Tabu [Bagian 10] Tamat




“Berhentilah menyembunyikan semuanya. Aku ingin kamu menjadi seseorang yang berani. Tunjukkan jika kamu ingin hubungan kita tidak hanya sebatas sahabat.”

Aku menunduk. Aku merasa pipiku merona.

“Jadi persahabatan kita putus?”

Aku mengangguk.

“Jadi kita bukan sahabat lagi?”

Bukan.”

Rocky mendekat ke arahku dengan wajah  tersenyum. Ia membaca pikiranku. Ia tahu maksudku apa. Persahabatan memang putus tapi cinta itu baru dimulai.

 

Terinspirasi dari blog:

1. AriefMaulana (kalimat di blog Aditya dikutip dari blog ini)

Berkali-kali selalu saja muncul tokoh laki-laki yang merupakan sahabat dekat sang tokoh utama. Kenapa harus ada Brian di Nekad, kemudian ada Rocky di Tabu? Sebenarnya masih banyak tokoh fiktif dengan warna yang sama di dalam fiksi yang saya tulis. Bertahun-tahun berlalu saya baru menyadarinya. Ada seseorang yang memang benar-benar ada dalam kehidupan saya dan dia adalah sahabat. Sebenarnya tidak sekadar sahabat melainkan masih ada hubungan keluarga. Dia adalah Boysandi.

Sahabat saya sejak usia 2 tahun lebih. Rumah nenek saya dan rumahnya bersebelahan dan dia adalah orang yang selalu mengikuti saya hingga tingkat pendidikan S-1. Satu SD, satu SMP, satu SMA, dan satu kampus. Bahkan kita pernah satu rumah ditahun pertama kuliah. Disebabkan ibunya yang menginginkan kami satu rumah.

Jujur saya sangat merindukan sosoknya. Sekarang kami terpisah sangat jauh, dia menempuh pendidikan S-2 Fisikanya di Solo. Beasiswa dari kampus STKIP yang mengontraknya sebagai dosen. Iya, sahabat saya yang masih merupakan sepupu ibu saya (jadi dia adalah Om saya) ini adalah seorang dosen Fisika.

Banyak hal yang telah kami lalui bersama meskipun pernah satu kali kami bertengkar dan tidak saling sapa beberapa waktu. Saling tidak menghubungi dengan ancaman saling menghapus nomor ponsel. Lucu, kami terlihat seperti orang yang pacaran daripada teman. Tapi (jika Boysandi sedang membaca ini) saya akan selalu menegaskan dan dia pun akan menegaskan, kami tidak akan pernah bisa saling mencintai sebagai lawan jenis.

Meskipun sebenarnya hubungan keluarga itu tidaklah sedekat Om pada umumnya. Hanya hubungan dari neneknya yang masih ada hubungan saudara dengan bibinya kakek *sepertinya sih begitu*. Jadi bisa dikatakan kami boleh menikah. Tidak bisa saya bayangkan apabila itu memang terjadi. Kami sudah mengenal sejak tahun 1988. Apakah kami harus menghabiskan hidup kami bersama?

Saya ingin ke Solo, menumpahkan kerinduan saya padanya dan memintanya mengantar saya ke tempat seseorang yang saya cintai. Sayangnya masih belum ada waktu dan uang untuk melakukan itu.

Sekarang penasaran dengan tokoh ‘sahabat’ yang selalu muncul sudah terjawab bukan?

Bagaimana dengan Arief dan Ganda?

Mereka tidak ada hubungan perasaan dengan saya. Berbeda dengan Nekad yang mencerminkan perasaan saya yang sangat mendalam pada Rama, Tabu ini bukanlah cerita yang saya buat dengan emosi yang kita panggil cinta. Melainkan tuntutan sebuah lomba. Saya kalah. Kemudian saya mengubah endingnya yang kurang sreg di mata pembaca dan menyatukan Rocky dan Hani. Walaupun sebenarnya saya tidak ingin mereka bersatu. Rasanya berat aja membayangkan saya harus mencintai Boysandi.

*jangan marah Ndi*

Rindu dengannya. Rindu masa-masa digosipkan pacaran dengannya di kampus. Padahal sama-sama jomblo.

Ada yang tidak jelas dengan Tabu? Kurang puas dengan endingnya? Silakan komentar di sini.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes