27 September 2011

Nekad [Bagian 11]



Aku meletakkan selembaran uang lima puluh ribuan dan meraih kunci kamar. Laki-laki yang menjaga penginapan itu menatapku. Ia tahu aku ingin menanyakan sesuatu. Aku mengeluarkan selembar foto dari saku jaketku.

“Aku mencari laki-laki ini.”

Aku hanya punya foto itu untuk menemukannya. Foto pertama dan terakhir yang sempat kami ambil bersama.

“Adam?”

“Kamu kenal dia?”

“Dia sering ke sini, dia juga sering ke Malioboro.”

“Bisa saya minta alamatnya atau nomor ponselnya?”

“Saya tidak tahu alamatnya apalagi nomor ponselnya. Tapi dia selalu ada di Malioboro jika sudah tengah malam.”
***

Aku berbaring di ranjang. Menelentang. Menerawang langit-langit kamar yang baru saja kusewa. Masih beberapa jam menuju waktu tengah malam. Aku harus berani buat meminta Adam menalakku. Pernikahan ini tidak perlu ada. Toh dia tidak mengenalku sama sekali begitu juga denganku. Pernikahan ini tidak akan memberikan makna apa-apa dalam kehidupan kami. Dia pasti tidak masalah apabila menceraikanku. Harusnya sebelum pulang kemarin aku memintanya untuk melakukan itu. Sehingga aku tidak perlu mencarinya lagi.

Pukul 11.36 malam. Semoga Adam sudah berada di Malioboro. Aku segera naik becak yang disediakan penginapan untuk disewa. Aku pikir sekarang aku lebih aman. Aku tidak perlu takut lagi dengan orang yang berpapasan denganku. Apalagi aku tidak berniat ke Sarkem.

“Adam?”

Aku menghampiri seorang laki-laki yang baru saja akan menstarter sepeda motornya. Aku kenal sekali dengan sosoknya.

“Liz. Kapan kamu sampai?”

Adam langsung memelukku.
***
Aku terdiam di pinggir ranjang. Tangan Adam menggenggam jemariku erat dan hangat.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana, ini sedikit gila, tapi aku pikir aku mencintaimu.”

“Bagaimana mungkin?”

“Aku rasa aku harus menemui orang tuamu. Kita harus mulai dari awal.”

“Adam, aku datang bukan untuk membicarakan ini.”

“Lalu apa?”

“Pernikahan kita adalah kesalahan. Harusnya kita tidak menikah. Bukan begini harusnya.”

Gambar dari sini.

“Aku akan perbaiki, kita bisa menikah ulang. Sejak kamu pergi aku sudah yakin ingin menikahimu
dengan selayaknya. Seperti pernikahan orang lain. Lamaran. Ijab kabul. Resepsi.”

“Aku mencintai orang lain, aku ingin menikah dengannya. Kita harus bercerai.”

“Tidak bisa! Aku bukanlah seseorang yang menyepelakan pernikahan. Pernikahan bukan mainan Liz.”

“Pernikahan kita kesalahan. Sekarang kita perbaiki.”

“Apa kamu percaya Tuhan?”

“Maksudmu apa?”

“Ketika Tuhan memberikan jalan pernikahan untuk kita berdua bagaimanapun caranya, itu tetaplah sebuah pernikahan Liz.”

“Aku tahu itu pernikahan, tapi tidak memberikan manfaat apa-apa untuk kita.”

“Aku ingin kamu belajar mencintaiku Liz.”

“Tap…”

Gambar dari sini.

Adam menutup mulutku dengan bibirnya. Aku tak sempat menghindar.

Bersambung…


Related Posts

Nekad [Bagian 11]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).