3 Oktober 2011

Book Review: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur





Judul Novel     : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur

Penulis             : Muhidin M. Dahlan

Tebal               : 261 halaman


Buku ini saya miliki sekitar 5 tahun yang lalu. Saat itu saya masih kuliah semester awal. Jujur waktu pertama memutuskan membeli buku ini karena saya melihat covernya yang menggambarkan seorang perempuan berkerudung yang kontras dengan judul novelnya sendiri. “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur’.

Saya penasaran dengan isinya. Ada apa dengan ‘muslimah’ tersebut hingga memutuskan untuk menjadi ‘pelacur’?

Puluhan halaman pertama saya harus disuguhkan dengan informasi yang padat mengenai sang perempuan. Saya pikir bahasa novel ini terlalu berat untuk dipahami seseorang seperti saya yang sama sekali tidak tahu semua lokasi dan kampus yang ada dalam novel ini. Banyak orang yang merasa tersindir dengan kampus-kampus yang disebutkan dalam novel ini. Novel ini bahkan dianggap menghina instansi mereka.

Saya pikir itu berlebihan karena sebagai seseorang yang tidak tahu sama sekali isu yang diangkat oleh penulis tidak akan menganggap novel ini memuat sesuatu yang nyata.

Setelah melewati bab yang berat dan penuh dengan nuansa politik dan Islam. Akhirnya konflik mulai cair di pertengahan menuju akhir. Apabila kita telah menyelesaikan bab perkenalan yang lumayan sesak itu novel menjadi lebih menarik.

Seorang perempuan yang awalnya beriman pada Allah merasa dikhianati dengan keadaan yang diberikan padanya. Kemudian dia memutuskan untuk beriman pada Iblis. Novel menjadi lebih seru lagi ketika ‘muslimah’ tersebut benar-benar mewujudkan ‘iman’-nya kepada Iblis. Dia mulai mengenal narkoba dan seks bebas.

Nidah Kirani nama perempuan yang awalnya masuk dalam organisasi garis keras untuk menemukan titik kebenaran keislamannya. Dia berada dalam kebingungan ketika berkecimpung di dalamnya. Dia limbung dan tak ada yang membantunya memberikan jawaban. 

Perempuan yang dulunya dikenal dengan kerudung besar dan pakaian takwanya kini berubah menjadi perempuan liar yang tak terkendali. Dia ingin Allah tahu bahwa dia tidak lagi percaya pada-Nya sehingga dia mulai menjadi seorang petualang. Dia berhasil menaklukan laki-laki yang dikenal dengan keislamannya. Aktivis dan dosennya pun dia taklukan dengan kecantikannya. Semuanya bersujud di bawah kakinya demi mendapatkan kepuasan (maaf) birahi.

Satu hal yang saya suka dari Nidah Kirani adalah keberaniannya dalam memilih jalan kehidupan yang akan ditempuhnya. Dia memang salah memilih tapi dia benar-benar total dalam menjalankan pilihannya tersebut. Dia memilih Iblis dan dia mendapatkan keiblisan yang dia dambakan tersebut. Sikap beraninya patut dicontoh untuk menjalankan kehidupan kita menjadi lebih baik. Kita semestinya kaffah dalam Islam. Sekaffah Nidah dalam Iblis.

Saya pikir jika saya berada di posisi Nidah, saya bisa jadi kecewa juga kepada Allah. Seseorang yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk menjalankan agamanya malah mendapatkan kenaasan. Hanya karena Nidah salah memilih organisasi.

Setiap orang punya sisi gelap. Jika tidak ingat dengan Allah, saya juga ingin melakukan banyak hal ini di dunia ini dengan sebebas mungkin. Setiap manusia punya dua sisi, gelap dan terang. Di antara dua sisi tersebut ada satu sisi abu-abu tempat kita memutuskan apakah kita ingin menjadi yang terang atau yang gelap. Kadang-kadang kita malah tidak bisa memilih dan malah terjebak dalam keabu-abuan. Saya pikir membuka topeng orang-orang yang dianggap aktivis atau orang yang paham agama itu menyenangkan. Membuka tirai yang memisahkan mereka dengan manusia biasa. Kemudian bisa berkata pada diri sendiri: "Ternyata dia sama saja dengan laki-laki biasa tidak bisa menahan nafsu birahinya."

Tapi saya bukanlah Nidah Kirani yang terjebak dalam kebingungan. 

Saya suka sekali dengan novel ini. Menurut saya penulis berani mengambil risiko yang sangat besar ketika menerbitkannya. Dianggap sesat dan berniat merusak Islam tidak membuat dirinya menghentikan peredaran buku ini. Saya suka sudut pandang yang digunakan penulis untuk menunjukkan pada kita bahwa tidak selamanya dunia ini indah. Tidak selamanya pilihan kita itu benar. Penulis juga ingin menunjukkan pada pembaca inilah akibatnya jika kita salah memilih.

Bagian favorit dalam novel ini adalah ketika saya melihat sisi gelap Nidah Kirani. Ketika dia memutuskan 'menyembah' Iblis. Saya bisa merasakan menjadi Nidah tanpa menanggalkan nilai-nilai keislaman yang saya anut selama ini. Tapi saya kurang suka dengan pembukaan novel ini. Bahasanya sempat membuat saya pusing. Informasinya terlalu padat untuk novel yang tipis begini.

Sebenarnya saya ingin ending novel ini lebih indah. Saya ingin Nidah menikah dan menjalani kehidupan yang Islami. Tapi terlalu teenlit kalau happy ending jadi saya suka dengan ending yang dipilih penulis.

Novel ini cocok untuk usia 18 tahun ke atas karena ada adegan panas di dalamnya. Memang tidak vulgar tapi adegannya tetap tidak cocok untuk anak di bawah umur. Apalagi bahasa yang digunakan bukanlah bahasa yang mendayu-dayu, untuk yang kurang familiar dengan novel sejenis ini bisa menganggap bahasanya kasar atau terlalu ekstrim untuk anak-anak. Novel ini cocok untuk siapa saja yang ingin menjadi 'gelap' sebentar. Mencoba pengalaman atau lebih tepat membayangkan menjadi Nidah Kirani. Bisa juga dibaca oleh orang yang belum mantap dalam memilih Islam agar bisa menjernihkan pikirannya menuju keislaman yang lebih kaffah.

Novel yang mengangkat sisi gelap seorang muslimah ini mendapatkan banyak kecaman. Padahal ini hanyalah novel. Novel itu fiksi. Ketika pembaca diberikan buku fiksi harusnya tahu bahwa isinya adalah kebohongan. Bisa jadi memang berasal dari kisah nyata dan bisa juga bukan, fiksi tetaplah fiksi. Jadi kenapa harus dianggap novel perusak Islam. Setiap hal memiliki sisi positif dan negatif bergantung pada kita ingin mengambil air yang keruh atau jernih. 

Novel ini memang menghadirkan sesuatu secara negatif, tapi bagi pembaca yang bijaksana bisa menjadikan ini sebuah pelajaran moral agar kita tidak menjadi sang muslimah yang salah jalan. Bukannya menghujat novel ini sebagai perusak Islam. Di dalam novel ini, penulis hanya ingin menunjukkan individu-individu seperti apa yang bisa menyebabkan Islam tercoreng. Sekali lagi saya tegaskan yang rusak adalah individunya bukan agama. 

Membaca novel ini seperti sedang menelanjangi diri kita sendiri. Banyak hal yang dibawa tokoh Nidah Kirani ada dalam kehidupan kita.

Islam tidak akan pernah rusak dengan adanya individu yang tidak beriman pada Allah. 

Artikel ini diikutsertakan pada Book Review Contest di BlogCamp.

Followers

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Blog Archive