Mengenang Masa Menjadi Guru


Bagaimanapun senangnya murid-murid dengan metode mengajar saya yang keluar dari jalur umum dan mata pelajaran bahasa Indonesia yang selalu bertabur dongeng dan cerita. Saya harus mengakui saya tidak suka berada di dalam ruang tertutup dan berada di depan. Sama seperti saya pertama kali berada di kelas saat menjadi murid. Saya tidak suka berada di sekolah. Saya memang tidak menyukainya. Saya suka berada di luar kelas dan menikmati pemandangan di langit.

Sumber gambar dari sini.

Tapi saya pernah menjadi guru beberapa kali. Tepatnya dua kali. Meskipun saya harus mengatakan saya masuk FKIP karena di Pontianak, hanya FKIP Untan yang menyediakan program studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Saya masuk FKIP Untan bukan karena ingin menjadi guru kemudian PNS. Melainkan karena saya sangat menyukai bahasa Indonesia. Saya ingin belajar banyak tentang bahasa negara saya. Selain itu karena saya sangat mencintai kegiatan tulis-menulis.

Pertama kali menjadi guru itu saat usia saya 22 tahun, tahun 2008, saya harus memenuhi penugasan dari kampus untuk PPL. Praktik Pengalaman Lapangan *mudah-mudahan ini benar adanya*. Saya menjadi guru selama 6 bulan di MAN 1 Pontianak. Ternyata saya benar, saya memang kurang suka berada di kelas dan menjadi guru walaupun saya sering dipuji karena cara mengajar saya yang menyenangkan. Saya pikir saya harus membuat siswa tidak merasakan apa yang saya rasakan dulunya ketika saya menjadi murid di sekolah.


Setelah itu saya mendapat tawaran untuk mengajar di sebuah pusat bimbingan belajar. Lumayan daripada menganggur pikir saya waktu itu. 2 tahun saya menghabiskan waktu di pusat bimbel tersebut dan pengalaman yang paling mengesankan setiap saya masuk kelas pertama kalinya adalah saya selalu disangka sebagai murid baru.

Kenapa bisa demikian?

Saya jadi menulis postingan ini karena banyak teman-teman di twitter yang tidak pernah menyangka usia saya sudah 25 tahun dan belum menikah. *kenapa harus menyebutkan bagian akhir coba*

Anime School
Gambar pinjam di sini.
Saya sering disangka anak SMA dan saya pun sering salah mengira teman-teman di twitter saya sebagai anak SMA atau mahasiswa. Ada si @rizkirahmadania yang saya pikir sudah SMA usia sekitar 15-16 tahun yang ternyata masih 13 tahun dan duduk di bangku SMP. Kedua tangan saya saja tidak cukup untuk menunjukkan jarak usia kami berdua.

Sebagai guru dulunya saya memang sering dicap sebagai anak baru gara-gara penampilan saya. Di saat guru lain mengenakan kemeja rapi dan sepatu resmi saya malah datang dengan penampilan yang cuek banget. Kaos oblong, celana jeans, tas ransel, dan sandal jepit. Toh tempat saya bekerja itu tidak mewajibkan tenaga pengajarnya mengenakan pakaian formal. So, tidak masalah dong dengan penampilan saya.

Lucunya setiap saya masuk kelas, semuanya langsung menyapa saya hangat dengan ucapan:

“Murid baru ya? Dari SMA mana?”

Gambar dari sini.
Langkah saya yakin menuju kursi pengajar dan mengambil spidol kemudian menuliskan nama saya di papan dan mengatakan saya guru mereka. Saya dan mereka akan selalu shock dihari pertama padahal saya berharap ketika usia saya telah melewati 23 tahun mereka tidak akan mengira saya anak SMA lagi. Apakah karena badan saya yang terlalu kurus ya?

Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes