(GoVlog) Melihat Lebih Dekat HIV/AIDS


Pontianak – Kalimantan Barat

Beberapa orang ketika dihadapkan pada yang namanya tes HIV bawaanya takut. Apalagi jika ada yang mengetahui dirinya menjalani pemeriksaan untuk memastikan positif tidaknya dirinya. Bahkan tidak sedikit orang yang didiskriminasi setelah menjalani proses pengetesan tersebut. Kenapa harus ada kejadian demikian?

Sebenarnya penting tidak sih memeriksakan diri?

Gambar dari sini.

Bukankah lebih banyak manfaat dari mudarat yang akan didapatkan seseorang. Karena banyak orang yang HIV positif sama sekali tidak melakukan tindakan yang berisiko pada dirinya. Melainkan pasangannya yang ternyata memiliki perilaku yang berisiko.

Berapa banyak bayi tak berdosa ikutan terinfeksi karena ketidaktahuan orang tuanya tentang statusnya.

Jujur, sebelumnya, menurut saya penyakit HIV/AIDS adalah penyakit asing yang tidak akan muncul di negara Indonesia. Saya beranggapan bahwa itu penyakit yang sedikit aneh dan tidak bisa saya pahami. Setelah membaca berbagai buku yang dicetak yayasan-yayasan yang peduli dengan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) akhirnya saya mengerti bahwa HIV/AIDS adalah penyakit biasa yang sama seperti penyakit yang lainnya.

Gambar dari sini.


Tapi tidak sedikit orang yang menganggap bahwa peyakit HIV/AIDS adalah penyakit kutukan yang hanya diberikan pada orang-orang yang berhubungan seks secara bebas atau orang yang menggunakan jarum suntik bersama-sama dengan pengguna narkotika lainnya. Padahal banyak orang yang terinfeksi adalah ibu-ibu rumah tangga yang tidak tahu apa-apa. Anak-anak tanpa dosa. Kemudian bisakah kita terus mengatakan bahwa itu adalah penyakit kutukan?

Gambar dari sini.

Bagaimana dengan orang yang tertular karena penyangkokan organ tubuh yang ternyata diambil dari orang yang terinfeksi? Apakah orang yang terinfeksi dengan cara yang demikian bisa dikatakan orang  yang terkutuk?

Pertanyaan paling penting yang diajukan di sebuah pertemuan untuk membuka mata masyarakat di Kabupaten Sambas ketika banyak pemuka agama yang masih beranggapan HIV/AIDS adalah hukuman Tuhan terhadap manusia seperti ini.

Bagaimana jika yang terkena adalah orang tua kita? 
Anak-anak kita? Saudara kita?

Sejenak ruangan menjadi hening  karena sebelumnya peserta menyatakan bahwa orang yang terinfeksi harus hidup diasingkan agar tidak menulari orang lain. HIV/AIDS tidak menular melalui udara dan tidak segampang itu untuk menginfeksi orang di sekitarnya. Karena apabila demikian kejadiannya, pasti satu dunia sudah terinfeksi. Tanpa kita sadari orang-orang di sekitar kita sebenarnya ada yang sudah positif. Entah dia tahu atau tidak.
ciri-ciri ciri hiv aids dan gejalanya beserta cara pengobatan dan perawatan pasien HIV Aids. Obat Alami hiv Aids, gambar tanda dan gejala aids
Gambar dari sini.

Apakah pernah terbersit dalam kepala kita ketika yang terinfeksi adalah orang-orang yang kita sayangi? Masihkah kita mengatakan mereka harus diasingkan? Percayalah semua penolakan terhadap mereka hanya akan membuat mereka semakin takut untuk jujur. Kemudian semakin banyak orang yang menolak untuk dites. Akibatnya penyakit ini akan menulari orang yang tidak tahu berikutnya.

Jika kita tahu dia positif, kita bisa merawatnya.
Gambar dari sini.

Orang-orang beranggapan bahwa HIV/AIDS adalah satu-satunya penyakit yang tidak ada obatnya di dunia. Inilah pentingnya kita membuka mata untuk tahu lebih banyak tentang HIV/AIDS. Sekarang sudah tersedia obat untuk merawat orang yang terinfeksi. Memang belum bisa disembuhkan tapi bukan berarti tidak bisa diobati bukan? Setidaknya untuk menekan lajunya virus yang berkembang.

Sebenarnya menurut saya, harapan hidup seseorang juga bergantung pada dukungan orang di sekitar. Bagaimana sikap kita menerima dengan tulus keberadaan mereka apa adanya. Tidak sedikit ODHA yang meninggal karena bunuh diri. Ini disebabkan oleh keluarga yang ternyata tidak bisa menerima keadaan dirinya. Padahal tidak ada yang tahu jadwal kematian seseorang.

Pikiran sangat berpengaruh penting di dalam melanjutkan kehidupan ini. Ketika seorang ODHA selalu dilanda oleh pikiran negatif dari penolakan orang di sekitarnya, kesehatannya akan menurun dengan sendirinya dan membuat dia menjadi penderita AIDS. Kemudian dia akan meninggal dengan penyakit yang sangat sederhana.

Pertama kali dalam hidup saya melihat seseorang hampir meregang nyawa karena AIDS. Dia seorang ibu rumah tangga yang berasal dari keluarga yang sangat miskin. Suaminya yang menulari dirinya dan juga anak bungsunya. Anaknya juga meninggal setelah beberapa bulan kepergian ibunya. Sedangkan suaminya sudah meninggal bertahun-tahun sebelum dirinya.

Ibu dan anak itu, adalah korban. Mereka tertular karena ketidaktahuan mereka. Ibu itu masih sedemikian muda, bahkan anak tertuanya masih muda dibanding saya. Tapi harapan hidup mereka hilang karena keluarganya menunjukkan penolakan atas keberadaan mereka berdua. Ibunya tertular dari berhubungan dengan suaminya dan bayinya tertular melalui ASI yang diberikan oleh ibunya. 

Gambar dari sini.

Katakanlah memang orang yang terinfeksi karena melakukan hal-hal yang berisiko, itu memang salah. Kesalahan adalah bagian dari kemanusiawian kita. ODHA berhak hidup sehat dan mendapatkan kesempatan kedua. Biarkan mereka bahagia karena mereka sama manusianya seperti kita. Kita tidak pernah tahu siapa yang akan terinfeksi berikutnya jika kita menbuat stigma terhadap mereka.

Saya telah menulis dua novel untuk menunjukkan pada dunia bahwa ODHA tidak semudah flu burung penularannya. Faktanya banyak pasangan ODHA yang bisa mendapatkan bayi yang tidak terinfeksi. Ini terjadi di Singkawang, ketika 14 pasangan ODHA mendapatkan 14 bayi yang lahir dengan sehat dan tidak terinfeksi orang tua mereka. 

Gambar dari sini.
Bayangkan, dari orang tua yang keduanya positif masih bisa mendapatkan bayi yang negatif. Kita tidak hanya menghentikan kehidupan satu atau dua orang yang terinfeksi HIV jika kita mendiskriminasikan mereka. Tapi kita bisa jadi memutus rantai kelahiran keturunan mereka selanjutnya. 

Gambar dari sini.
Kematian mereka malah tidak memutuskan mata rantai penularan HIV. Bagaimana mungkin kita bisa menghentikan penularan jika kita bahkan tidak mau tahu dengan siapa saja yang terinfeksi bahkan berusaha tidak berinteraksi dengan mereka. Mari lihat mereka lebih dekat. Mereka membutuhkan uluran tangan kita bersama.




Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes