23 September 2011

Nekad [Bagian 7]

“Terima kasih buat semuanya, aku pasti akan membalasnya.”

Pinjem dari sini.


Kalimat itu terus terngiang di telingaku. Hanya itu kalimat yang aku berikan untuk Adam. Setelah sekian banyak hal yang dia lakukan untukku aku hanya bisa mengatakan itu. Aku tidak sanggup terlalu lama berada di sisinya. Semuanya berawal dari kesalahan. Pernikahan itu juga salah. Adam pasti tidak serius waktu membacakan ijab untukku.


“Liz, I am glad you’re back.”

Bryan langsung memelukku erat. Aku tak berminat membagi ceritaku selama di sana. Bryan hanya akan memarahiku.

“Bagaimana? Tell me your love story Juliet.”

“Tidak ada apa-apa Bryan. Aku tidak menemukannya.”

“Jadi alamatnya palsu?”

I don’t want to talk about this anymore.”

Okay.”

Bryan duduk di lantai. Membuka tasku dan mengeluarkan isinya. Ia meletakkan semua pakaianku di bak cucian. Dia tahu aku pasti tidak mencuci pakaianku sama sekali selama di Indonesia.

“Liz, we have to talk.”

Ayahku tiba-tiba saja muncul di depan kamarku.

***

No, it’s impossible Dad. We just best friend. Nothing more!”
Ayah menatap wajahku dalam-dalam. Ruang tamu yang tadinya dingin sejenak terasa panas karena suaraku.

“Ayah tidak mau kamu menikah dengan orang yang tidak dikenal atau sembarangan. Ayah ingin kamu menikah dengan orang berdarah Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Bryan. Usia kalian sudah matang. Bryan juga sudah punya pekerjaan yang layak untuk menghidupimu. Dia laki-laki terbaik yang pernah ada dalam hidupmu Liz.”

“Bagaimana mungkin Yah? Kami hanya teman!”

“Bukankah lebih mudah begitu? berteman baik, kemudian menikah, dan hidup bersama hingga menua?”

Aku menggigit bibirku. Seandainya saja Rama juga mencintaiku. Aku bisa membawa seorang  yang berdarah Indonesia ke hadapan ayah.

“Orang tua Bryan juga sudah setuju. Ayah berikan kamu waktu seminggu untuk memikirkannya ulang.”

Shit!

Seminggu bukanlah waktu yang lama. Lagi pula aku tidak butuh waktu lagi untuk memikirkannya. Aku sudah tahu keputusannya adalah TIDAK!

Aku tak mau lagi membahasnya. Aku meninggalkan ayah sendirian. Aku harus kembali ke kamar. Hanya Bryan yang bisa membantuku.

“Ayahmu sudah bilang?”

“Yeah…”

Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang.

“Aku sudah beli cincin pernikahan kita, aku rasa kamu pasti ingin mencobanya. Aku yakin ukurannya sesuai.”

“Menikah?”

Gambar dipinjam di sini.


Your Dad didn’t tell you?”

“Tentu saja dia sudah bilang, aku capek. I need a rest, can you just go home?” 


Bersambung


Related Posts

Nekad [Bagian 7]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).