Langsung ke konten utama

Nekad [Bagian 13]



Adam menatapku dengan salah tingkah. Aku duduk di sofa dengan wajah ditekuk. Seandainya tidak ada ibunya mungkin aku sudah meledak.

“Sekarang jelaskan padaku, siapa kamu sebenarnya. Jangan bilang kamu adalah Rama.”

Gambar dari sini.

“Bukan, aku bukan Rama. Aku Adam.”

“Lantas di mana dia?”

Adam menatap perempuan yang sepertinya seusia ayahku.

“Dia sudah meninggal 8 tahun yang lalu.” Jelas Adam.

“Apa?”

Aku hampir terlonjak mendengarnya. Aku mencintai seseorang yang sudah meninggal dunia?

***

Adam berdiri di sisi kanan batu nisan yang bertuliskan nama Rama. Aku menaburkan bunga yang kami beli tak jauh dari komplek pemakaman umum ini. Aku mengenal tulisannya. Jatuh cinta dengan buta dan tidak pernah tahu sebenarnya dia sudah tidak ada di dunia ini lagi.

“Dia sangat suka menulis, dia menulis tentang apa saja yang dia suka. Semua tulisannya tersimpan rapi di buku. Kami menemukannya beberapa tahun yang lalu ketika membereskan kamarnya. Aku menawarkannya ke beberapa penerbit. Aku tidak menyangka bukunya akan best seller. Kami berusaha merahasiakan ketidakberadaannya agar semua bukunya bisa diterbitkan. Masih ada beberapa buku lagi sebelum kami mengumumkan bahwa dia sudah tidak ada di dunia ini lagi. Untuk saat ini semua orang menganggapku Rama. Bagi ibuku aku Adam dan Rama dalam satu tubuh. Tapi sejatinya aku bukan Rama.”

“Itu sebabnya aku tidak pernah menemukan foto Rama di media cetak apa pun?”

“Iya, foto terakhirnya ketika dia berusia 19 tahun.”

“Terima kasih sudah membawaku ke sini, setidaknya aku tahu kenapa dia begitu sulit ditemukan.”

Air mataku jatuh lagi tanpa henti. Adam merengkuhku ke dadanya. Aku memeluknya erat. Menumpahkan semua pedihku. Tiba-tiba aku teringat dengan Bryan.

“Maaf untuk semua e-mail bodohku yang aku tulis buat Rama. Kamu pasti telah membacanya.”
“Sebenarnya aku mengirim sebuah e-mail yang sampai sekarang tidak pernah kamu balas.”

“E-mail apa?”

“Aku telah menjelaskan semuanya di sana. Bahkan aku telah mengirim foto Rama yang sebenarnya. Aku sejujurnya telah jatuh cinta pada semua tulisan di blogmu.”

“Aku tidak pernah menerimanya. Mungkin Bryan telah menghapusnya.”

“Bryan?”

Aku duduk di kursi yang terletak di depan pagar pemakaman di samping Adam. Genggaman tangan kami sama sekali belum terlepas. Aku merasa nyaman di dekatnya.

“Aku punya seorang sahabat masa kecil yang telah mengacaukan semuanya. Dia mengubah alamat e-mail Rama di kontakku.”

“Itu alamat e-mailku, Rama tidak punya e-mail.”
“Baiklah, alamat e-mailmu. Dia tidak ingin aku menyatakan isi hatiku pada Rama. Dia juga mungkin telah menghapus e-mailmu yang masuk ke e-mailku. Entahlah…”

“Itu sebabnya kamu tidak pernah membalas e-mailku? Bukan karena kamu sedang sibuk mempersiapkan pernikahan dengan orang yang kamu cintai?”

“Aku mencintai Rama. Tapi sekarang aku tidak tahu aku harus mencintai siapa.”

“Aku tidak akan memaksamu lagi, jika kamu memutuskan untuk kembali ke Melbourne aku akan terima.”

“Sepertinya aku memang harus kembali, orang tuaku pasti khawatir.”

“Maafkan sikapku kemarin. Aku tidak tahu sama sekali kebenarannya. Aku tidak pernah menyangka kamu adalah blogger yang aku kenal selama ini. Seseorang yang membuatku jatuh cinta hingga hari ini. Bahkan kamu telah membuatku jatuh cinta dua kali.”

Liz Parker interpretata da Shiri Appleby nell'episodio 'Fratello di sangue' di Roswell
Gambar dari sini.

Aku mengulum senyum.

Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan