6 Desember 2011

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 10]

Cerita sebelumnya Bagian 1.
Cerita sebelumnya Bagian 2.
Cerita sebelumnya Bagian 3.
Cerita sebelumnya Bagian 4.
Cerita sebelumnya Bagian 5.
Cerita sebelumnya Bagian 6.
Cerita sebelumnya Bagian 7.
Cerita sebelumnya Bagian 8.

Aku menatap mereka tak berkedip. Aku tak mau tertangkap sejauh ini. Aku berharap bis ini segera berlalu. Cepatlah berangkat. Aku harus cepat meninggalkan semua yang mengejarku. Detik-detik menuju keberangkatan terasa begitu panjang. Aku menarik napas lega saat bis itu benar-benar bergerak dan membawaku kabur. Aku pergi. Jauh... sejauh yang aku mampu pergi. Aku akan memulai hidup baruku benar-benar sendiri. Tanpa keluarga apalagi Polki.

Gambar dari sini.
            
Polki... kamu ada dimana? Aku harus mencari kemana? Aku rindu padamu. Aku ingin mengabarkan padamu bahwa aku memilih jalan yang kau pilih sekarang. Aku harus bertanya pada siapa? Aku bingung... aku bingung... aku bingung... Polki aku ingin menjalani hidup ini bersamamu saja. Hanya denganmu karena aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Aku kabur dari mereka untuk mengejarmu Polki.
            
Aku teringat lagi tentang Tiar. Apakah benar ia telah diperlakukan seperti itu oleh keluargaku? Kenapa keluargaku sekejam itu? Padahal mereka tahu tentang hubunganku dengan Tiar. Dia juga berasal dari keluarga baik dan pendidikannya juga baik.

Ajari aku tuk bisa... Rheka Calling... Menjadi yang engkau cinta…
Ajari aku tuk bisa… Rheka Calling… Menjadi yang engkau cinta…

Aku segera menekan tombol untuk menolak panggilan itu. Aku tak mau berkomunikasi lagi dengannya. Aku kemudian mematikan handphoneku. Beberapa pasang mata menatapku dengan pandangan yang menyelidik. Aku mencoba menebar senyum agar mereka tak curiga padaku. Jangan sampai mereka mengetahui kalau orang-orang yang bertebaran di tempat bis ini berhenti tadi sedang mencariku. Aku tak mau ketahuan. Berkali-kali aku masih menatap kebelakang. Aku sangat takut aku tertangkap. Rasanya aku benar-benar menjadi seorang kriminal karena lari dari pernikahanku sendiri.
            
Satu jam sudah lewat. Aku menarik napas lega. Sudah cukup jauh untuk ditemukan. Untung aku naik bis ini. Kalau aku naik motor mereka akan sangat mudah mengenaliku yang berambut cepak dan membawa tas ransel besar. Apalagi warna kudaku hijau menyala. Terlalu mencolok mata. Mungkin mereka tadi menemukannya di bengkel tempat aku menjualnya. Itu sebabnya mereka berhenti di daerah tadi. Benar... pasti mereka menanyakan pada pemilik bengkel itu.
            
Aku menguap sambil melihat jalanan yang kami lewati. Aku jarang pergi jauh tanpa keluargaku. Ini pertama kalinya aku melakukannya. Apakah aku akan baik-baik saja di tempat yang baru atau akan banyak rintangan yang harus aku lewati? Inilah titik awal sebuah kehidupanku yang sebenarnya akan dimulai. Titik nol yang sama sekali tidak pernah aku tahu akan berakhir dimana? Bersama siapa?
            
Kenangan yang pernah aku jalani benar-benar hanya akan menjadi sebuah kenangan yang tak akan pernah terulang lagi. Aku lelah dengan semua ini. Aku ingin melupakannya. Bisakah aku lupa ingatan? Agar aku tak seperih ini? Luka yang tertoreh ini semakin lama semakin dalam membuat darahnya mengalir deras. Aku tak tahu harus percaya dengan siapa. Keluargaku ternyata malah mengkhianati cintaku. Cinta yang aku bangun dengan susah payah. Adakah sesuatu yang bisa aku jadikan pegangan yang terkuat agar aku bisa melanjutkan hidup ini tanpa rasa yang tak mengenakkan?
            
Aku membayar tiket pesawat itu dengan uang yang aku dapat dari hasil penjualan motorku. Aku harus pergi jauh. Entah kemana. Aku masih belum tahu. Aku hanya ingin menjauh sebisa mungkin. Aku pasti mampu melewati semua ini. Aku percaya itu. Aku begitu percaya dengan semuanya. Aku menemukan kursiku dibantu pramugari yang tak pernah berhenti tersenyum. Aku duduk dengan perasaan sedikit tenang. Sudah sejauh ini. Aku yakin tak akan ditemukan lagi.
            
Beberapa lama aku lewati di dalam pesawat ini. Aku membiarkan mataku terbuka. Aku masih resah. Aku masih merasa banyak yang mencurigaiku. Padahal jelas-jelas aku tak mengenal satu pun orang yang duduk dalam pesawat ini. Aku merasa mereka memata-mataiku. Aku memang bodoh. Penakut. Pengecut. Aku bahkan takut mengakui perasaanku sendiri hingga membuatku menjauh dari keluargaku sendiri.
            
Akhirnya mendarat juga. Aku harus naik bis lagi. Bis yang entah akan membawaku kemana. Hatiku mulai tenang sekarang. Mama pasti sudah jauh tertinggal di belakang. Aku aman sekarang. Aku bingung sekarang. Aku bingung aku harus kemana lagi. Aku tak punya siapa pun. Aku tak mengenal orang yang ada di bis ini. Jiwaku menjadi tak tenang.
            
Entah sudah berapa lama aku tertidur di kursi ini hingga aku menyadari aku tak lagi duduk sendiri. Ada seorang perempuan muda yang sangat lembut penampilannya. Dengan gamis lengkap dengan jilbab lebarnya. Begitu cantik. Sangat berbeda denganku yang berambut cepak dan pakaian khas model Rheka. Kaos dan celana jeans. Perempuan itu melempar senyuman padaku. Manisnya…
            
Aku membalasnya dengan sedikit malu-malu. Selama ini aku memang jarang berbasa-basi dengan orang. Apalagi perempuan. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa. Selama ini aku sibuk bersahabat dengan Rheka. Kebut-kebutan di jalanan sepanjang gunung yang memang sepi. Sibuk mengikuti gaya rambut Rheka yang terbaru. Lelah melakoni hidup yang seperti itu terus-menerus. Harusnya sejak lama aku meninggalkan semua itu agar aku punya pengalaman baru dan bertemu orang-orang yang baru. Terpasung begitu lama dengan hal yang membuat pikiranku yang sempit.

Bersambung....

Related Posts

Merajut Jembatan Pelangi [Bagian 10]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).