Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 6]





Klik! Aku menutup panggilan itu dengan kemarahan yang luar biasa. Untuk pertama kalinya aku jengkel pada Rheka melebihi kejengkelanku saat ia merusak mobil-mobilanku waktu sekolah dasar dulu.
            
“Kok mobilnya nggak bisa jalan?”
            
Rheka hanya diam. Ia tak mengeluarkan suara sepatah pun untuk menanggapi ucapanku yang kebingungan. Aku menggoyang-goyang mobil baruku yang dibelikan papa. Masih tak bergerak. Aku yakin tadi mobil ini baik-baik saja. Setidaknya sebelum dipinjam Rheka kemarin.
           
“Kenapa mobilnya Ka?”
            
“Aku nggak tahu.”
            
“Rusak nih…”
            
“Maaf, aku nggak sengaja…”
            
“Dasar tukang rusak!”
            
Aku memukulinya sampai kemarahanku reda. Rheka tak pernah membalas pukulanku yang bertubi-tubi. Pukulan sekeras apa pun tak akan pernah membuat Rheka menangis. Akulah yang akan menangis karena telah menyakitinya. Aku akan menyesal sekali karena memukulnya. Padahal Rheka sangat baik. Harusnya aku tak marah padanya hanya karena sebuah mobil-mobilan. Toh nantinya papa akan membelikan yang lebih baru untukku.

Kenangan itu tak akan pernah terasa manis lagi sekarang. Semuanya terasa begitu pahit. Aku tak mungkin memukulnya untuk melegakan perasaanku sekarang. Aku tak akan mengubah apa-apa dengan melakukan itu. Ia juga tak mungkin membatalkan pernikahan kami. Ia sangat menginginkanku. Aku bisa melihatnya dari matanya. Mata yang dulu selalu membuat hatiku tenang. Sekarang semuanya menjadi begitu berbeda.
            
“Aku sudah tahu semuanya Kayra.”
             
Kalimat yang tak pernah aku bayangkan akan keluar dari bibirnya. Aku menatap wajah itu. Wajah yang masih sangat tenang. Tak ada emosi kemarahan di sana. Tahu apa Polki? Ia membiarkanku bertanya-tanya beberapa saat. Matanya tak lagi menatapku. Di bangku yang kami duduki sekarang rasanya aku bisa mendengar detak jantungku yang serasa hampir meloncat keluar. Aku mengalihkan pandanganku dan menatap ke arah yang sama dengannya. Kolam ikan yang tak beriak sedikit pun menambah sunyinya suasana siang ini. Kemana semua ikan yang berendam di sana? Sudah mati atau sudah lemas kehabisan napasnya?
            
Pohon mangga yang tumbuh di sisi kanan kolam sekarang mulai berbunga. Mungkin sebentar lagi akan berbuah. Aku tak begitu tahu siklus pertumbuhan mangga. Rumput-rumput yang tersebar menutupi seluruh halaman kelihatan baru saja dipotong, rapi. Keresahanku membuatku menatap wajah Polki kembali. Aku tak suka terlalu lama bertanya-tanya seperti ini.
            
“Tahu apa Polki?”
            
Aku tak sanggup membiarkan tanda tanya itu berseliweran di kepalaku. Aku tak mau didera rasa penasaran terus.
            
“Pernikahanmu dan Rheka.”
            
Aku terdiam beberapa saat. Aku tak sanggup lagi memegang tangan Polki. Kebohonganku tertangkap sudah. Pasti Rheka yang mengatakannya. Kenapa calon suamiku dan sahabat yang sudah aku kenal dua puluh satu tahun bisa sekejam itu? Kenapa?
            
“Kenapa kejujuran menjadi sesuatu yang sangat mustahil bagimu?”
            
“Bukan begitu Polki.”
            
Air mataku menitik. Aku menggigit bibirku menahan luka ini. Aku juga bisa merasakan betapa hancurnya hati Polki dengan kebohonganku. Untuk kesekian kalinya Polki, aku membohongimu lagi. Bukan untuk kesenanganku. Tapi untuk menjaga hatimu. Toh janur kuning belum berkibar di depan rumahku.
            
“Apa harus menunggu sampai akad nikah disebutkan baru kamu ingin mengatakan yang sebenarnya?”
            
Tangisanku semakin deras. Aku tak mungkin menutupinya lagi.
            
“Maaf.”
            
Aku hanya mampu mengatakan itu saat matamu ikut berair menahan sakit hati yang sekarang kamu rasakan. Aku tak tahu kata-kata apa yang bisa mengubah keadaan yang akan kita hadapi. Entah berdua. Entah sendiri-sendiri. Aku tak pernah tahu.
            
“Sekarang aku punya pilihan untukmu, kamu menikahi Rheka atau kita kabur dari kota ini. Memulai hidup baru berdua?”
            
Kenapa aku harus memilih lagi? Kenapa pilihannya sesulit ini? Aku ingin memiliki keduanya Polki. Aku tak ingin meninggalkan satu hal pun. Aku ingin tetap berada dalam keluargaku dan bersamamu. Apa aku salah menyayangimu? Apa cinta ini tak ditakdirkan untuk bersatu?
           
 “Aku lahir dan dibesarkan keluargaku Polki.”
            
Kalimat itu begitu berat untuk diucapkan. Namun itulah yang terus aku pikirkan. Keluargaku yang terpenting buatku. Mereka alasan aku ada. Tanpa mereka aku tak akan pernah berada di sini. Di depanmu.
            
“Jadi mereka lebih penting buatmu?”
            
“Aku mencintai mereka dan juga mencintaimu. Aku tak ingin memilih siapa pun.”
            
“Tapi hidup adalah pilihan Sayang. Kamu tetap harus memilih.”
            '
“Aku tak sanggup mengecewakan mereka Polki.”
            
Polki tak mengeluarkan ucapan sepatahpun lagi. Ia hanya mengangguk dengan mata penuh embun. Jangan menangis Polki. Hatiku tak sanggup melihatnya. Maafkan aku. Aku lelah dengan semua ini. Aku tak berharap kita bisa diterima dalam keluargaku. Aku hanya berharap tetap bisa menyayangimu tanpa perlu menikahi siapa pun.
            
“Aku harap kamu mengerti posisiku. Kamu juga punya keluarga yang tak akan pernah bisa digantikan oleh apa pun.”
            
“Aku hanya ingin kita kabur untuk beberapa lama dan kembali lagi suatu hari nanti. Mereka pasti bisa menerima kita apabila kita sudah menikah.”
            
“Aku tak mau menikah tanpa restu mereka. Aku tak mau kamu dikucilkan dalam keluargaku karena mengulangi kesalahan papaku.”

Bersambung....
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes