31 Oktober 2011

Mengenang Masa Menjadi Guru


Bagaimanapun senangnya murid-murid dengan metode mengajar saya yang keluar dari jalur umum dan mata pelajaran bahasa Indonesia yang selalu bertabur dongeng dan cerita. Saya harus mengakui saya tidak suka berada di dalam ruang tertutup dan berada di depan. Sama seperti saya pertama kali berada di kelas saat menjadi murid. Saya tidak suka berada di sekolah. Saya memang tidak menyukainya. Saya suka berada di luar kelas dan menikmati pemandangan di langit.

Sumber gambar dari sini.

Tapi saya pernah menjadi guru beberapa kali. Tepatnya dua kali. Meskipun saya harus mengatakan saya masuk FKIP karena di Pontianak, hanya FKIP Untan yang menyediakan program studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Saya masuk FKIP Untan bukan karena ingin menjadi guru kemudian PNS. Melainkan karena saya sangat menyukai bahasa Indonesia. Saya ingin belajar banyak tentang bahasa negara saya. Selain itu karena saya sangat mencintai kegiatan tulis-menulis.

Pertama kali menjadi guru itu saat usia saya 22 tahun, tahun 2008, saya harus memenuhi penugasan dari kampus untuk PPL. Praktik Pengalaman Lapangan *mudah-mudahan ini benar adanya*. Saya menjadi guru selama 6 bulan di MAN 1 Pontianak. Ternyata saya benar, saya memang kurang suka berada di kelas dan menjadi guru walaupun saya sering dipuji karena cara mengajar saya yang menyenangkan. Saya pikir saya harus membuat siswa tidak merasakan apa yang saya rasakan dulunya ketika saya menjadi murid di sekolah.


Setelah itu saya mendapat tawaran untuk mengajar di sebuah pusat bimbingan belajar. Lumayan daripada menganggur pikir saya waktu itu. 2 tahun saya menghabiskan waktu di pusat bimbel tersebut dan pengalaman yang paling mengesankan setiap saya masuk kelas pertama kalinya adalah saya selalu disangka sebagai murid baru.

Kenapa bisa demikian?

Saya jadi menulis postingan ini karena banyak teman-teman di twitter yang tidak pernah menyangka usia saya sudah 25 tahun dan belum menikah. *kenapa harus menyebutkan bagian akhir coba*

Anime School
Gambar pinjam di sini.
Saya sering disangka anak SMA dan saya pun sering salah mengira teman-teman di twitter saya sebagai anak SMA atau mahasiswa. Ada si @rizkirahmadania yang saya pikir sudah SMA usia sekitar 15-16 tahun yang ternyata masih 13 tahun dan duduk di bangku SMP. Kedua tangan saya saja tidak cukup untuk menunjukkan jarak usia kami berdua.

Sebagai guru dulunya saya memang sering dicap sebagai anak baru gara-gara penampilan saya. Di saat guru lain mengenakan kemeja rapi dan sepatu resmi saya malah datang dengan penampilan yang cuek banget. Kaos oblong, celana jeans, tas ransel, dan sandal jepit. Toh tempat saya bekerja itu tidak mewajibkan tenaga pengajarnya mengenakan pakaian formal. So, tidak masalah dong dengan penampilan saya.

Lucunya setiap saya masuk kelas, semuanya langsung menyapa saya hangat dengan ucapan:

“Murid baru ya? Dari SMA mana?”

Gambar dari sini.
Langkah saya yakin menuju kursi pengajar dan mengambil spidol kemudian menuliskan nama saya di papan dan mengatakan saya guru mereka. Saya dan mereka akan selalu shock dihari pertama padahal saya berharap ketika usia saya telah melewati 23 tahun mereka tidak akan mengira saya anak SMA lagi. Apakah karena badan saya yang terlalu kurus ya?

30 Oktober 2011

Mainan Honeylizious: Perahu dan Baling-baling Kertas


*Saya pikir kontes ini masih sampai minggu depan. Ternyata hari ini deadlinenya ya?*
Mainan masa kecil saya banyak. Terutama dari kertas. Dari kecil saya senang sekali menggunakan kertas sebagai bahan bermain saya. Apalagi ketika sendirian tidak ada yang bisa diajak bermain. Kertas apa pun bisa jadi mainan saya. Mulai dari kertas koran sampai kertas buku yang tidak lagi terpakai. Saya akan membuat berbagai macam permainan dari kertas. Jika kertasnya tipis saya akan membuat perahu tapi jika kertasnya tebal saya akan membuat baling-baling kertas.

Gambar pinjam tanpa pamit di sini.

Saya suka sekali bermain dengan perahu kertas dan menghanyutkannya ke sungai dekat rumah. Tapi karena kertas yang saya gunakan adalah kertas yang tipis kadang baru beberapa menit perahu saya langsung tenggelam. Padahal saya sudah bersusah payah membuatnya. Pada saat itulah muncul ide saya yang paling spektakuler. Apa itu? Saya melapisi perahu kertas saya dengan plastik bekas kantong es atau yang sejenisnya. Jadi perahu tersebut lapisan dalamnya dari kertas dan luarnya dari plastik.

Apabila saya menghanyutkannya dan menariknya dengan benang saya tidak takut perahu tersebut akan segera tenggelam.

Mainan baling-baling kertas sendiri biasanya saya buat dari kertas yang saya dapatkan dari kotak anti nyamuk bakar. Soalnya di rumah banyak sekali kotak anti nyamuk yang dulu paling terkenal itu. Warnanya hijau. Pasti tahu kan? Saya suka sekali memainkan baling-baling kertas karena bisa dibawa berlari. Atau saya bisa bermain dengan angin. Duduk di teras rumah sambil menunggu angin kencang. Permainan ini juga bisa saya mainkan sendirian. Saya bisa membuat baling-baling kertas ini karena diajari almarhum kakek saya.

Gambar diambil semena-mena dari sini.

Ini mainan masa kecil saya, masih banyak sebenarnya tapi dua ini adalah mainan yang paling saya suka.

“Artikel ini diikutsertakan pada Mainan Bocah Contest di Surau Inyiak”

Sruduk Follow Undertwitter

Sruduk Follow Undertwitter



Di hari minggu yang ceria ini saya ingin bercerita mengenai #srudukfollow. Tentang teman-teman yang lebih suka disebut sebagai orang-orang egalite yang ingin mencari teman yang ingin berbagi kesetaraan. Bahwa twitter itu bukan hanya milik-milik orang elite yang lebih mengedepankan menggendutkan follower mereka tanpa mau berbagi bahagia dengan memfollowback teman-teman yang mau ‘mengikuti’ mereka.


 #SRUDUKFOLLOW

Awalnya saya pikir ini gerakan biasa yang digawangi beberapa orang yang tidak saya kenal sama sekali. Iseng ikutan karena saya ingin mendapatkan banyak teman dan bisa berbagi banyak hal dengan mereka. Saya yakin mereka pun punya sesuatu yang saya tidak punya. Ternyata saya benar. Mereka memang bukan orang biasa yang mengegalitekan diri bersama teman-teman lain yang mau menuliskan #srudukfollow di bio twitter mereka.

Pertama kopdar dengan seorang #sruduker tak terbayangkan betapa hangatnya malam yang dingin itu. Di sebuah warung kopi yang sangat ternama di Pontianak. Warkop Winny yang terletak di depan Hotel Orchard Pontianak, di Jalan Gajah Mada. Ditemani segelas kopi hitam yang kurang manis saya menyimak ucapan yang keluar dari bibir @Keep_On_Rockin dan @carbonbahar. @carbonbahar pun telah menjadi #sruduker setelah mendapat penjelasan dari @Keep_On_Rockin tentang pertemanan yang terjalin di twitter. Padahal kita tahu sendiri, pertemanan adanya di facebook sedangkan di twitter adanya pengikut dan orang yang diikuti.

Bambang Pujiatmoko

Saya sih sejak menjadi #sruduker juga tiap ada yang follow langsung saya cek tiap ada penambahan follower. Langsung saja saya follow back tiap ada penanda #srudukfollow di bionya. Bukankah dengan cara demikian kita juga menerapkan keadilan. Kesetaraan tepatnya. Tidak ada yang lebih elite di antara #srudukers ini.

Malam itu saya mendapatkan pencerahan sepanjang kehidupan saya. Saya belajar sebuah hal yang sangat penting di dalam kehidupan ini. Bahwa air bisa menghasilkan uang tapi uang belum tentu bisa menghasilkan air. Iya mas @Keep_On_Rockin yang di twitter sangat rajin menyapa saya ini (sepertinya semua #sruduker rajin menyapa teman-teman sesama #srudukfollow sih).

 
Beberapa jam kopi darat dengan kopi beneran ini, saya diajari cara menghemat air, cara menghentikan pencemaran terhadap lingkungan, dan caranya melestarikan air. Siapa sangka dia orang yang luar biasa di bidang keairan ini. Dia orang yang sangat care dengan penggunaan air dan mampir ke Pontianak karena akan melatih banyak orang untuk care juga dengan air.

 
Apa jadinya kehidupan kita tanpa air?

Bulu kuduk saya sejenak merinding jika mendapatkan pertanyaan sedemikian rupa. Kita akan mati. Bumi ini akan mati jika tidak ada air. Di tengah kesibukan orang lain membangun kewirausahaan ternyata masih ada orang seperti Mas Bambang ini. 
 
Coba deh teman-teman cek akun-akun elite yang memiliki segudang followers. Apa sih yang mereka bicarakan? Topik-topik yang sebenarnya jauh dibanding pentingnya air bagi kehidupan kita. Saya masih awam dalam bidang keairan. Tapi saya ingin belajar untuk mengerti cara penghematan dan pelestarian air.

Mungkin air yang sekarang ada di Bumi masih cukup untuk kita, tapi bagaimana dengan anak cucu kita nanti? 


Di beberapa wilayah sudah terjadi krisis air. Tidak hanya krisis air bersih, air kotor pun susah di dapatkan. Di Pontianak sendiri, PDAM dengan gamblang mengakui bahwa air mereka sama sekali tidak layak untuk di konsumsi. Air adalah sumber kehidupan. 


Berapa banyak bayi yang menemui ajalnya karena diare? Diare karena air yang tercemar. Berapa banyak media yang mau mengangkat isu yang sebenarnya sudah lama sekali ada di Indonesia? Berapa banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk menyadarkan pemerintah kita agar peduli dengan penyediaan air bersih untuk rakyatnya.


Bukankah hak kita sebagai warga negara untuk mendapatkan air bersih bagi kehidupan kita? Anak hukum pasti tahu ayat dan pasalnya. Haruskah kita mendemo pemerintah agar mereka membuka ketentuan tersebut sebelum ada perubahan untuk menyembunyikannya?

Sumber gambar dari sini.

Mungkin kita baru bisa mengerti akan pentingnya air saat kita telah meneguk air terakhir di dunia dan uang kita tidak bisa digunakan untuk membelinya. 

Karena air telah wafat dari Bumi ini.

Sumber gambar: @Keep_On_Rockin 

29 Oktober 2011

Kopi Pancong di Pontianak



Beberapa hari ini saya tidak begitu terkontaminasi dengan virus ‘di mana di mana di mana’ yang ditularkan  oleh beberapa sahabat blogger. Karena ternyata saya sudah terjangkit virus yang lebih berbahaya di Pontianak. Pada sibuk menyanyi lagu yang lagi booming. Berikut lirik  Kopi Pancong:



Cong cong cong kopi pancong
Tak beduet kopinye pancong
Cong cong cong kopi pancong
Mau irit kopinye pancong

Kalau maok bang ke sungai raye
Singgahlah dulok di kampung bangke
Minum kopi bang same susunye
Ditambah pisang goreng dan bingke

Cong cong cong kopi pancong
Tak beduet kopinye pancong (tak punya uang kopinya pancong)
Cong cong cong kopi pancong
Mau irit kopinye pancong (mau irit kopinya pancong)

Naeklah sampan bawa keladi (naik perahu/sampan membawa keladi)
Sampannye bucor banyak aeknye (sampannya bocor banyak airnya)
Jangan nak labe jangan nak gengsi (janganlah belagu janganlah gengsi)
Kalaulah memang kite tak punye (jika memang kita orang tak punya)

Cong cong cong kopi pancong
Tak beduet kopinye pancong
Cong cong cong kopi pancong
Mau irit kopinye pancong
Dari seberang pegi ke kote

Janganlah lupak ngajak Bang Dolah (jangan lupa mengajak Bang Dolah)
Biarlah orang ngomongkan kite (biar saja orang membicarakan kita)
Kaktidielah pek kaktideyelah (terserah mereka coy, terserah mereka)
Kaktidielah pek kaktidielah (terserah mereka coy, terserah mereka)

Cong cong cong kopi pancong
Tak beduet kopinye pancong
Cong cong cong kopi pancong
Mau irit kopinye pancong

Naeklah sampan bawa keladi
Sampannye bucor banyak aeknye
Jangan nak labe jangan nak gengsi
Kalaulah kite memang tak punye
Cong cong cong kopi pancong
Tak beduet kopinye pancong

Cong cong cong kopi pancong
Mau irit kopinye pancong
Dari seberang pegi ke kote

Janganlah lupak ngajak Bang Dolah
Biarlah orang ngomongkan kite
Kaktidielah pak kaktideyelah
Kaktidielah pek kaktidielah

Nah ngomong-ngomong soal kopi pancong nih, sebenarnya kopi pancong ini berasal dari bahasa Tionghoa yang berarti setengah gelas. Pan artinya setengah. Cong artinya gelas. Jadi kopi pancong bisa diartikan sebagai kopi setengah gelas. Harganya pasti setengah juga. Jadi apabila orang-orang yang uangnya tidak cukup untuk membeli kopi segelas penuh bisa memesan kopi pancong ini.

Lagu ini dipopulerkan oleh Abeb dari Pontianak. Kabar baiknya Jalan Gajah Mada dijadikan pusat wisata kopi ini. Memang di Pontianak sendiri, warung kopi paling banyak di Jalan Gajah Mada. Bahkan mirip dengan kawasan pecinan yang menjual beragam makanan. Hati-hati, banyak juga makanan yang tidak halal dijual di sini.

Uniknya lagi, meskipun kita membeli kopi pancong, kita tetap bisa menikmati fasilitas internet gratis. Cukup bawa notebook atau gadget yang ada wifinya langsung deh internetan. Harga kopi pancong berkisar antara Rp2.500-Rp3.000. Bergantung kebijakan dari warung tersebut. Bahkan ada beberapa warung kopi yang mematok harga kopi pancong Rp2.000. duduk berjam-jam di warung kopi dengan modal 2.000 perak dan internetan sepuasnya. Tertarik untuk ngopi di sini?

28 Oktober 2011

Abduction Vs Memamah Jantungmu



Beberapa minggu yang lalu sempat bingung mau menonton film apa. Kemudian jatuhlah pilihan pada film Abduction yang sebenarnya tidak banyak mendapatkan pujian. Sebuah kisah remaja yang kebingungan ketika usianya sudah belasan tahun ternyata dia bukanlah dirinya yang selama ini dia pikirkan dan rasakan.

 Abduction Poster     VS    
Diperankan oleh Jacob-nya Twilight Saga (Taylor Lautner). Pasti tahu dong. Di sini dia menjadi pemeran utamanya. Saat pertama menonton sih sepertinya sebuah kisah drama keluarga. Ternyata bukan. Ini adalah thriller. Dan saya sangat menyukai kisah sejenis ini. Jadi menurut saya ini akan menjadi tontonan yang menarik.

Menariknya lagi, film ini seperti jelmaan novel Memamah Jantungmu versi Hollywood. Meskipun terdapat perbedaan yang menyolok. Seperti benda yang jadi perebutan adalah sebuah ponsel berisi data penting sedangkan di novel Memamah Jantungmu yang diperebutkan adalah vaksin HIV. Tapi cara pelariannya lumayan mirip yah. Padahal novelnya ditulis sebelum film ini ada. Kemudian ada sedikit bumbu cintanya.

Saya suka kissing scenenya yang ritmenya lumayan lambat di menit pertama. Khas anak remaja SMA. Begitu juga dalam novel Memamah Jantungmu yang ada kissing scenenya. Sama-sama satu. Memang di film ini pemeran utamanya laki-laki sedangkan di novel Memamah Jantungmu sendiri pemeran utamanya adalah perempuan.

Saya suka endingnya meskipun ada beberapa hal yang tidak terungkap.

27 Oktober 2011

[kontes] Saya Kakak dan Ibunya



Lima bersaudara saya adalah anak kedua. Sebagai anak kedua tertua saya memikul tanggung jawab yang tidak kalah besar dibandingkan kakak saya. Sehingga ketika adik saya yang bungsu tidak ada yang menjaga di rumah, saya membawanya ke Pontianak untuk sekolah. Masih 5 tahun. Masuk PAUD tahun ini. Anak bungsu yang nakalnya tidak ketulungan.

Terkadang saya hanya bisa menarik napas melihat tingkahnya. Mulai dari memainkan printer yang bisa dijadikan mesin fotokopi hingga membuat mainan dari sabun ketika lagi mandi. Sabun mandi tiba-tiba menghilang kalau dia yang mandi.

 
Saya sama sekali tidak punya pengalaman menjadi seorang ibu sehingga saya harus belajar dari buku dan televisi untuk mendidiknya. Saya tidak ingin dia terus-menerus begitu.

Nah, ada program televisi yang beberapa tahun ini menjadi program favorit saya tiap weekend. Nanny 911 dan Super Nanny yang ditayangkan di MetroTV. Di sana saya melihat bagaimana orang tua belajar membiasakan anaknya untuk melakukan sesuatu yang baik dan berubah dari anak yang nakal menjadi anak yang kreatif.

Ternyata untuk mendidik seorang anak bukanlah proses yang instant tapi juga bukanlah hal yang sulit karena kuncinya hanya masalah pembiasaan. Memang capek sih, setiap hari harus mengingatkan adik saya ini. Misalnya mau makan harus berdoa. Dalam sehari minimal harus mengingatkan 3 kali, karena adik saya makan tiga kali sehari. Belum ditambah jika dia minum susu dan ngemil. Tiap hari harus diulang terus. Kadang saya lupa mengingatkan dia sudah makan dengan lahapnya. Pas ditanya: “Fahd udah doa?” Pasti jawabannya: “Belum”.

*Tepok jidat*

Belum lagi kesalahan yang dia lakukan. Menurut tayangan yang saya tonton ada cara menghukum yang bisa diterapkan ketika seorang anak melakukan kenakalan. Saya menerapkan hukuman berdiri di sudut kamar selama 15 menit. Setiap dia menangis dan melawan saya akan diam dan menggendongnya kembali ke sudut dan membiarkan dia menyadari hukuman untuknya. Setelah 15 menit yang berulang akhirnya dia sadar dia melakukan sebuah kesalahan.

Sekarang Fahd sedang dikasih program mendongeng. Setiap malam sebelum tidur dia akan didongengin atau mendengar cerita yang dia inginkan. Biasa dari buku tapi sekarang berkembang pada cerita keseharian saya di kantor. Dia suka bertanya saya melakukan apa saja di kantor. Kemudian akhirnya tertidur dengan harapan besok bisa melihat saya bersiap-siap kerja dan bisa tahu cerita baru malam nantinya.

Setelah menjadi ‘ibu’ untuk adik bungsu saya, saya sadar untuk mendidik seorang anak membutuhkan kesabaran dan pembiasaan. Kembali ke pepatah lama: “Alah bisa karena biasa”.


Postingan ini diikutsertakan pada acara giveaway yang diadakan Rumah Mauna.

26 Oktober 2011

[kontes] Ayam Kampus: Buku Pertama

[kontes] Ayam Kampus: Buku Pertama


Setiap orang punya mimpi. Sebesar atau sekecil apa pun sebuah mimpi itu akan menjadi sebuah harapan yang baru untuk seseorang melanjutkan kehidupannya. Tanpa impian, apa indahnya coba hidup ini? Saya sendiri punya impian yang selalu saya pupuk dan sirami setiap malam di dalam tidur saya. Saya memiliki impian menerbitkan sebuah buku. Buku hasil karya saya. Pastinya fiksi karena kesukaan saya pada cerita. Sebagai seorang perempuan berdarah campuran termasuk di dalamnya melayu saya termasuk orang yang suka bercerita.

Bercerita di dalam kebiasaan melayu selalu berbentuk tuturan. Seiring berjalannya waktu dan saya tahu orang yang menghasilkan tulisan adalah orang yang akan dikenang sepanjang masa meskipun dia tak ada lagi di dunia ini. Jadi sebagai pencerita saya mengubah kebiasaan lama tersebut dengan bercerita melalui tulisan. Karena tuturan bisa hilang tapi tidak tulisan. Contohnya blog yang kita miliki. Suatu hari nanti, saat kita menua, mungkin kita akan membagi passwordnya untuk anak cucu kita dan membiarkan mereka melanjutkan ‘napas’ blog ini.

Seorang anak yang berusia 8 tahun percaya dengan mimpinya dan 15 tahun kemudian mimpinya menjadi kenyataan. Sebuah buku yang bertahtakan namanya terpajang di kampusnya. Awalnya saya mengikuti lomba cerpen di tingkat universitas se-Kalimantan Barat. sudah sangat sering kecewa dan kalah. Tapi karena waktu itu lombanya tidak menyita waktu karena tinggal mengirimkan karya kita ke panitia lalu menunggu pengumuman. Begitu saja. Gampang kan? Masalah menang atau kalah belakangan. Pokoknya ikutan dulu.

Saya berhasil menulis dalam satu hari. Cerpen saya waktu itu berjudul: ‘Ayam Kampus’. Berhasil memenangkan hadiah ke-dua. Memang tidak berbentuk uang tapi saya tetap senang. Buku yang memuat karya saya tersebut dicetak dan disebarkan ke seluruh perpustakaan kampus di Indonesia. Bayangkan betapa senangnya saya saat itu. Penasaran dengan karya saya yang juga sekarang saya muat di buku ke-tiga saya Honeylizious JatuhCinta? Silakan baca cerpen di bawah ini.

AYAM KAMPUS
   Renungan Bapak Guru 

Buat apa pendidikan aku bertanya 

Mengajarmu kenal yang agung, jawab gunung 

Agar kau tahu kekekalan, kata langit 

Bisa menikmati keindahan, tambah matahari 

Supaya tahu keburukan, seru hutan 

Paham pada diri sendiri, siul burung 

Dan bikin kau dinamis, bisik angin  

Apa manfaatnya bagiku, aku bertanya 

Supaya pikiranmu jernih, ujar kolam 

Dan jiwamu berseri, bujuk teratai 

Aku tak paham juga kenapa mesti begitu 

Supaya kau mencintai hidup, bentak pohon 

Tahu kebebasan dan keterbatasan, nasihat bulan 

Tak puas pada semua penjelasan itu aku tidur 

Esok harinya aku bangun dan bertanya lagi 

Tapi mengapa engkau bangun? tanya jendela 

Untuk apa kau hidup? desak udara 

Mengapa kau termangu? hardik batu-batu 

Kau ingin mati ya? ejek bunga-bunga 

Bagaimana aku bisa menjawab mereka 

Bapak guru cuma bisa bertanya-tanya                                                             (1982) Eka Budianta
            06.45. Senin, 7 Mei 2018. Fakultas Pendidikan Guru, Universitas Tut Wuri Handayani. Papan pengumuman menjelma menjadi salju-salju yang membeku. Awalnya gelap pekat dengan segenggam untaian pengumuman yang mengusang. Sekarang dijejali jutaan kertas dengan motif  dan isi yang bermuatan sama. Bisikan dari kertas itu membuat kampus merah jambu itu geger. Pertama papan pengumuman yang geger. Berikutnya mahasiswa ikut-ikutan geger, bisa geger otak, bisa juga geger hati. Lalu dosen merasa wajah mereka digegeri banyak arang. Mengibaskan sayapnya yang lebar untuk melenyapkan noda hitam itu namun gagal total. Semuanya sudah memelototkan mata pada isi selebaran itu. Secarik kertas putih yang sebenarnya tak berdosa kini membuat ratusan dahi berkerut membacanya.
            Ide siapa ini? Gara-gara isi pengumuman yang membedaki papan hitam itu rona muka FPG merah padam. Di seluruh fakultas yang ada di Untuwuni ini FPG telah gagah menatap matahari dengan dada membusung. Sekarang matanya tertuju pada ubin-ubin yang mungkin ada salah pasang atau kurang rapi penyusunannya. Telapak kakinya sendiri rasanya sudah sangat memuakkan dengan seringaiannya. Kakinya tak sekokoh dulu. Hanya dari bisikan kertas yang dibawa angin menuju daun-daun telinga yang menganga, kerapuhan mulai menggerogotinya.
            Sebenarnya tak ada yang mengusik dari kertas putih yang melekat dengan beberapa cuil lem di dinding itu. Jumlahnya yang fantastislah yang menyedot perhatian. Terutama mahasiswa yang sedang sibuk mencari lembaran pengumuman berisi calon penerima beasiswa. Tiba-tiba mata mereka dicolok oleh kertas yang memiliki ratusan mungkin ribuan saudara kembar di tempat yang sama dan papan pengumuman  lainnya. Masih pagi untuk melewatkan sarapan hangat yang bisa mengenyangkan otak. Beberapa lama kemudian perut otak semua manusia di kampus itu berisi makanan yang sama.
            Selain mahluk hidup yang memiliki rutinitas di tempat yang sama kita tentu penasaran untuk ikut membacanya. Alhamdulillah ada yang menciptakan mesin waktu hingga selebaran pengumuman itu bisa dihadirkan dalam kisah ini. Tapi ini rahasia kita berdua saja. Jangan bilang siapa-siapa apalagi memperbanyak dan menyebarkannya. Hak ciptanya telah dipegang oleh seseorang pada tahun 2018. Apabila masih tidak bisa menerima takdir itu coba kembali ke baris pertama cerpen ini. Di bawah kutipan puisi telah dicantumkan waktu kejadian perkara. 7 Mei 2018.
            Dengar baik-baik ya? Isi pengumuman ini tidak akan diulang untuk kesekian kalinya karena tahu sendiri ‘kan kalau sekarang benda yang biasa kita sebut daun telinga semakin sensitif dengan isu. Macam-macam isu bisa lahir gara-gara kuping yang kurang teliti menyimak dan akhirnya masyarakat yang dirugikan karena informasi yang aspal tersebut. Asli didengar dari mulut teman ke telinga namun palsu isinya. Kembali ke persoalan semula. Simak baik-baik isi pengumumannya.
            Sayembara
Dicari AYAM KAMPUS yang biasa mangkal di halaman belakang kampus dengan cemilan popcorn. Hadiahnya bingkisan dan  uang pembinaan pendidikan sampai wisuda S3.
NB: 14 Mei 2018 batas akhir penyerahan ayam kampus di DPR (di bawah pohon rindang)
Alasan apa pun tidak akan mengubah kenyataan pencorengan mutlak di kampus merah jambu. Orang yang membuat sayembara ini juga menerapkan sistem coreng arang sembunyi tangan. Wajah kotor FPG harus didongakkan kembali dan payung pendidikan harus ditegakkan.
“Kita calon guru! Pangkal dari semua hal yang ada di dunia ini. Apa pun yang terjadi dengan negara ini kita ikut bertanggung jawab! Semua mahasiswa harus bekerja sama mendapatkan orang yang membuat sayembara tak bermoral ini!” pekik Ketua BEM FPG. Rayuan gombal yang terdengar kharismatik dan menyentuh kalbu. Ujung-ujungnya ia gentar akan kehilangan kursi yang ia duduki sekarang. Padahal kursi lain masih banyak yang kosong. Mungkin di kursi yang ia pantati sekarang lebih basah. Hanya dia yang tahu kenyataan pastinya. Kita hanya bisa mengira-ngira dengan perhitungan sendiri karena perhitungan di kalkulator menghasilkan nilai yang tidak terdefinisi. Kalaupun waktu itu kalkulator masih seperti kacang goreng yang dijual pas lagi musim layar tancap di kelurahan.
Dekan mengamankan semua kegiatan mahasiswa yang ikut terpancing emosinya. Laki-laki yang sudah mulai memutih kepalanya itu mengajak mereka untuk bekerja gotong-royong mencabuti paksa kertas itu. Perkuliahan dibatalkan untuk satu hari. Cukup melelahkan memang namun buah dari kerja keras selalu manis. Setelah semua kertas tak bernyawa itu mengerut dan menjadi abu karena perkawinan paksanya dengan api, dekan memerintahkan pegawai di bagian konsumsi menyediakan kue bolu dan minuman sirup markisa. Keletihan yang diderita terbayar. Wajah-wajah merona bahagia dan penuh canda tawa.
06.56. Selasa, 8 Mei 2018. Fakultas Pendidikan Guru, Universitas Tut Wuri Handayani. Roh-roh kertas itu ternyata masih menghela napas kehidupan. Mereka kembali berdesak-desakan di papan pengumuman. Dengan warna yang sedikit berbeda. Tak lagi berwarna putih tapi agak abu-abu. Mustahil tapi nyata. Abu sisa pembakaran hari sebelumnya menguap entah kemana. Lem yang membuat kelekatan antara papan dan kertas juga sedikit lebih kental dari biasanya. Apalah artinya secuil lem yang dibuat dengan kental kalau mereka masih bisa disentak dari tempatnya.
Beberapa mahasiswa yang masih mencari pengumuman beasiswa kecewa untuk kali kedua. Tak ada pengumuman lain yang ada di sana. Sayembara itu yang memenangkan tender untuk terus bermukim di papan. Dibayar berapa papan itu sehingga dengan lapang dada mau menerima bintang iklan seperti mereka? Sedikit jengah membaca sayembara dengan isi yang persis sama. Kertas ini mungkin benar-benar mereka.
Isu hantu berkeliaran meneror seisi kampus mulai tersebar dari  mulut ke telinga, dari telinga ke mulut lagi. Penyebarannya meningkat dengan pesat, melebihi kecepatan cahaya. Pikiran mahasiswa tak terfokus pada kuliah lagi tapi mereka mulai menimbang-nimbang sayembara itu. Habisnya pengumuman beasiswa masih belum jelas orang yang menjadi penerimanya. Bukan salah siapa-siapa kalau sayembara itu diam-diam ada peminatnya.
Di taman di halaman belakang kampus mulai ada yang menjaga. Beberapa mahasiswa yang kaya pun telah memasang kamera pengintai tersembunyi di pohon. Tak ada salahnya mencoba mendapatkan ikan yang lebih besar dengan umpan yang kecil. Tak ada kualifikasi khusus yang harus dipenuhi. Cukup menunggu hingga ada seseorang yang senang berada di halaman belakang dengan secangkir popcorn. Pengintai pertama, tak disangka, Renno, Ketua BEM. Sebelumnya mengecam sekarang malah mengincar hadiah yang disebutkan. Sulit dipahami memang tapi inilah hidup. Harus pandai-pandai karena sekarang hukum yang berlaku lebih ganas dari hukum di hutan rimba.
Dekan tak berkutik. Ajakannya bergotong-royong tak ada yang menggubris. Dosen-dosen yang masih berpredikat S1 dan S2 mulai ikut terjun ke medan laga. Memasang tameng yang terkuat sebagai pelindungnya. Angin sudah semakin kencang siulannya. Membuat gigilan di tulang-tulang. Kulit mengerut. Keberanian yang tersisa semakin menggumpal. Yang terobsesi tak peduli siang dan malam terus saling menggantikan posisi. Tak ingat makan dan minum yang lama tak mereka lakukan. Nafsu kehidupan mereka terkalahkan oleh ambisi. Batas hidup dan mati mereka lewati. Tak bisa dibedakan antara roh dan raga. Sama-sama pucat. Sama-sama tembus pandang. Bening seperti kaca yang baru dibersihkan sampai kinclong.
Mahasiswi yang suka menikmati pesona matahari sore dari taman itu tak tampak lagi batang hidungnya. Was-was karena firasatnya sebagai seorang perempuan menolak untuk berada di sana. Eksistensi mereka sebagai manusia mulai terancam. Beberapa yang tak kuat memilih mundur dari kampus tersebut. Beban mental yang dipikul terasa sangat menyesakkan bahu. Wanita yang berotot kawat dan bertulang baja yang mampu berdiri di antara topan dan hujan itu. Tegak dengan kedua kaki tanpa bantuan dari pihak lain. Tak peduli predikat yang akan mereka sandang adalah ayam kampung, eh ayam kampus. Toh yang terpenting mereka tidak mengantongi secangkir popcorn sebagai cemilan.
Rumah sakit berubah jadi loket lotre. Antrean panjang sekali. Mental yang tidak kuat mengusaikan perhelatan. Orang  yang merasa jasadnya luluh lantak mendaftarkan diri di buku yang kumal karena penuh upil suster yang biasanya hanya melongok di depan mejanya. Tempat itu sudah seperti pasar obral 99%. Banyak yang datang tapi tak banyak yang pergi. Hasilnya? Bisa ditebak, semua ruangan penuh. Yang tak kebagian ranjang terpaksa hanya duduk. Bahkan tak sedikit yang berdiri.
Ayam yang dicari masih tak ditemukan juga, padahal matahari 13 Mei hampir terbenam. Bagaimana ini? Tenaga sudah banyak terkuras. Mereka yang sabar menanti sudah seperti pekerja rodi yang tak mendapat upah. Menghabiskan semua harapan yang tersisa. Mungkin harapan kini tinggal angan-angan yang tak akan kesampaian. Harapkan burung di angkasa, burung di genggaman terbang melayang.
…Hampa terasa hidupku tanpa dirimu. Apakah di sana kau rindukan aku. Seperti diriku yang s’lalu merindukanmu…(Ari Lasso)
Perut lapar mulai mengiris lambung. Tenggorokan pun hampir tercerabut akarnya. Desakan kemanusiaan baru mencuat. Duri-duri penyiksaan menusuk dada. Ayam kampus yang ditunggu tak nampak-nampak pula. Ini kali pertama gagal setotal-totalnya. Pol-polan benar rasanya. Semua merasa sangat KUCIWA. Bingung mendengar perasaan yang mereka derita sekarang? Kuciwa itu masih saudara kembarnya kecewa tapi lebih menyiksa, lebih perih berdarah sampai bernanah. Apa pun bentuk katanya, inti dari segala inti mereka itu sudah seperti seonggok daging busuk yang lalat pun tak ingin memamahnya. Tak mandi, tak makan, tak minum, tak tidur dan begitu banyak tak-tak lainnya yang mereka lakukan. Pikirkan sendiri saja, jangan berdua karena pendapat orang berbeda-beda. Hidup itu relatif jadi bergantung pada orang menafsirkannya.
Orang-orang yang kuciwa itu akhirnya menarik diri dari medan pertempuran. Menyerah berarti kalah. Tapi kalah bukan berarti gagal. Sayembara lainnya masih banyak. Siapa tahu akan mereka dapatkan piala kemenangannya. Sayap langit menghitam dan membeku. Meremukkan keberanian yang tersisa. Taman itu sepi, sunyi. Kejalangan membuatnya makin menyeramkan.
Esok hari akan dihadapi dengan sebuah arti baru dalam kehidupan. Tapi…tunggu sebentar sepertinya ada yang datang. Rembulan yang takut-takut menatap bumi menyinari langkah kecil yang memasuki taman itu. Perempiwi (kata Tora Sudiro). Cantik kayaknya (kata Indra Birowo). Peri ataukah malaikat yang tersesat karena sayap-sayap cintanya patah pada saat ia mendarat di bumi. Amati lagi lebih teliti…tak ada yang istimewa darinya selain rupa yang rupawan mengalahkan dewi bulan yang bercengkrama dengan suaminya dewa matahari saat gerhana. Lihat…ia membawa secangkir popcorn. Perempuan cantik di taman dengan secangkir popcorn. Kita menemukan orang yang kita cari. Ini rahasia antara kita berdua. Kita tangkap dia dan kita tukar dengan hadiah yang dijanjikan.
Kampus kita bebas dari virus ayamnya dan kita bisa mendapatkan predikat S3. Kenyataan yang belum pernah diimpikan bukan. Ayo siapkan jaring laba-labanya. Jaring buatan pabrik kualitasnya buruk. Kita pilih yang alami saja. Hidup kita kembali ke alam. Istilahnya hentikan pemanasan global. Pakai bahasa Indonesia saja. Lebih afdal. Tunggu apalagi?
Hap!!! Sebuah tangan langsung memeluk sang perempuan. Cahaya temaram mengatakan ia tak lain dan tak bukan Renno, sang Ketua BEM. Tepuk tangan meriah untuk sang juara. Plok! Plok! Plok! Walaupun kita tak punya kesempatan setidaknya ada seseorang yang berhasil menangkapnya
“Kamu tertangkap!”
“Lepas!”
“Sudah diam saja dalam pelukanku.”
“Tolong!”
“Diam!!”
“TOLL….LONG!!!”
Teriakan itu semakin nyaring pada menit-menit awalnya. Menit-menit terakhir melemah karena tak ada satu orang pun yang tersisa untuk membantunya. Renno bahkan mengikat kaki dan tangannya. Kemudian membiarkannya duduk di bangku di taman. Menyulut sebatang rokok. Menyedotnya penuh kenikmatan. Senyuman kemenangan membayangi wajah penuh lubang bekas jerawat itu. Kemudian senyum itu menjadi seringai dan mengeluarkan bahak yang nyaring. Puas sepuas-puasnya. Hadiah itu tinggal ia siapkan kantongnya.
Mentari pagi mulai menampakkan cahayanya yang kuning keemasan. Menebar kasih lewat kehangatan mengganti dinginnya embun. Renno menatap perempuan di samping kirinya yang masih terlelap dalam mimpi. Renno tak merasakan kantuk sama sekali walaupun matanya berjaga sepanjang malam hingga pagi. Ia bangkit dari duduknya. Meregangkan tulang-tulangnya yang diselusupi angin malam. Menatap perempuan itu untuk kesekian kalinya yang tetap terlelap. Tangannya membelai lembut pipi pualam milik sang perempuan. Mencoba membangunkan tanpa mengejutkannya. Terlalu cantik untuk terkejut. Takutnya wajah itu berubah menjadi menyeramkan. Biarlah ia tetap semenarik ini.
Pantas saja sayembara ini diadakan. Hadiah itu tak seberharga perempuan dengan wajah penuh cahaya mutiara ini. Mempesona tanpa menyilaukan mata. Lembut menggoda. Sayang sekali untuk diberikan pada penyayembara. Tapi seindah apa pun bentuk dan potongannya, dia ayam kampus. Mungkin desakan perut dan mata yang silau dengan perhiasan membuatnya menjerumuskan dirinya dalam lumpur ayam. Makanya ia disebut ayam kampus. Entah datang dari mana istilah yang sangat tidak ada sangkut pautnya itu. Hewan yang biasa bermain di kampus merah jambu paling-paling kucing. Itupun kucing yang kurus dan kelaparan.
“Hentikan!”
“Kamu cantik.”
“Tidak ada yang boleh menyentuhku tanpa izin!”
“Berapa ongkosnya agar aku dapat surat izin untuk menyentuhmu?”
Cuih!!!
Segumpal lendir berwarna putih campuran dari saliva sisa semalam menerpa wajah Renno. Lendir itu mendarat tepat di pipi kirinya. Ia menghapusnya sambil tersenyum. Ia tak peduli dengan hal apa pun yang terjadi di antara mereka karena sebentar lagi ia akan mendapatkan buah dari kerja kerasnya. Kerja keras selalu berbuah manis. Ia kemudian menguraikan tali yang menyita kebebasan kaki sang perempuan. Lalu menarik tangannya dengan hentakkan yang cukup keras.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di bawah pohon rindang yang ada di halaman samping kampus. Menanti perubahan yang terjadi saat mahasiswa yang lain mulai berdatangan. Masih cukup pagi. Hanya rasa penasaran yang membuat mereka datang. Banyak  yang mengira sayembara itu tak akan ada pemenangnya. Ternyata mereka salah besar. Sekarang di sana ada seorang laki-laki yang sangat mereka kenal dan seorang perempuan yang sangat cantik. Semakin lama semakin ramai yang mendatangi tempat itu. Tak ketinggalan dekan yang semula masih dirawat di rumah sakit kini memaksakan diri untuk datang.
Hampir semua penonton yang ada di sana berdecak kagum menyaksikan kerupawanan sang ayam kampus. Baru kali ini mereka menemukan ada yang memiliki wajah seindah itu di kampus. Selama ini ia berada dimana? Entahlah...mungkin memang mereka kurang memperhatikan satu sama lain sehingga kurang mengenali antar mahasiswa.
Tiba-tiba seorang laki-laki yang tak lain tak bukan Pak Akri, tukang kebun yang biasa mangkal di rektorat, datang dengan pakaian necis. Baru kali ini mahasiswa melihat pemandangan yang aneh bin ajaib itu. Dari mana Pak Akri mendapatkan pakaian sebagus itu? Menyolong di kampus?
“Terima kasih semuanya yang sudah berbaik hati meluangkan waktu untuk menghadiri penyerahan ayam kampus yang saya cari-cari selama ini. Sedikit menyusahkan memang. Maklum saya sudah tua. Namun saya sangat mencintainya.”
“Pak Rektor jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan kami.” dekan angkat bicara
“Pak Rektor??”
Puluhan mungkin ratusan mulut milik mereka menganga. Menggua. Laki-laki yang  biasanya menata pot bunga di rektorat dengan pakaian kumalnya itu seorang rektor? Bagaimana bisa?
“Mana ayam kampusnya?”
Suaranya jernih dan lembut. Tak pernah menggema sebelumnya, sekarang menjadi pusat perhatian yang utama.
Renno menyeret perempuan yang sejak semalam menjadi tawanannya. Menghadapkannya di depan hidung duli rektorku sambil membungkukkan badannya sedikit. Sebuah penghormatan pada sang pejabat. Sebelumnya ketika ia masih berpredikat tukang kebun rektorat dalam pandangan semua mahasiswa tak pernah ia mendapat penghormatan setinggi itu. Mungkin memang manusia selalu memandang jabatan dulu baru menghormatinya. Membungkukkan badan sampai hidung pun hampir menggosok lantai. Bisa berkilau ubin yang penuh tanah itu.
“Ini ayamnya?”
“Hanya dia satu-satunya orang yang ada di taman sambil makan popcorn.”
“Kamu semester berapa?”
“Banyak, Pak.”
Wajahnya menomat menjawab pertanyaan dari orang tertinggi di Untuwuni. Awalnya ia bahkan tak memandang laki-laki itu sebelah mata pun. Rasanya tak ada artinya untuk membagi seulas senyum pada tukang kebun serenta itu. Sekarang ia merasa sebuah tinjuan menohok jantungnya. Ia tak berani menatap mata elang milik Pak Akri. Tajam menusuk ke hati.
“Mahasiswa semester banyak seperti kamu tidak bisa membedakan antara ayam dan manusia? Pakai otak yang ada di kepala bukan di kepalan tanganmu!”
“Tapi ayam kampus kan...”
“Saya mengagumi kecerdasan berpikirmu yang bisa mencapai taraf tertinggi. Memaknai ayam kampus sebagai dia. Tapi saya tidak mencari ayam kampus seperti ini, yang saya cari seekor ayam yang bisa bertelur yang biasanya berjemur di taman belakang. Dia senang makan popcorn. Apa itu sebuah kesalahan karena ia menikmati makanan manusia? Sampai-sampai yang melumut dalam sarafmu adalah seorang manusia? Mahluk paling sempurna ciptaan Tuhan?”
“Maaf, saya...”
“Lepaskan dia!”
“Iya, Pak.”
Renno membuka tali yang masih membelit tangan sang perempuan. Ia semakin kehilangan mukanya sebagai seorang laki-laki. Sudah jatuh tertimpa tangga, tertumpah cat, sekarang malah dikejar anjing. Hendak kemana ia berlari membawa duka dan nestapa ini? Keletihannya tak mendapat harga, ia malah mendapat malu yang semalu-malunya. Ingin menyelam dalam tanah takut mati karena kehabisan oksigen. Mau terjun dari jembatan tol ke sungai, sayangnya, ia tak mampu berenang.
“Kamu sudah mencemarkan nama baik saya, tapi sebelumnya saya ingin minta maaf sama semuanya. Sebenarnya ayam yang dicari dalam sayembara itu sudah mati. Saya memang senang berbagi popcorn dengannya, awalnya saya hanya ingin mencari kelebihan pada ayam tersebut karena Ayah terlalu perhatian dengannya. Saya kurang mendapat perhatian dari Ayah,” sang perempuan angkat suara.
Bulir-bulir bening menggantung di kedua belah pipinya. Wajah jelita itu tertunduk. Tangisan itu mencoba bersembunyi. Semua penonton kini ikut terkejut saat menyadari perempuan itu anak tunggal Pak Akri.
“Namun saya kalap saat sadar ayam itu hanya ayam biasa. Tak ada yang istimewa darinya. Saya kuciwa karena dikalahkan oleh seekor ayam seperti dia. Saya mencekokinya dengan batu hingga mati. Saya tidak merencanakan pembunuhan ini. Terjadi begitu saja Ayah.”
Laki-laki itu langsung maju dan memeluk anaknya. Kebiasaan yang sering dilakukan teletubbies. Berpelukan...
“Ayah bukannya tak memperhatikanmu. Tapi ayah tak sanggup melihatmu yang semakin lama semakin mirip dengan mendiang ibumu. Ayah ingin membuang rasa sakit kehilangan itu dulu, baru kita hidup seperti biasa.”
“Maafkan saya, Ayah.”
“Yang penting ayamnya sudah dikuburkan baik-baik.”
“Sudah ayah.”
“Ayah sayang sama kamu.”
“Saya juga sayang sama ayah.”
 
 *** Selesai ***

Setelah buku saya terpajang di kampus-kampus universitas saya tiba-tiba banyak yang mengenali saya di kampus. Pada tanya-tanya kenapa endingnya begitu. bahkan ada yang kaget karena saya penulisnya. Wajah saya sepertinya tidak menunjukkan bahwa saya suka menulis cerpen ya? Entahlah. Saya yang jelas senang sekali karena karya saya mendapat tempat di dalam kehidupan mereka.

Pertama kali semua perhatian di kampus tertuju pada saya.

Pertama kali punya buku sendiri rasanya tuh seperti diajak keliling dunia gratis kali ya atau lebih dari itu. Ketika menggenggam buku kumpulan cerpen ‘Ayam Kampus’ saya kemudian merasa saya sedang menggenggam mimpi saya yang menjadi nyata. Untuk beberapa detik dunia ini rasanya milik saya seorang.

Photobucket
Postingan ini diikutsertakan dalam