25 Januari 2012

Bukik Bertanya: Berlayar Menuju Pelabuhan (Bagian 1)


Sebelumnya saya ingin mengabarkan bahwa saya batal menonton teater Musuh Politik yang ingin saya tonton. Alasannya? Ada beberapa alasan yang tidak bisa saya ceritakan. Saya mohon maaf apabila ada teman-teman yang penasaran dengan cerita Musuh Politik tapi tidak bisa saya posting di sini. Saya ingin sekali tapi saya memang tidak bisa mendatangi Taman Budaya buat menyaksikannya.

Postingan ini adalah semua jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Om Bukik pada saya. Ada delapan pertanyaan tapi di postingan yang ini saya baru menjawab tiga pertanyaan agar postingan ini tidak menjadi terlampau panjang. Besok akan saya lanjutkan dengan bagian berikutnya. Selamat menikmati.

Siapa saya? Siapa nama saya? Apa saja nama saya? Cerita di balik semua nama itu?

Saya? Ya saya. Baiklah abaikan kata-kata saya barusan. Saya sekarang dikenal di lingkungan sekarang sebagai Hani, kependekan dari nama saya Rohani Syawaliah. Ada yang berbaik hati pula mengingat nama saya sebagai Syawal. Ketika ditanya, saya siapa? Saya lebih suka menyebut profesi saya sebagai pedagang. Jadi saya adalah seorang pedagang dengan nama panggilan Hani dan nama lengkapnya Rohani Syawaliah.

Nama Rohani Syawaliah saya sandang ketika meninggalkan bangku sekolah dasar karena sebelumnya nama saya Listia Evita. Jauh ya perubahannya?

Waktu saya lahir, saya dinamai Listia oleh bidan yang membantu proses kelahiran saya. Evita-nya tambahan dari saudara ibu saya. Tapi sepertinya pemberian nama untuk saya masih banyak perdebatannya. Kakek saya dari pihak ayah inginnya nama saya bernuansa Islami sehingga dia memilihkan nama Rohani Syawaliah.

Masuk SD, Listia Evita yang memenangkan perdebatan untuk menjadi nama permanen, tapi akhirnya saya yang meminta nama Rohani Syawaliah yang ditulis di ijazah saya karena saya benci teman-teman saya suka memanggil saya dengan panggilan Bilis, berasal dari Lis (Listia).

FYI, Bilis itu adalah jenis ikan yang sangat murah harganya di pasaran. Tentu saja ini bukan masalah harga ikannya saja, tapi masalah harga diri saya sebagai manusia yang disamakan dengan seekor ikan tipis murah di pasar. Saya merasa harga diri saya terinjak-injak. Padahal saya masih sekolah di sekolah dasar ya?

Saya lebih memilih untuk menceritakan masa-masa bersama kakek dan nenek saya karena saya tumbuh besar di rumah mereka.

Saat yang paling menggetarkan adalah ketika saya baru duduk di bangku SMA dan kakek saya terkena serangan stroke. Waktu itu laki-laki yang selama ini saya kenal sebagai laki-laki yang tangguh dan kuat hanya bisa berbaring lemah di tempat tidur. Bahkan makan pun harus disuapkan.

Beliau pernah bertanya: “Bagaimana jika suatu hari kakek meninggal dunia?”

Saya tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaannya dan hanya bisa menangis meraung-raung. Kemudian dia akan terbahak melihat air mata saya berderai. Saya paling benci dia menganggap hal itu sebagai gurauan.


Saat bersama nenek yang paling menggetarkan adalah saat seminar proposal skripsi saya. Dia hadir. Saya yang memintanya hadir karena saya demam menghadapi empat orang dosen. Dua penguji dan dua pembimbing. Saat saya melihat wajah tuanya, saya sadar, dia telah memberikan banyak untuk kehidupan saya dan mau menyeberang lautan untuk menghadiri seminar saya yang berlangsung tak sampai satu jam. Harusnya dua jam.

Saya sangat sayang mereka berdua.

Ada banyak kejadian yang membuat saya menjadi diri saya yang sekarang.

Semenjak kecil, kakak saya sudah tidak menyukai saya dan adik-adik saya yang lainnya. Saya yang paling dekat usianya dengan dirinya kerap kali menjadi bulan-bulanan apabila dia sedang kesal. Mulai dari menjambak, menampak, bahkan hingga melukai dengan alat dapur. Saya dan kakak saya memang dibesarkan di rumah nenek dan kakek sehingga otomatis dialah teman main saya.

Penyiksaan yang saya alami terus-menerus, setiap hari saya pasti menangis dibuatnya membuat saya menanamkan sebuah tekad dalam diri saya. Hanya saya yang bisa menyelamatkan diri saya dari semua hal yang tidak menyenangkan itu. Saya harus jauh darinya. Saya harus cepat-cepat besar dan menjauh dari kehidupannya.

Itu kejadian yang hingga sekarang tidak pernah saya lupakan karena di tubuh saya ada luka yang masih membekas torehan dari pisau yang digunakan oleh kakak saya untuk melukai saya. Kejadian itu membuat saya menjadi seseorang yang lebih kuat ketika mendapatkan penderitaan karena dibanding penderitaan harus hidup bersama kakak saya, penderitaan yang lainnya terlihat begitu kecil. Semua kekerasan yang saya alami. Semua kalimat yang harus saya telan. Semua tawa iblis yang saya dengar. Tidak ada yang bisa menyamai sakit dan takutnya. Sampai sekarang.

Kematian kakek saya sendiri merupakan pukulan terberat di dalam hidup saya hingga sekarang. Saya melihat ke tahun-tahun di belakang yang pernah saya jalani dengan keberadaannya dan saya merasa tidak ada yang bisa menggantikan posisinya dan mengisi ruang kosong yang pernah dia tempati.

Kepergiaan laki-laki yang sangat saya cintai ini membuat saya menjadi orang yang saya tabah. Sangat tabah. Banyak orang yang dating dan pergi dalam kehidupan saya. Terutamanya lelaki sebagai lawan jenis, tapi tak ada satu laki-laki pun di dunia ini yang membuat saya menangis berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun apabila mengingat masa-masa bersamanya. Hanya kakek saya yang hingga hari ini masih saya tangisi kepergiaannya. Saya berusaha tabah, tangisanlah satu-satunya cara untuk saya menahan keinginan putus asa di dalam kehidupan ini tanpanya.


Tahun 2004-2005 ada kejadian yang sangat penting, ini adalah batu loncatan yang sangat besar di dalam kehidupan saya. Saya tamat SMA dan menagih janji kepada Umak untuk menguliahkan saya. Sayangnya dia mangkir dan saya harus berjuang selama setahun penuh untuk mencari uang masuk kuliah. Saya bekerja di sebuah took kelontong menjadi kuli dan setiap hari membuat kue bolu mulai 5-10 loyang untuk dititipkan di warung-warung kopi.

Setahun uang yang saya kumpulkan tak begitu banyak. Perjuangan setahun itu tidak sia-sia karena akhirnya saya bisa kuliah di Universitas Tanjungpura. Sebuah universitas negeri yang tanahnya sangat luas. Masuk jurusan yang selama ini saya inginkan, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Selama bekerja sebagai kuli di toko kelontong itu saya menyerap semua ilmu wirausaha dari majikan saya dan rumus paling penting ketika kita memutuskan menjadi pedagang adalah jujur. Kuncinya adalah kejujuran. Karena dengan kejujuran kita akan mendapatkan kepercayaan dari banyak orang.

Hari ini ketika saya mengumpulkan mozaik kehidupan saya, saya terbentuk dari begitu banyak kejadian, tiga di antara kejadian paling kuat membentuk saya adalah tiga kejadian tersebut. Saya tidak menyesali semua yang harus saya pikul, semua beban dan derita. Bukankah kehidupan adalah sebuah perjuangan. Semakin kuat ‘musuh’ yang harus kita ‘lawan’ semakin besar pula ‘kerajaan’ yang akan kita ‘kuasai’.

Bersambung...


Related Posts

Bukik Bertanya: Berlayar Menuju Pelabuhan (Bagian 1)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).