4 Juni 2011

Saat Matahari Terbit Kembali [Bagian Akhir]

Sumber gambar dari sini.

Sambungan dari sini.

“Aku…”

“Syawal? Bangun…Sudah pagi…”

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku yang agak silau karena cahaya matahari mulai nakal menatapku. Jendela itu seharusnya jangan dibuka…


“Mama?”

Perempuan yang selalu aku panggil mama itu terlihat lebih muda. Perasaan rambutnya tak lagi sehitam itu, banyak uban yang mulai menggerogotinya.

“Ayo bangun, sekolah, Baron sudah menunggumu di depan.”

“Baron?”

Aku menyibakkan selimut dan berlari menuju cermin. Rasanya ada yang salah dengan diriku. Tubuhku rasanya ringan dan gampang dibawa berlari. Tadi mama bilang apa? Sekolah? Baron? Cermin itu membuatku sangat kaget. Tak mungkin itu aku…Aku masih kecil? Perasaan aku sudah punya anak? Apa mataku yang salah liat?

“Ada apalagi sayang?”

“Nisya mana Ma?”

“Nisya?”

Aduh…bagaimana aku harus mengatakannya?

“Sudah ayo buruan mandi sana!”

******

Aku masih tak percaya. Tapi sekarang aku benar-benar sedang berjalan bersama Baron menuju sekolah dasar yang rasanya sudah lama aku tinggalkan. Pikiranku berputar-putar mengumpulkan semua kejadian yang aku alami kemarin. Terakhir aku dilamar oleh Putra dan itu belum selesai. Kenapa begini?

“Kamu dari tadi bengong terus Wal…”

“Aku pusing…”

“Ya iyalah pasti pusing, mamamu bilang kamu tidur dari matahari baru tenggelam, sampai matahari naik kemaren, terus bangunnya sekarang saat matahari terbit lagi. Itukan sama juga dua hari dua malam.”

“Dua hari dua malam?”

“Iya Wal.”

“Kok bisa?”

Aku menatap sungai yang terletak di belakang sekolah dengan kepala berdenyut-denyut. Rasanya sakit sekali. Sakit…

“Wal, nanti kalau sudah besar kamu mau tidak jadi pengantinku apa pun yang terjadi?”

Pertanyaan itu rasanya sudah pernah aku dengar. Kata-kata Baron waktu mengakui semua kesalahannya dan mengatakan kalau janji itulah yang membuat ia memperkosaku terngiang kembali. Aku harus jawab apa? Apa ini kesempatanku untuk memperbaiki kejadian yang tak diinginkan itu? Apakah ini kesempatan kedua dari Allah?

“Kamu mau kan?”

“Tidak ah…kita kan masih kecil tidak boleh ngomongin masalah jadi pengantin. Jangan sinting dong!”

******

Aku tiba di desa itu lagi. Desa tempat Putra tinggal. Aku ingin bertemu dengannya dan mengukir takdirku sendiri. Aku ingin ia jatuh cinta padaku untuk kedua kalinya jika yang aku alami kemarin bukan mimpi tapi benar-benar nyata.

“Kamu benar ingin menetap di pesantren ini Wal?”

Papa seperti tak ingin berpisah denganku. Anak semata wayangnya.

“Papa mau Syawal senang tidak? Nanti tiap liburan Syawal pasti pulang. Papa jangan sedih gitu dong.”

“Papa kan tidak bisa jauh-jauh dari anak Papa.”

“Mama harap nanti kalau kamu merasa tidak betah kamu langsung bilang aja, mama sama papa tidak marah kok kalau kamu ingin pindah lagi ke sekolahmu yang lama.”

Aku tak mendengarkan kata-kata mama dan papa karena mataku terpaku pada satu sosok kecil yang rasanya sangat kukenal. Apa mungkin wujudnya seperti itu pada masa kecilnya? Aku tak bisa mengingat foto di album dengan jelas. Apalagi fotonya banyak yang sudah rusak. Aku harus berani.

“Putra?”

Suaraku yang cempreng memanggil sosok yang sedang menimang bolanya di pinggir jalan. Ia menoleh. Untuk pertama kalinya mataku bertatapan dengan matanya. Mata itu…aku tahu mata itu meskipun mata itu tak pernah menatapku langsung. Tapi aku yakin itu mata Putraku.

Selamat jalan papa, mama, aku akan menjalani hidupku di sini dan membuat semuanya lebih indah dari mimpiku itu.

“Putra, nanti kalau sudah besar aku jadi pengantinmu ya?”

???

Selesai

Related Posts

Saat Matahari Terbit Kembali [Bagian Akhir]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).