Langsung ke konten utama

[kontes] Ayam Kampus: Buku Pertama


Setiap orang punya mimpi. Sebesar atau sekecil apa pun sebuah mimpi itu akan menjadi sebuah harapan yang baru untuk seseorang melanjutkan kehidupannya. Tanpa impian, apa indahnya coba hidup ini? Saya sendiri punya impian yang selalu saya pupuk dan sirami setiap malam di dalam tidur saya. Saya memiliki impian menerbitkan sebuah buku. Buku hasil karya saya. Pastinya fiksi karena kesukaan saya pada cerita. Sebagai seorang perempuan berdarah campuran termasuk di dalamnya melayu saya termasuk orang yang suka bercerita.

Bercerita di dalam kebiasaan melayu selalu berbentuk tuturan. Seiring berjalannya waktu dan saya tahu orang yang menghasilkan tulisan adalah orang yang akan dikenang sepanjang masa meskipun dia tak ada lagi di dunia ini. Jadi sebagai pencerita saya mengubah kebiasaan lama tersebut dengan bercerita melalui tulisan. Karena tuturan bisa hilang tapi tidak tulisan. Contohnya blog yang kita miliki. Suatu hari nanti, saat kita menua, mungkin kita akan membagi passwordnya untuk anak cucu kita dan membiarkan mereka melanjutkan ‘napas’ blog ini.

Seorang anak yang berusia 8 tahun percaya dengan mimpinya dan 15 tahun kemudian mimpinya menjadi kenyataan. Sebuah buku yang bertahtakan namanya terpajang di kampusnya. Awalnya saya mengikuti lomba cerpen di tingkat universitas se-Kalimantan Barat. sudah sangat sering kecewa dan kalah. Tapi karena waktu itu lombanya tidak menyita waktu karena tinggal mengirimkan karya kita ke panitia lalu menunggu pengumuman. Begitu saja. Gampang kan? Masalah menang atau kalah belakangan. Pokoknya ikutan dulu.

Saya berhasil menulis dalam satu hari. Cerpen saya waktu itu berjudul: ‘Ayam Kampus’. Berhasil memenangkan hadiah ke-dua. Memang tidak berbentuk uang tapi saya tetap senang. Buku yang memuat karya saya tersebut dicetak dan disebarkan ke seluruh perpustakaan kampus di Indonesia. Bayangkan betapa senangnya saya saat itu. Penasaran dengan karya saya yang juga sekarang saya muat di buku ke-tiga saya Honeylizious JatuhCinta? Silakan baca cerpen di bawah ini.

AYAM KAMPUS
   Renungan Bapak Guru 

Buat apa pendidikan aku bertanya 

Mengajarmu kenal yang agung, jawab gunung 

Agar kau tahu kekekalan, kata langit 

Bisa menikmati keindahan, tambah matahari 

Supaya tahu keburukan, seru hutan 

Paham pada diri sendiri, siul burung 

Dan bikin kau dinamis, bisik angin  

Apa manfaatnya bagiku, aku bertanya 

Supaya pikiranmu jernih, ujar kolam 

Dan jiwamu berseri, bujuk teratai 

Aku tak paham juga kenapa mesti begitu 

Supaya kau mencintai hidup, bentak pohon 

Tahu kebebasan dan keterbatasan, nasihat bulan 

Tak puas pada semua penjelasan itu aku tidur 

Esok harinya aku bangun dan bertanya lagi 

Tapi mengapa engkau bangun? tanya jendela 

Untuk apa kau hidup? desak udara 

Mengapa kau termangu? hardik batu-batu 

Kau ingin mati ya? ejek bunga-bunga 

Bagaimana aku bisa menjawab mereka 

Bapak guru cuma bisa bertanya-tanya                                                             (1982) Eka Budianta
            06.45. Senin, 7 Mei 2018. Fakultas Pendidikan Guru, Universitas Tut Wuri Handayani. Papan pengumuman menjelma menjadi salju-salju yang membeku. Awalnya gelap pekat dengan segenggam untaian pengumuman yang mengusang. Sekarang dijejali jutaan kertas dengan motif  dan isi yang bermuatan sama. Bisikan dari kertas itu membuat kampus merah jambu itu geger. Pertama papan pengumuman yang geger. Berikutnya mahasiswa ikut-ikutan geger, bisa geger otak, bisa juga geger hati. Lalu dosen merasa wajah mereka digegeri banyak arang. Mengibaskan sayapnya yang lebar untuk melenyapkan noda hitam itu namun gagal total. Semuanya sudah memelototkan mata pada isi selebaran itu. Secarik kertas putih yang sebenarnya tak berdosa kini membuat ratusan dahi berkerut membacanya.
            Ide siapa ini? Gara-gara isi pengumuman yang membedaki papan hitam itu rona muka FPG merah padam. Di seluruh fakultas yang ada di Untuwuni ini FPG telah gagah menatap matahari dengan dada membusung. Sekarang matanya tertuju pada ubin-ubin yang mungkin ada salah pasang atau kurang rapi penyusunannya. Telapak kakinya sendiri rasanya sudah sangat memuakkan dengan seringaiannya. Kakinya tak sekokoh dulu. Hanya dari bisikan kertas yang dibawa angin menuju daun-daun telinga yang menganga, kerapuhan mulai menggerogotinya.
            Sebenarnya tak ada yang mengusik dari kertas putih yang melekat dengan beberapa cuil lem di dinding itu. Jumlahnya yang fantastislah yang menyedot perhatian. Terutama mahasiswa yang sedang sibuk mencari lembaran pengumuman berisi calon penerima beasiswa. Tiba-tiba mata mereka dicolok oleh kertas yang memiliki ratusan mungkin ribuan saudara kembar di tempat yang sama dan papan pengumuman  lainnya. Masih pagi untuk melewatkan sarapan hangat yang bisa mengenyangkan otak. Beberapa lama kemudian perut otak semua manusia di kampus itu berisi makanan yang sama.
            Selain mahluk hidup yang memiliki rutinitas di tempat yang sama kita tentu penasaran untuk ikut membacanya. Alhamdulillah ada yang menciptakan mesin waktu hingga selebaran pengumuman itu bisa dihadirkan dalam kisah ini. Tapi ini rahasia kita berdua saja. Jangan bilang siapa-siapa apalagi memperbanyak dan menyebarkannya. Hak ciptanya telah dipegang oleh seseorang pada tahun 2018. Apabila masih tidak bisa menerima takdir itu coba kembali ke baris pertama cerpen ini. Di bawah kutipan puisi telah dicantumkan waktu kejadian perkara. 7 Mei 2018.
            Dengar baik-baik ya? Isi pengumuman ini tidak akan diulang untuk kesekian kalinya karena tahu sendiri ‘kan kalau sekarang benda yang biasa kita sebut daun telinga semakin sensitif dengan isu. Macam-macam isu bisa lahir gara-gara kuping yang kurang teliti menyimak dan akhirnya masyarakat yang dirugikan karena informasi yang aspal tersebut. Asli didengar dari mulut teman ke telinga namun palsu isinya. Kembali ke persoalan semula. Simak baik-baik isi pengumumannya.
            Sayembara
Dicari AYAM KAMPUS yang biasa mangkal di halaman belakang kampus dengan cemilan popcorn. Hadiahnya bingkisan dan  uang pembinaan pendidikan sampai wisuda S3.
NB: 14 Mei 2018 batas akhir penyerahan ayam kampus di DPR (di bawah pohon rindang)
Alasan apa pun tidak akan mengubah kenyataan pencorengan mutlak di kampus merah jambu. Orang yang membuat sayembara ini juga menerapkan sistem coreng arang sembunyi tangan. Wajah kotor FPG harus didongakkan kembali dan payung pendidikan harus ditegakkan.
“Kita calon guru! Pangkal dari semua hal yang ada di dunia ini. Apa pun yang terjadi dengan negara ini kita ikut bertanggung jawab! Semua mahasiswa harus bekerja sama mendapatkan orang yang membuat sayembara tak bermoral ini!” pekik Ketua BEM FPG. Rayuan gombal yang terdengar kharismatik dan menyentuh kalbu. Ujung-ujungnya ia gentar akan kehilangan kursi yang ia duduki sekarang. Padahal kursi lain masih banyak yang kosong. Mungkin di kursi yang ia pantati sekarang lebih basah. Hanya dia yang tahu kenyataan pastinya. Kita hanya bisa mengira-ngira dengan perhitungan sendiri karena perhitungan di kalkulator menghasilkan nilai yang tidak terdefinisi. Kalaupun waktu itu kalkulator masih seperti kacang goreng yang dijual pas lagi musim layar tancap di kelurahan.
Dekan mengamankan semua kegiatan mahasiswa yang ikut terpancing emosinya. Laki-laki yang sudah mulai memutih kepalanya itu mengajak mereka untuk bekerja gotong-royong mencabuti paksa kertas itu. Perkuliahan dibatalkan untuk satu hari. Cukup melelahkan memang namun buah dari kerja keras selalu manis. Setelah semua kertas tak bernyawa itu mengerut dan menjadi abu karena perkawinan paksanya dengan api, dekan memerintahkan pegawai di bagian konsumsi menyediakan kue bolu dan minuman sirup markisa. Keletihan yang diderita terbayar. Wajah-wajah merona bahagia dan penuh canda tawa.
06.56. Selasa, 8 Mei 2018. Fakultas Pendidikan Guru, Universitas Tut Wuri Handayani. Roh-roh kertas itu ternyata masih menghela napas kehidupan. Mereka kembali berdesak-desakan di papan pengumuman. Dengan warna yang sedikit berbeda. Tak lagi berwarna putih tapi agak abu-abu. Mustahil tapi nyata. Abu sisa pembakaran hari sebelumnya menguap entah kemana. Lem yang membuat kelekatan antara papan dan kertas juga sedikit lebih kental dari biasanya. Apalah artinya secuil lem yang dibuat dengan kental kalau mereka masih bisa disentak dari tempatnya.
Beberapa mahasiswa yang masih mencari pengumuman beasiswa kecewa untuk kali kedua. Tak ada pengumuman lain yang ada di sana. Sayembara itu yang memenangkan tender untuk terus bermukim di papan. Dibayar berapa papan itu sehingga dengan lapang dada mau menerima bintang iklan seperti mereka? Sedikit jengah membaca sayembara dengan isi yang persis sama. Kertas ini mungkin benar-benar mereka.
Isu hantu berkeliaran meneror seisi kampus mulai tersebar dari  mulut ke telinga, dari telinga ke mulut lagi. Penyebarannya meningkat dengan pesat, melebihi kecepatan cahaya. Pikiran mahasiswa tak terfokus pada kuliah lagi tapi mereka mulai menimbang-nimbang sayembara itu. Habisnya pengumuman beasiswa masih belum jelas orang yang menjadi penerimanya. Bukan salah siapa-siapa kalau sayembara itu diam-diam ada peminatnya.
Di taman di halaman belakang kampus mulai ada yang menjaga. Beberapa mahasiswa yang kaya pun telah memasang kamera pengintai tersembunyi di pohon. Tak ada salahnya mencoba mendapatkan ikan yang lebih besar dengan umpan yang kecil. Tak ada kualifikasi khusus yang harus dipenuhi. Cukup menunggu hingga ada seseorang yang senang berada di halaman belakang dengan secangkir popcorn. Pengintai pertama, tak disangka, Renno, Ketua BEM. Sebelumnya mengecam sekarang malah mengincar hadiah yang disebutkan. Sulit dipahami memang tapi inilah hidup. Harus pandai-pandai karena sekarang hukum yang berlaku lebih ganas dari hukum di hutan rimba.
Dekan tak berkutik. Ajakannya bergotong-royong tak ada yang menggubris. Dosen-dosen yang masih berpredikat S1 dan S2 mulai ikut terjun ke medan laga. Memasang tameng yang terkuat sebagai pelindungnya. Angin sudah semakin kencang siulannya. Membuat gigilan di tulang-tulang. Kulit mengerut. Keberanian yang tersisa semakin menggumpal. Yang terobsesi tak peduli siang dan malam terus saling menggantikan posisi. Tak ingat makan dan minum yang lama tak mereka lakukan. Nafsu kehidupan mereka terkalahkan oleh ambisi. Batas hidup dan mati mereka lewati. Tak bisa dibedakan antara roh dan raga. Sama-sama pucat. Sama-sama tembus pandang. Bening seperti kaca yang baru dibersihkan sampai kinclong.
Mahasiswi yang suka menikmati pesona matahari sore dari taman itu tak tampak lagi batang hidungnya. Was-was karena firasatnya sebagai seorang perempuan menolak untuk berada di sana. Eksistensi mereka sebagai manusia mulai terancam. Beberapa yang tak kuat memilih mundur dari kampus tersebut. Beban mental yang dipikul terasa sangat menyesakkan bahu. Wanita yang berotot kawat dan bertulang baja yang mampu berdiri di antara topan dan hujan itu. Tegak dengan kedua kaki tanpa bantuan dari pihak lain. Tak peduli predikat yang akan mereka sandang adalah ayam kampung, eh ayam kampus. Toh yang terpenting mereka tidak mengantongi secangkir popcorn sebagai cemilan.
Rumah sakit berubah jadi loket lotre. Antrean panjang sekali. Mental yang tidak kuat mengusaikan perhelatan. Orang  yang merasa jasadnya luluh lantak mendaftarkan diri di buku yang kumal karena penuh upil suster yang biasanya hanya melongok di depan mejanya. Tempat itu sudah seperti pasar obral 99%. Banyak yang datang tapi tak banyak yang pergi. Hasilnya? Bisa ditebak, semua ruangan penuh. Yang tak kebagian ranjang terpaksa hanya duduk. Bahkan tak sedikit yang berdiri.
Ayam yang dicari masih tak ditemukan juga, padahal matahari 13 Mei hampir terbenam. Bagaimana ini? Tenaga sudah banyak terkuras. Mereka yang sabar menanti sudah seperti pekerja rodi yang tak mendapat upah. Menghabiskan semua harapan yang tersisa. Mungkin harapan kini tinggal angan-angan yang tak akan kesampaian. Harapkan burung di angkasa, burung di genggaman terbang melayang.
…Hampa terasa hidupku tanpa dirimu. Apakah di sana kau rindukan aku. Seperti diriku yang s’lalu merindukanmu…(Ari Lasso)
Perut lapar mulai mengiris lambung. Tenggorokan pun hampir tercerabut akarnya. Desakan kemanusiaan baru mencuat. Duri-duri penyiksaan menusuk dada. Ayam kampus yang ditunggu tak nampak-nampak pula. Ini kali pertama gagal setotal-totalnya. Pol-polan benar rasanya. Semua merasa sangat KUCIWA. Bingung mendengar perasaan yang mereka derita sekarang? Kuciwa itu masih saudara kembarnya kecewa tapi lebih menyiksa, lebih perih berdarah sampai bernanah. Apa pun bentuk katanya, inti dari segala inti mereka itu sudah seperti seonggok daging busuk yang lalat pun tak ingin memamahnya. Tak mandi, tak makan, tak minum, tak tidur dan begitu banyak tak-tak lainnya yang mereka lakukan. Pikirkan sendiri saja, jangan berdua karena pendapat orang berbeda-beda. Hidup itu relatif jadi bergantung pada orang menafsirkannya.
Orang-orang yang kuciwa itu akhirnya menarik diri dari medan pertempuran. Menyerah berarti kalah. Tapi kalah bukan berarti gagal. Sayembara lainnya masih banyak. Siapa tahu akan mereka dapatkan piala kemenangannya. Sayap langit menghitam dan membeku. Meremukkan keberanian yang tersisa. Taman itu sepi, sunyi. Kejalangan membuatnya makin menyeramkan.
Esok hari akan dihadapi dengan sebuah arti baru dalam kehidupan. Tapi…tunggu sebentar sepertinya ada yang datang. Rembulan yang takut-takut menatap bumi menyinari langkah kecil yang memasuki taman itu. Perempiwi (kata Tora Sudiro). Cantik kayaknya (kata Indra Birowo). Peri ataukah malaikat yang tersesat karena sayap-sayap cintanya patah pada saat ia mendarat di bumi. Amati lagi lebih teliti…tak ada yang istimewa darinya selain rupa yang rupawan mengalahkan dewi bulan yang bercengkrama dengan suaminya dewa matahari saat gerhana. Lihat…ia membawa secangkir popcorn. Perempuan cantik di taman dengan secangkir popcorn. Kita menemukan orang yang kita cari. Ini rahasia antara kita berdua. Kita tangkap dia dan kita tukar dengan hadiah yang dijanjikan.
Kampus kita bebas dari virus ayamnya dan kita bisa mendapatkan predikat S3. Kenyataan yang belum pernah diimpikan bukan. Ayo siapkan jaring laba-labanya. Jaring buatan pabrik kualitasnya buruk. Kita pilih yang alami saja. Hidup kita kembali ke alam. Istilahnya hentikan pemanasan global. Pakai bahasa Indonesia saja. Lebih afdal. Tunggu apalagi?
Hap!!! Sebuah tangan langsung memeluk sang perempuan. Cahaya temaram mengatakan ia tak lain dan tak bukan Renno, sang Ketua BEM. Tepuk tangan meriah untuk sang juara. Plok! Plok! Plok! Walaupun kita tak punya kesempatan setidaknya ada seseorang yang berhasil menangkapnya
“Kamu tertangkap!”
“Lepas!”
“Sudah diam saja dalam pelukanku.”
“Tolong!”
“Diam!!”
“TOLL….LONG!!!”
Teriakan itu semakin nyaring pada menit-menit awalnya. Menit-menit terakhir melemah karena tak ada satu orang pun yang tersisa untuk membantunya. Renno bahkan mengikat kaki dan tangannya. Kemudian membiarkannya duduk di bangku di taman. Menyulut sebatang rokok. Menyedotnya penuh kenikmatan. Senyuman kemenangan membayangi wajah penuh lubang bekas jerawat itu. Kemudian senyum itu menjadi seringai dan mengeluarkan bahak yang nyaring. Puas sepuas-puasnya. Hadiah itu tinggal ia siapkan kantongnya.
Mentari pagi mulai menampakkan cahayanya yang kuning keemasan. Menebar kasih lewat kehangatan mengganti dinginnya embun. Renno menatap perempuan di samping kirinya yang masih terlelap dalam mimpi. Renno tak merasakan kantuk sama sekali walaupun matanya berjaga sepanjang malam hingga pagi. Ia bangkit dari duduknya. Meregangkan tulang-tulangnya yang diselusupi angin malam. Menatap perempuan itu untuk kesekian kalinya yang tetap terlelap. Tangannya membelai lembut pipi pualam milik sang perempuan. Mencoba membangunkan tanpa mengejutkannya. Terlalu cantik untuk terkejut. Takutnya wajah itu berubah menjadi menyeramkan. Biarlah ia tetap semenarik ini.
Pantas saja sayembara ini diadakan. Hadiah itu tak seberharga perempuan dengan wajah penuh cahaya mutiara ini. Mempesona tanpa menyilaukan mata. Lembut menggoda. Sayang sekali untuk diberikan pada penyayembara. Tapi seindah apa pun bentuk dan potongannya, dia ayam kampus. Mungkin desakan perut dan mata yang silau dengan perhiasan membuatnya menjerumuskan dirinya dalam lumpur ayam. Makanya ia disebut ayam kampus. Entah datang dari mana istilah yang sangat tidak ada sangkut pautnya itu. Hewan yang biasa bermain di kampus merah jambu paling-paling kucing. Itupun kucing yang kurus dan kelaparan.
“Hentikan!”
“Kamu cantik.”
“Tidak ada yang boleh menyentuhku tanpa izin!”
“Berapa ongkosnya agar aku dapat surat izin untuk menyentuhmu?”
Cuih!!!
Segumpal lendir berwarna putih campuran dari saliva sisa semalam menerpa wajah Renno. Lendir itu mendarat tepat di pipi kirinya. Ia menghapusnya sambil tersenyum. Ia tak peduli dengan hal apa pun yang terjadi di antara mereka karena sebentar lagi ia akan mendapatkan buah dari kerja kerasnya. Kerja keras selalu berbuah manis. Ia kemudian menguraikan tali yang menyita kebebasan kaki sang perempuan. Lalu menarik tangannya dengan hentakkan yang cukup keras.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di bawah pohon rindang yang ada di halaman samping kampus. Menanti perubahan yang terjadi saat mahasiswa yang lain mulai berdatangan. Masih cukup pagi. Hanya rasa penasaran yang membuat mereka datang. Banyak  yang mengira sayembara itu tak akan ada pemenangnya. Ternyata mereka salah besar. Sekarang di sana ada seorang laki-laki yang sangat mereka kenal dan seorang perempuan yang sangat cantik. Semakin lama semakin ramai yang mendatangi tempat itu. Tak ketinggalan dekan yang semula masih dirawat di rumah sakit kini memaksakan diri untuk datang.
Hampir semua penonton yang ada di sana berdecak kagum menyaksikan kerupawanan sang ayam kampus. Baru kali ini mereka menemukan ada yang memiliki wajah seindah itu di kampus. Selama ini ia berada dimana? Entahlah...mungkin memang mereka kurang memperhatikan satu sama lain sehingga kurang mengenali antar mahasiswa.
Tiba-tiba seorang laki-laki yang tak lain tak bukan Pak Akri, tukang kebun yang biasa mangkal di rektorat, datang dengan pakaian necis. Baru kali ini mahasiswa melihat pemandangan yang aneh bin ajaib itu. Dari mana Pak Akri mendapatkan pakaian sebagus itu? Menyolong di kampus?
“Terima kasih semuanya yang sudah berbaik hati meluangkan waktu untuk menghadiri penyerahan ayam kampus yang saya cari-cari selama ini. Sedikit menyusahkan memang. Maklum saya sudah tua. Namun saya sangat mencintainya.”
“Pak Rektor jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan kami.” dekan angkat bicara
“Pak Rektor??”
Puluhan mungkin ratusan mulut milik mereka menganga. Menggua. Laki-laki yang  biasanya menata pot bunga di rektorat dengan pakaian kumalnya itu seorang rektor? Bagaimana bisa?
“Mana ayam kampusnya?”
Suaranya jernih dan lembut. Tak pernah menggema sebelumnya, sekarang menjadi pusat perhatian yang utama.
Renno menyeret perempuan yang sejak semalam menjadi tawanannya. Menghadapkannya di depan hidung duli rektorku sambil membungkukkan badannya sedikit. Sebuah penghormatan pada sang pejabat. Sebelumnya ketika ia masih berpredikat tukang kebun rektorat dalam pandangan semua mahasiswa tak pernah ia mendapat penghormatan setinggi itu. Mungkin memang manusia selalu memandang jabatan dulu baru menghormatinya. Membungkukkan badan sampai hidung pun hampir menggosok lantai. Bisa berkilau ubin yang penuh tanah itu.
“Ini ayamnya?”
“Hanya dia satu-satunya orang yang ada di taman sambil makan popcorn.”
“Kamu semester berapa?”
“Banyak, Pak.”
Wajahnya menomat menjawab pertanyaan dari orang tertinggi di Untuwuni. Awalnya ia bahkan tak memandang laki-laki itu sebelah mata pun. Rasanya tak ada artinya untuk membagi seulas senyum pada tukang kebun serenta itu. Sekarang ia merasa sebuah tinjuan menohok jantungnya. Ia tak berani menatap mata elang milik Pak Akri. Tajam menusuk ke hati.
“Mahasiswa semester banyak seperti kamu tidak bisa membedakan antara ayam dan manusia? Pakai otak yang ada di kepala bukan di kepalan tanganmu!”
“Tapi ayam kampus kan...”
“Saya mengagumi kecerdasan berpikirmu yang bisa mencapai taraf tertinggi. Memaknai ayam kampus sebagai dia. Tapi saya tidak mencari ayam kampus seperti ini, yang saya cari seekor ayam yang bisa bertelur yang biasanya berjemur di taman belakang. Dia senang makan popcorn. Apa itu sebuah kesalahan karena ia menikmati makanan manusia? Sampai-sampai yang melumut dalam sarafmu adalah seorang manusia? Mahluk paling sempurna ciptaan Tuhan?”
“Maaf, saya...”
“Lepaskan dia!”
“Iya, Pak.”
Renno membuka tali yang masih membelit tangan sang perempuan. Ia semakin kehilangan mukanya sebagai seorang laki-laki. Sudah jatuh tertimpa tangga, tertumpah cat, sekarang malah dikejar anjing. Hendak kemana ia berlari membawa duka dan nestapa ini? Keletihannya tak mendapat harga, ia malah mendapat malu yang semalu-malunya. Ingin menyelam dalam tanah takut mati karena kehabisan oksigen. Mau terjun dari jembatan tol ke sungai, sayangnya, ia tak mampu berenang.
“Kamu sudah mencemarkan nama baik saya, tapi sebelumnya saya ingin minta maaf sama semuanya. Sebenarnya ayam yang dicari dalam sayembara itu sudah mati. Saya memang senang berbagi popcorn dengannya, awalnya saya hanya ingin mencari kelebihan pada ayam tersebut karena Ayah terlalu perhatian dengannya. Saya kurang mendapat perhatian dari Ayah,” sang perempuan angkat suara.
Bulir-bulir bening menggantung di kedua belah pipinya. Wajah jelita itu tertunduk. Tangisan itu mencoba bersembunyi. Semua penonton kini ikut terkejut saat menyadari perempuan itu anak tunggal Pak Akri.
“Namun saya kalap saat sadar ayam itu hanya ayam biasa. Tak ada yang istimewa darinya. Saya kuciwa karena dikalahkan oleh seekor ayam seperti dia. Saya mencekokinya dengan batu hingga mati. Saya tidak merencanakan pembunuhan ini. Terjadi begitu saja Ayah.”
Laki-laki itu langsung maju dan memeluk anaknya. Kebiasaan yang sering dilakukan teletubbies. Berpelukan...
“Ayah bukannya tak memperhatikanmu. Tapi ayah tak sanggup melihatmu yang semakin lama semakin mirip dengan mendiang ibumu. Ayah ingin membuang rasa sakit kehilangan itu dulu, baru kita hidup seperti biasa.”
“Maafkan saya, Ayah.”
“Yang penting ayamnya sudah dikuburkan baik-baik.”
“Sudah ayah.”
“Ayah sayang sama kamu.”
“Saya juga sayang sama ayah.”
 
 *** Selesai ***

Setelah buku saya terpajang di kampus-kampus universitas saya tiba-tiba banyak yang mengenali saya di kampus. Pada tanya-tanya kenapa endingnya begitu. bahkan ada yang kaget karena saya penulisnya. Wajah saya sepertinya tidak menunjukkan bahwa saya suka menulis cerpen ya? Entahlah. Saya yang jelas senang sekali karena karya saya mendapat tempat di dalam kehidupan mereka.

Pertama kali semua perhatian di kampus tertuju pada saya.

Pertama kali punya buku sendiri rasanya tuh seperti diajak keliling dunia gratis kali ya atau lebih dari itu. Ketika menggenggam buku kumpulan cerpen ‘Ayam Kampus’ saya kemudian merasa saya sedang menggenggam mimpi saya yang menjadi nyata. Untuk beberapa detik dunia ini rasanya milik saya seorang.

Photobucket
Postingan ini diikutsertakan dalam  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma