31 Desember 2011

Memamah Jantungmu: Pemenang Borneo Book Award 2011

Memamah Jantungmu: Pemenang Borneo Book Award 2011



Begitu banyak hal yang terjadi di minggu ini. Dari yang membuat bedrest berhari-hari hingga mengguncangkan emosi. Baiklah, setidaknya saya harus memosting sesuatu yang indah hari ini. Karena ini adalah hari terakhir ditahun 2011. Itu artinya ini postingan yang akan menutup tahun ini dengan cantik. Semuanya pasti sudah tahu dengan novel pertama saya. Memamah Jantungmu yan terbit Februari 2011 lalu. 10 bulan kini usianya di bumi dalam bentuk fisik yang sesungguhnya.

Buat yang belum tahu sama sekali bisa membaca reviewnya di sini dan membaca satu bab pertama novel ini di sini.

Bacalah dan berbanggalah  karena novel tersebut telah menuai prestasi yang semalam terukir indah di tanah Borneo. Perjalanan buku tersebut memang tidak mudah. Dua tahun hanya mengendap di laptop tanpa ada niat untuk mempublikasikannya. Hingga pada tahun 2011 saya memberanikan diri untuk mencetaknya dan menjualnya sendiri. Hasilnya lumayan menggembirakan. Banyak yang mau membeli bahkan menulis review tentangnya.

 

Beberapa bulan yang lalu buku tersebut saya setorkan untuk ikut mendaftar di ajang Borneo Book Award 2011. Hasilnya adalah buku saya menang! Sepertinya saya harus membuat tanda di cover buku saya dengan tulisan ‘The Winner of Borneo Book Award 2011’ sebelum suatu hari nanti berhak menuliskan ‘Best Seller’ di sana.

 
Satu hal yang saya syukuri adalah saya berada di Pontianak. Di tanah Borneo sehingga memiliki kesempatan untuk ikut di dalam ajang ini. Berbeda jika saya berada di Jakarta. Memang lebih mudah untuk mencari penerbit mayor di sana. Bisa mengepakkan sayap lebih lebar. Semuanya terlalu dipusatkan di Jakarta sehingga Kalimantan Barat rasanya dianaktirikan.

 

Buku ini sekarang masih mejeng di nulisbuku buat pemesanan tanpa batas jumlah karena print on demand. Tapi doakan saja sebentar lagi tembus ke penerbit mayor untuk benar-benar bisa dipasarkan secara offline dan online. Sekarang kabarnya masih dalam waiting list. Ah! Lagi-lagi harus bersabar ya.

Selamat tahun baru 2012 ya? Semoga tahun 2012 bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya dan lebih banyak hal baik yang bisa kita dapatkan. Sampai ketemu tahun depan ya? Sayonara!

NB: Kalo mau order via nulisbuku silakan kirim e-mail ke admin@nulisbuku.com dengan menginformasikan judul buku yang ingin dipesan.

30 Desember 2011

Cara Menghasilkan Uang dari Blog: Amoy Si Otak Dagang


Masih ingat seorang teman saya yang berhenti ngeblog setelah merasakan tidak mendapatkan uang? Saya sampai lupa blognya. Ini saya pikir hanya masalah kreativitas apabila ingin mendapatkan uang. Tidak hanya dengan blog. Sebuah sepeda motor pun bisa menghasilkan uang apabila digunakan untuk menjajakan sayuran keliling komplek perumahan yang ada di sebuah kota. Paling penting dalam melakukannya hanya masalah keyakinan.

Gambar dari sini.
Saya yakin ketika pertama kali menuliskan impian untuk mendapatkan job review melalui blog ini. Ternyata saya benar. Kemudian saya mendapatkannya saat blog ini berusia 7 bulan. Saya memang tidak tahu kapan hari baik itu akan tiba tapi saya percaya saya akan mendapatkannya. Bukankah selama bertahun-tahun ini saya sudah berusaha untuk menulis secara baik. Memperhatikan tata bahasa dan ejaannya. Itu penyebabnya saya sangat menjaga penulisan di blog ini. Saya ingin blog ini, menjadi sebuah blog yang akan dilirik banyak pemasang iklan yang mendatangkan uang buat saya.

Ketika saya ingat teman saya tersebut, saya kemudian hanya bisa menggelengkan kepala. Seandainya waktu itu dia tidak bilang: “Ngapain ngeblog, sama sekali tidak menghasilkan uang.” Melainkan mengatakan: “Saya ingin blog saya menghasilkan uang, bisa kamu bantu saya?”

Saya bukanlah seorang yang ahli dalam menjadikan blog ladang uang. Apalagi dengan gampang menghasilkan dollar. Bukan, saya bukan tipikal blogger seperti itu. Tidak paham SEO, tidak terdaftar di google adsense, newbie yang tidak memahami sepenuhnya bahasa html, bahkan jangan tanya saya untuk membidik keyword yang akan mendatangkan banyak visitor ke blog kamu. Saya angkat tangan soal itu semua.

Kamu hanya boleh bertanya masalah peluang yang bisa mendatangkan uang melalui blog. Intinya kamu pertama harus menjadi orang yang sama sekali tidak tahu malu untuk menawarkan blog kamu pada pemasang iklan atau pengusaha online. Nah apa saja yang bisa kamu tawarkan kepada mereka agar bisa menjadi sponsor blog kamu?

1.    Tawarkan parkir link blog mereka di widget yang paling gampang terlihat. Untuk kasus blog ini saya menggunakan sudut kiri atas. Harga? Bisa tanyakan langsung pada saya melalui twitter (@honeylizious) jika memang kamu tertarik untuk memarkir blog kamu di sini.

2.      Tawarkan review produk mereka di blog kamu. Jelaskan mengapa mereka harus mau membayar mahal kamu untuk sebuah postingan. Berapa jumlah pengunjung harian blog kamu. Seberapa efektif iklan tersebut akan dibaca oleh pengunjung. Di blog saya, saya akan menaruh tautan postingan mereka di slot iklan sehingga setiap hari akan bisa dilihat pengunjung dan bisa langsung mereka baca selengkapnya dengan mengklik tautan tersebut.

3.   Tawarkan twit berbayar dengan harga terjangkau dan pasang widget time line kamu di blog sehingga tautan yang sedang kamu iklankan di twitter muncul di blog. Saya belum memasangnya karena baru satu orang yang meminta saya mengiklankan dagangannya melalui twitter. Saya juga terlalu aktif ngetwit yang isinya absurd. Kasihan pengunjung yang membacanya.

Masalah harga patoklah sesuai keyakinan kamu berapa nilai iklan di blog kamu saat ini. Jangan sungkan untuk memasang iklan yang bayarannya tidak seberapa bahkan yang berbentuk bukan uang juga tidak masalah. Minimal kamu telah membantu orang untuk mengiklankan usaha mereka. Siapa tahu, suatu hari usaha mereka menjadi besar karena memasang iklan di blog kamu. Mereka akan siap memasang iklan dengan bayaran yang pantas.

Blog ini sudah menerima beberapa job review, bahkan saya telah mendapat kesempatan untuk menulis di webnya LumixKita gara-gara nomor ponsel saya terpampang di banner atas blog ini. Mendapat penerimaan dari banyak orang apalagi perusahaan adalah hal terindah untuk seorang penulis. Uang adalah bonus dari penerimaan dan kerja keras itu. Tapi perasaan bahagia karena ada yang mengakui bahwa tulisan kamu layak dibaca oleh banyak orang adalah kebanggaan tiada tara dan tidak bisa dibandingkan dengan uang sebanyak apa pun.

Gambar dari sini.
Sponsor blog ini saya yakin akan terus bertambah. Saya masih memikirkan cara-cara lain untuk mendapatkan celah mendulang uang karena cita-cita saya sekarang ingin menjadi seorang istri yang lebih banyak di rumah dan tidak perlu mencari kerja di perusahaan mana pun kecuali saya pikir saya bisa belajar sesuatu di tempat itu. Saya ingin menjadi full time mother dan juga blogger. Biarkan suami saya yang menafkahi keluarga dan saya menyiapkan dana untuk masa depan anak-anak kami nantinya.

Sudah menemukan celah juga untuk mencari uang melalui blog? Katakan pada saya!

28 Desember 2011

Slot Iklan

Slot Iklan


Apakah memang benar penamaan yang saya gunakan untuk widget yang isinya adalah teks postingan yang saya jadikan headline dan sebenarnya akan saya gunakan untuk membuat iklan berbentuk review selalu muncul di bagian atas. Rencananya sih memang itu akan menjadi slot iklan dan juga headline blog ini. Jadi apabila tidak ada yang menumpang iklan di blog ini saya akan membuat headline untuk postingan yang saya anggap paling menarik atau paling saya inginkan dibaca oleh pengunjung blog ini.

Beberapa bulan sebenarnya saya baru menemukan cara untuk membuat sticky post seperti slot iklan itu. Slot iklan itu sebenarnya hanyalah widget yang berbentuk teks. Mirip dengan kotak postingan tapi kotak ini tidak akan menghilang tak peduli postingan atau halaman mana yang akan dibuka oleh pengunjung. Cukup bekerja untuk menaikkan jumlah pembaca di sebuah postingan bukan?

Nanti jika mengadakan kuis atau giveaway kotak itu akan sangat penting buat blog ini.

Selama tujuh bulan usia blog ini. Alhamdulillah, banyak pengiklan yang berhasil saya ajak kerja sama. Selain itu saya juga berhasil mendapat job review. Kamu bisa tebak postingannya yang mana. Hari ini saya sudah membuat daftar harga yang saya gunakan untuk slot iklan tersebut.

Terdengar matre? Saya pikir kerja keras saya menulis setiap hari untuk blog ini. Baik tulisan fiksi maupun nonfiksi harus mendapat apresiasi bukan. Sebelumnya memang saya membuat tombol donate untuk blog ini. Tapi blog ini belum sampai pada kelas Wikipedia yang wajib mendapatkan donasi dari pengunjung. Alhasil tombol donate tersebut saya cabut lagi dan paypal saya masih kosong meskipun saya menjual saldo paypal buat teman-teman yang membutuhkan.

Akhirnya saya mematok harga apabila ada yang ingin menggunakannya. Ada dua cara untuk menggunakannya yang saya berlakukan saat ini.

1.      Memasang postingan sendiri di slot iklan tersebut sehingga pengunjung bisa langsung terhubung ke blog sang pengiklan saat mengklik tautan di bagian bawah sticky post (slot iklan tersebut). Tarifnya 1juta per-dua minggu dan mendapatkan 1 review gratis dari saya.

2.      Meminta saya membuat postingan atau review terhadap produk atau blog yang bersangkutan dengan tarif 1.000perak per-pengunjung dilihat dari statistik dashboard blog ini. Minimal memasang iklannya satu minggu dan pembayaran pertama 50.000. Apabila pembaca yang membuka tautan postingan saya tidak lebih dari 50 orang maka pengiklan tidak perlu membayar lagi hingga periode iklan berakhir. Apabila pengunjung yang membuka tautannya lebih dari 50 orang pembayaran dilakukan diakhir periode. Postingan akan dikeluarkan dari slot iklan sebelum batas akhir apabila jumlah pembacanya sudah melebihi angka 500 orang pembaca dan pengiklan cukup membayar 500.000 rupiah untuk postingan tersebut. apabila selama satu minggu masih berada di bawah 500 pembaca, pengiklan cukup membayar jumlah pembaca kelipatan 10.

Saat ini, saya hanya memberlakukan ini. Tapi semuanya bisa dinegosiasikan karena pemilik blog ini saya pribadi dan saya akan melihat juga produk apa yang anda pasarkan atau blog apa yang ingin anda promosikan.

Saya sudah membuat slot iklan (sticky post) buat blog saya, bagaimana dengan blog kamu? 
Bekerja dengan Suara? Jaga Kualitasnya!

Bekerja dengan Suara? Jaga Kualitasnya!



Hallo dunia!

Apa kabar? Pada sadar tidak jika blog ini tidak update dua hari dan itu adalah hal yang sangat menyakitkan buat saya sendiri. Saya punya draft novel Merajut Jembatan Pelangi, sayangnya belum diedit dengan baik jadi mau tidak mau tidak ada postingan yang hadir untuk mengisi kekosongan blog ini.

Aih! Bukankah normal jika manusia sakit dan akhirnya harus beristirahat total? Walaupun jujur, saya tidak bisa tidak bekerja dalam waktu lebih dari tiga hari. Saya tipikal seseorang yang workaholic, tidak mesti bekerja di luar rumah, minimal saya bisa bekerja di dalam rumah itu sudah cukup menyenangkan. Tapi mau tidak mau saya harus absen bersiaran 2 hari dan di hari ketiga saya sudah cukup sakit kepala di rumah dan memutuskan untuk keluar dari rumah dan bekerja seperti biasa.

Nah, sakit apa sih saya? Awal mulanya saya tidak menyadari bahaya yang sedang mengancam dari segelas es teh yang muncul di rumah karena Fahd (adik bungsu saya) membeli sebatang es batu. Malam Senin kami minum es bertiga di rumah dan saya merasakan hal yang tidak nyaman di tenggorokan saya. Kemudian PDAM mengalirkan air hujan untuk pelanggannya sehingga saya mandi dengan air hujan tersebut. Salahnya saya keramas padahal saya sedang datang bulan. Alhasil habis mandi, tubuh saya langsung panas dan demam.

Dua hari bedrest total. Istirahat penuh tanpa melakukan apa-apa. Bukan saya banget sepertinya. Hari ini pun suara saya masih tidak bisa membahana seperti biasa dan saya berbicara sangat perlahan dan sopan dengan orang. Padahal ciri khas saya berbicaranya ya nabrak sana-sini. sekarang? Mau nelan makanan saja susah! Padahal saya kan gila makanan dan tidak tahan dengan yang namanya lapar. Tapi beberapa hari ini benar-benar tak bisa menelan nasi. Hanya bubur.

Nah, buat siapa pun di luar sana yang bekerja mengandalkan suaranya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga tenggorokan dan kualitas anda. Simak daftar berikut ini.

1.      Jangan minum es
Musim yang tak menentu membuat tubuh kita juga gampang sakit jika tidak dijaga. Buat pekerja yang mengandalkan suaranya untuk bekerja harus menghindari minuman yang mengandung es karena nanti akibatnya bisa membuat radang tenggorokan atau flu. Suara harus dijaga baik-baik karena tanpanya anda tidak bisa bekerja.

2.      Minumlah air hangat
Biasakanlah untuk minum air putih hangat disetiap kesempatan. Selain menenangkan ini juga membuat tenggorokan lebih nyaman.

3.      Minum air madu
Campurkan dua sendok madu murni dengan sebotol air putih dan bawa ke tempat kerja. Bisa menjaga stamina dan suara juga lo.

4.      Jangan tidur terlalu larut
Suara kita bisa berubah menjadi serak bahkan bisa hilang jika kurang tidur. Apabila memang terpaksa bekerja hingga larut. Satu sendok madu sebelum sarapan semoga bisa mengembalikan suara merdu anda kembali.

5.      Komsumsi bawang putih
Banyak orang yang tidak suka dengan bau bawang putih yang menyengat tapi saya sering mengonsumsinya satu siung (kadang mentah, kadang saya panaskan sebentar) setiap satu minggu sekali. Tapi pas lagi sakit begini, satu siung setiap hari. Daripada mengonsumsi antibiotik dalam bentuk kapsul mendingan langsung makan bawang putihnya kan?

Ada yang ingin menambahkan?

25 Desember 2011

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 19]

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 19]





Sudah lewat tujuh hari. Batas yang diberikan untuk jawaban yang dinanti itu berakhir hari ini. Aku masih belum menemukan keberadaan Polki. Aku sekarang mulai membangun keyakinan baru bahwa memang kami bukanlah takdir yang telah dilukiskan. Aku harus bisa menerima kenyataan ini tanpa ada pertanyaan mengapa yang terus mengganggu. Tak perlu alasan apa pun untuk sebuah takdir karena ini sudah suratan.
            
Aku harus memberikan jawabannya hari ini. Aku tak punya jawaban selain “ya”. Hatiku harus belajar untuk mencintai Habibi. Mungkin bukanlah sesulit yang aku pikirkan sebelumnya. Aku harus menghapus nama “Polki” sampai bersih dan mulai mengibarkan bendera yang baru di sana. Bendera yang lebih indah mungkin. Entahlah, yang jelas sekarang aku menarik napas terpanjang dalam hidupku dan melepaskannya pelan-pelan. Aku berusaha keras untuk menerima kenyataan ini. Sebenarnya kenyataan yang tidak begitu aku harapkan.
            
Aku paling menginginkan Polki datang kehadapanku dan membawaku pergi jauh dari sini. Satu kalimat yang terngiang-ngiang terus terdengar di telingaku. Kalimat yang pernah diucapkan Cempaka untuk menguatkanku. Sepertinya ia tahu ada yang mengganjal dalam hatiku untuk menerima lamaran ini. Ia berulang kali mengatakan bahwa setiap laki-laki yang shaleh diciptakan untuk perempuan yang shalehah pula. 


Memang aku masih ragu dengan pernikahan ini, tapi aku akan berusaha menerima takdir yang Allah berikan padaku. Polki maafkan aku, ini adalah jalan yang telah Dia pilihkan untukku. Aku yakin ada jalan lain yang telah dipilihkan oleh Allah untukmu. Mungkin Allah ingin aku mendapatkan bimbingan yang lebih banyak dari Habibi agar aku sampai di tahap shalehah yang sebenarnya.
            
Aku berada di hadapan keluarga yang sebentar lagi akan menjadi keluargaku. Dan aku duduk di kursi yang berseberangan dengan laki-laki yang mengatakan bahwa ia jatuh cinta padaku. Jatuh cinta yang seperti apa? Aku bingung mengapa ia bisa jatuh cinta padaku. Apakah aku begitu mempesona sehingga ia ingin memperistriku? Padahal aku merasa tak punya kelebihan apa-apa. Dalam Islam saja aku masih sangat terbata-bata. Mencoba mempelajari semuanya dengan hati-hati.            


Habibi menatapku sebentar. Tak ada yang bisa kamu baca dari mataku Habibi. Matamu pasti sudah tak mampu mengartikan setiap kerlingan mataku yang menyiratkan duka. Aku terluka bukan karena cinta yang tak terbalas. Aku merasa terluka lebih dalam karena cintaku yang berbalas. Cinta yang ternyata harus aku biarkan bersemayam dalam sudut hatiku tanpa ada yang tahu.
            
Aku masih tak dipertemukan denganmu Polki. Itu adalah jawaban untuk semu tanya yang pernah singgah dalam kepalaku. Jawaban pasti bahwa aku harus menerima Habibi sebagai suamiku. Aku tak tahu ada rahasia apa yang akan terjadi setelah aku menerimanya. Aku berharap aku akan tenang menjalani hari-hariku yang berikutnya. Semua perempuan pasti menginginkan suami yang dapat membahagiakannya di dunia dan di akhirat. Aku harus meyakinkan hatiku sendiri bahwa Habibi pasti mampu melakukannya. Aku hanya ingin percaya itu.
            
“Jadi?”
            
Semuanya menanti jawabanku yang ternyata hanya dapat aku ungkapkan dengan sebuah anggukan. Begitu berat hatiku mengakui bahwa aku menerimanya. Aku mengalah dengan takdirku sendiri. Aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Aku tak mau lari terus dari pernikahanku. Ini benar-benar harus aku jalani.
            
“Alhamdulillah...”
            
Semuanya yang hadir mengucapkannya bersamaan setelah aku mengangguk. Habibi berkomat-kamit sebentar. Entah apa yang ia ucapkan yang jelas aku melihat cahaya penuh kebahagiaan di wajahnya. Aku senang bisa membalas semua yang telah mereka berikan untukku. Setidaknya aku tak perlu menikahi sahabatku sendiri.
            
“Bulan depan insyaAllah akan kita langsungkan akad nikah bersama dengan akad nikah Annisya.”
            
Abi mengumumkan acara berikutnya yang harus aku lewati dalam keluarga ini.
            
Pernikahan Annisya? Dengan siapa? Aku tak pernah tahu kalau ia juga akan melangsungkan pernikahan. Berarti ini akan benar-benar menjadi suatu momentum yang besar dalam keluarga ini. Anak yang mereka besarkan, hanya dua orang, sekarang akan menikah. Akan membentuk sebuah keluarga yang lebih besar lagi.
            
“Besok kita bertemu lagi. Bersama dengan sepasang mempelai lainnya. Agar lebih banyak yang menyampaikan ide untuk acara ini. Yach... yang lebih muda saja yang mengatur semuanya.”
            
Malamnya aku tak mampu memejamkan mataku sendiri. Aku tak ingin malam ini berlalu dengan cepat karena aku tak mau cepat-cepat menjadi istri Habibi. Aku masih takut untuk berada satu kamar, satu ranjang dengan laki-laki yang rasanya asing bagiku. Apakah aku akan baik-baik saja? Apa aku mampu menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri? Istri yang berbakti kepada suami.
            

Akhirnya aku tertidur juga setelah dengan susah payah mengusir pikiran mengenai pernikahan itu. Sebelum adzan menjelang aku juga sudah bangun. Aku harus bangun walaupun sebenarnya aku masih sangat mengantuk dan ingin menggulung tubuhku di dalam selimutku sendiri. Sayangnya calon istri seorang Habibi akan sangat memalukan apabila melakukan hal seperti itu.
            
“Kak Kayra harusnya senang karena telah mendapatkan calon suami sebaik Bang Habibi. Cempaka lihat akhir-akhir ini wajah Kakak malah murung. Ada apa?”
            
Aku menikmati semilir angin yang mempermainkan jilbab yang melindungi rambutku. Angin yang sangat lembut itu kemudian menyentuh pipiku sedikit. Menyapaku dengan belaiannya. Aku menatap wajah Cempaka. Aku tak tahu harus bagaimana mengatakannya. 


Aku mencintai orang lain walaupun sampai saat ini aku tahu aku bukan tercipta untuk Polki. Begitu juga sebaliknya. Itu sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan untuk aku pahami. Bukan karena aku tak mau menerimanya. Aku masih tak sanggup mencintai orang lain selain Polki. Aku begitu plin-plan dalam hal ini.
           
 “Apakah ada yang mengganggu pikiran Kakak?”
            
Aku menatap jauh ke dalam mata Cempaka. Dulu waktu ia punya masalah ia dengan yakin menceritakannya padaku. Sekarang aku malah ragu-ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Apakah ia mampu merahasiakan ini? Aku tak mau kejujuranku menyebabkan banyak orang terluka. Aku hanya ingin mengurangi sedikit beban yang harus aku tanggung sendirian.
            
“Kakak mencintai orang lain.”
            
Akhirnya kalimat itu meluncur juga dari bibirku. Aku merasa sedikit lega karena mengeluarkannya. Walaupun mungkin tak akan mengubah apa-apa yang terpenting aku merasa bebanku berkurang.
            
“Siapa?”
            
“Kamu tak akan mengenalnya. Ia seseorang yang berada jauh dari sini. Entah dimana ia berada sekarang.”
            
Aku kemudian menceritakan semua yang pernah terjadi padaku sebelum aku berada di sini. Aku menceritakannya tanpa menutupi apa pun. Aku tak sanggup lagi. Aku tak kuat lagi menahannya sendiri. Aku begitu lelah dengan kenyataan ini. Bukan karena aku mengakui betapa lemahnya aku. Namun aku memang sangat mencintai Polki. Aku tak ingin menikahi siapa pun. Aku hanya ingin seperti ini saja. Sendiri.
            
Aku sudah lelah menyembunyikan diriku dari Rheka. Sekarang disaat aku sedikit tenang dengan hidupku. Aku malah mendapat pernikahan yang lain. Aku tak mau menikah kecuali dengan Polki. Aku tak sanggup menerima keberadaan seseorang yang baru sekarang. Berat. Ini terlalu kuat menekan dadaku. Sampai-sampai semuanya terasa sesak.
            
Cempaka menghapus air mata yang menitik di pipinya dan di pipiku. Sebuah senyuman ia usahakan segera tercipta di wajahnya.
            
“Apa pun yang terjadi dalam hidup kita adalah yang terbaik untuk kita Kak. Kakak nggak boleh seperti ini terus. Kakak pasti bahagia dengan Abang.”
            
Cempaka memelukku erat-erat. Aku harusnya mensyukuri semua yang telah diberikan ini. Bukannya bermuram durja dan menyesalinya. Cempaka yang sekarang terlihat lebih kuat dengan semua cobaan yang telah lewati. Harusnya aku malu karena ia mampu melewatinya dengan sabar. Aku yang mendapat anugrah kenapa harus seberat ini menerimanya.


***
      

Aku menatap wajah yang begitu aku kenal. Aku tak mengira mempelai laki-laki Annisya adalah Polki. Laki-laki yang selama ini aku cari ternyata hanya berada di pondok sebelah. Ia bermukim di sana tanpa aku tahu sama sekali. Apakah ini memang kehendak-Mu? 


Aku dipertemukan setelah menerima pernikahan yang ditawarkan Habibi. Aku terlanjur menerimanya. Kalau aku tahu aku akan dipertemukan juga denganmu aku tak akan menerimanya Polki. Aku meminta Allah mempertemukan kita lebih dulu jika memang kita ditakdirkan bersama.
            
Aku tak tahu bagaimana ini semua bisa terjadi. Mengapa aku bertemu dengan Polki lagi? Pada saat yang benar-benar tidak tepat. Aku mungkin sangat merindukannya. Aku mungkin sangat menginginkannya tapi aku berada di posisi yang benar-benar terjepit. Aku terjepit di antara kalian semua. Apakah mereka tahu tentang penyakit yang masih menggerogoti tubuhmu Polki? Apakah keluarganya bisa menerimamu? Tanpa syarat atau diskriminasi apa pun? Apakah mereka tak seperti keluargaku?
           
“Apa kabar?”
            
Polki menyapaku begitu saja di depan semua orang yang pastinya tak pernah tahu kalau kami saling mengenal dan pernah melewati masa-masa indah bersama. Aku sedikit gelagapan karena aku tak menyangka akan bertemu dengannya di sini. Ia kelihatan lebih sehat dan damai. Apakah ia juga mendapat tawaran sepertiku waktu kabur? Apakah ia juga kabur begitu saja? Kemudian ia bertemu dengan Annisya dalam angkutan umum dan jatuh cinta padanya.
            
“Alhamdulillah, aku baik.”
            
Aku rindu dengan kata “sayang” yang selalu ia gunakan untuk memanggilku. Aku bahkan ingin ia memanggilku “istriku”. Aku hampir tak mampu menguasai otakku sendiri karena kata hatiku yang menjerit. Ia menjerit dengan keras. Aku harap semua insan yang ada di sini tak mendengarnya. Aku takut semua isi hatiku menggema terlalu keras. Bisa sangat berbahaya. Itu berarti semua orang ini akan mengetahui siapa aku dan siapa Polki.
            
Akhirnya kita bertemu Polki. Sekian lama aku berdoa untuk bertemu denganmu. Aku ingin menunaikan kata setia yang pernah kita ikrarkan bersama. Aku ingin membagi semua batinku untukmu. Aku ingin menjadi perempuan yang akan melayanimu selamanya. Dalam sakit aku ingin menjadi perawatmu yang setia menjagamu. Apa kau dengar kata hatiku Polki? 


Aku berharap tatapan mataku mampu mengutarakannya padamu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Selama ini aku mampu mendengar jeritan hatimu. Namun sekarang aku tak mendengar apa-apa? Apakah hatimu sudah tertutup untukku? Aku tak pernah mengkhianati cinta kita.  Kamu harus tahu cinta itu. Cinta yang kita bangun dengan susah payah?
            
“Aku tak tahu kamu ada di sini.”
            
Kalimatmu begitu kaku Polki. Apa karena banyak pasang mata yang memperhatikan kita? Atau kau sudah melupakan cara mengucapkannya? Aku berharap penyebabnya adalah lidahmu yang sudah terbiasa memanggilku dengan kata “sayang”. Harusnya hubungan kita tak perlu terlalu manis Polki. Agar semuanya tak menyakitkan. Agar aku merasa sedikit nyaman untuk menjalin sebuah hubungan yang baru. 


Aku ingin belajar membuka hatiku untuk Habibi. Sudah tak mungkin untuk kita berpaling lagi Polki. Kecuali kita kabur. Bagaimana kalau kita kabur saja?
            
“Sudah beberapa bulan ini aku bergabung di pondok ini.”
            
Aku masih menatap indah matanya. Setengah jiwanya lumpuh dan menghentikan akal sehatku yang harusnya sadar bahwa kami tak hanya berdua di sini. Aku masih cinta padamu Polki. Aku tak tahu bagaimana mengucapkannya. Aku tak tahan lagi menyembunyikan perasaan yang sampai saat ini tak mampu aku kubur. 


Aku lelah Polki. Aku ingin kau dengar semua ini. Aku lelah. Aku ingin bertemu denganmu sejak beberapa bulan yang lalu. Kenapa baru sekarang kita dipertemukan? Disaat aku tak punya pilihan lagi.
            
“Aku tak pernah tahu kamu tak menikah dengan Rheka.”
            
Aku tersenyum dan menahan air mata yang hampir menitik. Jangan sampai ada yang tahu kita pernah punya janji setia bersama selamanya. Itu adalah hal pertama yang ingin aku katakan padamu Polki. Aku ingin mengatakannya padamu. 


Aku terlambat menyadari bahwa aku sangat mencintaimu tapi aku menusuk hati yang membalas cintaku tanpa perasaan. Aku memang pengecut Polki. Harusnya aku akui semua yang Dagna katakan. Aku harusnya mengakuinya, apa pun resiko yang akan aku terima. Aku sudah dewasa. Aku tak perlu takut dengan apa pun yang akan menghadang cintaku.
            
“Aku kabur. Aku pikir harusnya aku kabur lebih cepat dari itu. Tapi aku terlambat menyadari semuanya.”
            
“Kalian saling kenal?”



Bersambung.....

24 Desember 2011

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 18]

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 18]




Abi tersenyum bersamaan dengan Umi. Mereka membiarkan rasa penasaran sejenak menguasaiku.
           
 “Ini Mbak, ada yang ingin kami kenalkan.”

Annisya memberikan isyarat padaku lewat matanya tentang siapa yang ingin mereka kenalkan sebenarnya. Laki-laki itu. Wajahnya memiliki beberapa kemiripan dengan Annisya. Kalau tak salah memandang, menurutku ini pasti saudara laki-lakinya Annisya yang kemarin dijemput Abi dan Umi.
         
“Kenapa harus sampai memanggil ke sini? Bukankah bisa langsung dikenalkan nanti rame-rame dengan yang lainnya?”


Aku tak bisa mengerem ucapanku sendiri karena aku merasa terlalu aneh. Aku bukanlah siapa-siapa yang berhak mendapat keistimewaan seperti ini. Apalagi aku hanya menumpang tinggal di sini. I still stranger. Aku bukanlah siapa-siapa.
          
“Yang lainnya sudah mengenal Bang Habib kok.”


 Jadi namanya Habib? Habib apa? Kenapa harus kenalan di sini? Jangan bilang kalau kita pernah kenal sebelumnya karena aku yakin tak pernah ada perkenalan antara kita jauh-jauh hari. Atau jangan-jangan kamu membawa titipan dari keluargaku? Tapi bagaimana mungkin keluargaku bisa mengenalmu. Tempat ini begitu jauh. Tempat terpencil begini siapa yang tahu?
           
“Sebenarnya begini Nak. Habibi ini sudah merasa cukup untuk menjalankan ibadah berikutnya. Jadi Nak Kayra dipanggil ke sini untuk membicarakan masalah ini. Habibi selama ini tak pernah menyetujui setiap perempuan yang kami tawarkan untuk menjadi istrinya.”
            
Abi berhenti sampai di kalimat itu. Aku menarik napasku agak panjang. Tahan sebentar. I have to take my breath. Jangan sampai asmaku kambuh dengan kalimat berikutnya karena aku mulai memahami arah pembicaraan ini. Jadi namanya Habibi? Bukan Habib? Nama yang indah seindah rupa yang ia miliki.
            
“Kemudian semalam saat melihat penyuluhan dari Nak Kayra dan teman Nak Kayra ia merasa tertarik dengan kepribadian Nak Kayra. Ia merasa siap untuk membimbing Nak Kayra menjadi istri yang sholehah.”


            
Stop! Aku tak sanggup lagi mendengarnya. Aku datang ke sini karena aku lari dari pernikahanku sendiri. Aku datang bukan untuk mencari pernikahan berikutnya karena aku terlanjur mencintai Polki.
           
“Kalau Nak Kayra tidak keberatan, Habibi ingin melangsungkan pernikahannya dalam waktu dekat ini.”


Dalam waktu dekat? Kenapa begitu tiba-tiba? Kenapa tak memberiku kesempatan untuk berpikir? Aku butuh waktu panjang untuk menentukan pilihan hidupku sendiri karena aku tak mau terpasung dalam rumah tangga yang menyiksaku. Menyiksa dalam tanda kutip maksudku. Ini masalah hati. Dan masalahnya lagi hatiku dibawa kabur oleh Polki. Aku ingin ia mengembalikannya dulu agar aku dapat belajar mencintai orang lain.
          
“Kenapa harus Kayra?”


Tatapan Annisya yang tadi terlihat berbinar sekarang meredup karena aku menyatakan penentangan terhadap pernikahan ini. Aku belum yakin ini adalah yang terbaik. Kalau memang sudah ditakdirkan Habibi adalah jodohku pasti Allah akan memberikan jalan untuk kami bersama.
           
“Inilah yang namanya jatuh cinta. Aku tak tahu kenapa tapi aku rasa aku jatuh cinta padamu.”


Aku memegangi ujung jilbabku sambil menatap Habibi. Menahan deraan yang terus datang tanpa henti. Ya Allah apakah aku mampu menghadapinya? Tuntun aku. Aku merasa goyah dengan ujian-Mu. Aku tak tahu harus menolaknya dengan cara apa. Mereka begitu baik padaku. Dan pernikahan ini pastinya bukanlah sesuatu yang buruk. Mereka mengulurkan tangannya disaat aku kehilangan pegangan untuk melanjutkan hidupku. Apakah ini adalah cara terbaik untuk membalas semua budi yang telah aku terima.
            
“Nak Kayra boleh memikirkannya dulu. Toh semuanya kembali lagi pada kalian berdua untuk berkompromi. Kami yang mengurus semua pelaksanaannya. Abi berikan waktu seminggu untuk memutuskannya.”
            
Suara Abi begitu yakin. Begitu yakin bahwa aku akan menerima pernikahan ini. Memang Habibi bukanlah penawaran yang buruk. Aku tak akan menolaknya dengan alasan dia adalah sahabatku. Aku belum mengenalnya sama sekali. Aku juga yakin keluargaku akan menerimanya. Habibi adalah penawaran terbaik sepanjang hidupku. Tapi aku harus balik lagi masalah hati. Hati diciptakan Allah bukan untuk disia-siakan. Pasti memang ada gunanya kan? Untuk mencintai seseorang yang memiliki hati yang memang diciptakan dalam satu ikatan.
            


Aku kembali ke pondok untuk mengikuti pelajaran pagi ini. Pasti yang lainnya sudah berada di sana. Aku yang paling terakhir tiba. Untungnya belum terlambat. Aku duduk di samping Cempaka yang terlihat semakin ceria. Pastinya ia mulai menikmati semua kegiatan yang ada di sini. Syukurlah. Usahaku ternyata tak sia-sia. Apalagi aku tak sanggup melihat pendiskriminasian yang terjadi di depan mataku.
            
“Cempaka dengar Habibi melamar Kakak ya?”
            
Gadis itu berbisik pelan di telingaku. Aku terkejut. Secepat itukah berita ini menyebar? Siapa lagi yang sudah mengetahui perihal lamaran ini? Jangan sampai ada yang mendiskriminasikanku. Yach... aku sadar dengan sangat jelas kalau laki-laki itu terlalu mempesona. Wajahnya sempurna dan bercahaya. Tak mungkin perempuan di sini tak ada yang jatuh cinta. Kalau aku masih berusia 15 tahun mungkin aku akan jatuh cinta padanya. Aku tak akan memikirkan masalah masa depan yang akan aku hadapi. Berbanding terbalik dengan sekarang. Sekarang aku sudah dewasa. Banyak hal yang harus aku pikirkan.
            
“Cempaka seneng banget mendengarnya. Itu berarti kita akan menjadi keluarga. Anak Cempaka akan mendapatkan tante yang sangat baik.”
            
Aku menolaknya berarti aku menghancurkan hati keluarga Habibi yang berharap aku segera menerimanya. Aku juga pasti akan mengecewakan satu hati lagi sekarang. Hati Cempaka. Apakah aku memang harus menerimanya. Aku harus shalat istikharah. Itu yang sering teman-temanku lakukan kalau ingin mendapatkan petunjuk yang lebih meyakinkan dari Allah. Berarti malam ini aku harus melaksanakannya. Aku ingin hatiku yakin terlebih dahulu agar aku tak menyesali keputusan apa pun yang akan aku ambil. Apa pun itu.
            
Aku merasa beberapa mata menatapku agak sinis. Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah lagi? Apakah ada perlakuanku yang tak sesuai dengan aturan? Aku tak merasa ada yang salah dengan tingkahku selama beberapa hari ini. Toh aku selalu berusaha mengingat peraturan yang telah diberlakukan. Terutama larangan. Itu yang paling aku camkan baik-baik.
            
“Kak Kayra!”
            
Bina memanggilku dengan senyuman yang terukir indah di wajahnya. Aku merasa sudah cukup menghadapi banyak hal di sini. Memang berat beradaptasi tapi ternyata aku masih baik-baik saja. Aku menghentikan langkahku yang diiringi Cempaka.
            
“Ada apa?”
            
“Dipanggil Bu Nur di ruangannya. Sekarang.”
            
Aku mengangguk tanda terima kasih. Cempaka memberi isyarat agar aku segera menemuinya. Ia dan Bina meneruskan langkah menuju pondok.
            
Ruangan Bu Nur terpisah dengan pondok kami. Letaknya di dekat kamarku dulu. Aku terburu-buru ke sana. Mengetuk sambil mengucapkan salam.
            
“Waalaikumsalam, masuk saja Kayra.”
           
Aku langsung masuk dan langsung duduk begitu saja di kursi. Aku capek dengan kegiatan hari ini. Lumayan menguras tenaga. Apalagi dengan banyak pikiran yang terus menggangguku. Aku benar-benar lelah dengan semua ini. Aku ingin menuntaskannya segera. Kenapa jalan hidupku dituliskan serumit ini? Ada apa dengan hidupku sebenarnya? Aku ingin semuanya segera berakhir bahagia. Karena aku rasanya tak mampu lagi.
            
“Ada apa Bu?”
            
Aku masih bingung kenapa aku dipanggil ke sini.
            
“Kamu sudah tahu tidak kalau masalah lamaran yang terjadi tadi pagi menjadi topik terhangat hari ini. Ada yang senang mendengarnya namun yang menjadi masalah banyak yang kecewa karena mereka sudah lama menaruh cinta pada Habibi.”
            
So that is the problemo everybody! Aku sudah memikirkannya sejak tadi. Laki-laki yang begitu rupawan pastinya akan sangat mempunyai banyak penggemar. Dan penggemarnya akan sangat kecewa dengan keputusannya. Mereka ia sangat menginginkan posisi yang sekarang aku miliki. Aku harusnya mensyukuri semuanya. Bukannya menganggap ini beban yang harus segera berakhir. Banyak orang yang menginginkan posisi yang aku miliki sekarang. Buat mereka adalah mimpi apabila mendapat lamaran dari sang kekasih pujaan hati.
            
“Jangan terlalu lama menjawabnya. Bersikaplah yang seharusnya di tempatmu berada. Jangan sampai yang kecewa semakin sedih dan marah.”
            
“Menurut Ibu, Kayra harus bagaimana?”
            
“Temui yang merasa kecewa dan minta maaflah dengan mereka.”
            
Aku tak percaya ini! Aku meminta maaf atas sesuatu yang bukan merupakan sebuah kesalahan. Habibi, aku tak percaya ini. Aku tak mau melakukan itu sebenarnya. Apakah aku memang harus menjaga perasaan mereka? Bagaimana kalau yang merasa kecewa tak hanya mereka? Masih banyak lagi di luar sana yang aku tak tahu keberadaannya? Apa aku tetap harus meminta maaf? Aku juga kecewa tanpa sepengetahuan mereka. Aku tak pernah berharap akan menikah selain dengan Polki. Jika memang aku tak menjadi istrinya aku tak berharap menjadi istri siapa pun lagi. Apakah aku terlalu berlebihan dalam mencintaimu?
            



Aku tak tahu kekuatan mana yang memintaku untuk melakukan permohonan maaf itu. Aku ternyata melakukannya. Aku mengumpulkan semuanya di taman bunga yang selalu indah dengan bunga-bunga yang bermekaran. Aku menatap mereka satu persatu dan membiarkan mereka menumpahkan kekecewaan mereka. Aku mengutamakan kelegaan hati mereka. Semuanya selalu masalah hati. Hati. Hati. Hati. Tak ada cerita lain yang menuntun hidupku.
            
Hatiku yang membuatku berada di sini. Lari dari pernikahanku sendiri karena hatiku menolak untuk hidup dengan hati Rheka. Hati Habibi yang memilih hatiku untuk selamanya. Hati Habibi memusnahkan semua harapan dan cinta dari penggemarnya. Aku harap masalah hati ini tidak terlalu larut dan membuat semuanya menjadi semakin runcing. Aku ingin mengobati luka hatiku sendiri.
            
Sampai detik ini hatiku belum memberikan keputusan apa pun. Karena hatiku masih milik Polki. Polki kenapa ada cinta sedalam ini untukmu. Sementara aku tak pernah tahu keberadaanmu dimana? Aku ingin segera bertemu denganmu dan mengambil hatiku yang telah kau curi. Aku ingin menatanya kembali. Karena sepertinya tak pernah ada jalan untuk kita bersama. Mungkin kita memang saling mencinta tapi bukan untuk selamanya.
            
Polki...mungkin ini memang jalan takdir kita berdua. Aku hanya ingin kamu bahagia dalam hidupmu walaupun bukan bersamaku. Semua yang telah aku lewati terlalu berat Polki. Aku melewati sendiri tanpamu dan aku rasa Allah memang bukan menakdirkan kita untuk menjadi jodoh yang seharusnya. Seberapa keras pun aku berusaha aku tak tahu kamu berada dimana. Aku tak bisa menghubungimu dengan cara apa pun. Takdir memang tak bisa kita tulis sendiri Polki.
            
Apakah di tempat yang kamu berada sekarang kamu memikirkan hal yang sam denganku? Hal yang selalu aku simpan sendirian sekarang karena aku tak tahu harus mengatakan semuanya pada siapa. Sebenarnya aku bisa mencurahkannya lewat sms pada Mopty tapi aku tak ingin terlihat sebagai perempuan yang lemah. Aku sudah kabur dari pernikahanku sendiri sebagai pertanda aku siap menghadapi semua resiko yang ada di depan mata. Aku harus kuat. Meskipun aku sendiri. Aku yakin aku akan baik-baik saja.
            
Aku hanya tahu setiap aku menatap langit yang penuh awan di atas sana kamu juga akan menatap sama sepertiku. Dimanapun kamu berada kamu akan dinaungi oleh awan yang sama. Disinari matahari yang sama garangnya dengan matahari yang sekarang menerpa wajahku. Menghirup oksigen yang sama. Tak berwarna seperti yang aku hirup sekarang.
            
Aku menadahkan tangan dalam balutan mukena. Aku begitu lemah di matamu ya Allah. Tak ada satu kekuatan pun yang mampu menandingi kebesaran-Mu. Aku hanya ingin mendapat sebuah kepastian. Aku masih belum yakin dengan jalan yang aku pilih. Aku butuh dukungan-Mu. Aku ingin memberikan kebahagiaan pada semua orang yang telah memberikan kebaikannya padaku. Apakah memang harus sesakit ini? Apakah aku harus mengorbankan cintaku yang tulus untuk Polki? Cinta yang entah ada dimana.
            
Polki apakah aku harus mengubur semua cinta yang pernah kita bangun berdua dan menerima Habibi? Aku belum rela memberikan seluruh sisa hidupku untuknya. Aku tak mampu mempersembahkan hati ini untuknya karena telah ada namamu terpatri di sana. Masih ingatkah dengan lagu Vina Panduwinata yang sepotong liriknya berbunyi: “di dadaku ada senyummu”? Aku masih belum bertenaga untuk menghapus setiap senyum yang tercipta di wajahmu setia aku bersamamu.
            
Ya Allah aku hanya ingin sebuah kepastian. Aku hanya ingin tahu apakah memang Habibi belahan jiwa yang diciptakan untuk membahagiakanku? Aku hanya ingin sebuah keyakinan bahwa aku harus melupakan Polki dari setiap memori kenangan di hatiku. Hatiku sakit mengingat itu semua. Jika memang Polki bukan takdirku aku mohon jauhkan dia dari hidupku dan hatiku. Tapi kalau ia memang orang yang harus memilikiku aku mohon pertemukan aku dengannya sesegera mungkin. Aku tak kuat lagi menahan beban ini sendiri.
            


Bersambung.....