14 November 2011

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 4]




Berpasang-pasang mata itu menusukku begitu dalam. Aku butuh dukungan. Setidaknya ada yang membelaku karena aku tak mampu melakukan itu. Apa pun yang aku ucapkan hanya akan memperkeruh suasana. Aku tak mungkin bisa membuat mereka memahami tentang HIV hanya dalam hitungan detik dan dalam beberapa kalimat untuk menjelaskannya.
            
“Baiklah sebenarnya…”
           
“Tante ngomong apa sih? Kayra sejak awal memilih Rheka kok.”
            
Rheka memotong kalimat yang aku ucapkan dengan mengumpulkan seluruh keberanianku. Kalimat yang berisi pengakuanku. Rheka menuntaskan pertanyaan mama dengan kalimat yang tak pernah aku pikirkan. Aku menatap tajam pada Rheka. Apa maksud ucapannya? Sejak kapan aku menyetujui perjodohan ini? Apa dia sengaja menyatakan kebohongan itu agar aku semakin mati langkah? Sekarang saja aku sudah sedemikian tersudutnya. 

Polki, bukan aku yang menginginkan ini. Tapi mereka. Maafkan aku. Aku janji akan menyelesaikan permasalahan ini tanpa perlu melukaimu. Aku tak ingin hidup yang susah payah kamu bangun harus hancur karena pernikahanku. Aku tak mau kamu memiliki pemikiran bahwa aku juga sama dengan perempuan lain yang mendiskriminasikanmu karena kamu ODHA.
            
“Alhamdulillah, tinggal menentukan tanggal baiknya…”
            
Aku sudah tak peduli siapa yang mengatakan itu. Kepalaku rasanya berputar-putar. Aku pusing dengan kenyataan yang harus aku jalani. Kenapa tidak dijelaskan sejak awal agar aku tak menganggap Rheka hanya sahabat? Kenapa tidak dilangsungkan pernikahan lebih cepat agar aku tak bertemu dengan Polki. Begitu banyak kenapa yang menyesakkan dada.
            
Kayra…kamu harus percaya bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup kita memang sudah tertulis dalam buku takdir kita masing-masing. Aku sebagai hatimu hanya bisa mengatakan bahwa aku akan menerima semuanya walau sesakit apa pun rasanya. Meninggalkan orang yang sedemikian tulusnya untuk berbagi hati dan rasa. Melupakan semua kenangan indah yang pernah tercipta. Akulah yang paling mengerti kepedihan itu. Karena aku adalah hatimu. Aku tak bisa memilih dan meminta. Aku hanya mampu menyatakan apa yang sedang aku rasa apabila menghabiskan sisa hidupku dengan orang yang tak pernah aku cintai. Tapi bisa saja dia adalah yang terbaik untuk kita. Karena semua yang diberikan adalah yang terbaik untuk kita.. Tinggal kita yang menentukan arah langkah hidup kita.
            
Hatiku mungkin benar mengenai hal yang terjadi sesuai dengan takdir. Tulisan yang sudah digariskan di telapak tangan sejak kita dilahirkan. Rahasia yang hanya diketahui oleh Sang Pencipta. Aku tak mampu membacanya dengan kasat mata. Aku hanya manusia biasa. Namun ini jauh dari keinginanku sebenarnya. Keinginan yang sama sekali belum aku perjuangkan.
            
Aku memandangi bunga-bunga yang bermekaran di taman rumah sakit.  Tangan Rheka masih memegangi tanganku. Aku tak berani meminta tanganku sendiri untuk dilepaskan. Dua puluh satu tahun ia memeganginya terus, tak mungkin aku punya alasan untuk menghentikannya. Langkah kami terhenti di sudut taman yang sepi. Ada bangku panjang di sana. Ia langsung membawaku untuk duduk di tempat itu.
            
“Maaf aku berbohong tadi.”
            
Aku tak menyahut. Aku tak tahu harus berkata apa. Semuanya sudah terlanjur dan tak mungkin menariknya kembali. Ini bukan hanya masalah kami berdua tapi kedua keluarga besar kami. Keluarga yang telah memberikan napas untuk kami. Apakah aku harus mengambil langkah yang melukai mereka? Atau aku yang harus mengalah demi kebahagiaan mereka? Tapi ini hidupku. 

Aku yang paling tahu dan mengerti. Aku yang akan menjalaninya. Aku bisa menerima kalau kalian semua tak ingin aku menikahi dengan Polki. Selama ini pun aku tak berharap untuk mendapatkan pengikraran hubungan yang lebih dengannya. Karena aku sudah tahu tentang mama sejak awal. Aku terlalu memahaminya. Aku juga tak berniat mengibarkan bendera peperangan untuk menjalin hubungan yang terbuka kepada publik.
            
“Kayra…”
            
Aku menghentikan pikiran yang terus membuatku putus koneksi dengan dunia nyata. Aku memandang mata Rheka sebagai pertanda bahwa aku sekarang ingin mendengar kata-kata maaf yang ingin ia utarakan. Aku masih ingin tahu apa alasannya memperkeruh posisi yang aku miliki. Apa dia tak punya akal sehat lagi? Kebohonganmu sekarang berbeda dengan kebohongan masa kecil kita Rheka. Ini masalah hidup seseorang. Aku tak begitu peduli dengan hidupku tapi bisakah kamu peduli dengan hidup Polki.
            
“Maaf, aku hanya tak ingin kamu disalahkan terus hanya karena Polki. Kamu sendiri yang mengatakan padaku bahwa kamu tak berharap lebih pada hubungan yang kalian jalani sekarang. Jadi apa salahnya kamu menyetujui pernikahan kita?”
            
“Lantas bukan pula berarti aku harus menikahimu kan? Kenapa tidak cari alasan lain untuk berbohong? Aku capek dengan pilihan. Aku tak punya pilihan yang aku mau. Harusnya kau tahu itu dari awal. Apa yang sebenarnya aku inginkan.”
            
“Kamu harus memilih Kayra.”
            
“Kamu sengaja melakukan ini. Kamu curang. Kamu tak pernah mengatakan apa-apa soal perjodohan kita. Kenapa kamu mau menerimanya? Aku tak percaya omong kosong ini.”
            
“Menurutmu ini omong kosong?”
            
“Lantas kalau bukan omong kosong apalagi namanya?”
            
“Sejak awal kamu tak pernah menyadarinya kan? Setiap hal punya alasan Kay. Aku juga punya alasan untuk menerima perjodohan ini.”
            
“Omong kosong!”
            
Tangan kananku yang dipegang Rheka semakin erat ia genggam.
            
“Aku mencintaimu.”
            
Aku menyentakkan tangan laki-laki yang sudah menjadi sahabatku itu. Sahabat terbaikku. Aku pikir persahabatan antara kami tak akan pernah ada masalah apa pun. Namun perkiraanku salah karena semuanya harus diakhiri dengan masalah yang menyangkut hidupku. Ini bukan masalah main-main. Bukan masalah kecil. Masalah puluhan tahun akan datang. 

Cinta membuat hubungan kita terasa rumit Rheka. Cinta yang harusnya tak pernah ada. Bagaimana mungkin kamu mencintaiku? Itu mustahil bagiku. Aku tak percaya. Ini hanya mimpi. Mimpi yang akan segera berakhir saat mentari pagi menjelma.
            
Aku tak sanggup terus duduk di bangku ini untuk membicarakannya. Aku tak pernah mau mendengar ungkapan cinta dari Rheka. Aku meninggalkannya tanpa pamit. Aku lelah. Cukup lelah dengan hubungan yang tersembunyi bersama Polki yang sekarang sebenarnya hampir di ujung ketahuan. Aku juga lelah dengan perjodohan yang kian mendera. 

Memaksa untuk mengatakan iya. Sementara aku mencari cara untuk menghindarinya. Rheka malah ingin aku menerima cintanya. Bukan ini yang aku mau. Aku juga lelah dengan skripsiku yang belum juga selesai. Aku terlampau asyik dengan duniaku sendiri.

Bersambung....

Related Posts

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 4]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).