Dengan Dongeng Aku Bermimpi





Saya: “Baca dongeng yuk!”
Fahd: “Mau nonton dulu.”
Saya: “Sudah malam, tidur ya? Kakak bacain dongeng.”
Fahd: “Mau nonton!”


Itu adalah cuplikan dialog yang terjadi hampir setiap malam ketika saya tidak begitu lelah sepulang kerja dan berniat untuk membacakan dongeng dari buku yang saya dapatkan dari beberapa kuis yang diadakan Indonesia Bercerita. Adik saya Fahd (5 tahun) sama sekali tidak tertarik dengan dongeng tersebut lagi. Dia sudah terpesona dengan semua tayangan yang ada di televisi.

Saya dan saudara saya yang lain akan menyerah dan memutuskan untuk mematikan lampu kamar, mematikan televisi dan membiarkan adik berbaring kemudian pelan-pelan tertidur. Tidak ada dongeng malam itu.

Saya jadi ingat kembali dengan masa kecil saya. Saat saya berusia empat tahun saya sudah diajarkan untuk membaca karena saya sangat ingin membaca buku cerita bergambar satu-satunya yang ada di rumah nenek saya.

Di kampung saya memang susah untuk mendapatkan buku cerita. Apalagi buku cerita bergambar. Ketika saya sudah bisa membaca, saya tidak tahu saya mengulang membaca buku tersebut berapa kali. Pokoknya ceritanya tentang jin. Bukan aladdin sih saya sudah lupa bagaimana ceritanya.

Semua dongeng yang saya baca atau saya dengar mengajarkan satu hal buat Hani kecil. Bahwa kita harus bermimpi tentang apa pun yang kita inginkan, karena hidup ini tidak ada indahnya tanpa mimpi. Impianlah yang membuat saya menjadi seperti sekarang ini. Dengan dongeng saya berani bermimpi dan percaya tidak ada yang tidak mungkin.

Siapa pun bisa jadi apa saja. Asalkan dia berusaha menggapai impiannya tersebut.

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini ketika saya membaca dongeng. Dongeng memperlihatkan seorang yang miskin tapi dengan kebaikan hatinya bisa menggapai sesuatu yang mustahil untuk dirinya.

Televisi memang membuat kecanduan. Saya miris melihat adik saya tidak tertarik untuk mematikan televisi dan membaca dongeng bersama saya.

Padahal dulunya, memiliki buku dongeng saja sudah sebuah kemewahan. Bisa meminjam juga menyenangkan.

Sekarang?

Saya bisa membeli buku dongeng apa saja di toko buku. Sayangnya, banyak buku yang beredar adalah buku komersil yang tidak mendidik yang laku keras seperti kacang goreng.

iris. Kenyataannya ada di depan mata saya, sedang bertumbuh besar bersama televisi dan semua kartun dan iklan di dalamnya. Semoga buku Peri-peri Bersayap Pelangi ini bisa membuatnya jatuh cinta dan kecanduan dengan dongeng sebelum tidur seperti kakaknya. Saya ingin Fahd menjadi seorang pemimpi yang berani menghadapi semua tantangan di dunia untuk menggapai impiannya tersebut.



NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes giveaway yang diadakan Pungky.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes