29 September 2011

Nekad [Bagian 13]



Adam menatapku dengan salah tingkah. Aku duduk di sofa dengan wajah ditekuk. Seandainya tidak ada ibunya mungkin aku sudah meledak.

“Sekarang jelaskan padaku, siapa kamu sebenarnya. Jangan bilang kamu adalah Rama.”

Gambar dari sini.

“Bukan, aku bukan Rama. Aku Adam.”

“Lantas di mana dia?”

Adam menatap perempuan yang sepertinya seusia ayahku.

“Dia sudah meninggal 8 tahun yang lalu.” Jelas Adam.

“Apa?”

Aku hampir terlonjak mendengarnya. Aku mencintai seseorang yang sudah meninggal dunia?

***

Adam berdiri di sisi kanan batu nisan yang bertuliskan nama Rama. Aku menaburkan bunga yang kami beli tak jauh dari komplek pemakaman umum ini. Aku mengenal tulisannya. Jatuh cinta dengan buta dan tidak pernah tahu sebenarnya dia sudah tidak ada di dunia ini lagi.

“Dia sangat suka menulis, dia menulis tentang apa saja yang dia suka. Semua tulisannya tersimpan rapi di buku. Kami menemukannya beberapa tahun yang lalu ketika membereskan kamarnya. Aku menawarkannya ke beberapa penerbit. Aku tidak menyangka bukunya akan best seller. Kami berusaha merahasiakan ketidakberadaannya agar semua bukunya bisa diterbitkan. Masih ada beberapa buku lagi sebelum kami mengumumkan bahwa dia sudah tidak ada di dunia ini lagi. Untuk saat ini semua orang menganggapku Rama. Bagi ibuku aku Adam dan Rama dalam satu tubuh. Tapi sejatinya aku bukan Rama.”

“Itu sebabnya aku tidak pernah menemukan foto Rama di media cetak apa pun?”

“Iya, foto terakhirnya ketika dia berusia 19 tahun.”

“Terima kasih sudah membawaku ke sini, setidaknya aku tahu kenapa dia begitu sulit ditemukan.”

Air mataku jatuh lagi tanpa henti. Adam merengkuhku ke dadanya. Aku memeluknya erat. Menumpahkan semua pedihku. Tiba-tiba aku teringat dengan Bryan.

“Maaf untuk semua e-mail bodohku yang aku tulis buat Rama. Kamu pasti telah membacanya.”
“Sebenarnya aku mengirim sebuah e-mail yang sampai sekarang tidak pernah kamu balas.”

“E-mail apa?”

“Aku telah menjelaskan semuanya di sana. Bahkan aku telah mengirim foto Rama yang sebenarnya. Aku sejujurnya telah jatuh cinta pada semua tulisan di blogmu.”

“Aku tidak pernah menerimanya. Mungkin Bryan telah menghapusnya.”

“Bryan?”

Aku duduk di kursi yang terletak di depan pagar pemakaman di samping Adam. Genggaman tangan kami sama sekali belum terlepas. Aku merasa nyaman di dekatnya.

“Aku punya seorang sahabat masa kecil yang telah mengacaukan semuanya. Dia mengubah alamat e-mail Rama di kontakku.”

“Itu alamat e-mailku, Rama tidak punya e-mail.”
“Baiklah, alamat e-mailmu. Dia tidak ingin aku menyatakan isi hatiku pada Rama. Dia juga mungkin telah menghapus e-mailmu yang masuk ke e-mailku. Entahlah…”

“Itu sebabnya kamu tidak pernah membalas e-mailku? Bukan karena kamu sedang sibuk mempersiapkan pernikahan dengan orang yang kamu cintai?”

“Aku mencintai Rama. Tapi sekarang aku tidak tahu aku harus mencintai siapa.”

“Aku tidak akan memaksamu lagi, jika kamu memutuskan untuk kembali ke Melbourne aku akan terima.”

“Sepertinya aku memang harus kembali, orang tuaku pasti khawatir.”

“Maafkan sikapku kemarin. Aku tidak tahu sama sekali kebenarannya. Aku tidak pernah menyangka kamu adalah blogger yang aku kenal selama ini. Seseorang yang membuatku jatuh cinta hingga hari ini. Bahkan kamu telah membuatku jatuh cinta dua kali.”

Liz Parker interpretata da Shiri Appleby nell'episodio 'Fratello di sangue' di Roswell
Gambar dari sini.

Aku mengulum senyum.

Bersambung...

Related Posts

Nekad [Bagian 13]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).