17 September 2011

Ini Cerita Lebaranku



Lebaran di tempat saya biasanya dirayakan tak lebih dari seminggu. Hari berikutnya warga desa sudah memulai rutinitas seperti biasa dan kue lebaran tidak akan tersaji di ruang tamu. Berbeda dengan Pontianak yang sebulan penuh merayakannya.

Buat saya, lebaran hanya sehari karena hari berikutnya saya telah berubah menjadi pelayan di warung bakso dan mie ayam ibu saya. Berbaur dengan dua mas-mas dari Cilacap yang merupakan kokinya. Saya seharian bahkan tidak bisa duduk lebih dari 5 menit saking larisnya. Alhamdulillah warung kami bisa mengantongi 3-4 juta kotor perharinya.


Di antara semua saudara saya, saya boleh bangga dengan diri saya yang memiliki pengalaman menjadi kuli di sebuah warung kelontong sehingga menjadi pelayan di warung sendiri bukanlah masalah besar. Saya adalah aset terbesar yang dimiliki ibu saya untuk melanjutkan warungnya. Mungkin itulah sebabnya ibu saya tidak pernah menyarankan saya untuk menjadi PNS. Orang tua teman-teman saya yang lain pada umumnya suka memaksa atau mendoktrin anaknya bahwa dengan menjadi PNS itu berarti dia telah berada di puncak kejayaan tertinggi.

Ibu selalu membiarkan saya memilih sendiri jalan yang saya inginkan. Dia percaya saya bisa memilih dengan baik. Tidak keluar dari jalan yang benar.

Saya sekarang sedang merencanakan untuk membeli sebuah rumah di Pontianak dan membuka warung bakso dan mie ayam sendiri. Jangan tanya uangnya dari mana karena saya belum punya uang sama sekali untuk membuka usaha tersebut.

Related Posts

Ini Cerita Lebaranku
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).