Langsung ke konten utama

Cara Instan, Hasil Instan, Cantik kok Maunya Instan? Bagian 1

Ingin cantik adalah hal yang sangat lumrah ada pada diri seorang perempuan. Menjadi wanita cantik adalah idaman banyak orang. seperti yang kita tahu, wajah yang cantik bisa menjadi penunjang seseorang di dalam hidupnya. Apalagi untuk perempuan yang bekerja di bidang pelayanan dan jasa. Tapi apakah definisi cantik itu sendiri? Banyak orang yang mengatakan wajah cantik itu wajah yang menarik dan tidak membosankan. Penipuan iklan produk kecantikan mengatakan putih itu cantik.

 

Gara-gara iklan yang menyesatkan banyak perempuan yang berlomba-lomba untuk mendapatkan kulit yang putih. Ada yang menggunakan produk yang berbahaya dan tidak sedikit pula yang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar dokter kulit atau operasi plastik. Bahkan saya sempat melihat ibu-ibu yang ingin putih lalu memilih cara yang menakutkan buat saya, yaitu menyuntikkan vitamin C cair ke dalam tubuh mereka. Jadi putihnya akan menyeluruh.


Semua itu adalah cara yang instan ditempuh perempuan untuk menjadi seseorang yang berkulit putih. Seburuk itulah seorang perempuan yang berkulit sawo matang atau legam?

Penyesatan yang selalu kita nikmati diantara tayangan acara di televisi memang menyebalkan. Setiap hari penonton dicekoki dengan doktrin yang akhirnya menjadi sesuatu yang mereka yakini. Bertahun-tahun menonton iklan produk kecantikan yang intinya sama, putih itu cantik, cantik itu putih.

Saya tidak setuju dengan iklan yang menyesatkan tersebut karena banyak orang cantik yang saya temui ternyata tidak memiliki kulit yang putih. Saya lebih setuju dengan pemahaman bahwa kulit yang cantik adalah kulit yang sehat. Bagaimana caranya mendapatkan kulit yang sehat apa pun warnanya? Ingin mendapatkan hasil yang tidak instan kemudian menghilangnya instan pula? Caranya pasti tidak mudah, sedikit ribet. Tapi saya lebih suka menjalani sesuatu yang memang tidak menyesatkan.
 
Sebelum saya menjelaskan apa saja yang dibutuhkan oleh kulit wajah kita agar menjadi sehat dan bercahaya atau cerah. *cerah tidak berarti putih ya? Tapi lebih bersinar atau glowing* Kita coba lihat pola kehidupan kita sendiri. Apakah untuk menjadi seseorang yang sehat fisiknya cukup dengan mengonsumsi satu pil yang katanya bisa memenuhi semua asupan yang kita butuhkan? Tentunya tidak.

Kita tetap harus makan nasi atau karbohidrat, lauk, sayur, buah, dan susu. Dokter mana pun tidak akan menganjurkan kita untuk makan makanan instan yang ‘katanya’ mengandung zat-zat yang kita butuhkan untuk terus hidup. Kita juga tidak bisa membuat acara makan itu menjadi lebih praktis dengan cara menyampurkan semua bahan makanan kita lalu memblender dan menelannya. Apakah enak jus nasi, sayur, buah, susu, dan lauk yang menjadi satu gelas? Saya yakin jawabannya tentu tidak.

Begitu pula dengan kulit yang ingin kita rawat dari luar. Memang harus ribet. Tidak bisa menggunakan satu produk yang katanya di dalamnya sudah terkandung semua bahan yang dibutuhkan kulit kita. Kulit wajah kita berbeda dengan kulit yang ada di bagian tubuh yang lain. jadi memang harus diberikan nutrisi seperti kita menutrisi tubuh kita. Semuanya harus berada di botol yang terpisah. Wajah kita akan ‘muntah’ apabila make up remover, face wash, face toner, pelembab, dan bahan-bahan lainnya menjadi satu produk. Bahan dan manfaatnya berbeda bagaimana mungkin kita menjadikan semua bahan tersebut satu-kesatuan.

Saya akan memperlihatkan produk apa saja yang saya gunakan untuk merawat kulit saya agar selalu sehat. Termasuk wudhu di dalamnya akan mempengaruhi kulit wajah kita di postingan berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan