23 Desember 2011

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 17]



Cerita sebelumnya Bagian 10.
Cerita sebelumnya Bagian 15.

Cerita sebelumnya Bagian 16. 


Beberapa mata  menatapku dengan agak aneh saat aku berjalan bersama Cempaka. Selama ini mungkin memang tak ada yang berani dengan terang-terangan mengulurkan persahabatan padanya. Kenapa harus membuat posisinya semakin terjepit dengan diskriminasi? Sudah cukup semua yang ia alami dalam hidupnya. Perempuan yang begitu muda harus berjuang sendirian. Tanpa mama dan orang-orang terdekat yang mau mendukungnya. Aku ingin menjadi bagian dari perjuangan itu.

Aku membawanya melewati taman bunga yang sedang dirawat oleh beberapa perempuan lainnya. Mereka berbisik-bisik kecil sambil menatapku dengan pandangan aneh. Tak apa Cempaka. Aku masih mampu menghadapinya. Semua perlakuan Dagna padaku lebih dari cukup untuk melatihku menjadi orang yang kuat. Hanya tatapan seperti itu aku pasti kuat menghadapinya. Itu hanya sebagian kecil dari yang pernah aku terima dari Dagna.

Cempaka agak keberatan dengan perlakuanku padanya. Aku hanya ingin kamu mendapatkan hidup yang layak. Aku terus memeganginya walaupun beberapa kali ia memberi isyarat agar aku segera berhenti. Tidak Cempaka! Sebelum aku benar-benar membuat mereka semua mengerti bahwa kamu tidak membahayakan nyawa mereka aku tak akan berhenti. Aku harus membuat mereka mengingat satu hal. Bahwa kamu juga manusia. Bahwa kamu berhak mendapat perlakuan yang sama. Mereka boleh mengucilkanmu kalau memang sikapmu itu buruk. Mereka boleh mengucilkanmu tapi bukan karena kamu terinfeksi.

Aku menemukan Annisya di halaman depan. Bersama anak-anak penduduk yang sedang belajar membuat bunga. Aku baru ingat hari ini hari minggu. Kegiatan rutin yang dijalani Annisya selalu sama. Tak pernah ada variasi apa pun. Apakah hidupnya tidak membosankan? Apa ia tak ingin menemukan hal-hal baru dalam hidupnya? Mungkin ia harus pergi ke tempat-tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Seperti aku sekarang ini. Aku menemukan banyak hal di sini setelah meninggalkan semua milikku di sana.

Annisya menyambut kami dengan senyumnya yang begitu manis. Setiap hari ia selalu memiliki banyak stok senyum. Aku membalasnya dengan senyum terbaik yang aku punya. Cempaka juga tersenyum padanya. Dengan agak dipaksakan pastinya karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Memang ia agak resah dengan keinginanku. Aku begitu memaksa. Ini yang terbaik Cempaka. Kenapa harus takut. Mereka yang salah karena memperlakukanmu serendah itu.

            “Ada apa?”

Annisya menjauh dari anak-anak di pendopo. Ia menuruni tangga menuju kami. Angin meniup jilbab lebarnya. Tangannya membawa sekuntum bunga hasil karyanya. Aku menatap wajah Cempaka sebentar. Masih ada keraguan di sana. Apakah ia lebih senang dikucilkan terus seperti hari-hari yang telah ia lalui di sini? Aku ingin semuanya segera diakhiri Cempaka. Ini bukan untuk kepentinganku tapi untuk kebaikanmu.

            “Aku nggak bisa terima Cempaka dikucilkan di sini.”

Aku memulai kalimatku yang sebenarnya penuh emosi dengan agak lembut. Aku tak mau membuat Annisya menjadi takut dengan kemarahanku. Aku tak mau aku terperosok dalam api kemarahan lagi. Aku harus berusaha mengendalikannya agar semuanya dapat diselesaikan dengan baik. Aku ingin Cempaka mendapat perlakuan yang lebih baik di tempat ini.

            “Dikucilkan?”

Dahinya berkerut sambil menatap Cempaka. Ia mencari pengakuan yang lebih meyakinkan di wajah perempuan yang diam sejak tadi. Ia mungkin tak pernah tahu apa yang selama ini dihadapi Cempaka. Cempaka selalu diam membisu. Ia menyembunyikan semuanya rapat-rapat sendirian.

            “Kenapa ia diterima di sini dengan pengucilan?”


            “Cempaka... apa itu benar?”


Cempaka menganggukkan kepalanya pelan. Ia takut mengakuinya. Entah kenapa? Kenapa cempaka begitu takut? Ada apa? Toh Annisya akan membelamu. Aku yakin itu. Sangat yakin dengan semua itu.


            “Nisya nggak percaya ini.”


            “Aku melihatnya Sya!”


Suaraku sedikit meninggi. Naik beberapa oktaf dan itu cukup untuk menyatakan bahwa aku serius dengan ucapanku.


            “Cempaka, kenapa kamu tidak mengatakannya, Tante juga kenapa tidak pernah datang ke sini?”


            Tante? Maksudnya siapa?


            “Tante mana?”


            “Mamanya Cempaka.”


Kalau Annisya menyebutnya dengan tante berarti masih ada hubungan kerabat di antara mereka. Kenapa Cempaka tidak mengatakannya?


            “Lebih baik kita bicara di rumah saja.”


Annisya menarik Cempaka dariku. Gadis itu hampir tak bertenaga dengan perlakuan yang terus ia terima tanpa henti. Semuanya yang telah ia lewati dan sekarang semua yang harus ia hadapi. Apakah ia masih punya kekuatan?


            “Annisya sebenarnya agak keberatan waktu pertama kali ia datang. Annisya bukannya nggak sayang sama Cempaka. Tapi Nisya pengen tante bertanggung pada anaknya sendiri. Cempaka butuh mamanya saat ini. Ini adalah saat yang paling berat untuknya. Sayangnya tante memang tidak pernah mau terlibat dalam masalah. Ia lebih senang melimpahkan tanggung jawabnya pada orang lain.”


Annisya yang biasanya terlihat tenang sekarang agak emosional. Ia berusaha terus menekan dan menekan. Mencoba mempertahankan kelembutan yang sudah melekat sebagai citra hidupnya. Aku menggenggam tangan Cempaka. Gadis itu menunduk dengan air mata yang mengurai di pipinya. Pipi yang seharusnya mengembang karena senyuman. 


Usianya pasti masih sangat belia. Semua kepasrahannya menandakan ia belum cukup dewasa untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Hanya ketabahan dan ketahanannya menghadapi cobaan yang membuatku berdecak kagum. Aku yang sudah 23 tahun saja masih dihantui penyesalan yang menyesakkan saat mendapat ujian. Padahal aku ternyata baik-baik saja sampai sekarang.


     “Nisya udah bilang tempat ini dibangun bukan untuk menampung orang yang memiliki tekanan batin seperti Cempaka. Nisya juga tak bisa berbuat banyak untuk membuat ia lebih diterima di sini. Nisya ingin berbagi banyak hal dengannya. Tapi Cempaka sepertinya lebih senang sendirian. Nisya pikir dia baik-baik saja dengan pilihannya.”

            Annisya berusaha membela dirinya.

     “Baik-baik saja! Omong kosong macam apa itu? Jelas-jelas Cempaka semakin tertekan. Ia harus mendapat konseling mengenai apa yang sekarang ia derita. Ia butuh perhatian ekstra agar bayinya tidak ikut terinfeksi. Ia juga harus ikut terapi agar kesehatannya semakin baik. Kalau dibiarkan terus. Selain kesehatannya semakin menurun batinnya juga tersiksa. Emangnya nggak kasihan ngeliat dia?”

Aku juga menumpahkan semuanya di ruang tamu. Suaraku yang asli akhirnya muncul juga. Aku tak sanggup menahannya. Ini sudah sangat berlebihan. Cempaka sudah terlalu banyak menghadapi ujian. Kenapa harus ditambah lagi dengan berbagai macam hal yang membuatnya tersiksa.
            
Annisya terdiam. Kami leluasa membicarakan ini semua karena aku tahu di rumah tak ada siapa-siapa. Hari ini orang tua Annisya menjemput abang Annisya yang baru pulang dari pendidikannya. Entah dimana. Aku tak peduli itu. Toh tak berarti apa-apa buatku. Lebih baik aku sekarang konsentrasi untuk mengurangi beban yang ditanggung Cempaka. Beban yang pasti sangat berat untuk perempuan semuda dia.

            “Jadi apa yang harus kita lakukan?”


Aku senang mendengar ucapan Annisya. Ini merupakan langkah yang ingin aku jalankan. Aku yang tahu apa yang seharusnya dilakukan. Aku ingin mengakhiri derita Cempaka. Aku merasa aku ingin melindunginya. Selama ini aku memang lahir sebagai anak yang paling kecil di antara saudaraku yang lain. Itu membuat aku selalu ingin dilindungi oleh yang lebih tua dariku. Sekarang aku ingin mengulurkan tangan untuk mengeluarkan semua kesedihannya.


            “Biar aku yang urus semuanya.”


Malam sudah melewati waktu isya sejak tiga puluh menit yang lalu. Puluhan perempuan penghuni pondok sudah berkumpul di ruang pertemuan. Aku, Annisya, Cempaka, dan seseorang yang aku undang dari rumah sakit duduk di depan penghuni lainnya. Aku mengundang orang yang dari rumah sakit agar semua orang mendapat penjelasan yang akurat mengenai penyakit HIV/AIDS.


Orang itu mengeluarkan beberapa poster yang berisi materi penyuluhan. Ia menjelaskan dengan lengkap tentang cara penularan HIV. Semua penghuni perempuan mendengarkan dengan seksama. Termasuk Bu Nur. Aku hanya mengundang penghuni perempuan karena yang mendiskriminasikan Cempaka adalah mereka. 


Sedangkan penghuni pondok laki-laki tidak tahu apa-apa mengenai statusnya. Bahkan aku yang sudah lebih dari sebulan tinggal di sini tak pernah bertemu dengan mereka. Memang dilarang. Tertulis jelas di dinding peraturan. Penghuni pondok perempuan tidak boleh bertandang ke pondok laki-laki tanpa alasan yang jelas.


Penjelasannya begitu apik dan menyenangkan. Beberapa perempuan tersenyum sambil mengangguk-angguk. Ada juga yang tetap menyimak dengan serius. Aku harap setelah malam ini tak akan ada lagi yang perlu didiskriminasikan. Tidak ada lagi tangisan malam-malam. Tak ada lagi wajah sedih Cempaka. Tak ada lagi yang takut dengan gadis itu. Tak ada lagi yang membuatnya semakin terpuruk dengan kesedihan.


            “Terima kasih untuk semuanya Kak Kayra.”


Untuk pertama kalinya ada yang memanggilku seperti itu. Aku hanya tersenyum dan membiarkannya menggulung dirinya di balik selimut yang tebal. Malam masih saja dingin. Namun aku harap ada kehangatan di hati Cempaka.


            “Kita akan membesarkan anakmu sama-sama.”


Aku hanya membisikkan itu sebelum akhirnya aku mencium dahinya. Dahi yang pasti sudah lama tak mendapat ciuman dari mamanya. Aku kemudian meninggalkannya dan menggulung diriku pula di dalam selimutkku sendiri. Semoga malam ini semuanya bermimpi indah.


Aku menyimpan mukenaku di atas meja. Beberapa perempuan yang sudah lebih dulu kembali ke ruangan ini bertebaran ke tempat kegiatan rutin mereka. Aku ternyata masih tak mampu mengingat nama mereka satu persatu. Aku hanya mengingat nama Bina. Itu pun karena ia berada tepat di atasku setiap malam. Ranjang yang aku tempati bertingkat dua. Di bagian atas ada Bina dan aku menempati ranjang yang di bawah.


Cempaka sudah tak ada sejak tadi. Mungkin sekarang ia sudah mulai berani keluar dari kepompongnya sendiri. Aku akan membiarkan belajar untuk beradaptasi sendiri. Aku yang harus mencari kegiatan yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan kebosananku. Aku terlalu bosan untuk memahami arti rutinitas. Aku tak pernah terikat dengan yang namanya rutinitas sepanjang hidupku. Itu terlalu menyiksaku dan aku ingin bebas. Mungkin bukan kebebasanku yang seperti dulu. Namun kebebasan yang lebih menyenangkan. Entahlah. Aku belum bisa membuat bentuk kebebasan itu.


            “Kayra, kamu dipanggil ke rumah utama.”
  
Seorang perempuan mendatangiku. Aku yang sedang duduk di tepian ranjang sambil memikirkan apa yang harus dilakukan sedikit terkejut. Ada apa ini? Sepagi ini? Belum pukul enam pagi. Apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Apakah penyuluhan semalam membuat kacau pondok ini?


            “Oh ya... terima kasih. Aku akan segera ke sana.”


Langkahku begitu cepat, hampir menyamai angin yang bertiup pagi ini. Matahari masih enggan menatap bumi. Aku memeluk dadaku sendiri. Suasana dingin masih kental. Aku tak mampu membiarkan angin-angin itu membuat buku kudukku berdiri. Selain karena angin aku juga penasaran kenapa dipanggil sepagi ini. Kenapa tidak nanti siang saja? Bukankah jam siang lebih leluasa. Berbeda dengan jam pagi. Aku harus bersiap-siap menghadapi pelajaran pukul 7 pagi. Aku lupa belajar mengenai apalagi, yang jelas semakin banyak aku belajar semakin banyak yang rasanya belum aku mengerti.


Aku sampai di depan pintu rumah utama. Aku ragu melanjutkan langkahku. Aku mendengar banyak suara di ruang tamu. Semuanya berdengung seperti lebah hingga aku tak tahu sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Annisya yang keluar dari dapur dengan nampan penuh minuman dan panganan menangkap basah aku yang berhenti di depan pintu. Ia memberi isyarat padaku untuk masuk ke ruang tamu. Masih ragu-ragu karena aku bingung harus bagaimana menghadapinya.


            “Assalamualaikum.”


Serempak semua yang di ruangan itu menjawab salamku lebih lengkap. Aku menatap wajah orang yang hadir di ruangan itu. Satu-persatu. Dari kiri ada Abi. Berikutnya Umi. Selanjutnya seorang laki-laki muda yang tampaknya tak berbeda jauh usianya denganku. Kemudian Annisya yang masih dengan isyarat memintaku untuk duduk di sampingnya.


            “Maaf, bukannya ingin lancang. Saya bingung kenapa sepagi ini dipanggil ke sini. Ada apa sebenarnya?”


Bersambung...

Related Posts

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 17]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).