30 September 2011

Nekad [Bagian 14, Tamat]

Nekad [Bagian 14, Tamat]

Cerita sebelumnya....

Melbourne.
Aku memegangi tangan Bryan erat-erat. Semua mata menatap kami berdua. Aku tahu aku pasti terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin yang sekarang aku kenakan. Bryan juga terlihat sangat tampan.

Gambar dari sini.

“Liz senyum…” Ayah memanggilku lembut.

Bryan menggandengku. Kami menatap kamera yang dipegang ayah sambil tersenyum.

“Bagaimana rasanya?” Bryan membisikiku.

“Aku masih tidak yakin dengan keputusan kita kali ini, apakah memang ini yang seharusnya kita ambil atau bukan.” Aku balas berbisik.

“Aku rasa ini adalah jalan yang terbaik Liz.”

“Tapi kamu harus janji tidak akan mengulangi perbuatanmu yang menyebalkan itu ya?”

“Janji Tuan Putri Liz.”

I love you, Bryan.”

I love you too.”

As a friend?”

As a best friend, Liz.”

Adam berdiri di belakang ayah dengan sebotol minuman. Aku segera melangkah ke arahnya.

“Bagaimana?”

“Melelahkan. Tapi akan segera berakhir. Bryan yang bertanggung jawab jika aku sampai sakit. Dia yang memilih kontrak pakaian pengantin yang ini.”

“Dia memilih yang tepat, kamu terlihat cantik sayang.”

“Benarkah?”

“Perempuan yang menjadi istriku akan selalu menjadi orang yang tercantik di dunia.”

Aku langsung memeluk Adam. Dia selalu bisa membuatku malu.

Here we are…

“Pelukannya bisa dilanjutkan di rumah? Kalian membuat ruangan ini jadi panas.” Bryan berdehem.

Jealous?”

Bryan mengangkat bahu dan aku tahu dia cemburu.

“Hari ini kita?” Adam membuat perhatianku teralih dari Bryan yang sibuk merapikan bajunya. Dia sudah berganti pakaian sejak tadi.

“Menulis?”

“Di kamar, berdua, tanpa gangguan siapa pun?”

“Kalau tanpa gangguan aku harus minta Bryan membawa ayah keluar.”

“Boleh?”

As your wish.”

29 September 2011

Nekad [Bagian 13]

Nekad [Bagian 13]



Adam menatapku dengan salah tingkah. Aku duduk di sofa dengan wajah ditekuk. Seandainya tidak ada ibunya mungkin aku sudah meledak.

“Sekarang jelaskan padaku, siapa kamu sebenarnya. Jangan bilang kamu adalah Rama.”

Gambar dari sini.

“Bukan, aku bukan Rama. Aku Adam.”

“Lantas di mana dia?”

Adam menatap perempuan yang sepertinya seusia ayahku.

“Dia sudah meninggal 8 tahun yang lalu.” Jelas Adam.

“Apa?”

Aku hampir terlonjak mendengarnya. Aku mencintai seseorang yang sudah meninggal dunia?

***

Adam berdiri di sisi kanan batu nisan yang bertuliskan nama Rama. Aku menaburkan bunga yang kami beli tak jauh dari komplek pemakaman umum ini. Aku mengenal tulisannya. Jatuh cinta dengan buta dan tidak pernah tahu sebenarnya dia sudah tidak ada di dunia ini lagi.

“Dia sangat suka menulis, dia menulis tentang apa saja yang dia suka. Semua tulisannya tersimpan rapi di buku. Kami menemukannya beberapa tahun yang lalu ketika membereskan kamarnya. Aku menawarkannya ke beberapa penerbit. Aku tidak menyangka bukunya akan best seller. Kami berusaha merahasiakan ketidakberadaannya agar semua bukunya bisa diterbitkan. Masih ada beberapa buku lagi sebelum kami mengumumkan bahwa dia sudah tidak ada di dunia ini lagi. Untuk saat ini semua orang menganggapku Rama. Bagi ibuku aku Adam dan Rama dalam satu tubuh. Tapi sejatinya aku bukan Rama.”

“Itu sebabnya aku tidak pernah menemukan foto Rama di media cetak apa pun?”

“Iya, foto terakhirnya ketika dia berusia 19 tahun.”

“Terima kasih sudah membawaku ke sini, setidaknya aku tahu kenapa dia begitu sulit ditemukan.”

Air mataku jatuh lagi tanpa henti. Adam merengkuhku ke dadanya. Aku memeluknya erat. Menumpahkan semua pedihku. Tiba-tiba aku teringat dengan Bryan.

“Maaf untuk semua e-mail bodohku yang aku tulis buat Rama. Kamu pasti telah membacanya.”
“Sebenarnya aku mengirim sebuah e-mail yang sampai sekarang tidak pernah kamu balas.”

“E-mail apa?”

“Aku telah menjelaskan semuanya di sana. Bahkan aku telah mengirim foto Rama yang sebenarnya. Aku sejujurnya telah jatuh cinta pada semua tulisan di blogmu.”

“Aku tidak pernah menerimanya. Mungkin Bryan telah menghapusnya.”

“Bryan?”

Aku duduk di kursi yang terletak di depan pagar pemakaman di samping Adam. Genggaman tangan kami sama sekali belum terlepas. Aku merasa nyaman di dekatnya.

“Aku punya seorang sahabat masa kecil yang telah mengacaukan semuanya. Dia mengubah alamat e-mail Rama di kontakku.”

“Itu alamat e-mailku, Rama tidak punya e-mail.”
“Baiklah, alamat e-mailmu. Dia tidak ingin aku menyatakan isi hatiku pada Rama. Dia juga mungkin telah menghapus e-mailmu yang masuk ke e-mailku. Entahlah…”

“Itu sebabnya kamu tidak pernah membalas e-mailku? Bukan karena kamu sedang sibuk mempersiapkan pernikahan dengan orang yang kamu cintai?”

“Aku mencintai Rama. Tapi sekarang aku tidak tahu aku harus mencintai siapa.”

“Aku tidak akan memaksamu lagi, jika kamu memutuskan untuk kembali ke Melbourne aku akan terima.”

“Sepertinya aku memang harus kembali, orang tuaku pasti khawatir.”

“Maafkan sikapku kemarin. Aku tidak tahu sama sekali kebenarannya. Aku tidak pernah menyangka kamu adalah blogger yang aku kenal selama ini. Seseorang yang membuatku jatuh cinta hingga hari ini. Bahkan kamu telah membuatku jatuh cinta dua kali.”

Liz Parker interpretata da Shiri Appleby nell'episodio 'Fratello di sangue' di Roswell
Gambar dari sini.

Aku mengulum senyum.

Bersambung...
Love Story: Behind The Scene “Nekad”

Love Story: Behind The Scene “Nekad”


Akhirnya selesai juga cerbung yang membuat beberapa teman menjadi galau di twitter. Tapi endingnya besok ya teman-teman. Ah itu semua cukup membuat saya semangat dan ge-er. Saya tidak pernah menyangka saya berhasil menyelesaikannya. Terima kasih buat semua pembaca yang menyempatkan diri untuk membaca cerbung yang saya buat untuk menyelesaikan cinta saya yang bertepuk sebelah tangan. Saya wujudkan di cerbung sebagai cinta yang berakhir bahagia untuk melegakan luka hati saya.


Terima kasih buat @rizkirahmadania yang setiap hari menagih lanjutannya. Tapi memberikan cerbung yang belum ada endingnya itu seperti memberikan semangkuk air laut pada orang yang kehausan. Alih-alih menghilangkan hausnya, saya malah membuat orang itu lebih haus lagi.


Lalu buat @arr_rian, Ketty Husnia, Dhenok, @anoisme, thekupu, dan semuanya yang menyempatkan diri buat mampir dan meninggalkan jejak di kolom komentar khusus cerbung ini.

Seakan menganggap Nekad ini sebuah film, saya memutuskan untuk berbagi behind the scene-nya. Walaupun banyak yang bilang judulnya tidak sesuai, tapi diawali dengan sebuah kenekadan akhirnya selesailah ceritanya.

Baiklah, saya memang jatuh cinta dengan seseorang yang sampai hari ini saya tidak pernah tahu rupanya seperti apa. Tapi ternyata dia mencintai orang lain. Tulisan yang dia publish di blognya membuat saya jatuh cinta. Kadang membuat hati saya berbunga-bunga, terkadang juga membuat saya termotivasi dalam menjalani kehidupan ini.

Beberapa minggu yang lalu, saya meminta dia menjual bukunya kepada saya, dia meminta bayarannya sebuah buku yang saya tulis juga. Memamah Jantungmu. Entah apa pendapatnya mengenai tulisan saya yang masih mentah itu. Kemudian saat buku saya sampai saya sadar satu hal setelah membaca blognya. Dia jatuh cinta. Tapi bukan pada saya. Ya iyalah, siapa saya coba?

Saya bingung ingin menggalau di mana. Jadi di sinilah semuanya terlampiaskan. Melalui 14 bagian cerita Nekad. Saya menuntaskan kegalauan saya. Inilah bahasa cinta saya untuknya.

Kemudian saya ingat dengan satu tulisan Mbak Tarry. Tak Kenal HP dan Internet. Bayangkan tahun demi tahun cinta dua insan yang sekarang sudah menikah itu ternyata bisa menyatu padahal susah sekali untuk berkomunikasi. Berbeda cinta saya terhadap seseorang itu. Saya tahu nomor hapenya tapi tidak bisa menelpon. Saya juga tahu e-mail dan blognya tapi tidak pernah sekali pun bisa mendapatkan rupanya seperti apa.

Dua hati yang memang ditakdirkan untuk menjadi satu dengan ketentuan Allah, ternyata tidak kalah dengan ketiadaan teknologi yang mendukung. Padahal sekarang banyak orang yang pacaran dan merencanakan pernikahan harus berpisah karena hape dan internet.

Sms dari lawan jenis untuk kekasihnya bisa membuat cemburu berkepanjangan. Apalagi jika ada yang mesra mengirim pesan di facebook atau sekadar mention di twitter. Hal-hal sepele yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi seakan-akan menjadi api dalam sekam. Bisa jadi tanpa adanya hape dan internet membuat kepercayaan menjadi sesuatu yang mutlak dalam hubungan Mbak Tarry dan suami tercinta.

Saya ingin sekali bisa seperti itu. Tapi terkadang keinginan memang tidak sesuai kebutuhan. Saya hanya dapat meyakinkan diri sendiri bahwa cinta belum datang dalam kehidupan saya karena saya belum membutuhkannya untuk melanjutkan kehidupan saya. Bagaimana denganmu?

NB: Foto-foto yang saya gunakan adalah foto-foto yang saya ambil dari beberapa sumber. Satu hal yang mengikat semua foto itu adalah serial Roswell yang sempat membuat saya terpesona pada Alex yang menjadi gambaran tokoh Adam.

Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Cinta Antara 2 Negara yang diadakan oleh Mbak Tarry.



28 September 2011

Nekad [Bagian 12]

Nekad [Bagian 12]


Plakkk!
Aku melayangkan tangan kananku ke pipi kiri Adam. Beberapa detik kemudian pipinya memerah. Hadiah karena telah menciumku.

“Kamu tidak berhak menyentuhku.”

“Aku berhak melakukan apa saja, kamu istriku.”

Sekali gerakan saja, aku sudah menjadi tawanannya. Adam berada di atas. Aku terlentang di bawah. Kedua tangannya menahan tanganku.

“Lepaskan aku!”

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Selamanya kamu adalah istriku. Ingat itu.”

Aku berontak dengan tenaga yang tersisa. Adam meninggalkanku begitu saja.

***

Aku tersedu sendirian. Bagaimana sekarang? Aku tidak bisa pulang. Aku tidak mau menikah dengan Bryan. Aku juga tidak mungkin menikah dengan Rama. Aku istrinya Adam. Hanya Adam yang bisa membuatku bebas memilih jalan mana yang bisa kulalui.

Aku menatap kertas yang bertuliskan alamat rumahnya Rama. Apakah dengan menemuinya aku bisa mengubah kenyataan? Mungkin setidaknya aku bisa mengatakan yang sebenarnya. Aku masih bisa menyatakan isi hatiku yang sebenarnya untuknya.

Jalan Jogokariyan 26

Aku menatap rumah yang bertuliskan angka 26. Becak yang membawaku berhenti tepat di depan pagar. Kakiku bergetar saat aku melangkah masuk ke halaman. Seorang perempuan separuh baya menyambutku.

Gambar dari sini.

“Cari siapa, Nak?”

“Rama, saya mencari Rama.”

“Rama ada di halaman belakang, yuk.”

Aku mengikuti langkah perempuan yang menurut tebakanku adalah ibunya Rama. Beberapa kali Rama menulis tentangnya.

“Nak, ada temanmu yang datang.”

Aku menatap punggung laki-laki yang sedang sibuk menyelesaikan lukisannya. Aku tak pernah tahu Rama suka melukis. Setahuku dia hanya suka menulis. Gila tepatnya karena menulis seakan-akan menjadi hal yang paling utama dalam hidupnya.

“Siapa?”

Laki-laki itu membalikkan tubuhnya. Sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Wajah yang selama ini menjadi satu misteri bagiku. Aku ternganga. Bukan hanya karena melihat wajahnya tapi aku juga menemukan wajahku yang disusun menggunakan cat lukis terpampang nyata di kanvas ukuran besar di sana. Aku yakin aku mengenali wajah laki-laki ini.

 

“Adam?”

Bersambung…

27 September 2011

Nekad [Bagian 11]

Nekad [Bagian 11]



Aku meletakkan selembaran uang lima puluh ribuan dan meraih kunci kamar. Laki-laki yang menjaga penginapan itu menatapku. Ia tahu aku ingin menanyakan sesuatu. Aku mengeluarkan selembar foto dari saku jaketku.

“Aku mencari laki-laki ini.”

Aku hanya punya foto itu untuk menemukannya. Foto pertama dan terakhir yang sempat kami ambil bersama.

“Adam?”

“Kamu kenal dia?”

“Dia sering ke sini, dia juga sering ke Malioboro.”

“Bisa saya minta alamatnya atau nomor ponselnya?”

“Saya tidak tahu alamatnya apalagi nomor ponselnya. Tapi dia selalu ada di Malioboro jika sudah tengah malam.”
***

Aku berbaring di ranjang. Menelentang. Menerawang langit-langit kamar yang baru saja kusewa. Masih beberapa jam menuju waktu tengah malam. Aku harus berani buat meminta Adam menalakku. Pernikahan ini tidak perlu ada. Toh dia tidak mengenalku sama sekali begitu juga denganku. Pernikahan ini tidak akan memberikan makna apa-apa dalam kehidupan kami. Dia pasti tidak masalah apabila menceraikanku. Harusnya sebelum pulang kemarin aku memintanya untuk melakukan itu. Sehingga aku tidak perlu mencarinya lagi.

Pukul 11.36 malam. Semoga Adam sudah berada di Malioboro. Aku segera naik becak yang disediakan penginapan untuk disewa. Aku pikir sekarang aku lebih aman. Aku tidak perlu takut lagi dengan orang yang berpapasan denganku. Apalagi aku tidak berniat ke Sarkem.

“Adam?”

Aku menghampiri seorang laki-laki yang baru saja akan menstarter sepeda motornya. Aku kenal sekali dengan sosoknya.

“Liz. Kapan kamu sampai?”

Adam langsung memelukku.
***
Aku terdiam di pinggir ranjang. Tangan Adam menggenggam jemariku erat dan hangat.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana, ini sedikit gila, tapi aku pikir aku mencintaimu.”

“Bagaimana mungkin?”

“Aku rasa aku harus menemui orang tuamu. Kita harus mulai dari awal.”

“Adam, aku datang bukan untuk membicarakan ini.”

“Lalu apa?”

“Pernikahan kita adalah kesalahan. Harusnya kita tidak menikah. Bukan begini harusnya.”

Gambar dari sini.

“Aku akan perbaiki, kita bisa menikah ulang. Sejak kamu pergi aku sudah yakin ingin menikahimu
dengan selayaknya. Seperti pernikahan orang lain. Lamaran. Ijab kabul. Resepsi.”

“Aku mencintai orang lain, aku ingin menikah dengannya. Kita harus bercerai.”

“Tidak bisa! Aku bukanlah seseorang yang menyepelakan pernikahan. Pernikahan bukan mainan Liz.”

“Pernikahan kita kesalahan. Sekarang kita perbaiki.”

“Apa kamu percaya Tuhan?”

“Maksudmu apa?”

“Ketika Tuhan memberikan jalan pernikahan untuk kita berdua bagaimanapun caranya, itu tetaplah sebuah pernikahan Liz.”

“Aku tahu itu pernikahan, tapi tidak memberikan manfaat apa-apa untuk kita.”

“Aku ingin kamu belajar mencintaiku Liz.”

“Tap…”

Gambar dari sini.

Adam menutup mulutku dengan bibirnya. Aku tak sempat menghindar.

Bersambung…


26 September 2011

Nekad [Bagian 10]

Nekad [Bagian 10]



Aku termangu di depan cermin. Aku menatap wajah yang rasanya semakin asing. Mata yang semakin sayu dan cahayanya semakin meredup. Jalan mana yang harus kupilih. Aku harus memilih antara dua orang yang kini berada di Indonesia. Apakah aku harus memilih Adam? Atau Rama?

Rama, seseorang yang entah bagaimana rupanya. Seseorang yang telah mencuri hatiku sejak setahun yang lalu aku mengenal dunia maya. Tak sengaja membaca tulisannya yang membuat hidupku lebih bermakna. Menjadi seseorang yang bisa mensyukuri apa yang ada.

Ternyata dia juga mencintaiku? Bagaimana mungkin? Lantas kenapa dia tidak mengatakannya sejak awal? Sejak pertama aku mengirim e-mail untuknya? Kenapa? Ada apa denganmu Rama? Apa yang menghalangimu?


Kubuka lembaran e-mail yang kukirim untuknya. Dari balik air mataku yang menggenang aku menangkap sesuatu yang aneh di sana. Alamat penerima e-mail itu rasanya berbeda. Bukankah seharusnya alamatnya bukan itu? Apakah Bryan telah mengacaukan alamat e-mail yang aku simpan di kontak? Apakah tidak cukup dia melukai hati Rama sehingga harus mengacaukan semuanya?

Gambar dari sini.

Ternyata begitu. Rama tidak pernah tahu isi hatiku. Dia tidak pernah tahu. Dia tidak pernah membaca e-mail dariku. E-mailku tidak pernah sampai padanya. Itu sebabnya tidak pernah menjawabnya. kuhempaskan ponselku ke ranjang dan membiarkan air mata menenggelamkanku.

Bagaimana sekarang?

Indonesia bukanlah jawaban paling tepat. Aku tidak akan pernah bisa memilih antara Adam dan Rama. Mereka sama sekali bukan untuk dipilih. Rama…

***

Please.”

“Kamu tidak berhak menghalangiku.”

Aku tidak peduli dengan Bryan yang berlutut di hadapanku. Aku sudah siap. Apa pun risiko yang harus kutanggung.

I must go.”

I love you Liz, please.”

Gambar dari sini.
I know.”

Please don’t go.”

I am so sorry Bryan, you are my best friend, I love you as a best friend.”

***

Untuk kesekian kalinya, aku menjejakkan kaki di tanah Jogja. Aku menghirup udara di negara Indonesia. 

Bersambung...

25 September 2011

Nekad [Bagian 9]

Nekad [Bagian 9]

Hari kedua dari tujuh hari.





What’s this?”

Bryan menatap benda yang kupegang. Ponselnya.

Nothing!”

Bryan berusaha merebutnya dari tanganku. Aku melempar ke lantai kamarnya.

That’s why everything going wrong, it’s because of you.”

I can explain that Liz.”

No you don’t have to explain it.”

“Liz, kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang aku lakukan.”
“Biar aku yang bicara dari sudut pandangku sendiri. Kamu menghubungi Rama kan? Kamu bohong tentang pernikahan kita kan? Kamu telah merencanakan semuanya dari awal. Seseorang yang aku percaya dua puluh tiga tahun mengkhianatiku begitu saja. Apa yang ada dalam kepalamu Bryan?”

I love you, Liz.”

It’s not love Bryan. Cinta tidak egois seperti kamu.”

“Rama menulis bahwa dia mencintai seorang perempuan yang sedang merencanakan pernikahan dengan orang lain di blognya. Aku pikir itu perempuan lain. Tapi sekarang sepertinya yang dia maksudkan adalah aku. Itu pasti aku kan? Kamu yang membuatnya beranggapan seperti itu. Kenapa kamu mengirimkan pesan kebohongan untuknya? Sekarang aku harus menikah denganmu sedangkan aku telah menikah dengan entah siapa yang bernama Rama. Seseorang yang entah sedang apa sekarang ini. Asal kamu tahu Bryan, kami tidak bercerai.”

“Itu bukan pernikahan Liz.”

“Setidaknya Adam tidak membohongiku seperti kamu. Aku akan ke Indonesia. Aku akan ke Indonesia!!!”

Bersambung….



24 September 2011

Nekad [Bagian 8]

Cerita sebelumnya....
Melbourne.
Hari pertama dari tujuh hari yang diberikan ayah Liz.

“Hey, stop it Liz!”

Aku masih memukul Bryan meskipun dia berteriak di telingaku.

“Why Bryan? Why?”

Tangisanku pecah seketika.

I love you, Liz.”

“Kamu tahu siapa yang kucintai.”

“Dia tidak akan membahagiakanmu.”

“Kamu tidak tahu apa-apa.”

Aku ingin teriak dan bilang: “Aku sudah menikah dengan orang lain Bryan!”

Ini bukan hanya masalah aku mencintai Rama. Tapi aku sudah menikah dengan Adam. Walaupun lebih pada paksaan tapi dia suamiku.

“Kita tidak boleh menikah.”

Why?”

“Aku sudah menikah dengan orang lain.”

“Siapa?”

It’s complicated, but I am married.”

“Bagaimana mungkin? Tidak ada orang lain yang mendekatimu selain aku.”

“Seseorang di Indonesia. Seseorang yang kutemui waktu aku ke Jogja.”

 “Rama? Bukannya kamu tidak menemukannya?”

It’s too complicated.”

Tell me.”

Aku mengulang semua cerita yang ada di kepalaku. Bryan mendengarkan dengan seksama.

 

23 September 2011

Nekad [Bagian 7]

“Terima kasih buat semuanya, aku pasti akan membalasnya.”

Pinjem dari sini.


Kalimat itu terus terngiang di telingaku. Hanya itu kalimat yang aku berikan untuk Adam. Setelah sekian banyak hal yang dia lakukan untukku aku hanya bisa mengatakan itu. Aku tidak sanggup terlalu lama berada di sisinya. Semuanya berawal dari kesalahan. Pernikahan itu juga salah. Adam pasti tidak serius waktu membacakan ijab untukku.

Nekad [Bagian 6]


“Pernah ke Borobudur?”

Aku menggelengkan kepalaku. Adam terlihat antusias ingin mengajakku jalan-jalan. Sudah dua hari aku hanya menangis di kamar. Dia setiap hari mengunjungiku. Membawakan makanan yang terkadang tidak aku makan.

“Kamu harus tahu kita hanya bisa menunggu. Berdoalah agar kita segera selesai dari masalah ini.”

“Aku hampir gila. Jika kamu tahu itu rasanya bagaimana!”

“Magelang, naik sepeda motor, Borobudur.”

Aku sudah berada di belakang Adam dengan sebuah helm melindungi kepala. Beberapa kali aku harus berpegangan pada bahu Adam agar tidak jatuh. Dia sama sekali tidak memperlambat laju sepeda motornya.

Perlahan aku merasakan tangannya menarik tanganku dalam kegelapan. Angin dingin menerpa kulitku. Dia melingkarkan tangan kiriku di pinggangnya.

“Jangan sampai lepas. Aku tidak ingin ada yang hilang lagi.”

“Tapi…”

“Secara hukum dan fisik aku suamimu. Kamu berhak mendapatkan perlindungan dariku.”

Aku segera menggerakkan tangan kananku untuk memeluk pinggangnya secara utuh. Air mataku berderai dan membasahi punggung jaketnya. Aku beruntung masih dipertemukan dengannya. Bagaimana jika aku sendirian di sini? Apa yang akan terjadi denganku?

“Malam ini kita menginap di sini. Besok pagi kita ke Borobudur.”

Adam membuka jaketnya dan menggantungkannya di pintu. Aku terhenyak. Maksudnya kami akan tidur di penginapan ini satu kamar?

“Aku pikir kita bisa menyewa dua kamar.”

“Tidak ada lagi yang tersisa. Aku bisa tidur di sofa.”

Adam meraih bantal dan selimut di ranjang dan mengatur sofa untuk tempat tidurnya malam itu. Aku pun segera tenggelam di ranjang. Perjalanan selama dua jam tadi cukup menguras tenaga.

Aku membuka mataku karena kaget mendengar guntur yang menggelar. Ternyata aliran listrik terputus. Kamarku gelap seketika. Aku langsung turun dari ranjang dan berjalan sambil berpegangan ke dinding. Kakiku tersandung sofa. Kusentuh Adam yang tidur dengan nyenyaknya.

“Adam.”

“Mhhhhmmmhhh.”

“Aku takut, ada guntur.”

“Aku kan ada di sini.”

Adam akhirnya duduk dan menarik tanganku. Aku ikut duduk di sampingnya.

“Masih takut?”

“Iya.”

“Tidurlah aku akan menjagamu.”

Adam menggandengku ke ranjang. Aku masuk lagi ke dalam selimut. Adam duduk di pinggir ranjang.
Cahaya matahari yang menelusup dari balik ventilasi menerpa wajahku. Aku terbangun karena pipiku terasa panas. Aku menggeliat. Mataku menemukan Adam di sebelahku. Tertidur dengan nyenyaknya. Lengannya melingkar di kepalaku. Aku mendengar dengkuran halusnya dibarengi udara hangat yang menghembus.

“Hmmmhhh… sudah pagi ya?”

Aku merasakan pipiku memanas. Sebelumnya tidak pernah ada yang menemani tidurku sedekat ini. Debaran jantungku memompa darahku hingga naik ke ubun-ubun. Aku langsung bangkit dari ranjang.

“Aku harap kita bisa pulang hari ini.”

Aku tidak berani menghadap Adam. Ada yang salah denganku.
“Iya, subuh tadi temanku mengabarkan dompetmu telah ditemukan.”

Aku tak mendengar perubahan pada suara Adam. Dia tidak merasakan sesuatu?

“Mandilah, aku mau cari bensin dulu.”

Dia menghilang. Aku terduduk di sofa. Adam benar-benar mencarikan dompetku? Seseorang yang baru kukenal beberapa hari sedemikian keras membantuku. Kenapa?

Dompetku ditemukan? Itu artinya aku bisa pulang? Aku bisa kembali? Tapi kenapa aku malah merasakan kesedihan jika harus pulang?

Bersambung