Langsung ke konten utama

Yuwie: “Facebook tidak hanya memblokir Google+ tapi kenapa tidak twitter?”


Jauh hari sebelum semua orang meributkan namanya Google+ ada sebuah jejaring sosial yang bahkan bisa menghasilkan uang apabila anggotanya bisa mendapatkan anggota baru dengan referralnya. Saya waktu itu belum begitu paham sih. Tapi saya daftar saja karena saya pikir tidak ada salahnya. Kemudian keasyikan dengan facebook dan twitter membuat saya melupakannya karena ternyata lebih ramai di facebook dan twitter.

Namanya jejaring sosial memang yang paling ramai yang paling seru. Paling banyak penggunanya akan menjadi pilihan utama buat masyarakat. Tidak terkecuali saya.


Nah, jejaring sosial yang menawarkan penghasilan tersebut bernama Yuwie. Karena saya bingung waktu itu untuk mempromosikan akun Yuwie saya, saya pun dengan polosnya menggunakan akun facebook saya sebagai media promosi. Tapi ada kenyataan yang sangat mengejutkan saya, facebook jauh-jauh hari telah memblokir Yuwie. Saya kaget. Akhirnya akun Yuwie saya tidak berkembang dan saya pikir, SAYA, YUWIE, END.

Saya juga tidak begitu mengerti sistem pembayaran mereka sih. Maklum semuanya masih baru bagi saya. Sampai detik ini saya menuliskan posting mengenai Yuwie saya, saya tidak membuka akun yang saya miliki tersebut sama sekali. Teman saya sedikit di sana. Lebih seru di blog ini, masih banyak yang berkunjung dan berkomentar. Nah di sana? Sepi semacam kuburan bagi saya.

Yuwie memang tidak tenar seperti Google+ yang masih dalam tahap percobaan dan untuk memiliki akun di sana harus ada surat undangan dulu dari orang yang memiliki akun di sana. Susah juga ya? Tapi ternyata itu tidak lantas membuat Google+ sepi pengunjung. Banyak yang meminta temannya untuk mengirimkan undangan agar dia bisa memiliki akun di sana. Termasuk saya. Saya sih niatnya mau siap-siap saja. Siapa tahu Google+ ramai, jadi saya sudah punya akun di sana.

Saya masih awam dengan akun yang satu ini. Beberapa kali membukanya saya pikir ini hanya masalah pembiasaan diri. Lama-lama juga akan mahir menggunakannya. Seperti pertama kali memiliki akun di facebook. Waktu itu saya juga bengong dan mengucapkan: “Susah juga ya facebookan? Lebih gampang friendster.” Sekarang? Sudah mahir bukan? Bahkan murid saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar sudah mahir menggunakan jejaring sosial yang membuat dunia demam ini.

Beberapa waktu kemudian saya juga membuat akun di twitter karena banyak artis yang menggunakannya. Saya juga ingin merasakan sensasinya memiliki akun pengicau ini. Lumayan menyenangkan. Karena memang berbeda dengan facebook.

Apabila di twitter memang isinya lebih sederhana. Tidak seperti facebook. Di sini saya biasanya mengungkapkan perasaan atau sekedar lucu-lucuan sama teman-teman saya.

Seandainya Yuwie bisa berbicara sepertinya dia akan bertanya satu hal pada facebook:
Yuwie: “Kamu sudah memblokir saya kemudian Google+ tapi kenapa tidak twitter?”

Saya penasaran apa yang akan dikatakan oleh pendiri facebook untuk pertanyaan ini. Kenapa saya memunculkan empat jejaring sosial ini? Karena facebook menyediakan lahan untuk twitter di tanahnya.
Inilah dia lahan yang di tempati oleh twitter di tanah facebook:
1.      Status
Kita bisa mengupdate status facebook dan twitter secara bersamaan.

Sebenarnya saya kurang setuju dengan orang menyatukan dua akun jejaring ini. Penyebabnya adalah mereka berbeda. Sangat jauh berbeda. Apalagi untuk pengguna twitter yang aktif. Pengupdate-an status terus-menerus yang otomatis membuat status facebook terupdate lumayan mengganggu pengguna facebook. Kecuali untuk orang yang berkicau 5 jam sekali. Apalagi bahasa twitter dan facebook berbeda. Bayangkan apabila Bujang Dare membaca status facebook yang di dalamnya memensen, me-RT, atau sejenis kicauan lainnya dan Bujang Dare sendiri tidak memiliki akun pengicau. Pasti akan bingung dengan status teman facebooknya yang berasal dari twitter.

2.      Berkicau dari facebook
Saya pernah berkicau dari facebook. Di facebook waktu itu ada widget yang mirip dengan twitter mobile. Bayangkan. Saya tidak perlu jauh-jauh ke twitter untuk berkicau.


Google+ juga ternyata mengalami perang bawah laut dengan facebook. Ada seseorang yang diberitakan membuat iklan di Facebook untuk mempromosikan akun Google+ dan iklan itu kemudian dihapus oleh  Facebook. Saya pikir tidak butuh waktu lama bagi facebook membuat kata Google+ tidak bisa diketika di jejaring tersebut.

Ada apa Mark? Apakah kamu takut jejaring sosial lain lebih banyak digunakan? Seperti Yuwie yang menawarkan uang? Apakah Yuwie sedemikian menakutkan? Google+ apakah kalian ramalkan bisa menjadi jejaring terbesar dan lebih meraksasa karena lebih privasi daripada facebook? Bagaimana dengan twitter? Apa bedanya twitter dengan Google+ atau Yuwie?

Kita bahkan bisa melihat bagaimana sejajarnya posisi facebook dan twitter yang saling menguatkan. Pasti Bujang Dare pernah mampir ke sebuah website yang menyediakan ‘Sign In Via Facebook/Twitter’.

Membaca banyaknya pemberitaan miring tentang facebook membuat saya mulai berpikir. Apakah saya harus menghapus akun facebook saya?

Facebook dan twitter juga wajib waspada karena banyaknya pishing yang menyusup ke jejaring sosial ini. Semoga tidak di Google+, karena saya mulai ingin memanfaatkannya dengan lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan