Langsung ke konten utama

(GoVlog-Ramadhan) Kuliner Khas Ramadhan Kalimantan Barat

Jama’ah oh jama’ah
Tante absenin satu demi satu dulu ya? Hadir semua kan ya? Baiklah…
Sekarang sudah hari keenam, bagaimana kabar puasanya Bujang Dare? Saya sih sudah hari keenam pula bolong. Biasa perempuan mendapatkan yang namanya tamu bulanan. Mau tidak mau kembali menjadi anak-anak lagi deh yang tidak puasa. Baiklah, sudah taraweh di mana saja nih? Sudah berapa pasang sandal yang hilang? Atau malah yang sudah dikoleksi? Tradisi kehilangan sendal yang tersebar ke seluruh penjuru Indonesia memang bukanlah hal yang aneh.
Coba ya kita ingat beberapa tahun yang lalu ketika kita masih kecil. Ada-ada saja kenakalan yang kita lakukan dibulan puasa. Saya termasuk anak yang bandel ya untuk menjalankan ibadah ini. Mungkin memang saya kurang menyerap ceramah tentang pentingnya untuk menjalankan ibadah puasa dan segala macamnya saya jadi suka melanggar dan mencuri berbuka puasa.

Awal-awalnya puasa dikenalkan itu usia saya masih 5 tahun, usia 5 tahun saya masih lucu-lucunya dan gendut. Kalau sudah berpuasa mulai pukul 10 pagi adalah waktu yang tepat untuk memujuk nenek saya agar membiarkan saya berbuka. Soalnya nenek bukanlah orang yang mudah luluh, jadi butuh waktu 1-2 jam untuk membiarkan saya mengisi perut kemudian bisa memamerkan pada teman-teman saya berhasil tidak puasa (lagi!). Haduh anak macam apa itu ya? Salah bibi-bibi saya juga (nah mulai mencari kambing hitam) sahur saya itu dilakukan pada jam yang tidak benar. Saya dibohongi bahwa sahur itu pukul 5 pagi. Subuh saja sudah lewat, bagaimana saya bisa puasa dengan benar coba?
Saat sekolah puasa mulai menyebalkan buat saya pas tarawihnya. Kalau pas berbuka dan sahur sih menyenangkan saja. Sahur menyenangkan? Iya karena saya ternyata bisa dibangunkan dengan lagu dari radio. Lucunya hanya lagu ‘Kuch-Kuch Ho Ta Hai’ yang bisa membuat mata saya terbuka. Lagu ini merupakan berkah tersendiri untuk nenek karena saya tidak perlu diteriakin supaya bangun. Tinggal mendekatkan radio, saya sudah terbangun apabila lagu itu mengudara. Anehnya lagi lagu itu selalu berkumandang pada pukul 3 pagi. Pasti nenek ada main dengan penyiarnya.


Sumber gambar Tribunnews

Ngomong-ngomong soal taraweh nih, ini kegiatan yang kurang saya suka waktu kecil. Maklum habis buka puasa banyak tontonan yang menarik di televisi, jadinya saya senang sekali berada di rumah. Berbagai macam alasan supaya tidak tarawih pun bermunculan. Sayangnya kalau sudah sekolah biasanya anak-anak harus menyatat ceramah dan minta tanda tangan imam tarawih malam itu. Saya yang waktu itu masih lucu-lucunya, terkadang bisa ketiduran di tengah-tengah sujud. Naasnya lagi sujudnya itu terakhir, jadi ketika orang salam saya masih saja bersujud. Ah, untung masih anak-anak.
Pulang dari masjid cerita lain dimulai pula. Mencari sandal adalah perjuangan yang membutuhkan kesabaran. Soalnya kalau saya sampai kehilangan sandal saya pasti akan diomelin nenek, biasanya saya lebih suka menggunakan sandal orang rumah yang sudah jelek dan kebesaran. Jadi kalaupun hilang bukan sandal saya. Masalahnya, itu biasa sandal kakek atau nenek saya. Pernah saya pulang dan mendapati sandal yang saya kenakan sebelumnya memang lenyap. Berhubung ada sandal yang tertinggal, ya sudah saya ambil karena tidak ada yang membawanya pulang.
Sampai di rumah tidak ada yang tahu sandal saya tertukar (tertukar?), tapi besoknya saya berniat untuk mencari sandal nenek saya sebelum dia tahu.

Teman-teman waktu kecil entah ada tidak yang seperti saya yang suka makan sembunyi-sembunyi karena tidak diizinkan berbuka.
Baiklah, itu dulu. Sekarang saya sadar itu salah. Tidak baik meniru tingkah saya yang dulu. Lagi pula saya tidak segendut dulu. Sudah kurus jadi lebih sedikit porsi makannya.
Saya di Pontianak suka sekali berburu wisata kuliner yang hanya ada di bulan puasa. Desa saya masih di Kalimantan Barat, sama dengan Pontianak tapi untuk urusan makanan khas ada yang berbeda. Apabila di desa saya, bubur pedas adalah makanan yang sering dijumpai pada acara-acara keluarga. Bubur pedas? Jangan berpikir ini adalah makanan yang rasanya seperti jajanan yang suka ada tambahan ‘setan’ di belakang namanya. Kalau sudah namanya ada setannya pasti puedeeeesss minta ampun. Nah kalau bubur pedas sendiri bermakna bubur yang banyak campurannya. Campurannya ya sayuran tapi yang membedakannya adalah bumbu beras dan bumbu lainnya yang memberikan rasa yang khas pada bubur ini.

 

Di Pontianak sendiri, pasar juadah juga ada di banyak tempat. Di mana mata melihat pasti ada pasar juadah dari yang kecil sampai yang besar. Sangat menggoda iman kue-kuenya. Tapi ada yang istimewa pada bulan puasa yang tidak akan ditemukan pada hari biasa. Ada lemang. Iya nasi ketan yang dimasak di dalam batang bambu. Lemang sendiri memang sudah menjadi makanan yang ada di bulan ramadhan meskipun terkadang ditemukan pada hari-hari biasa. Kalau pada bulan puasa penjualnya bertambah lebih banyak pastinya.

Sumber gambar andika-sanggau.blogspot.com

Pada malam hari, teman-teman bisa menjelajahi Jalan Merdeka Barat untuk menemukan pasar sotong pangkong. Kenapa saya sebut pasar? Karena sepanjang jalan menyediakan warung-warung sotong pangkong. Sotong itu masih saudaranya cumi. Pangkong sendiri seperti yang pernah saya jelaskan sebelumnya bermakna pukul.

Sumber gambar borneophotography

Jadi sotong pangkong artinya adalah…..Hewan mirip cumi yang dipukuli? Sadis…
Sumber gambar borneophotography


Bahasa kasarnya memang begitu, bahasa halusnya? Tidak jauh berbeda, sotong pangkong adalah sotong yang dipukul-pukul. Memukulnya menggunakan palu dari kayu agar sotong lebih mudah dimakan dengan kuah yang ada pilihan rasa. Ada dua pilihan rasa ebi dan kacang. Dua-duanya mengandung cabai, tidak terlalu pedas, cukuplah untuk menggoyang lidah.

 
Makanan yang belum saya temukan adalah jorong-jorong. Kue khas ramadhan yang rasanya gurih dan manis. Terbuat dari tepung beras, santan, garam, dan gula.

Itu cerita ramadhanku, apa ceritamu?



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan