Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 12]





“Abi dan Umi-mu senang saja menerima Nak Kayra di sini. Tapi apakah Nak Kayra mau?”
            
“Saya tak punya siapa-siapa lagi. Saya bingung harus kemana.”
           
“Kalau seperti itu adanya, Abi rasa tak ada masalah apa-apa Nak.”
            
Annisya membawaku ke teras belakang. Langkah kami melewati bunga-bunga yang masih belum begitu mekar. Indah seperti kehidupan yang Annisya miliki sekarang. Kedua orang tuanya terasa begitu pengertian. Berbanding terbalik dengan orang tuaku. Membuat hidupku yang mereka bangun dengan susah payah hancur berantakan berkeping-keping. 

Apa mereka tak pernah menyadari betapa hancurnya hatiku? Hati yang selama ini berusaha mencintai namun kemudian terluka. Lukanya begitu perih sampai air mataku pun sudah kering untuk menangisinya. Aku kehabisan kekuatan untuk mengobatinya. Biasanya hanya Rheka yang mampu menyembuhkannya. Sekarang malah ia yang membuat luka ini semakin menganga.
            
Tiar, kekasih yang aku pikir adalah yang terakhir, yang selama ini aku cintai malah mengikuti kehendak mereka. Kenapa ia tak seberani Polki untuk mengajakku kabur dari kehidupan yang sekarang ini? Berdua menjalani hidup yang baru. 

Berkelana, lagu Rhoma Irama kali ya, menuju segala sesuatunya hanya berdua. Padahal aku akan menerimanya dengan sangat yakin. Tak akan aku tolak seperti Polki. Karena aku menanti begitu lama untuk membina mahligai cinta hanya berdua dengannya.
            
Polki, apakah kamu juga sendiri seperti aku sekarang ini? Dimana? Bagaimana kehidupan yang kamu miliki sekarang? Apakah sedang kamu bangun juga? Memulai semuanya dari titik nol. Akankah nol akan berubah menjadi angka yang baru? Atau malah akan tetap berada di titik yang sama tanpa perubahan apa-apa yang berarti? 

Aku ingin menemukanmu. Tapi aku tak tahu harus bagaimana? Aku malu untuk meneleponmu terlebih dahulu. Apalagi setelah ke rumahmu aku mendapat tamparan dari ibumu. Rasa panas di pipiku tak sepanas hatiku yang kecewa.
            
Aku kecewa bukan denganmu Polki. Tapi aku kecewa pada diriku sendiri yang tak konsisten dengan hubungan yang kita jalani. Aku tak bertanggung jawab dengan ucapanku untuk terus setia padamu. Aku malah menolak ajakanmu mentah-mentah demi orang tua yang aku pikir menyayangiku. Mereka mungkin memang menyayangiku. Namun mereka lebih menyayangi status yang mereka miliki sekarang. Aku kecewa menjadi bagian dari mereka.
            
Kayra… aku harap engkau mengerti. Setiap kamu menolak apa yang sudah menjadi suratan takdirmu aku sebagai hatimu yang paling tersiksa. Aku yang menanggung semua rasa kecewamu. Bisakah sedikit saja kau memberikan kebahagiaan padaku? Aku yakin dalam hidupmu masih banyak hal yang menyenangkan yang bisa kau jadikan motivasi dalam hidupmu sendiri.
            
Sejak awal aku selalu mengatakan padamu bahwa apa pun yang terjadi dalam hidupmu adalah yang terbaik. Sesakit apa pun itu rasanya. Aku masih kuat untuk menampungnya. Aku hanya mohon, jangan pernah menyesali semua yang telah terjadi karena itu adalah takdirmu.
            
“Ini kamarnya Mbak.”
            
Sebuah kamar yang mungkin berukuran 3x3 meter. Tidak begitu sempit karena hanya ada sebuah ranjang dan lemari di sana. Aku harus mengistirahatkan semuanya. Aku terlalu lelah. Ranjang itu terlihat begitu menggoda. Aku ingin segera memeluk guling dan bermimpi indah.
            
“Mbak istirahat saja dulu. Kamar mandinya ada di belakang. Kalau butuh apa-apa Mbak cari Nisya aja?”
            
Aku mengangguk kecil. Ia kemudian meninggalkanku sendiri dengan semua keletihan yang menderaku bertubi-tubi. Aku tak mau berpikir tentang apa pun lagi karena hatiku sudah tersiksa terlalu dalam. Aku ingin tidur. Aku ingin segera memejamkan mata kepala dan mata hatiku yang lelah. Jiwaku juga sangat tersiksa dengan semua ini. Tidur mungkin akan membuatku lebih kuat. Siapa tahu?
            
Aku meletakkan ranselku dan menutup rapat pintu kamar itu. Tanpa mandi aku merebahkan tubuhku yang hampir patah menahan beban di pundak dan hatiku. Apakah aku terlalu berlebihan menyikapi hidupku? Kenapa aku tidak seperti wanita Jawa yang dulu begitu nrimo?
            
Kayra kamu harus ingat. Kamu bukan orang Jawa dan sekarang wanita-wanita Jawa tidak senrimo dulu kok. Bahkan mereka tak jauh berbeda denganmu. Mereka mungkin bisa melakukan hal yang lebih gila lagi karena merasa hidupnya dipermainkan oleh orang-orang terdekatnya.
            
Adzan membangun tidurku yang begitu lelap. Suaranya begitu dekat dengan telingaku. Pengeras suaranya mungkin memang terletak menghadap ke arah kamarku hingga suaranya sekeras ini. Aku mengucek-ngucek mataku. Aku sangat lelap tertidur namun aku baru ingat aku tak mengisi perutku sejak pagi tadi. Aku lapar. Bagaimana caranya mengatakan pada Annisya. Sudahlah aku menumpang di rumahnya. Sekarang aku ingin diberi makan. Untuk pertama kalinya aku merasa tak berguna.
            
Bayangkan seorang Kayra yang biasanya dengan mudah menghasilkan banyak uang bersama Rheka sekarang malah bingung memikirkan cara untuk mengisi perutnya sendiri. Seorang Kayra yang tak terkalahkan oleh siapa pun kecuali Rheka dalam perlombaan. Semua orang menginginkannya. Belum lagi dari penghasilannya sebagai editor di sebuah redaksi majalah. Ia bahkan bisa membiayai kuliahnya yang masih belum kelar.
            
Sekarang aku benar-benar berada di titik nol. Aku bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa. Memulai semuanya dari awal. Mungkinkah aku benar-benar kuat menjalaninya. Tenagaku rasanya belum pulih untuk melakukan itu semua. Aku butuh seseorang yang dulunya menjadi pelita hatiku. Polki, kenapa begitu sulit semua ini untuk kita. Hanya karena dirimu yang terinfeksi. Padahal aku tahu dengan sangat jelas penularannya tak segampang flu babi atau flu burung. Namun masyarakat awam terus saja mendiskriminasikanmu.
            
Tok! Tok! Tok!
            
“Assalamualaikum...”
            
Suara Annisya yang lembut membuatku lepas dari pikiran beratku sejenak. Ada apa? Namun aku menyimpan pertanyaan itu dalam hati dan membuka pintu dengan perasaan penuh tanya. Wajahnya yang cantik membuat hatiku merasa sangat tenang. Rasanya ada yang beda darinya. Kecantikan yang ia miliki begitu mempesona. Ada cahaya yang aku lihat di sana.
            
“Shalat sama-sama yuk, udah maghrib Mbak.”
            
Maghrib? Aku tak pernah melaksanakannya sama sekali. Orang tuaku juga tak pernah melakukannya. Bagaimana ini? Wajahku mungkin terlihat pucat di mata bening Annisya.
            
“Aku belum bisa…”
            
Suaraku begitu kuat getarannya saat mengakui itu. Aku merasa sangat malu. Aku yang sekarang berusia 23 tahun tak tahu tata cara shalat? Apakah itu bukan hal yang paling memalukan? Kemana saja aku selama 23 tahun ini? Apa yang aku lakukan sehingga tak membuatku berhenti sejenak dan belajar mengenai shalat. Namun Annisya hanya tersenyum mendengarnya. Senyuman yang begitu manis yang ia berikan untukku.
            
“Nanti kan bisa diajarin, Nisya udah bilang dari awal kan kalo Mbak di sini untuk belajar. Semuanya akan diajarkan.”
            
Semuanya? Apa-apa saja? Aku tak sanggup menanyakan lebih lanjut. Mengakui ketidaktahuanku mengenai shalat saja sudah cukup membuat mukaku terasa tebal. Aku malu dengan diriku sendiri. Kebanggaanku pada prestasiku sekarang hampir punah.

Bersambung...
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes