11 Januari 2012

Gado-gado Bi’ Sum: Hal Terabsurd di Jalan Sumatera


Gambar dari sini.

Jalan M. Sohor, atau yang lebih familiar disebut Jalan Sumatera adalah letak kantor Radio Volare berserta studionya. Bukan kantor utama karena yang utama di Jalan Pak Kasih. Tapi di sini saya tidak berniat untuk menceritakan kantor saya. Saya hanya ingin bercerita soal Bi’ Sum.

Saya rasa orang di Pontianak yang berada di radius 10 km dari Jalan Sumatera mengenal Bi’ Sum. Iya, siapa yang tidak akan mengenal seorang pembuat gado-gado terbaik di Jalan Sumatera, atau bahkan di Pontianak.

Semua penyuka makanan yang berkuah kacang kental, ada lontong, sayur, mie, dan telor pasti kenal Bi’ Sum. Bahkan termasuk saya, mau tidak mau harus mengenalnya. Sebenarnya saya suka dengan gado-gado buatannya. Saya hanya tidak suka dia menggunakan terlampau banyak vetsin padahal tanpa vetsin pun rasanya sudah enak.

Bi’ Sum ini bisa jadi adalah jelmaannya Ibu Bariah dalam serial Unyil. Iya Bi’ Sum orang Madura dan bukan rahasia umum lagi betapa jagonya orang Madura dalam membuat makanan yang satu ini. Saya rasa ini pengetahuan umum.

Mengapa saya menceritakan tentang beliau?

Karena dia adalah pedagang terabsurd yang saya kenal. Mari kita simak drama di bawah ini.

Saya datang membawa lembaran uang sepuluh ribuan. Menghadap Bi’ Sum yang sibuk mengulek cobek berisi kacang dan bawang putih. Menumpah beberapa sendok vetsin dengan tangan kanannya. Berkulit sawo matang. Mengenakan kain dari pinggang hingga kaki. Khasnya dia.

Gambar dari sini.
Saya                 : “Bi’ gado-gadonya satu ya?”
Bi’ Sum            : “Hmm.”
Saya                 : “Dibungkus ya Bi’”
Bi’ Sum            : “Hmm.”
Saya                 : “Tidak usah pake mie ya Bi’.”

Bi’ Sum tak menyahut. Tiba-tiba seorang perempuan menerobos masuk warungnya dan ikut berdiri di belakang saya. Menghadap Bi’ Sum.

Sang Perempuan: “Bi’ gado-gadonya dua ya dibungkus.”
Bi’ Sum            : “Tunggu, tidak liat yang beli rame?” (suaranya meninggi, lebih jelasnya membentak)

Perempuan itu terdiam. Saya terdiam. Bi’ Sum sibuk mengulek. Memasukkan semua bahan ke piring dan menumpahkan saus kacang di atasnya. Pelayannya sibuk membagikan pesanan. Saya menunggu. Perempuan itu pun menunggu. Pesanan saya jadi. Saya membayar. Kemudian pergi.

Baiklah sodara-sodara, Bi’ Sum sama sekali tidak memiliki pemahaman bahwa pembeli adalah raja atau ratu jika pembelinya adalah saya. Saya bahkan bisa membayangkan apabila dia mendengar omelan di dalam kepala saya, dia akan bilang: “Pembeli memang adalah raja, tapi tidak ada raja yang akan membeli gado-gado di sini, di warung saya.”

Iya Bi’ Sum, anda adalah penjual gado-gado paling benar sedunia. Saya bukan ratu makanya saya beli gado-gado buatanmu di Jalan Sumatera. Tapi kamu harus mengajarkan pada saya caranya untuk membuat banyaknya orang memarkirkan mobilnya di depan warungmu kemudian masuk ke antrian hanya untuk menikmati sepiring gado-gado buatanmu. Kamu tahu bagian yang paling absurd lagi? Saya harus terjebak macet beberapa menit karena banyaknya mobil yang terparkir di depan warungmu sebelum tiba di kantor saya.

Bagaimana caranya, marketing tidak sopanmu dan wajah cuekmu bisa membuat langgananmu tidak kabur ke mana-mana. Malahan nambah? Apakah karena memang di Pontianak tidak ada gado-gado yang bisa mengalahkan buatanmu? Atau mereka lebih peduli mengisi perut mereka dibanding menerima kesopanan dari penjual yang akan menerima uang mereka.

Bi’ Sum, marketingmu absurd, tapi saya kembali harus mengakui, kamu menang karena kamu laris.  

NB: Testimoni seorang pembeli berbunyi: “Jangan membeli gado-gado Bi’ Sum untuk dibungkus pada pukul 11-2 siang. Kalau masih ingin dibungkus, jangan harap bisa dibungkus.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers