21 September 2011

Nekad [Bagian 2]



Yogyakarta. Stasiun Tugu.

Aku menghirup udara malam dengan perlahan. Menghembuskannya beberapa saat setelah aku meninggalkan kereta api yang mengantarku sampai di sini. Hari ketiga kedatanganku ke Indonesia Aku akhirnya memberanikan diri untuk menginjak Jogja. Jakarta dan Malang telah aku singgahi. Aku menginginkan jawaban pasti darinya. Ingin tahu namanya?

Gambar dari sini.

Rama. Namanya Rama.


Seseorang yang tidak pernah kubayangkan bagaimana wujud sebenarnya. Setiap kali aku meminta dia mengirimkan fotonya, selalu tidak pernah ditanggapi. Bahkan pernyataan cintaku pun seperti sebuah angin lalu baginya. Selain dia adalah bagian terindah yang ada di dalam kepalaku dia juga bagian yang teramat menyebalkan.

Gambar dari sini.

E-mail terakhir darinya hanya memintaku membayar novelnya dengan tulisan amburadulku. Sekarang dia sama sekali tidak membalas e-mailku. Aku hanya punya alamatnya. Alamat yang aku dapatkan ketika dia memintaku mengirimkan tulisanku dalam bentuk print out. Aku yakin ini alamat rumahnya. Jogja tidak begitu besar. Aku yakin bisa mendapatkan alamatnya dengan bantuan tukang becak di sekitar sini.

Gambar dari sini.

“Mbak becaknya.”

Beberapa lelaki menatapku. Aku membaca nama jalan yang tertulis di papan ‘Pasar Kembang’. Nama yang masih terasa asing bagiku. Ini pertama kalinya aku mendatangi Kota Gudek dengan kereta api. Mata mereka terlihat merah. Aku menatap arlojiku. Hampir pukul 12 malam. Aku harus segera menemukan penginapan terdekat. Seseorang dari kerumunan tukang becak itu mendesak ke arahku dan menarik tas yang aku pegang dengan tangan kanan.

“Ikut becak saya yuk, gratis.”

“Maaf, saya jalan kaki saja.”

Beberapa lelaki lainnya terlihat bergerak. Aku melihat gelagat yang kurang baik. Aku merampas tasku dengan satu kali hentakan dan mulai berlari meninggalkan tempat itu. Mereka tidak lagi mengejarku ketika aku masuk ke Jalan Malioboro. Lagi pula di sana mulai ramai. Aku terengah-engah di pinggir jalan. Kurapatkan jaketku. Sebuah sepeda motor mendekatiku.

Gambar dari sini.

“Hati-hati banyak preman di Sarkem.”

Pengendaranya memperingatkanku. Aku rasanya hampir tak mencerna apa yang dia ucapkan.

“Ojek, Mas?”

Wajahnya menunjukkan senyuman. Terlihat tidak begitu menakutkan.

“Mau diantar?”

Gambar dari sini.

“Penginapan terdekat.”

Bersambung…


Related Posts

Nekad [Bagian 2]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).