Bukik Bertanya: Berlayar Menuju Pelabuhan (Bagian 2)



Saya mencintai diri saya, sangat, hingga hari ini karena kekuatan yang tak pernah padam. Saya selalu berhasil menjalani kehidupan yang harus saya perankan. Ketika saya dituntut untuk tertawa, saya bisa meskipun di dalam hati saya sedang menangis meraung-raung. Ketabahan tanpa henti yang mengakar di dalam diri saya juga membuat saya tidak takut dengan cobaan apa pun. Saya pantang menyerah, meskipun sempat putus asa terkadang, setelah puas menangis, saya akan bangkit lagi dan mencoba lagi hingga benar-benar berada di titik kegagalan.

Satu hal yang paling saya hargai dalam keluarga adalah besarnya rasa belas kasihan terhadap sesama. Tidak ragu untuk berbagi dengan orang yang membutuhkan meskipun sebenarnya keluarga saya bukanlah keluarga yang berada. Saya selalu diajarkan untuk rutin bersedekah. Apabila rezeki sedang sedikit, bersedekah sedikit, rezeki sedang banyak bersedekah yang banyak.

Terkadang kita suka membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Mengapa hidup kita tidak seperti si A? Mengapa tidak seperti si B? Mengapa tidak seperti si C? Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dari rumput sendiri. Iri dengan keberuntungan orang lain sering saya alami. Saya ingin selalu melebihi keberuntungan yang dicapai orang lain. Tapi ketika saya tumbuh dewasa seperti sekarang ini, saya sadar satu hal bahwa Tuhan memberikan kehidupan penuh masalah untuk semua orang. Tidak ada yang tanpa masalah.

Ketika melihat orang lain bahagia dengan kehidupan penuh masalah yang mereka miliki, saya bisa menarik kesimpulan bahwa, saya juga harus bahagia dengan kehidupan penuh masalah yang saya miliki. Apalah artinya lautan tanpa gelombang? Apalah artinya pelayaran tanpa badai? Kita nakhodanya, pelabuhan adalah tujuan kita. Besar kecil kapal tidak menjadi masalah. Banyak sedikit awak kapal yang kita miliki bukan persoalan. Paling penting adalah bagaimana memanfaatkan semua masalah itu menjadi energi? Mengakrabkan gelombang sebagai teman dan badai sahabat kita. Tanpa gelombang dan badai kapal tidak akan bergerak, apatah lagi akan sampai ke tujuan.

Saat saya melihat orang lain bisa meneruskan ‘pelayaran’ dengan badai sedemikian hebatnya dan mampu mengatasi gelombang yang begitu besarnya. Mengapa saya tidak bisa?

Saya orangnya sentimentil ya, saya lebih suka memilih cincin polos sebagai lambing diri saya yang sebenarnya. Cincin melambangkan sesuatu yang sakral, sama dengan kehidupan. Kehidupan adalah sesuatu yang sangat sakral. Cincin pula perlambangan cinta tanpa tepi. Bukankah memang semua hal di dunia ini dilandasi oleh cinta? Tanpa cinta dunia akan hancur berkeping-keping. Cepat atau lambat, orang yang tidak menerapkan cinta di dalam kehidupannya akan membuat dunia ini menjadi abu.

Jika kita tidak cinta pada Bumi, kita akan membuang sampah sembarangan, menebang pepohonan, membunuh hewan, akhirnya yang mendapat bencana diri kita sendiri. Banjir di mana-mana, kebakaran hutan, kekeringan, tanah longsor, dan masih banyak lagi yang lainnya. Itu karena kurangnya cinta kita pada Bumi.

Cincin yang polos dan tak bertepi itu adalah perlambangan diri saya.

Jika saya terbangun dari tidur panjang dan menyaksikan Indonesia pada tahun 2030. Saya akan melihat Bumi kembali hijau, habibat hewan tidak lagi ada yang diganggu manusia. Air bersih di mana-mana. Tanah subur menanti kita. Kendaraan pribadi semakin sedikit karena transportasi umum telah dibangun negara. Semua masyarakat hidup layak dan memiliki pekerjaan yang membuat hidup mereka lebih baik.

Cinta dan senyum tanpa hentinya.

Orang lebih peduli pada lingkungan. Hidup lebih sehat. Semua orang ingin hidup sehat dan benar-benar melakukannya.

Hal-hal kecil yang akan saya lakukan untuk mewujudkan semua imajinasi saya pada tahun 2030 adalah ikut menanam pohon di sekitar rumah, membuat sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membuang sampah pada tempatnya, dan menghemat listrik.

Apabila suatu hari memang ada yang berbaik hati mau menulis biografi tentang saya saya pikir judul biografi best seller tersebut adalah: Rohani Syawaliah, Berlayar Menuju Pelabuhan.

Ada hal konyol yang saya lakukan dan hingga sekarang selalu saya ingat di antara banyak hal konyol lainnya dalam hidup saya.

Saya sering mendengar ungkapan bahwa: “Hani itu lucu karena dia tidak sadar dia sedang melucu.”

Saya seringkali berbicara dan membuat orang satu ruangan terbahak-bahak dengan ucapan saya tapi saya tidak berniat melucu. Pernah, suatu kali, waktu itu saya masih bau laut, masih terlihat sekali bukan warga Pontianak, cara saya berbicara sangat kental logat Sambas-nya, saya bersama kelompok saya harus memimpin diskusi.

Saya masih semester satu.

Saat itu perdebatan semakin seru. Pertanyaan dari peserta semakin menajam dan saya sudah menjelaskan berkali-kali, sayangnya dia tidak memahami maksud saya. Hingga saya tanpa sadar berbicara dalam bahasa daerah.

Di kelas yang isinya beragam suku dan bahasa pasti langsung menyadari bahasa daerah yang meloncat dari bibir saya. Diskusi yang lebih dekat pada perdebatan kusir yang sangat menegangkan itu sejenak berubah penuh tawa. Gara-gara ucapan saya dalam bahasa daerah. Semuanya tertawa kecuali saya. Karena saya memang tidak sadar mengucapkannya.

Diskusi akhirnya ditutup dengan tepuk tangan dan dosen tidak bisa menghentikan tawanya. Wajahnya sampai memerah. Teman-teman saya yang lain juga masih tertawa, sedangkan saya masih sangat bingung. Ketika dosen saya pergi akhirnya teman saya menjelaskan bagian lucu tersebut dan saya pikir itu bukanlah hal yang lucu melainkan konyol.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes