Langsung ke konten utama

Menjual Senyuman

Beberapa hari yang lalu saya terperangah pada seorang pengemis. Dari banyak pengemis di dunia ini mungkin dia adalah satu-satunya pengemis yang saya katakan layak untuk mengemis di dunia ini. *eaaa*. Emangnya kenapa Nte?


Saya sebenarnya kurang suka dengan orang yang menjalankan profesi sebagai seorang pengemis. Apakah itu layak disebut profesi? Apa sajalah ya? Sebenarnya sih memberikan selembar seribuan tidak masalah bagi saya untuk membantu mereka tapi saya kurang prihatin kadang-kadang dengan keadaan mereka. Banyak yang memanfaatkan cacat di tubuhnya untuk mengharap belas kasihan dari orang lain. Sedikit sebal ada juga, karena banyak orang di dunia ini yang cacat tapi mereka mampu mengukir prestasi melebihi orang yang tidak cacat.

Bukankah Tuhan tidak pernah salah menciptakan manusia? Di mata kita bisa jadi seseorang itu cacat secara fisik tapi mereka adalah ciptaan Tuhan, pastinya buat Tuhan semua fisik orang di dunia ini sempurna. Karena Dia ingin menciptakan manusia seperti itu adanya.

Balik lagi ke masalah seorang pengemis yang menurut saya pantas untuk menjadi pengemis walaupun sesungguhnya masih banyak pekerjaan layak lainnya selain mengemis. Bagi saya dia bukan mengemis tapi dia menjual sesuatu. Senyuman. Iya dia ‘menjual’ senyuman. Saya ‘membeli’ senyuman itu dua kali di hari yang sama.

Saya bertemu dengannya ketika akan memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Dia duduk di parkiran dengan sebuah kantong putih di depannya. Kantongnya berisi uang logam dan lembaran ribuan. Saya tidak sempat melihat lebih jauh terdiri dari uang ribuan berapa saja. Tapi isinya banyak.

Dia berbeda dari semua pengemis yang saya temui. Dia tidak membuat saya mengeluarkan uang saat masuk dan keluar pusat perbelanjaan dengan menyorongkan wajah sedih memelas sehingga membuat saya tidak enak, tidak tega, dan banyak tidak-tidak lainnya yang kemudian menggerakkan tangan saya untuk merogoh saku mencari seribuan. Apabila tidak ketemu seribuan saya meletakkan uang logam lima ratusan ke tangannya. Saya tidak berani lagi memberikan uang logam dua ratusan ke pengemis mana pun soalnya pernah dicibir seorang pengemis ketika menerima uang tersebut.

Pengemis yang istimewa kemarin, saking istimewanya sampai menjadi sebuah postingan di sini, menjual senyumannya. Iya dia tersenyum ke arah saya dengan wajah polos dan menyodorkan kantongnya agar saya mau membagi uang saya di sana. Dia berhasil, saya memberi dua kali dan saya merasa sangat bahagia bisa memberikan uang saya. Sedikit sih, tapi dia menerimanya dengan sangat bahagia.

Dia berbeda karena saya tahu dia adalah anak luar biasa. Dari gerak tubuhnya dan tatapan matanya yang polos, saya tahu dia memiliki kelainan mental sejak lahir. Tapi kelainan tersebut yang memperlihatkan kepolosannya kepada saya. Entah dia mengerti atau tidak tentang apa yang dia lakukan sekarang. Buat orang lain dia bisa dikategorikan pengemis. Bagi saya, dia seorang penjual senyuman. Membagi kebahagiaan kepada orang yang mau memberinya uang. Sore itu hati saya menjadi sangat hangat dan bibir saya melengkungkan senyuman hingga pulang ke rumah. Karena saya telah membeli ‘dua paket senyuman tanpa sambal’.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan