17 Januari 2012

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 22]



Aku sudah menyimpan nomor telepon dan e-mailnya. Semuanya sudah dalam genggamanku. Kini aku tinggal merajut semuanya bersama. Aku hanya butuh sebuah jembatan untuk menyeberang ke dalam kehidupannya. Sebuah jembatan yang akan menyatukan semua perbedaan. Antara kamu dan aku, Polki. Maukah kamu merajutnya bersamaku? Karena aku tahu tak akan pernah ada apa pun kalau hanya aku yang berusaha membangunnya. Kita harus bekerja sama Polki. Aku ingin menjalani sisa hidup ini bersamamu. Aku yakin Polki. Aku yakin hari bahagia itu akan ada untuk kita berdua nantinya. Semuanya hanya masalah waktu dan aku akan sabar menunggu untuk menjalaninya. Aku juga yakin Polki akan mampu menunggu hal yang sama sepertiku.

            Aku jatuh cinta. Aku yakin ini untuk yang terakhir kalinya. Aku ingin menceritakannya semua pada Rheka. Aku harus menumpahkannya pada seseorang. Aku akan menemuinya besok di tempat mangkal kami yang biasa. Ia pasti senang mendengarnya karena selama ini aku terlalu terobsesi dengan cintaku pada Tiar. Cinta yang sama sekali tak pernah ada lagi sisanya.

            “Kamu beli yang gambar Olive?”

            Mopty memperlihatkan kaos yang aku beli tadi. Aku yakin seratus persen bahwa yang aku beli tadi bergambar Popeye. Mana mungkin aku tak mampu membedakan antara Popeye dan Olive. Mereka dua tokoh yang sangat berbeda walaupun saling mencinta.

            “Nggak mungkin aku ambil gambar Olive, tadi aku beli yang gambar Popeye.

            Mopty memperlihatkan kaos yang aku beli. Memang wajah Olive yang ada di bagian dada. Ini nyata. Apa mungkin karena terlalu asyik membaca hati Polki aku lupa dengan kaos yang aku pilih. Walaupun aku yakin aku mengambil kaos yang benar. Aku tak mabuk saat itu. Apakah kasirnya yang salah memberikan kaos yang aku pilih. Aku hanya ingat tadi sewaktu membayar di kasir aku bersamaan dengan Polki. Apakah ia yang mengambil kaos dengan gambar ini. Kemudian tertukar di kasir?

            Aku buru-buru mengeluarkan handphoneku. Aku harus menanyakannya pada Polki lebih dulu. Aku tinggal ke kasir butik tadi kalau memang aku yang salah ambil. Tapi jika barangnya yang tertukar berarti aku tinggal menemui Polki untuk menukarnya kembali. Kami menyukai kartun yang sama apabila memang barang kami yang tertukar. Aku tak sabar untuk segera menghubunginya. Sejak tadi aku mencari alasan agar punya kesempatan untuk menelepon atau sekedar kirim pesan.
           
Nomor yang anda tuju sedang sibuk...
           
Aduh pakai acara sibuk lagi. Aku harus menukarnya kalau memang barang kita yang tertukar Polki. Sebenarnya bukan menukarnya yang terpenting. Aku hanya ingin bertemu denganmu dan itu semua sudah cukup buatku. Aku tak kuat menahannya sendiri. Aku ingin segera mengatakannya. Aku ingin menyatakan perasaan yang sudah kamu baca dari tatapan mataku. Tetap saja butuh sebuah pengakuan tentang itu agar tak ada keraguan sedikit pun. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu Polki.

            Aku tak tahu alasan apa yang mendesakku sedemikian dalam untuk mengatakannya. Aku merasa harus. Sulit rasanya menahan rasa ini sendirian. Aku tak peduli siapa pun kamu. Apa pun statusmu. Apa pun yang akan terjadi nanti. Aku tak peduli apa pun. Aku ingin menyatakannya. Desakan hati yang semakin menggebu membuat akal sehatku menjadi lenyap. Aku tak tahu apa-apa lagi.

            Nomor yang anda tuju sedang sibuk…

            Siapa yang kamu hubungi Polki? Aku butuh kamu sekarang… aku harus menemuimu. Tapi aku lupa tanya dimana rumahmu. Duch… sekarang yang bodoh siapa? Aku atau kamu? Kirim pesan. Kirim pesan. Kirim pesan. Masih ada cara lain. Agak makan waktu tapi tak apa yang penting semuanya bisa aku sampaikan.

To: Polki
 Aku ingin bertemu denganmu.

 Kirim. Selesai. Terkirim!
           
One text message for you…
            From: Polki
            Aku ingin bertemu denganmu
           
Aku tak percaya ini. Ia mengirim pesan yang sama isinya dengan pesanku. Apakah isi hati kami benar-benar sama? Atau aku yang terlalu berlebihan menanggapinya? Balas. Balas. Balas.

To: Polki
Tadi aku menghubungimu, tapi nomormu sibuk terus.
 Ketemu di butik lagi yuk...

 Kirim. Kirim. Kirim. Terkirim.
           
One text message for you...
         From: Polki
Tadi nomormu sibuk terus padahal aku ingin langsung meneleponmu.
 Aku masih di butik. Bisakah kamu sekarang ke sini?

          Balas. Balas. Balas.
           
To: Polki
Bisa.


Kirim. Kirim. Kirim. Terkirim.


Aku menyambar kunci motorku dan berlari keluar. Mopty hanya membiarkanku. Ia tahu kalau sudah berlari seperti itu pertanyaan apa pun tak akan mempan padaku. Aku melaju bersama motorku yang berwarna hijau terang. Aku tak sabar lagi ingin bertemu dengan Polki. Aku juga membawa kaos yang tadi aku beli. Siapa tahu memang tertukar dengan milik Polki.
            

Aku mendapati Polki di parkiran. Ia juga membawa kantong baju yang sama. Apakah isinya adalah kaos yang tadi aku pilih? Ia menatap kantong yang aku pegang. Sepertinya ia juga memiliki pikiran yang sama denganku.
            
Popeye?”
            
Olive?”
            
Polki mengulurkan kantong di tangannya. Aku menerima dan memberikan kantong yang aku punya. Aku tak sanggup lagi menahan desakan cinta ini Polki. Semuanya membuat darahku menjadi panas. Wajahku pasti merah saat ini. Aku hanya menatapnya. Aku tak berani memeluknya dan mengatakan bahwa aku mulai mencintainya. Aku malu. Terlalu malu untuk melakukan itu.

***
            
Aku sudah berada di kamarku lagi. Berbaring di samping Mopty sambil membayangkan wajah Polki yang terus menghantui ruang pikiranku. Ini bukan masalah wajahnya yang sedemikian mempesona. Aku tak mampu melupakannya karena rasanya ada yang mengikat kami berdua. Suatu tali hati yang begitu tipis dan kasat mata. Namun aku begitu merasakan kekuatannya. Lembarannya yang lembut menyentuh lubuk hatiku yang terdalam dan aku tak ingin ada yang mengetahuinya selain Polki.
            
“Kamu kenapa? Dari tadi senyum-senyum sendiri...”
            
Aku menyembunyikan senyumku yang terus terukir sejak tadi. Jangan sampai Mopty menyadarinya. Bisa-bisa ia meledekku sepanjang hari dan itu buruk karena Dagna tidak akan mengizinkan aku mencintai Polki. Aku baru menyadari ternyata semua yang akan menghalangi hatiku begitu berat. Namun aku tak berharap banyak pada dunia untuk menerima cintaku. Aku merasa sudah cukup kalau kami saling mencintai. Itu saja. Tak perlu mendapat status yang lebih.
           
Ajari aku tuk bisa... Dagna Calling... Menjadi yang engkau cinta

            
Aku terkejut dan langsung sibuk mencari benda yang mengeluarkan bunyi itu. Aku tak mau disemprot dengan berbagai cacian dari kebun binatang olehnya. Ia tak suka menunggu pada saat menelepon. Apalagi kalau itu berkaitan denganku. Mama saja sering mendapat jatah amarahnya kalau ia sedang pusing sepulang dari tempat kerjanya.
            
Pulang…
            
Klik! Aku belum mengatakan apa pun dan panggilan itu terputus begitu saja. Aku menyambar kunci sepeda motorku untuk kedua kalinya. Mopty mengejarku. Kali ini ia pasti ingin ikut denganku karena ia mendengar siapa yang meneleponku tadi. Aku pasti lama dan ia tak akan mau sendirian di rumahku ini.
            
Aku sudah mendengar semua khotbah mama dan papa. Mopty menatapku dengan penuh tanda tanya. Semua menunggu jawabanku. Mama, papa, Dagna, Benjo, Rheka, mama Rheka, papa Rheka, dan Mopty. Mopty tahu betul jawaban yang akan meluncur dari bibirku atas perjodohanku dengan Rheka. Satu kata. Tidak. Bibirku begitu berat untuk mengatakannya. Di depan banyak orang seperti ini. Aku hanya mampu terus terang pada Rheka. Bukan apa-apa, aku selalu berbagi semua hal dengannya. Tak perlu ada satu hal pun yang perlu ditutupi.
           
 “Maaf, aku nggak mau.”
            A
khirnya meloncat juga dari bibirku. Aku mengakuinya karena semua mata itu mendesakku dengan tatapannya yang menusuk. Aku tak mau menikah dengan Rheka. Dia adalah laki-laki terakhir yang akan aku pikirkan untuk menjadi suami. Selama masih ada banyak laki-laki lajang kenapa aku harus memilih Rheka? Dalam mimpi pun aku tak menginginkan itu.
            
“Kayra!”
            
Mama kelihatan sangat malu pada keluarga Rheka. Ini hidupku. Aku yang berhak menentukan langkahku sendiri. Aku tak merasa perjodohan itu kolot. Sayangnya kalian memilih laki-laki yang salah. Mana mungkin aku mau menjadi istri Rheka. Aku tak mau dan tak tahu cara terbaik menjadi seorang istri. Sulit bagiku mengubah posisi sahabat menjadi suami. Masalahnya pernikahan adalah soal seumur hidupku. Ini bukan main-main. Ini juga bukan sekolah yang tinggal kalian tentukan. Aku bisa menerima semua pilihan untuk hidupku kecuali masalah ini. Ini hatiku. Ini hidupku.
            
“Ini hidup Kayra.”
            
Kalimat itu aku ucapkan dengan lepas. Aku lelah mengikuti semua keinginan yang diajukan padaku. Cukup sudah aku menjadi anak manis yang menuruti kalian. Aku sudah besar. Aku ingin menentukan langkahku berikutnya tanpa campur tangan siapa pun. Aku sudah besar dan semua resikonya akan aku tanggung sendiri.
            
“Rheka juga pasti menerima keputusan Kayra.”
            
Rheka meminta izin untuk membawaku menjauh dari semua orang yang membuatku gerah. Kami meniti halaman belakang yang penuh rerumputan yang halus dan menggelitik kakiku yang tak mengenakan alas kaki. Tangan Rheka memegangi tanganku.
            
“Ada apa?”
            
“Aku memang ingin mengatakannya padamu lebih dulu. Aku sedang jatuh cinta pada seseorang.”
            
“Siapa?”
            
“Nanti akan aku kenalkan.”
            
“Sejak kapan?”
            
“Aku tak tahu kapan aku jatuh cinta padanya tapi rasanya memang ada sesuatu pada dirinya yang membuat aku merasa yakin dengan cinta ini. Ia terlihat bersinar bagiku Ka. Sejak Tiar memutuskan untuk meninggalkanku aku tak punya harapan untuk jatuh cinta lagi. Sekarang aku baru sadar kenapa aku patah hati terus. Aku ditakdirkan untuk bersamanya. Aku yakin dan percaya itu. Hatiku yang mengatakannya. Lebih gilanya lagi. Aku merasa aku mendengar kata hatinya. Ada ikatan dalam hati kami Ka. Aku tak mampu melawannya. Aku juga tak mungkin menikahimu. Kamu juga tak mau kan?”
            
“Aku sudah capek ngomong sama mama papa. Mereka yang maksa. Aku senang kamu menolaknya. Aku tak perlu berargumen lebih panas lagi dengan mereka. Aku ingin menikah atas kemauanku sendiri. Bukan dengan perjodohan seperi ini.”
            
Aku memeluk Rheka erat-erat. Aku benar-benar beruntung mendapat sebuah persahabatan seindah ini. Apalagi kami selalu memiliki pendapat yang sama dalam banyak hal. Jadi tak pernah terjadi pertengkaran yang berarti dalam hubungan kami. Aku tak ingin kehilangan Rheka yang ini. Rheka yang posisinya sebagai sahabatku. Bukan sebagai suami. Aku tak mau mengubah itu. Terlalu indah untuk dilupakan dan dikubur dalam sebuah pernikahan. Semuanya akan berbeda kalau aku menerima perjodohan ini.

Bersambung.

Related Posts

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 22]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).