16 September 2011

[kontes] First Love ~ Closest


Close enough to see it's true 
Close enough to trust in you 
Closer now than any words can say 


Aku menunggu di bandara dengan perasaan campur aduk. Tak tahu harus bagaimana. Apa yang harus aku katakan terlebih dahulu untuk menyambutmu. Aku pikir lelaki butuh kalimat yang istimewa untuk menyenangkan kekasih hatinya. Tapi bibir ini kelu ketika membayangkan menatap dua bola matamu secara langsung.


1 jam
2 jam
3 jam
4 jam



Hingga larut malam aku menunggu dan Cia tidak pernah datang. Aku beringsut pulang dengan kecewa. Kenapa aku sedemikian percayanya dengan internet? Itu dunia maya dan belum tentu juga Cia benar-benar ada. Siapa tahu dia tidak pernah ada di dunia ini. Bisa jadi foto yang dikirimkan adalah foto orang lain.


Setahun berlalu dengan cepat. Aku pikir aku mulai bisa move on. Alice dan Cia bisa jadi adalah orang aku sayang tapi keduanya memberikan kesan yang berbeda. Alice membuatku susah buat move on kemudian Cia sendiri menyadarkanku. Semua kata-katanya seperti butiran mutiara yang menyilaukan. Meskipun aku kecewa Cia tidak memenuhi janjinya untuk menemuiku di Bandung.

Cia ujungnya pun sama dengan Alice, lenyap tanpa kabar berita. Luka kedua tidak lagi membuatku gila. Aku lebih kuat menghadapinya. Inilah cara cinta mendewasakanku. Aku tidak stuck di suatu sudut gelap yang sempat aku tempati.
***
Aku sudah berkali-kali mangkir di acara reunian keluargaku. Semuanya mengingatkanku pada Alice. Sekarang aku rasa aku cukup kuat. Tahun ini, aku akan datang sebagai seorang pejantan tangguh agar semuanya tahu, aku bukanlah aku yang dulu.

Aku tertegun menatap perempuan yang duduk di antara keluargaku. Perempuan yang sangat aku kenal. Aku tidak akan pernah lupa senyumannya. Senyuman yang membuatku mabuk karena candu asmaranya. Tidak begitu memabukkan lagi sekarang. Tapi aku sangat mengenalinya.

Alice!
Aku yakin.

“Keven!”



Perempuan yang dulunya menjadi cinta pertamaku itu memelukku erat. Aku merasa kehangatan menelusupi relung hatiku ketika lenganku direngkuhnya. Dia menarikku dan mengenalkannya pada seseorang yang dia sebut ‘suami’. Dia telah menikah dan dia sengaja jauh-jauh datang ke Bandung bertepatan dengan acara reuni keluargaku untuk mengenalkan suaminya. Dia tak pernah lupa padaku tapi aku tahu Cia benar. Alice telah meneruskan hidupnya sepertiku. Aku terlambat memulai hidupku yang baru. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”

Alice menarikku menjauh dari kerumunan keluargaku. Melangkah menuju taman belakang rumah tanteku yang selalu menjadi markas reuni keluarga kami.

Aku melihat seorang perempuan yang sedang duduk di kursi roda membelakangiku.

“Siapa?”

Alice tak menjawab dan meninggalkanku begitu saja.

“Aku menemukan Alice-mu, Ven.”

Suara itu. Aku kenal sekali suaranya. Jernih seperti air kolam yang memantulkan cahaya keperakan dari langit.


“Maaf aku terlambat. Aku mengalami sedikit kecelakaan. Setahun ini aku tak mampu bangun dari tempat tidur dan dirawat di rumah sakit. Di sana aku menemukan Alice-mu. Sayangnya dia telah menikah.”

“Aku maunya kamu Cia.”



Aku berlutut di hadapannya dan menggenggam tangannya yang penuh bekas luka.



Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba "First Love ~ Create Your Own Ending" yg diadakan oleh Emotional Flutter dan Sequin Sakura.

NB: Semoga karya ini enak dibaca, soalnya bikinnya buru-buru dalam waktu 20 menit.

Related Posts

[kontes] First Love ~ Closest
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).