31 Januari 2012

Mau ke Pulau Randayan?

Mau ke Pulau Randayan?


Gambar dari sini.


Banyak sekali orang yang membuat daftar impiannya, satu nomor berisikan keinginan untuk keliling dunia. Itu normal. Rata-rata ingin mengelilingi dunia kok. Yah, hidup kan cuma sekali, sayang dong tidak bepergian ke berbagai tempat selama kita bisa.
Pulau Randayan. Gambar dari sini.

Semuanya pasti tahu dong, Hani tinggal di mana. Kalimantan Barat pastinya, tepatnya di Pontianak. Meskipun saya lahir dan membesar di Kalimantan Barat bukan berarti semua tempat sudah saya datangi.

Pulau Randayan. Gambar dari sini

Ada satu tempat yang ingin saya datangi secepatnya. Tidak jauh dari Pontianak. Tempat wisata bernama Pulau Randayan. 

Pulau Randayan. Gambar dari sini.
Tapi saya tidak ingin datang sendirian ke sana karena saya ingin Pulau Randayan menjadi saksi pernikahan saya. Sekali dan untuk selamanya. Saya berharap saya berbulan madu di sana. Dekat dan tempatnya menyenangkan.

Pulau Randayan. Gambar dari sini.

Siapa bilang bulan madu harus ke Bali? Di Kalimantan Barat ada Pulau Randayan kok.
Gambar dari sini.


Gambar dari sini.


Gambar dari sini.

Gambar dari sini.

Gambar dari sini.


Sebenarnya sih jika boleh jujur, yang paling
penting bukanlah di mana kamu berada, 
tapi dengan siapa kamu berada di tempat itu. 


Photobucket
#28 Surat Pertama Tahun 2012

#28 Surat Pertama Tahun 2012



Assalamualaikum Dear Jodohku

Tumblr_luuhh7mvmx1qckcrwo1_500_large
Gambar dari sini.
Lama tak menulis surat untukmu bukan berarti aku tak mencintaimu. Aku masih mencintaimu karena kita jodoh bukan? Walaupun kamu tak tahu siapa jodohmu sekarang dan begitu juga aku masih tak tahu siapa kamu.

 Tumblr_lvuichgmqt1qlxzhbo1_500_large
Banyak hal yang terjadi. Hari-hari terus berlalu dan sekian lama pula aku tak menuliskan surat untukmu. So, bagaimana kabarmu?

Tumblr_lyn3c55ab61qf1gz5o1_500_large
Gambar dari sini.

Beberapa bulan terakhir ini berat badanku turun. Aku memang tak menimbangnya tapi aku tahu, aku semakin terlihat kurus. Kamu mungkin belum tahu beban hidup yang harus aku jalani sekarang. Banyak yang harus diselesaikan dan aku benar-benar kelelahan.

164108_1805485981487_1370024175_4011041_6978607_n_large
Gambar dari sini.


Padahal tahun ini aku berharap sudah bertemu denganmu. Menikah dan berada di rumah impian kita selama ini. Kamu bekerja, aku di rumah, kamu pulang, kita makan bareng, hal sederhana yang begitu aku impikan. Melihat wajahmu yang masih terlelap di bantal ketika aku membuka mata.

Beberapa minggu yang lalu aku dengar abah berkata yang buruk lagi tentangku. Yah, kamu harus tahu, aku bukanlah anak kesayangan kedua orang tuaku. Lebih pada bagian terbuang. Kamu tahu kan sejak umur 2 tahun aku telah tinggal bersama kakek dan nenekku? Itu jika kamu membaca ceritaku di blog ini.
6778961653_7b9bf0ce30_b_large
Gambar dari sini.

Kamu tahu dia bilang apa sama Umak? Dia bilang dia tidak mau jadi wali pernikahanku jika ada yang melamarku nanti. Siapa juga yang akan meminta dia menjadi wali? Kamu tidak keberatan kan jika pernikahan kita tidak seperti pernikahan orang lain pada umumnya? Cukup ke KUA, acara makan-makan di panti asuhan, lalu pulang ke rumah kita. Aku tak peduli jika itu rumah kontrakan atau kreditan.
Tumblr_lyb0op0hrc1qlcy40o1_500_large
Gambar dari sini.

Aku cuma pengen bilang, aku butuh kamu dalam kehidupanku yang sekarang. Aku hampir putus asa menunggu. Aku kelelahan, hampir tercecer usia di sepanjang jalan. Kamu di mana? Apakah kamu telah lelah menungguku pula? Jangan bunuh diri sekarang jika kamu tak sanggup menunggu, berikan Tuhan waktu untuk mempertemukan kita, karena aku juga akan bersabar untuk menunggumu dan menghalau jauh-jauh keinginan bunuh diri itu sebelum benar-benar bertemu denganmu.

Tumblr_lynb0esyy21qex2i4o1_500_large
Gambar dari sini.

Gadis yang mencintaimu,
Honeylizious

30 Januari 2012

PrtSc SysRq dan ScreenSnap: Pemotret Layar Komputer dan Ponsel



Dulu suka iri melihat orang bisa mengunggah gambar layar komputernya yang berisikan informasi mendukung tulisannya. Sekarang sih sudah tahu caranya.

Siapkan aplikasi ‘paint’.



Kalau bingung di mana letak aplikasinya, bisa dicari di sini.


Tinggal tekan “PrtSc SysRq” setelah layar menampilkan gambar yang ingin kita.

Gambar dari sini.

Buka aplikasi ‘paint’ dan “control + V” di “paint”. Kemudian ‘save’. Bisa disimpan dalam berbagai model. Bisa JPG atau PNG. Semuanya terserah kita.


Apabila sudah disimpan, gambar siap digunakan untuk apa saja.

Tapi bagaimana jika kita ingin memotret layar ponsel kita? Apa yang ditampilkan di sana. Misalnya tidak bisa menunggu lagi? Harus segera. Butuh cepat istilahnya.

Gambar dari sini.

Ponsel saya, nokia 6120 Classic, memiliki aplikasi ‘ScreenSnap’ yang bisa digunakan untuk memotret. Aplikasi ini bisa didapatkan tanpa perlu membayar sepeser pun alias gratis. Klik di sini untuk mendownload (Symbian Nokia S60V3 and S60V5).

Tinggal install langsung pakai. Menggunakannya juga mudah. Anda hanya perlu memperhatikan waktu yang anda butuhkan untuk memotret. Standar di aplikasi ini adalah 5 detik. Anda bisa menambah atau mengurangi jika anda mau. Apabila anda sudah menentukan waktu yang anda inginkan, tinggal tekan pilihan, lalu ‘capture now’, pilih tampilan yang ingin anda potret, entah dari opera mini, atau aplikasi lainnya, terserah anda, setelah waktu delay habis, aplikasi ini akan memotret otomatis.

Gambar akan langsung tersimpan di galeri. Gambar siap digunakan.

29 Januari 2012

Cara Mengunggah Gambar ke Blog Melalui Ponsel



Sebelumnya saya sudah membuktikan keberhasilan saya mengunggah gambar ke blog melalui ponsel saya. Ponsel jaman dulu, yang sudah empat tahun menemani saya. Nokia 6120 Classic. Untuk mengunggah foto melalui opera mini ke blog bukanlah hal yang mudah dari ponsel saya. Kecuali mengunggah foto ke facebook, twitpic, atau photobucket, dari opera mini ponsel saya lumayan nyaman.

Sewaktu saya membuka pengaturan di dashboard saya menemukan pengaturan yang memungkinkan kita untuk mengirim postingan dalam bentuk e-mail. Jadi blog setiap blog kita punya alamat e-mail rahasia yang sebaiknya tidak dibagikan kepada siapa pun sehingga blog kita tidak berisi informasi yang tidak benar atau diisi hal-hal yang tidak pantas oleh orang lain.


Langkah-langkah yang harus dilakukan ketika kita ingin mengunggah gambar ke blog sebagai berikut.

1.      Aktifkan e-mail di ponsel
Mengaktifkan e-mail di ponsel sebenarnya banyak manfaatnya. Kita bisa mengirim e-mail untuk orang lain dengan lebih praktis karena tidak perlu membuka mobile web atau opera mini lagi. Pengiriman bisa dilakukan dengan lebih mudah seperti mengirim pesan biasa. Hanya di sini menggunakan alamat e-mail sebagai penerima.


2.      Aktifkan pengaturan pengiriman postingan dari e-mail

Aktifkan pengaturan di blog untuk menerima postingan dari e-mail. Di sini kita bisa memilih untuk menyimpan postingan tersebut sebagai draft atau langsung diposting. Gunakan kata rahasia yang gampang anda ingat tapi tidak tertebak oleh orang lain.

3.      Kirim gambar dalam bentuk attachment
Apabila keduanya telah aktif. Sekarang saatnya untuk mengirim gambar ke blog anda. Simpan dulu alamat e-mail postingan blog anda di kontak. Kemudian buka pesan di ponsel dan tulis pesan baru, pilih e-mail. Lalu masukkan penerima. Setelah itu tulis judul postingan di judul e-mail, masukkan gambar, terakhir tulis pesan. Judul e-mail akan menjadi judul postingan. Gambar akan masuk ke postingan dengan pesan yang tadi telah ditulis di badan e-mail.

Tinggal dikirim dan tunggu beberapa saat gambar anda akan terpublish di blog. Selamat mencoba.


28 Januari 2012

Mengunggah Gambar ke Blog



Pernah suatu hari saya tidak menyiapkan banyak postingan yang tinggal diunggah ke blog. Padahal draft penuh, sayangnya belum diedit. Menjaga blog agar selalu update setiap hari adalah komitmen yang ingin saya pegang, kecuali saya benar-benar sakit dan butuh istirahat. Saya akan menjauhi internet.
Sumber gambar dari sini.

Beberapa hari sebelumnya, saya sehat tapi tidak bisa masuk kerja dan membuat postingan seperti biasa. Fahd yang pulang sekolah muntah-muntah harus dijaga dengan baik agar tidak semakin parah sakitnya. Sekarang sudah sehat kembali dan beraktivitas seperti biasa. Tapi blog saya tiga hari terbengkalai karena memang saya tidak memasang internet di rumah dan modem sudah saya pensiunkan. Saya lebih suka internetan di kantor dengan jaringan yang bagus dan saya bisa punya banyak waktu untuk istirahat di rumah. Palingan saya ngetwit dengan ponsel sambil berbaring jika tetap ingin update dengan berita.

So, apa kabar blog saya?

Gambar dari sini.

Saya hanya menyiapkan dua postingan cadangan yang ternyata tidak mencukupi kebutuhan blog saya di hari ketiga. Baiklah, saya memang sudah mengaktifkan postingan via e-mail di blog saya. Sebelumnya saya pernah membuat postingan dari ponsel jadul saya. Berhasil. Tapi tidak ada gambarnya. Hari senin kemarin iseng, mencoba mengirim gambar dan sedikit tulisan dari e-mail ponsel dan mengirim ke alamat pengunggahan postingan via e-mail. Ternyata berhasil. Gambarnya masuk dengan sempurna. Tulisannya juga.

Jadi sekarang saya punya alternatif ketika tidak memiliki waktu buat memosting. Mengetik dengan keypad ponsel melelahkan, lebih baik saya membuat tulisan pendek dan mengunggah foto ke sana. Tidak butuh waktu 5 menit untuk melakukannya.

Gambar dari sini.

Fungsi ini mirip dengan unggah foto via e-mail yang disediakan oleh facebook ya? Mana duluan yang ada? Saya tidak tahu juga. Apakah ada yang meniru di antara mereka? Tidak menjadi masalah sih, yang penting peniruannya bermanfaat buat kita semua.

Saya sudah mengaktifkan alamat e-mail buat memosting tulisan ke blog milik saya, bagaimana dengan kamu? Pengen tahu caranya? Besok saya bagikan postingannya. Makanya, mampir terus ke sini ya?


27 Januari 2012

Rabun Verifikasi



Ayo siapa yang tidak sadar mengaktifkan verifikasi komentar untuk blognya? Atau malahan memang sengaja menggunakan verifikasi dengan alasan untuk menjaring spammer? Jangan bilang juga jika anda mengaktifkan verifikasi untuk menghalangi saya komentar karena memang ada satu blog yang saya yakin sengaja menggunakan verifikasi untuk menghalangi saya komentar di tiap postingannya. Sayangnya itu tidak menghalangi saya. Saya tetap komentar kok di blog itu. Tapi kenapa sekarang blognya hiatus? Apakah pindah ke blog baru agar saya tidak mengganggu?

Oh abaikan pembukaan ini.

Saya suka kesal ketika harus tersangkut di bagian verifikasi ketika akan memberikan komentar di sebuah postingan. Bahkan ada yang verifikasinya tiga tingkat. Gila kan? Oke, saya tahu itu tidak gila, tapi apakah memang sedemikian mestinya menggunakan verifikasi dalam kotak komentar?

Hello Hani, blog, blog aku, suka-suka aku dong…

Baiklah memang hak tiap orang untuk menggunakan verifikasi komentar di blognya. Saya tidak melarang. Nah, lain cerita apabila verifikasi itu tidak disadari sang blogger terdapat di blognya.

Buat yang menggunakan dengan sengaja untuk menjaring penebar komentar ‘sampah’ yang sama sekali tidak ada kaitan dengan postingan di blog tersebut jangan takut, baik blogger maupun wordpress kan sudah bisa menjaring komentar yang seperti itu. Kalaupun ada yang lolos, itu tetap jarang. Malahan ada beberapa komentar yang bukan ‘sampah’ ikutan masuk ke kotak ‘spam’.

Berhubung saya pengguna blogger, saya ingin berbagi informasi cara menghilangkan verifikasi di kotak komentar blog kita. Sebab memang tidak sedikit blogger yang tidak tahu ada verifikasi di blognya. Saya sering kali terkendala di verifikasi komentar saat sudah capek-capek mengetik panjang lebar, bahkan pernah 10 kali verifikasi saya gagal, padahal sangat ingin meninggalkan komentar di sana. Saya akui saya rabun verifikasi. Saya gagal membaca verifikasi yang diberikan dengan benar. Ujung-ujungnya, saya harus mengalah dan tidak jadi memberikan komentar. Jadilah silent reader.

Saat kita membuka dashboard blogger yang baru memang saya pun tidak menemukan bagian setelan verifikasi komentar ini. Entah dashboard saya saja yang demikian atau yang lainnya mengalami hal yang sama, saya tidak tahu, tapi ada beberapa orang yang sama dengan saya. Jadi kita harus mengembalikan dashboard ke tampilan lama. Bingung? Klik saja bulatan kanan dan pilih ‘antarmuka blogger lawas’.



Kemudian pilih ‘setelan’. Setelah itu ke bagian ‘komentar’. 


Gerakkan ke bawah untuk menemukan ‘tampilkan verifikasi kata untuk komentar’? silakan pilih tidak untuk menon-aktifkannya. Lalu simpan setelan tersebut.



Selesai. Mudah kan?

26 Januari 2012

Bukik Bertanya: Berlayar Menuju Pelabuhan (Bagian 2)

Bukik Bertanya: Berlayar Menuju Pelabuhan (Bagian 2)



Saya mencintai diri saya, sangat, hingga hari ini karena kekuatan yang tak pernah padam. Saya selalu berhasil menjalani kehidupan yang harus saya perankan. Ketika saya dituntut untuk tertawa, saya bisa meskipun di dalam hati saya sedang menangis meraung-raung. Ketabahan tanpa henti yang mengakar di dalam diri saya juga membuat saya tidak takut dengan cobaan apa pun. Saya pantang menyerah, meskipun sempat putus asa terkadang, setelah puas menangis, saya akan bangkit lagi dan mencoba lagi hingga benar-benar berada di titik kegagalan.

Satu hal yang paling saya hargai dalam keluarga adalah besarnya rasa belas kasihan terhadap sesama. Tidak ragu untuk berbagi dengan orang yang membutuhkan meskipun sebenarnya keluarga saya bukanlah keluarga yang berada. Saya selalu diajarkan untuk rutin bersedekah. Apabila rezeki sedang sedikit, bersedekah sedikit, rezeki sedang banyak bersedekah yang banyak.

Terkadang kita suka membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Mengapa hidup kita tidak seperti si A? Mengapa tidak seperti si B? Mengapa tidak seperti si C? Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dari rumput sendiri. Iri dengan keberuntungan orang lain sering saya alami. Saya ingin selalu melebihi keberuntungan yang dicapai orang lain. Tapi ketika saya tumbuh dewasa seperti sekarang ini, saya sadar satu hal bahwa Tuhan memberikan kehidupan penuh masalah untuk semua orang. Tidak ada yang tanpa masalah.

Ketika melihat orang lain bahagia dengan kehidupan penuh masalah yang mereka miliki, saya bisa menarik kesimpulan bahwa, saya juga harus bahagia dengan kehidupan penuh masalah yang saya miliki. Apalah artinya lautan tanpa gelombang? Apalah artinya pelayaran tanpa badai? Kita nakhodanya, pelabuhan adalah tujuan kita. Besar kecil kapal tidak menjadi masalah. Banyak sedikit awak kapal yang kita miliki bukan persoalan. Paling penting adalah bagaimana memanfaatkan semua masalah itu menjadi energi? Mengakrabkan gelombang sebagai teman dan badai sahabat kita. Tanpa gelombang dan badai kapal tidak akan bergerak, apatah lagi akan sampai ke tujuan.

Saat saya melihat orang lain bisa meneruskan ‘pelayaran’ dengan badai sedemikian hebatnya dan mampu mengatasi gelombang yang begitu besarnya. Mengapa saya tidak bisa?

Saya orangnya sentimentil ya, saya lebih suka memilih cincin polos sebagai lambing diri saya yang sebenarnya. Cincin melambangkan sesuatu yang sakral, sama dengan kehidupan. Kehidupan adalah sesuatu yang sangat sakral. Cincin pula perlambangan cinta tanpa tepi. Bukankah memang semua hal di dunia ini dilandasi oleh cinta? Tanpa cinta dunia akan hancur berkeping-keping. Cepat atau lambat, orang yang tidak menerapkan cinta di dalam kehidupannya akan membuat dunia ini menjadi abu.

Jika kita tidak cinta pada Bumi, kita akan membuang sampah sembarangan, menebang pepohonan, membunuh hewan, akhirnya yang mendapat bencana diri kita sendiri. Banjir di mana-mana, kebakaran hutan, kekeringan, tanah longsor, dan masih banyak lagi yang lainnya. Itu karena kurangnya cinta kita pada Bumi.

Cincin yang polos dan tak bertepi itu adalah perlambangan diri saya.

Jika saya terbangun dari tidur panjang dan menyaksikan Indonesia pada tahun 2030. Saya akan melihat Bumi kembali hijau, habibat hewan tidak lagi ada yang diganggu manusia. Air bersih di mana-mana. Tanah subur menanti kita. Kendaraan pribadi semakin sedikit karena transportasi umum telah dibangun negara. Semua masyarakat hidup layak dan memiliki pekerjaan yang membuat hidup mereka lebih baik.

Cinta dan senyum tanpa hentinya.

Orang lebih peduli pada lingkungan. Hidup lebih sehat. Semua orang ingin hidup sehat dan benar-benar melakukannya.

Hal-hal kecil yang akan saya lakukan untuk mewujudkan semua imajinasi saya pada tahun 2030 adalah ikut menanam pohon di sekitar rumah, membuat sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membuang sampah pada tempatnya, dan menghemat listrik.

Apabila suatu hari memang ada yang berbaik hati mau menulis biografi tentang saya saya pikir judul biografi best seller tersebut adalah: Rohani Syawaliah, Berlayar Menuju Pelabuhan.

Ada hal konyol yang saya lakukan dan hingga sekarang selalu saya ingat di antara banyak hal konyol lainnya dalam hidup saya.

Saya sering mendengar ungkapan bahwa: “Hani itu lucu karena dia tidak sadar dia sedang melucu.”

Saya seringkali berbicara dan membuat orang satu ruangan terbahak-bahak dengan ucapan saya tapi saya tidak berniat melucu. Pernah, suatu kali, waktu itu saya masih bau laut, masih terlihat sekali bukan warga Pontianak, cara saya berbicara sangat kental logat Sambas-nya, saya bersama kelompok saya harus memimpin diskusi.

Saya masih semester satu.

Saat itu perdebatan semakin seru. Pertanyaan dari peserta semakin menajam dan saya sudah menjelaskan berkali-kali, sayangnya dia tidak memahami maksud saya. Hingga saya tanpa sadar berbicara dalam bahasa daerah.

Di kelas yang isinya beragam suku dan bahasa pasti langsung menyadari bahasa daerah yang meloncat dari bibir saya. Diskusi yang lebih dekat pada perdebatan kusir yang sangat menegangkan itu sejenak berubah penuh tawa. Gara-gara ucapan saya dalam bahasa daerah. Semuanya tertawa kecuali saya. Karena saya memang tidak sadar mengucapkannya.

Diskusi akhirnya ditutup dengan tepuk tangan dan dosen tidak bisa menghentikan tawanya. Wajahnya sampai memerah. Teman-teman saya yang lain juga masih tertawa, sedangkan saya masih sangat bingung. Ketika dosen saya pergi akhirnya teman saya menjelaskan bagian lucu tersebut dan saya pikir itu bukanlah hal yang lucu melainkan konyol.

25 Januari 2012

Bukik Bertanya: Berlayar Menuju Pelabuhan (Bagian 1)

Bukik Bertanya: Berlayar Menuju Pelabuhan (Bagian 1)


Sebelumnya saya ingin mengabarkan bahwa saya batal menonton teater Musuh Politik yang ingin saya tonton. Alasannya? Ada beberapa alasan yang tidak bisa saya ceritakan. Saya mohon maaf apabila ada teman-teman yang penasaran dengan cerita Musuh Politik tapi tidak bisa saya posting di sini. Saya ingin sekali tapi saya memang tidak bisa mendatangi Taman Budaya buat menyaksikannya.

Postingan ini adalah semua jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Om Bukik pada saya. Ada delapan pertanyaan tapi di postingan yang ini saya baru menjawab tiga pertanyaan agar postingan ini tidak menjadi terlampau panjang. Besok akan saya lanjutkan dengan bagian berikutnya. Selamat menikmati.

Siapa saya? Siapa nama saya? Apa saja nama saya? Cerita di balik semua nama itu?

Saya? Ya saya. Baiklah abaikan kata-kata saya barusan. Saya sekarang dikenal di lingkungan sekarang sebagai Hani, kependekan dari nama saya Rohani Syawaliah. Ada yang berbaik hati pula mengingat nama saya sebagai Syawal. Ketika ditanya, saya siapa? Saya lebih suka menyebut profesi saya sebagai pedagang. Jadi saya adalah seorang pedagang dengan nama panggilan Hani dan nama lengkapnya Rohani Syawaliah.

Nama Rohani Syawaliah saya sandang ketika meninggalkan bangku sekolah dasar karena sebelumnya nama saya Listia Evita. Jauh ya perubahannya?

Waktu saya lahir, saya dinamai Listia oleh bidan yang membantu proses kelahiran saya. Evita-nya tambahan dari saudara ibu saya. Tapi sepertinya pemberian nama untuk saya masih banyak perdebatannya. Kakek saya dari pihak ayah inginnya nama saya bernuansa Islami sehingga dia memilihkan nama Rohani Syawaliah.

Masuk SD, Listia Evita yang memenangkan perdebatan untuk menjadi nama permanen, tapi akhirnya saya yang meminta nama Rohani Syawaliah yang ditulis di ijazah saya karena saya benci teman-teman saya suka memanggil saya dengan panggilan Bilis, berasal dari Lis (Listia).

FYI, Bilis itu adalah jenis ikan yang sangat murah harganya di pasaran. Tentu saja ini bukan masalah harga ikannya saja, tapi masalah harga diri saya sebagai manusia yang disamakan dengan seekor ikan tipis murah di pasar. Saya merasa harga diri saya terinjak-injak. Padahal saya masih sekolah di sekolah dasar ya?

Saya lebih memilih untuk menceritakan masa-masa bersama kakek dan nenek saya karena saya tumbuh besar di rumah mereka.

Saat yang paling menggetarkan adalah ketika saya baru duduk di bangku SMA dan kakek saya terkena serangan stroke. Waktu itu laki-laki yang selama ini saya kenal sebagai laki-laki yang tangguh dan kuat hanya bisa berbaring lemah di tempat tidur. Bahkan makan pun harus disuapkan.

Beliau pernah bertanya: “Bagaimana jika suatu hari kakek meninggal dunia?”

Saya tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaannya dan hanya bisa menangis meraung-raung. Kemudian dia akan terbahak melihat air mata saya berderai. Saya paling benci dia menganggap hal itu sebagai gurauan.


Saat bersama nenek yang paling menggetarkan adalah saat seminar proposal skripsi saya. Dia hadir. Saya yang memintanya hadir karena saya demam menghadapi empat orang dosen. Dua penguji dan dua pembimbing. Saat saya melihat wajah tuanya, saya sadar, dia telah memberikan banyak untuk kehidupan saya dan mau menyeberang lautan untuk menghadiri seminar saya yang berlangsung tak sampai satu jam. Harusnya dua jam.

Saya sangat sayang mereka berdua.

Ada banyak kejadian yang membuat saya menjadi diri saya yang sekarang.

Semenjak kecil, kakak saya sudah tidak menyukai saya dan adik-adik saya yang lainnya. Saya yang paling dekat usianya dengan dirinya kerap kali menjadi bulan-bulanan apabila dia sedang kesal. Mulai dari menjambak, menampak, bahkan hingga melukai dengan alat dapur. Saya dan kakak saya memang dibesarkan di rumah nenek dan kakek sehingga otomatis dialah teman main saya.

Penyiksaan yang saya alami terus-menerus, setiap hari saya pasti menangis dibuatnya membuat saya menanamkan sebuah tekad dalam diri saya. Hanya saya yang bisa menyelamatkan diri saya dari semua hal yang tidak menyenangkan itu. Saya harus jauh darinya. Saya harus cepat-cepat besar dan menjauh dari kehidupannya.

Itu kejadian yang hingga sekarang tidak pernah saya lupakan karena di tubuh saya ada luka yang masih membekas torehan dari pisau yang digunakan oleh kakak saya untuk melukai saya. Kejadian itu membuat saya menjadi seseorang yang lebih kuat ketika mendapatkan penderitaan karena dibanding penderitaan harus hidup bersama kakak saya, penderitaan yang lainnya terlihat begitu kecil. Semua kekerasan yang saya alami. Semua kalimat yang harus saya telan. Semua tawa iblis yang saya dengar. Tidak ada yang bisa menyamai sakit dan takutnya. Sampai sekarang.

Kematian kakek saya sendiri merupakan pukulan terberat di dalam hidup saya hingga sekarang. Saya melihat ke tahun-tahun di belakang yang pernah saya jalani dengan keberadaannya dan saya merasa tidak ada yang bisa menggantikan posisinya dan mengisi ruang kosong yang pernah dia tempati.

Kepergiaan laki-laki yang sangat saya cintai ini membuat saya menjadi orang yang saya tabah. Sangat tabah. Banyak orang yang dating dan pergi dalam kehidupan saya. Terutamanya lelaki sebagai lawan jenis, tapi tak ada satu laki-laki pun di dunia ini yang membuat saya menangis berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun apabila mengingat masa-masa bersamanya. Hanya kakek saya yang hingga hari ini masih saya tangisi kepergiaannya. Saya berusaha tabah, tangisanlah satu-satunya cara untuk saya menahan keinginan putus asa di dalam kehidupan ini tanpanya.


Tahun 2004-2005 ada kejadian yang sangat penting, ini adalah batu loncatan yang sangat besar di dalam kehidupan saya. Saya tamat SMA dan menagih janji kepada Umak untuk menguliahkan saya. Sayangnya dia mangkir dan saya harus berjuang selama setahun penuh untuk mencari uang masuk kuliah. Saya bekerja di sebuah took kelontong menjadi kuli dan setiap hari membuat kue bolu mulai 5-10 loyang untuk dititipkan di warung-warung kopi.

Setahun uang yang saya kumpulkan tak begitu banyak. Perjuangan setahun itu tidak sia-sia karena akhirnya saya bisa kuliah di Universitas Tanjungpura. Sebuah universitas negeri yang tanahnya sangat luas. Masuk jurusan yang selama ini saya inginkan, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Selama bekerja sebagai kuli di toko kelontong itu saya menyerap semua ilmu wirausaha dari majikan saya dan rumus paling penting ketika kita memutuskan menjadi pedagang adalah jujur. Kuncinya adalah kejujuran. Karena dengan kejujuran kita akan mendapatkan kepercayaan dari banyak orang.

Hari ini ketika saya mengumpulkan mozaik kehidupan saya, saya terbentuk dari begitu banyak kejadian, tiga di antara kejadian paling kuat membentuk saya adalah tiga kejadian tersebut. Saya tidak menyesali semua yang harus saya pikul, semua beban dan derita. Bukankah kehidupan adalah sebuah perjuangan. Semakin kuat ‘musuh’ yang harus kita ‘lawan’ semakin besar pula ‘kerajaan’ yang akan kita ‘kuasai’.

Bersambung...


24 Januari 2012

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 25]

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 25]


            Tapi hampa terasa di sini tanpamu
            Bagiku semua sangat berarti lagi
            Kuingin kau di sini
            Tepiskan sepiku bersamamu
            Takkan pernah ada yang lain di sisi
            Segenap jiwa hanya untukmu
            Dan takkan mungkin ada yang lain di sisi
            Kuingin kau di sini
            Tepiskan sepiku bersamamu
            Bagiku semua sangat berarti
            Kuingin kau di sini
            Bagiku semua sangat berarti lagi
            Kuingin kau di sini
            Takkan pernah ada yang lain di sisi
            Segenap jiwa hanya untukmu
            Takkan mungkin ada yang lain di sisi
            Kuingin kau di sini
            Tepiskan sepiku bersamamu
            Hingga akhir waktu
            Hingga akhir waktu
            Takkan pernah ada yang lain di sisi
            Segenap jiwa hanya untukmu
            Dan takkan mungkin ada yang lain di sisi
            Kuingin kau di sini
            Tepiskan sepiku bersamamu
            Hingga akhir waktu
            Hingga akhir waktu
                                                            (Hingga Akhir Waktu, Nineball)

            
Aku kecewa lagi pada diriku sendiri. Aku menyakiti hatiku lagi. Aku tak sanggup untuk menerima kenyataan ini. Sekarang semuanya terasa lebih berat dari sebelumnya. Lebih berat dari keputusanku untuk lari dari pernikahanku dengan Rheka. Aku harus menikah dengan Habibi disaksikan oleh orang yang paling aku kasihi. Aku tak mampu membayangkan semua itu terjadi. Aku tak punya kekuatan sebesar itu untuk menatapmu lagi Polki. Semuanya selalu karena aku yang begitu gegabah menentukan pilihan. Padahal aku boleh menolaknya. Bukankah Abi dan Umi tak pernah memaksakan yang harus aku pilih.
           
 Angin yang meniup jilbabku terasa tak lagi dingin. Semuanya terasa hampa. Rerumputan yang hijau juga tak lagi nampak indah di mataku. Berbeda dengan saat kita pertama kami bertemu. Saat pertama kali aku membiarkan kamu menyentuh hatiku dengan cintamu. Sejauh mataku memandang aku hanya merasakan kehampaan yang menyesakkan dadaku. Ya Allah kenapa seperti ini? Jalan apa lagi yang harus aku tempuh? Aku tak mungkin selamanya lari dari pernikahanku. Aku harus mempertanggungjawabkannya.
            
“Kak, pulang yuk…”
            
Cempaka menarik tanganku agar segera meninggalkan tempat itu. Aku masih ingin di sini. Aku merasa ini tempat yang cocok untuk aku menenangkan hatiku dan membiarkan dadaku bernapas lebih lega.
            
“Kakak masih ingin di sini.”
            
Aku tak peduli Cempaka akan tetap menemaniku atau membiarkan aku sendiri saja. Aku hanya ingin di sini. Memikirkan semuanya dari awal dan merasakan kesakitanku sendiri. Luka ini karena kesalahanku Polki. Salahku yang pengecut untuk menerima ajakanmu kabur berdua. Kita malah kabur sendiri-sendiri. Kenapa kita berlabuh di tempat yang sedekat ini? Dekat namun kita tak pernah tahu kita berada di tempat yang hanya butuh waktu beberapa menit untuk bertemu. Seharusnya sejak awal kita dipertemukan agar posisi kita rumit begini. Aku lelah terjepit terus.
            
“Apa pun yang terjadi dalam hidup kita pasti yang terbaik Kak. Itu sudah takdirnya.”
            
“Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya?”
            
Air mataku semakin deras mengalir. Cempaka mengusap pipiku yang basah. Aku tak sanggup lagi. Aku memeluknya. Tangisanku meledak semakin keras. Ternyata aku tak sekuat dirimu Cempaka. Kamu begitu sabar menjalaninya semua. Aku mendapat calon suami sebaik Habibi malah patah hati. Kurang apa lagi dia sampai aku masih berat hati merelakan Polki menikah dengan perempuan sebaik Annisya? Bukankah Annisya akan membahagiakan Polki suatu hari nanti. Polki mungkin akan lebih bahagia dengannya. Aku hanya bingung apakah aku bisa bahagia dengan pernikahanku nanti?
            
“Pulang yuk?”
            
Aku mengangguk sambil menghapus semua air mata yang telah membanjiri wajahku. Aku tak akan sanggup membiarkan hatiku sendiri terluka. Tapi aku juga tak mungkin melukai hati orang sebanyak ini. Lebih banyak lagi dari sebelumnya. Tak hanya Habibi yang akan kecewa dengan kenyataan yang ada di depan mata. Annisya akan murka karena aku akan meminta calon suaminya untukku. Aku meminta padamu, bolehkah aku memintanya?
            
Kehampaan itu masih saja menggelayuti hatiku. Berakhir sudah semuanya. Aku yang membuatnya berakhir. Aku sejak awal memang tidak mampu mempertanggungjawabkan cinta yang pernah aku torehkan di hatimu Polki. Aku yang bersalah. Andai saja aku bisa memutar waktu dan kembali ke masa-masa yang manis itu. Aku tak ingin cinta kita berakhir sampai di sini.
            
Aku menghentikan langkahku karena aku menemukan sebentuk wajah yang sangat aku kenal di depanku. Matanya juga basah. Melebihi basahnya mataku. Harus berapa kali aku ingatkan Polki? Laki-laki tak boleh menangis. Laki-laki harus kuat. Lagi pula yang salah dalam hal ini bukan kamu. Tapi aku. Aku yang menghancurkan semuanya. Aku yang tak menjaga hatimu. Aku yang memusanahkan hatimu. Hati yang selama ini mencintaiku dengan lembut.
            
“Kak?”


Cempaka memintaku untuk bereaksi dengan kehadiran Polki yang entah sejak kapan ada di sini. Aku ingin memeluknya tapi tak mungkin aku boleh melakukan itu. Ia bukanlah suamiku. Calon suami saja bukan. Kalau bisa aku ingin melakukan semua hal yang dulu pernah kami lakukan. Namun semenjak menjadi santriwati di sini aku kemudian menyadari bahwa semua itu bukanlah suatu hal yang dibolehkan dalam Islam. Semuanya salah.
            


“Apa yang kamu lakukan di sini?”
            
Suaraku terdengar begitu hebat bergetar. Aku bahkan tak mampu membendung air mata yang sangat deras mengalir. Cempaka memegangi tubuhku yang mungkin hampir limbung. Aku tak sanggup menahan semuanya sendirian. Aku ingin mengakhiri semuanya saja. Aku tak tahu bagaimana caranya.
           
 “Aku mencarimu dimana-mana.”
            
“Bukankah semuanya sudah jelas Polki. Aku tak pernah mengkhianatimu dengan menikahi Rheka. Aku mencarimu juga. Aku tak mengira kita berada di tempat yang begitu dekat.”
            
“Aku rasa semuanya memang sudah tertulis di garis tangan kita masing-masing. Bahwa ini adalah takdir yang sama sekali tak mampu kita ubah.”
            
“Apa kamu tak akan mengajakku kabur seperti waktu itu? Apa kamu lupa lamaranmu yang telah aku terima?”
            
“Kita sudah membuat pilihan masing-masing. Harusnya kita berani mempertanggungjawabkannya. Kita sudah dewasa. Saat kita menjawab iya kita harus melanjutkannya. Tak mungkin berpaling lagi Kayra.”
            
“Sekarang kamu yang jadi pengecut Polki.”
            
“Ini bukan masalah menjadi pengecut atau tidak. Ini adalah janji kita pada keluarga itu. Kamu mau mengecewakan mereka?”
            
“Tapi apa kamu pernah memikirkan apa yang akan terjadi dengan hati kita?”
            
“Sedikit terluka tapi setelah itu akan kembali baik-baik saja setelah beberapa waktu. Kita harus belajar mencintai sesuatu yang kita miliki bukannya memaksa untuk memiliki sesuatu yang kita cintai.”
            
“Apa kita bisa?”
            
“Seiring berjalannya waktu kita pasti bisa Kayra. Suatu hari kita akan mencintai apa yang kita miliki. Kita juga akan mengingat semua yang pernah kita lewati sebagai sebuah kenangan terindah yang tak akan terlupakan. Jangan terlalu menyiksa hatimu dengan keadaan ini. Kita sudah dewasa.”
            
“Lantas kenapa kamu menangis?”
            
“Karena aku ternyata masih mencintaimu seperti dulu. Sedalam apa pun aku berusaha menguburnya, aku tetap mengingatmu sebagai seorang perempuan yang mau mencintaiku apa adanya.”
            
“Sampai sekarang aku masih mencintaimu.”
            
“Mulai besok kamu harus belajar melupakan Popeye-mu karena ternyata di dunia nyata Olive nggak hanya ada satu orang. Begitu juga kamu harus menemukan Popeye yang tercipta untukmu. Pasti akan menemukan satu di antaranya. Masih banyak yang lainnya.”
            
Polki berlalu setelah mengatakan apa yang memang aku butuhkan. Aku hanya butuh kata-kata itu untuk meyakinkan hatiku menghadapi ini semua. Toh aku tak mungkin lari terus dari orang yang menawarkan seumur hidupnya untukku. Aku tak bisa lari. Langkahku sudah terhenti di sini. Bukanlah suatu hal yang mudah untuk aku bangun. Kehidupan yang sudah susah payah aku bangun dari sebuah langkah pelarian.
            
Aku terdiam menghadapi keluargaku sendiri yang rasanya begitu asing. Untungnya semuanya dalam keadaan sehat. Ya Allah terima kasih karena telah menjaga mereka. Aku menatap Rheka yang ternyata datang juga ke sini. Aku sekarang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya beberapa waktu yang lalu. Dan hanya akan ada satu kata. Maaf. Hanya itu yang perlu aku katakan kepada kedua orang tuaku terutama mama. Namun aku tak menemukan Dagna. Harusnya dia adalah orang yang paling ingin bertemu denganku untuk menghujatku.
            
“Silakan berbincang-bincang lebih dulu. Saya tinggal sebentar.”
            
Abi meninggalkan ruang tamu. Ia merasakan kebekuan yang tercipta antara kami sekeluarga. Aku memang tak pernah mengatakan yang sejujurnya. Apa yang sebenarnya terjadi dalam keluargaku. Aku juga menutup rapat cerita tentang Polki. Bukan apa-apa. Itu akan menjadi masalah yang memberatkan tak hanya untukku tapi juga untuk Polki. Cinta terlarang yang tak akan pernah bersatu tak akan mungkin aku pertahankan. Tak ada gunanya.
           
 “Kamu kenapa pergi Kayra?”
           
 “Maaf.”
            
“Tidak apa-apa.”
            
Benjo menggenggam tanganku. Ia mengalirkan kekuatan yang sangat besar untuk aku bertahan. Aku menatapnya dalam. Selama ini tak pernah ada kedekatan antara kami berdua namun sekarang aku merasakan bahwa ia menyayangiku. Keadaan yang membuat kita terpisah dalam keluarga. Padahal kamu satu-satunya orang yang tak pernah membuatku jengah.
            
“Mana Dagna?”
           
“Dagna sudah beberapa minggu meninggalkan kita semua Kay.”
            
Aku menatap Benjo meminta kepastian penyebabnya. Aku tak tahu sama sekali apa yang terjadi dalam keluargaku selama beberapa bulan ini. Apalagi aku tak pernah mengaktifkan nomorku agar ada yang bisa menghubungiku. Bahkan Mopty tak pernah tahu dimana keberadaanku. Aku benar-benar tak mau ada yang menyusulku di sini. Aku ingin memulai sesuatu yang benar-benar baru dalam kehidupanku. Terutama untuk hatiku. Hati yang terus-menerus aku sakiti dengan keegoisanku.
            
“Kenapa?”
            
“Mama dan papa memang merahasiakan ini. Sebenarnya Dagna terinfeksi HIV. Dia meninggal karena tak mau terapi. Kesehatannya terus memburuk. Akhirnya ia pergi meninggalkan kita semua.”
            
“Sejak kapan ia terinfeksi?”
            
“Sejak ia kuliah di Amerika. Pulang dari sana ia sudah positif.”
            
Benjo menjawab pertanyaanku. Aku menghela napas begitu berat. Jadi selama ini ia terlihat dingin karena ia juga punya masalah tersendiri. Akhirnya aku bebas darimu Dagna. Bagaimanapun juga kesedihanku berbuntut senang. Aku lelah dengan keberadaanmu. Ya Allah terima kasih untuk semua bantuan yang telah diberikan.
            
“Bagaimana kamu bisa berada di sini Kayra? Ada apa sampai mama dan papa diminta datang ke sini?”
            
Aku mulai membacakan dongeng pelarianku yang berakhir di sini. Tak ketinggalan aku mengatakan tentang pernikahanku berikutnya. Semuanya aku ungkapkan tanpa ada yang aku tutupi. Aku tak mau ada satu hal pun yang terlewatkan. Aku membeberkannya tanpa menatap Rheka. Aku tak mau Rheka merasa ada saingan baru yang harus ia hadapi. Sekarang ia tak punya saingan sama sekali karena Habibi adalah calon satu-satunya dan terakhir. Aku tak akan menukar pernikahan ini dengan apa pun dan siapa pun.
            
“Kali ini Kayra nggak akan lari lagi Ma. Ini pilihan Kayra. Habibi adalah calon suami yang terbaik yang pernah ada dalam hidup Kayra. Kayra tak akan menyia-nyiakannya.”
           
 “Kamu yakin tak akan berpaling untuk kedua kalinya?”
            
Aku menggeleng dengan penuh keyakinan. Aku tak akan menumpahkan air mataku untuk kesekian kalinya. Semuanya sudah terlalu banyak aku keluarkan untuk menyesali takdir yang sudah menungguku. Ini takdir, aku tak mungkin melawannya. Aku sudah menentukan sebuah pilihan. Bukankah Polki sendiri yang mengatakan bahwa aku harus belajar mencintai sesuatu yang aku miliki. Aku akan memiliki Habibi dan aku harus belajar untuk mencintainya.
            
“Kayra percaya memang ini yang harus Kayra jalani.”
            
Aku mencoba tersenyum walaupun terasa pahit di bibirku. Dadaku terasa sesak dengan perhelatan yang terus menyiksa. Aku ingin merasa sedikit melegakan hati. Tapi tetap saja tak bisa. Bukan karena aku lemah. Namun percintaan yang dulu pernah begitu indah terus membayangi ruang kepalaku. Ya Allah kuatkan hatiku. Hati yang terus aku sakiti dengan emosi yang menginginkan semuanya berjalan seperti yang aku mau.
            
“Kamu tambah cantik.”
           
 “Terima kasih.”
            
Aku merasa kikuk duduk di samping Rheka. Dulunya tangannya akan terus menggenggam tanganku dengan erat. Bahkan ia selalu menyediakan bahunya untukku bersandar. Angin meniup mataku lembut. Rasanya aku masih tak mampu melupakan semua kesalahan yang aku lakukan padanya. Rheka maukah kamu menerimaku kembali menjadi sahabatmu? Aku hanya menunduk memandangi bangku yang aku duduki bersamanya.
           
 “Maafkan aku.”
           
 “Tak apa-apa. Mungkin memang itu yang terbaik. Aku memang egois.”
            
“Terima kasih Ka.”
            
“Aku masih mencintaimu Kay. Tapi aku ikhlas kalau kamu memang memilih Habibi sebagai suamimu.”
            
“Aku tak tahu apakah pilihanku sudah benar.”
            
Alis Rheka terangkat sedikit mendengar ucapanku. Aku selalu tak sanggup menahan untuk menutupi keberadaan Polki yang ada di sini. Rheka. Aku masih saja ragu untuk melupakan semua impianku membina rumah tangga dengannya. Aku terus saja menginginkan Polki menjadi suamiku.
           
 “Aku akan menikah dengan Habibi. Tapi aku masih tak mampu melupakan Polki.”
            
“Sedalam itukah cintamu padanya?”
            
Aku merasa ada getaran kekecewaan di suaranya. Ia menahan sesuatu yang aku tak tahu apa namanya. Apakah kamu masih cemburu pada Polki? Aku mencintainya. Sangat. Kamu tahu itu sejak awal.
            
“Harusnya kamu tahu itu Ka. Aku punya hati yang menginginkan aku bersama Polki selamanya.”
            
“Masalahnya kamu tak pernah tahu dimana keberadaannya.”
            
“Polki ada di sini.”
            
“Ada di sini?”


“Kami akan menikah dalam waktu yang bersamaan. Dia akan menikahi Annisya. Aku tak tahu kalau ia ada di tempat yang sama denganku selama ini.”
            
Mata Rheka terbelalak. Ia tak pernah menyangka kenyataan yang akan aku hadapi sekeras ini. Aku kuat untuk menikahi Habibi. Tapi apakah aku akan kuat menyaksikan pernikahan Annisya dan Polki? Mendengarkan lafazd akad nikah orang yang aku inginkan menyebutkan nama perempuan lain. Rheka tahu persis bagaimana rasa itu. Karena sekarang ia juga akan mendengar Habibi menyebutkan namaku sebagai istrinya.
            
“Bagaimana bisa?”
            
“Aku juga tak tahu kenapa ia berada di sini.”
            
“Kenapa kamu tidak mengatakannya pada keluarga Habibi?”
            
“Aku ingin mengatakannya, tapi berat bagiku melukai hati orang yang telah begitu besar jasanya dalam membimbingku menjadi seperti sekarang ini.”
            
“Bagaimana dengan Polki? Apa dia tidak keberatan?”
            
“Dia yang memintaku untuk meneruskan pernikahan ini.”
            
“Kamu mencintai orang yang tak mau berjuang atas nama cintanya sendiri?”
            
“Entahlah...”
            
Rheka menarik napas sedemikian panjang untuk melegakan hatinya sendiri. Apakah Rheka akan membantuku? Aku ingin ia berbuat sesuatu agar pernikahan ini tidak terjadi. Setidaknya memberikan aku kekuatan agar aku mampu menghadapinya.
           
“Menurutku aku harus bertemu dengan Polki.”


Bersambung...