20 September 2011

Nekad [Bagian I]


Melbourne.

“Are you crazy?”

Bryan melempar paket buku yang baru saja aku terima. Sebenarnya bukan crazy. Aku pikir ini lebih pada sebuah pilihan.

Gambar dari sini.
“Aku sudah pernah ke Jogja.”

“Masalahnya bukan itu.”

Bahasa Indonesia Bryan masih saja terdengar lucu di telingaku. Darah asli Indonesia tapi sama sekali tidak pernah ke Indonesia. Aku beruntung masih mengenal tanah kelahiranku.

“Lantas apa masalahnya?”

Ucapan Bryan tak menghalangiku untuk mengemasi semua pakaianku.

Stop Liz!”

I have to go Bryan.”

No you don’t!”

Aku terduduk lemas di pinggir ranjang. Cermin yang menghadap ke arahku memantulkan bayangan punggung Bryan. Punggung yang selama ini selalu tersedia untuk semua tangisku. Tidak pernah sekalipun aku melihat dia sedemikian marahnya. Aku hanya ingin datang ke Jogja dan meminta jawaban atas pernyataan cintaku.

Give me his number!”

“Kamu tahu masalahnya apa Bryan?”

What?”

“Masalahnya kamu terlalu banyak berpikiran negatif. Indonesia bukan negara teroris.”

What if something bad happen to you?”

“Aku bukan anak kecil yang berusia 2 tahun yang dulu kamu kenal Bryan. Aku sudah 25 tahun. Jika kamu menghitung usiaku.”

Of course I do. Hitung sendiri hadiah ulang tahunmu ada berapa dariku.”

“Dua puluh dua?”

“Dua puluh tiga Liz. I am good in math.”

“Kamu tahu aku hanya bercanda.”

Bryan memilih duduk di sisi kiriku dan menggenggam tanganku. Aku menatap bola matanya yang dihitam dan dinaungi oleh sepasang alis yang tebal. Mata yang teduh dan membuatku tenang.

“Berjanjilah kamu akan kembali. Promise me.”

Are you crazy? Tentu saja aku akan kembali. Hidupku ada di sini dan aku tidak akan menemukan Bryan seperti kamu di negara mana pun.”

“Aku masih berharap kamu tidak pergi ke sana.”

“Pernahkah kamu jatuh cinta dan cinta itu memanggilmu?”

“Cinta tidak gila seperti ini Liz.”

“Bukan cinta yang gila Bryan. Tapi aku yang gila.”

Bryan tidak melanjutkan ucapannya. Dia tahu, aku tidak akan mengurungkan niatku untuk mendatangi seseorang di sana yang telah membuatku jatuh cinta. Aku tertawan oleh tulisannya. Semua bukunya terpajang di kamarku, memenuhi rak bukuku. Semakin lama cinta itu semakin kuat. kemudian cinta itu memanggilku ketika aku memberanikan mengirimi laki-laki itu e-mail untuk membeli bukunya secara langsung. Dia menyanggupi mengirimkan bukunya dengan syarat aku harus mengirimkan hasil tulisanku juga. Pastinya yang amburadul dari sekian banyak tulisan teramburadulku.

Aku hanya ingin tahu apakah cintaku tidak bertepuk sebelah tangan dan cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan mendatanginya secara langsung. Di Jogja.

Bersambung….

Related Posts

Nekad [Bagian I]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).