Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2011

Memamah Jantungmu: Pemenang Borneo Book Award 2011

Begitu banyak hal yang terjadi di minggu ini. Dari yang membuat bedrest berhari-hari hingga mengguncangkan emosi. Baiklah, setidaknya saya harus memosting sesuatu yang indah hari ini. Karena ini adalah hari terakhir ditahun 2011. Itu artinya ini postingan yang akan menutup tahun ini dengan cantik. Semuanya pasti sudah tahu dengan novel pertama saya. Memamah Jantungmu yan terbit Februari 2011 lalu. 10 bulan kini usianya di bumi dalam bentuk fisik yang sesungguhnya. Buat yang belum tahu sama sekali bisa membaca reviewnya di sini dan membaca satu bab pertama novel ini di sini . Bacalah dan berbanggalah  karena novel tersebut telah menuai prestasi yang semalam terukir indah di tanah Borneo. Perjalanan buku tersebut memang tidak mudah. Dua tahun hanya mengendap di laptop tanpa ada niat untuk mempublikasikannya. Hingga pada tahun 2011 saya memberanikan diri untuk mencetaknya dan menjualnya sendiri. Hasilnya lumayan menggembirakan. Banyak yang mau membeli bahkan menulis review

Cara Menghasilkan Uang dari Blog: Amoy Si Otak Dagang

Masih ingat seorang teman saya yang berhenti ngeblog setelah merasakan tidak mendapatkan uang? Saya sampai lupa blognya. Ini saya pikir hanya masalah kreativitas apabila ingin mendapatkan uang. Tidak hanya dengan blog. Sebuah sepeda motor pun bisa menghasilkan uang apabila digunakan untuk menjajakan sayuran keliling komplek perumahan yang ada di sebuah kota. Paling penting dalam melakukannya hanya masalah keyakinan. Gambar dari sini . Saya yakin ketika pertama kali menuliskan impian untuk mendapatkan job review melalui blog ini. Ternyata saya benar. Kemudian saya mendapatkannya saat blog ini berusia 7 bulan. Saya memang tidak tahu kapan hari baik itu akan tiba tapi saya percaya saya akan mendapatkannya. Bukankah selama bertahun-tahun ini saya sudah berusaha untuk menulis secara baik. Memperhatikan tata bahasa dan ejaannya. Itu penyebabnya saya sangat menjaga penulisan di blog ini. Saya ingin blog ini, menjadi sebuah blog yang akan dilirik banyak pemasang iklan yang mendata

Slot Iklan

Apakah memang benar penamaan yang saya gunakan untuk widget yang isinya adalah teks postingan yang saya jadikan headline dan sebenarnya akan saya gunakan untuk membuat iklan berbentuk review selalu muncul di bagian atas. Rencananya sih memang itu akan menjadi slot iklan dan juga headline blog ini. Jadi apabila tidak ada yang menumpang iklan di blog ini saya akan membuat headline untuk postingan yang saya anggap paling menarik atau paling saya inginkan dibaca oleh pengunjung blog ini. Beberapa bulan sebenarnya saya baru menemukan cara untuk membuat sticky post seperti slot iklan itu. Slot iklan itu sebenarnya hanyalah widget yang berbentuk teks. Mirip dengan kotak postingan tapi kotak ini tidak akan menghilang tak peduli postingan atau halaman mana yang akan dibuka oleh pengunjung. Cukup bekerja untuk menaikkan jumlah pembaca di sebuah postingan bukan? Nanti jika mengadakan kuis atau giveaway kotak itu akan sangat penting buat blog ini. Selama tujuh bulan usia blog ini. Al

Bekerja dengan Suara? Jaga Kualitasnya!

Hallo dunia! Apa kabar? Pada sadar tidak jika blog ini tidak update dua hari dan itu adalah hal yang sangat menyakitkan buat saya sendiri. Saya punya draft novel Merajut Jembatan Pelangi, sayangnya belum diedit dengan baik jadi mau tidak mau tidak ada postingan yang hadir untuk mengisi kekosongan blog ini. Aih! Bukankah normal jika manusia sakit dan akhirnya harus beristirahat total? Walaupun jujur, saya tidak bisa tidak bekerja dalam waktu lebih dari tiga hari. Saya tipikal seseorang yang workaholic , tidak mesti bekerja di luar rumah, minimal saya bisa bekerja di dalam rumah itu sudah cukup menyenangkan. Tapi mau tidak mau saya harus absen bersiaran 2 hari dan di hari ketiga saya sudah cukup sakit kepala di rumah dan memutuskan untuk keluar dari rumah dan bekerja seperti biasa. Nah, sakit apa sih saya? Awal mulanya saya tidak menyadari bahaya yang sedang mengancam dari segelas es teh yang muncul di rumah karena Fahd (adik bungsu saya) membeli sebatang es batu. Malam S

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 19]

Cerita sebelumnya Bagian 1. Cerita sebelumnya Bagian 2. Cerita sebelumnya Bagian 3. Cerita sebelumnya Bagian 4. Cerita sebelumnya Bagian 5. Cerita sebelumnya Bagian 6. Cerita sebelumnya Bagian 7. Cerita sebelumnya Bagian 8. Cerita sebelumnya Bagian 9. Cerita sebelumnya Bagian 10. Cerita sebelumnya Bagian 11. Cerita sebelumnya Bagian 12. Cerita sebelumnya Bagian 13. Cerita sebelumnya Bagian 14. Cerita sebelumnya Bagian 15.   Cerita sebelumnya Bagian 16.   Cerita sebelumnya Bagian 17.   Sudah lewat tujuh hari. Batas yang diberikan untuk jawaban yang dinanti itu berakhir hari ini. Aku masih belum menemukan keberadaan Polki. Aku sekarang mulai membangun keyakinan baru bahwa memang kami bukanlah takdir yang telah dilukiskan.  Aku harus bisa menerima kenyataan ini tanpa ada pertanyaan mengapa yang terus mengganggu. Tak perlu alasan apa pun untuk sebuah takdir karena ini sudah suratan.              Aku harus memberikan jawabannya hari ini. Aku

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 18]

Cerita sebelumnya Bagian 1. Cerita sebelumnya Bagian 2. Cerita sebelumnya Bagian 3. Cerita sebelumnya Bagian 4. Cerita sebelumnya Bagian 5. Cerita sebelumnya Bagian 6. Cerita sebelumnya Bagian 7. Cerita sebelumnya Bagian 8. Cerita sebelumnya Bagian 9. Cerita sebelumnya Bagian 10. Cerita sebelumnya Bagian 11. Cerita sebelumnya Bagian 12. Cerita sebelumnya Bagian 13. Cerita sebelumnya Bagian 14. Cerita sebelumnya Bagian 15.   Cerita sebelumnya Bagian 16.   Cerita sebelumnya Bagian 17.   Abi tersenyum bersamaan dengan Umi.  Mereka membiarkan rasa penasaran sejenak menguasaiku.               “Ini Mbak, ada yang ingin kami kenalkan.” Annisya memberikan isyarat padaku lewat matanya tentang siapa yang ingin mereka kenalkan sebenarnya. Laki-laki itu. Wajahnya memiliki beberapa kemiripan dengan Annisya. Kalau tak salah memandang, menurutku ini pasti saudara laki-lakinya Annisya yang kemarin dijemput Abi dan Umi.           “Kenapa harus sampa