bersamaan. Dia akan menikahi Annisya. Aku tak tahu kalau ia ada di tempat yang sama denganku selama ini.”
            
Mata Rheka terbelalak. Ia tak pernah menyangka kenyataan yang akan aku hadapi sekeras ini. Aku kuat untuk menikahi Habibi. Tapi apakah aku akan kuat menyaksikan pernikahan Annisya dan Polki? Mendengarkan lafazd akad nikah orang yang aku inginkan menyebutkan nama perempuan lain. Rheka tahu persis bagaimana rasa itu. Karena sekarang ia juga akan mendengar Habibi menyebutkan namaku sebagai istrinya.
            
“Bagaimana bisa?”
            
“Aku juga tak tahu kenapa ia berada di sini.”
            
“Kenapa kamu tidak mengatakannya pada keluarga Habibi?”
            
“Aku ingin mengatakannya, tapi berat bagiku melukai hati orang yang telah begitu besar jasanya dalam membimbingku menjadi seperti sekarang ini.”
            
“Bagaimana dengan Polki? Apa dia tidak keberatan?”
            
“Dia yang memintaku untuk meneruskan pernikahan ini.”
            
“Kamu mencintai orang yang tak mau berjuang atas nama cintanya sendiri?”
            
“Entahlah...”
            
Rheka menarik napas sedemikian panjang untuk melegakan hatinya sendiri. Apakah Rheka akan membantuku? Aku ingin ia berbuat sesuatu agar pernikahan ini tidak terjadi. Setidaknya memberikan aku kekuatan agar aku mampu menghadapinya.
           
“Menurutku aku harus bertemu dengan Polki.”


Bersambung...

Related Posts

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 25]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).