4 Hal di Balik Bilik Studio


Penyiar radio memang terkadang dianggap orang sebagai sebuah pekerjaan yang keren. Sering saya mendengar teman-teman yang mengatakan bahwa saya hebat bisa menjadi penyiar. Walaupun sebenarnya mereka tidak pernah tahu jatuh bangun yang saya alami selama menjadi penyiar. Setahun sudah saya menekuni bidang pekerjaan ini dan saya ingin berbagi beberapa hal yang saya ketahui dan pelajari di sini.

1.      Ruangan paling dingin
Sebelum saya berkecimpung di bidang penyiaran saya tidak pernah tahu ternyata ada satu ruangan yang harus selalu dingin. Ruangan apakah itu? Jawabannya adalah ruang pemancar. Iya, ada mesin yang menghubungkan komputer studio dengan menara pemancar dan benda tersebut akan menyala dari awal hingga akhir program sehingga suhunya tidak boleh sampai panas. Sehingga ruangan itu harus sangat dingin. Saya tidak suka berada di ruangan itu pada dini hari. Bisa membeku, kalo siang hari saya suka mampir sebentar buat numpang ngadem karena memang suhunya sangat dingin.


2.      Ruangan paling kedap suara
Banyak orang yang berpikir bahwa ruang siaran adalah ruang yang kedap suara. Itu memang tidak salah. Tapi ada satu ruangan yang lebih kedap suara dibandingkan dengan ruang siaran atau studio yaitu ruang produksi. Nah, di ruangan ini memang terjadinya proses perekaman dan pengeditan suara  baik untuk iklan atau ekspose program. Jadi harus betul-betul kedap suara.

3.      Benda paling sensitif
Saya awalnya juga tidak begitu menganggap bahwa mikrofon di ruang siaran adalah benda yang sangat sensitif. Ternyata saya harus berhati-hati karena mikrofon akan menyampaikan semua suara yang ada dalam studio. Bahkan suara ketika mengetik menggunakan keyboard. Aih tidak enak sekali bukan apabila disela-sela siaran penyiar favorit kita ternyata ada suara-suara aneh atau kletak-kletek tidak jelas. Jadi, berhati-hatilah.

4.      Waktu yang dibutuhkan pemancar untuk naik
Pemancar membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk bisa bekerja dan siaran kita mengudara. Hanya lima menit, penyiar pertama harus datang lima menit lebih awal dan langsung menyalakan pemancar dan komputer. Di hari-hari biasa ini adalah tugas operator, tapi karena saya bersiaran pada pukul 3 mau tidak mau saya yang kebagian tugas menyalakan pemancar, tidak susah sih, tapi dinginnya minta ampun di sana.

Begitu banyak hal yang bisa saya pelajari di sini. Saya senang bisa menjadi bagian dari sebuah radio yang tidak hanya mengajarkan cara membuat iklan, membuat ekspose, mengatur jarak mikrofon ke mulut, dan lebih disiplin soal waktu, di sini saya belajar caranya meningkatkan kepercayaan diri dan intonasi ketika berbicara. Karena siapa sangka, saya yang bersuara cempreng dan sama sekali tidak masuk kategori untuk menjadi penyiar juga bisa bersiaran. Tidak mudah memang, saya harus siap dengan segala kritik yang masuk, sempat jatuh dan ingin mengakhiri, tapi saya ternyata cukup kuat untuk melanjutkan kembali.

Ada yang ingin teman-teman ketahui lagi tentang dunia penyiaran? Silakan komentar di sini.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes