12 September 2011

Kakekku Tercinta



Jika ditanyakan siapa orang yang paling saya sayang di dunia ini saya pasti akan menjawabnya: “Kakekku.”

Hubungan kami berdua memang hanya sekitar 16 tahun. Kami tidak pernah saling mengumbar kata-kata sayang yang bisa menunjukkan bahwa kami saling mencintai. Tapi selama hidupnya Kakek saya yang bernama Norni ini adalah laki-laki yang ingin saya peluk selamanya. Bahkan melalui sosok dirinya saya memiliki grandpasyndrome complex (apakah ada sindrome seperti ini). Saya bisa mengacuhkan 1.000 cowok ganteng yang lewat di depan wajah saya tapi bukan seorang kakek-kakek apa pun rupa dan tampilannya.

Kenapa saya begitu cinta dengan sosok seorang kakek?


Saya ucapkan terima kasih untuk kakek saya yang akrab saya panggil Nekki atau Aki. Beliaulah yang mengajari saya membuat berbagai macam mainan dari barang-barang bekas. Saya tidak akan pernah punya tangan yang suka mretelin semua benda kalau tidak diajarin kakek saya. Meskipun akhirnya saya akan merusakkan banyak barang karenanya, kakek selalu tersenyum melihat tindakan saya.

Kakeklah laki-laki pertama yang mengajak saya jalan-jalan ke tempat-tempat yang tidak pernah saya kunjungi. Dia dengan sabar mengikat kedua kaki saya di batang sepedanya agar tidak terluka oleh lidi sepeda. Dia tahu saya gendut dan berat, saya tahu dia asma, tapi dia tak pernah melewatkan satu hari pun tanpa menggendong saya.

Sakit gigi adalah hal biasa saya alami ketika kecil, dialah yang dengan telaten merawat dan memegangi pipi saya. Dulu sewaktu kecil, saya selalu tidur dengannya, di dalam dekapannya. Hingga hari ini, saya masih bisa mencium bau tubuhnya di udara. Saya masih ingat bau tubuh ringkih yang bekerja keras setiap harinya untuk keluarganya. Untuk saya yang lebih dikenal sebagai ‘anak bungsu’ daripada cucu. 

Sejak usia 8 tahun, saya selalu latihan menulis dan dia mulai khawatir dengan masa depan saya. Dia takut saya tidak lulus ulangan dan ujian. Dia bahkan meminta saya untuk menghentikan semua kegiatan menulis ini. Waktu itu usia saya masih belasan tahun. Masih duduk di bangku SMP. Tujuh belas tahun saya melalui latihan sendiri untuk bisa menulis. Saya selalu berdoa, agar suatu hari saya bisa menerbitkan tulisan saya. Orang pertama yang ingin saya suguhi buku karya saya adalah beliau. Saya ingin memperlihatkan usaha saya selama ini membuahkan hasil. Tapi ketika usia saya 16 tahun beliau dipanggil Allah. Saat saya belum sempat dengan bangga memamerkan buku-buku tulisan saya. Seandainya saja dia masih ada. 

Kepergiannya ternyata membuat saya lebih keras lagi berusaha karena wanita yang dicintainya masih ada di dunia ini. Saat buku ketiga saya terbit. Nenek saya masih mampu membacanya. Alhamdulillah. Kekuatan kehilangan orang yang paling saya cintai membuat saya semakin rajin menulis. Saya ingin saat saya tidak ada,  orang bisa mengenal dia melalui tulisan-tulisan saya. Saya ingin disebut sebagai: "Cucunya Norni", ketika ada yang bertanya jati diri saya.

Energi yang saya punya semua berasal darinya. Tanpanya saya tidak akan seperti ini adanya.

Sudah 9 tahun dia meninggalkan kami semua. Tapi di sini, di dalam hati, senyumnya selalu ada. 



Related Posts

Kakekku Tercinta
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).