Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 24]



“Kamu yakin akan menyembunyikannya terus?”


“Aku tak berharap keluargaku menerima Polki karena Dagna sudah menentangnya sejak awal. Aku yakin dia pasti akan memaksa keluargaku untuk mendiskriminasikan Polki. Sudah cukup semua yang ia terima. Aku ingin menjadi satu di antara banyak orang yang peduli pada kebahagiaannya.”


“Apakah kamu tak mau menikah dengannya?”


“Aku mau. Tapi aku tak mungkin menikahinya. Aku tak mau menikah tanpa restu orang tuaku dan kamu tahu Ka. Mama papa akan memilih percaya pada omong kosong Dagna. Walaupun mungkin mereka tak percaya Dagna akan mencari cara untuk memaksa mereka percaya. Kamu kenal Dagna sejak kita masih kecil dan kamu tahu ia tak akan membiarkan aku bahagia di dalam hidupku.”


Rheka terdiam. Ia tak memberikan tanggapan yang lebih jelas. Aku juga tahu Rheka tak akan memaksaku untuk mengakui keberadaan Polki di dalam hatiku kepada semua anggota keluargaku. Aku sudah mengenakan cincin yang bertuliskan nama Polki. Aku ingin mengenakannya selamanya. Sampai aku tua. Aku hanya butuh Polki. Apa pun statusnya dalam hidupku. Sekedar kekasih atau suami tak ada kemestian yang memberatkanku.

***

“Aku ingin melamarmu Kay, aku tak mau begini-begini terus tanpa kejelasan. Aku mencintaimu dan aku ingin memilikimu seutuhnya.”


Aku menatap mata itu. Aku tahu ia sangat serius dengan ucapannya. Namun kamu juga harus tahu Polki. Kamu mengerti posisi kita sulit. Andai saja kamu bukan ODHA. Andai saja aku bertemu denganmu jauh-jauh hari sebelum kamu mengenal narkoba mungkin tak akan seberat ini.


“Jangan pernah menyesali statusku sebagai ODHA. Karena kalau aku bukan ODHA mungkin hari itu kita tak akan pernah bertemu di rumah sakit.”


Polki mampu menguraikan isi hatiku.


“Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu Polki. Tapi ini memang berat untuk keluargaku. Aku memang bisa menerimamu apa adanya. Aku mencintaimu tulus dari hatiku. ODHA atau bukan tak ada yang perlu dipermasalahkan. Namun sayangnya Dagna sejak awal sudah tak menginginkan kita berhubungan. Apalagi kalau ia tahu hubungan kita sudah sejauh ini. Pasti ia akan mengompori orang tuaku agar mereka tak menerimamu.”


Polki berlutut di hadapanku. Di taman belakang rumahnya yang sepi. Saksi bisu yang taka akan pernah membocorkan rahasia indah ini pada siapa pun. Ia memegangi kedua tanganku. Aku terpaku di bangku ini. Tak mampu berkata apa pun.


“Aku mohon jadilah istriku.”


Aku menatap matanya bergantian antara yang kiri dan kanan. Aku mencari sebuah kepastian yang akan membuatku lebih kuat bertahan. Air mataku menitik mendengar lamarannya. Sebuah lamaran yang aku harap adalah lamaran terakhir dan untuk selamanya. Karena aku yakin dia orang terakhir yang akan mampu aku cintai dengan sepenuh hatiku.


Aku tak perlu menjawabnya. Aku memeluknya erat-erat dan membiarkan air mataku membasahi bahunya. Aku ingin cinta ini selamanya. Tanpa ada yang mengakhiri. Aku mau menjadi istrimu. Sayangnya dunia tak akan pernah mengerti apa yang kita rasakan sekarang Polki. Cinta yang benar-benar indah dan tanpa akhir. Karena aku telah melabuhkan hatiku di dermaga hatimu.


Suatu hari akan tiba untuk kita berdua mewujudkan keinginan kita. Kita hanya perlu menunggu karena saat titik itu telah kita temukan kita akan bersatu untuk selamanya Polki. Tanpa satu hal pun yang mampu menghalanginya.


Bersambung...


Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes