Saat Matahari Terbit Kembali [Bagian Satu (1)]

Sumber gambar dari sini.



Sambungan dari Saat Matahari Merangkak Naik.


Baron duduk berhadapan dengan papa. Aku tahu ini hanya antara laki-laki. Aku diam di kamar bersama bayiku. Aku ingin duduk membicarakannya bersama mereka. Tapi papa belum tentu mengizinkan. Mama dan emak juga sedang pergi. Aku tak mungkin turun begitu saja kemudian duduk di antara mereka. Tidak sopan.


“Nisya sudah tidur belum?”

Ternyata papa sudah berada di depan pintu kamarku. Mungkin Baron sudah pulang.

Sudah, Pa.

“Temui Baron, ada yang ingin ia katakan padamu.”

Aku merapikan jilbabku sedikit kemudian meniti tangga menuju ruang tamu. Baron duduk di kursi yang paling ujung. Aku duduk di ujungnya yang lain.

“Papamu sudah tak lagi marah padaku soal masa lalu kita dulu.”

“Lebih baik kamu ke inti permasalahannya saja.”

“Aku ingin kita menikah.”

“Berapa kali harus aku katakan Baron? Kita tak bisa menikah, aku tidak mau menikah sama kamu.”

“Bagaimana dengan masa depan anak kita nanti?”

“Nisya akan baik-baik saja dan aku tidak melarangmu untuk menemuinya. Kamu boleh datang kapan saja kamu mau. Tapi lupakan masalah pernikahan itu.”

“Apa kamu masih mencintai Ali?”

Aku menggelengkan kepalaku. Aku sudah lama melupakan cinta itu karena aku tahu semua ini terjadi agar aku menemukan jodohku yang sebenarnya. Mungkin bukan sekarang yang jelas aku sudah yakin kalau Ali bukan malaikat yang dikirimkan untukku.

“Bukan itu masalahnya Ron.”

“Kamu mencintai orang lain?”

Putra..

Sayangnya cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan. Putra tak pernah sekalipun mencintaiku. Aku tak lagi berharap lebih dalam hidupku karena aku ingin membesarkan Nisya.

******

“Ninta punya sesuatu buat Nisya.”

Aninta memberikan sebuah benda mungil berwarna merah jambu untukku. Nisya masih terlelap di pangkuanku. Ternyata sebuah pita yang terbuat dari kain.

“Kemarin Aninta ikut Kak Utari ke rumah temannya, di sana diajarin macam-macam. Tapi Ninta hanya bisa buatin ini untuk Nisya. Nanti kalau kami ke sana lagi Ninta akan sungguh-sungguh mempelajari cara membuat kerajinan yang lain. Nanti semuanya buat Nisya.”

Sekarang luka itu sudah mengering bahkan hampir tak berbekas. Hanya kenangan tentang Ali, Baron, dan Putra yang masih memenuhi relung hatiku. Hidup memang penuh misteri sampai-sampai aku tak mengira semuanya jadi seperti ini. Aku pikir hidupku akan lurus menuju akhir yang bahagia. Kerikil yang tak pernah terpikir olehku kini terinjak dan mengukir luka di kaki. Aku tak bisa berhenti. Langkah itu harus terus dilanjutkan karena aku masih bernyawa. Selama matahari masih berada di orbitnya dan bumi di putarannya aku tetap berjuang untuk aku dan anakku. Nisya adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku.

“Mama Syawal tahu tidak?”

“Tahu apa?”


“Waktu Mama Syawal pergi, Mama Tisya datang ke sini. Ia membawakan Ninta banyak kado. Ternyata Mama Syawal benar, Mama Tisya sayang sama Ninta.”

“Dia datang?”

Aku hampir tak percaya dengan pendengaranku. Jarang terjadi ibu yang telah meninggalkan anaknya di panti ini akan kembali dan menemui anaknya.

“Sama paman Ninta, Pak Ahmad, supirnya Mama Syawal. Ternyata Mama Tisya adik Pak Ahmad. Ninta senang banget waktu Mama Tisya datang.”

Adik Pak Ahmad? Jadi Tisya orangnya? Orang yang akan menjadi pendamping Putra? Kemungkinan lain pasti masih ada. Siapa tahu Pak Ahmad memiliki adik yang lain yang sedang studi di Jogja.

“Tapi Mama Tisya tidak ada di sini, dia udah pergi. Kata paman Ninta tidak bisa bersama-sama dengannya sekarang. Mama Tisya sakit parah.”

Tisya kamu ada dimana sekarang? Apa kamu menemui Putra? Apa kalian sudah merencanakan pesta pernikahan itu? Aku hanya menggigit hatiku yang semakin perih. Aku mencintaimu Putra. Aku sudah berupaya untuk melupakan itu semua tapi rasanya pedih mengingat beberapa bulan yang telah kita lewati bersama.

“Ninta nanti akan tinggal dengan nenek di kampung. Kata Mama Tisya, Ninta akan ketemu sama banyak orang yang akan menyayangi Ninta di sana.”

“Trus Mama Tisya kemana sekarang?”

“Ke tempat yang jauh, Ninta tidak diberitahu. Tapi kalau sudah besar Ninta akan ke sana untuk menemuinya.”

Utari tiba-tiba datang membawa semangkuk keripik singkong kesukaanku. Wajahnya berbeda dari biasanya. Ia menatapku penuh arti. Namun matanya melirik Aninta yang seakan-akan membuatnya enggan menyatakan yang sesungguhnya.

“Ninta mau mandi dulu, Kak Utari temanin Mama Syawal ya?”

Aninta meninggalkan kami. Berlari menuju pintu yang berwarna abu-abu di dekat pohon akasia yang semakin menua.

“Kak Syawal dengar apa saja dari Ninta?”

Dingin dan beku seperti es suara gadis yang terpaut beberapa tahun usianya dari Aninta.

“Mamanya sakit parah dan sekarang dia tidak tahu berada dimana.”

“Mamanya sudah meninggal, kanker payudara… Pak Ahmad tak sanggup mengatakannya.”

Ya Allah…anak sekecil itu sudah tak memiliki ibu lagi. Alangkah berat penderitaan yang harus ia rasakan saat ia beranjak dewasa dan mengerti arti hidup dan mati. Pertemuan dan perpisahan. Jatuh cinta dan patah hati. Air mataku merembes tak sanggup menahan perasaanku yang berkecamuk.

“Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam…”

Suara yang rasanya sangat aku kenal. Aku memutar kepalaku ke samping. Di sana! Putra? Ada apa kamu ke sini? Untuk menemuiku atau untuk menemui orang lain? Galuh juga datang? Beberapa bulan ini banyak yang berubah darimu. Tapi kamu makin cantik…

“Kak Syawal sudah lama di sini?”

“Udah, kalian ngapain ke sini?”

“Jemput Ninta. Almahrumah Kak Tisya yang minta.”

“Jadi dia akan tinggal bersama kalian?”

Galuh mengangguk. Aku akui memang itulah yang seharusnya terjadi. Karena tak mungkin Aninta hidup bersama nenek yang renta dan jarang di rumah. Aku saja yang dewasa masih harus melibatkan Putra dalam setiap kegiatan yang akan kulakukan.

“Abang juga masih ada urusan sama Kak Syawal.”

“Urusan?”

Galuh menarik tangan Utari dan membawanya pergi menjauh dari kami. Urusan apa yang Galuh maksudkan? Selama ini aku tak merasa ada masalah lain dalam hubunganku dengan Putra. Kalau masalah cintaku yang bertepuk sebelah tangan rasanya itu bukan masalah Putra tapi masalah hatiku yang tak bisa diajak berkompromi. Padahal aku sudah berusaha untuk menepisnya semua. Meskipun menyakitkan.

Putra tak beranjak dari posisinya yang masih berdiri. Ia memang betah berdiri. Apalagi kalau ada aku. Ia tak akan mendekat padaku sedikit pun. Wajahnya menunduk. Ia tak menatap wajahku apalagi mataku. Padahal aku tak merasa ada yang salah dengan tatapan mataku. Ada apa Putra?

Tangannya mengulurkan sesuatu. Sebuah kotak kecil. Ragu-ragu aku menerimanya sambil menatap wajah yang tetap menunduk itu. Aku tak berani membukanya.

“Apa ini?”

“Bukalah.”

Sambil masih mendekap Nisya di dada kiri aku membukanya dengan kedua belah tanganku. Sebuah cincin…hampir terjatuh dari tanganku.

“Untuk apa?”

“Maukah kamu menjadi istriku? Aku tak bisa menahannya lagi, aku tak mampu untuk melewati prosedur orang tuamu. Aku ingin mendengarnya langsung darimu.”

“Apa karena Tisya sudah meninggal?”

“Tisya?”

“Calon istrimu, adiknya Pak Ahmad.”

Kepalanya menggeleng beberapa kali.

Aku tak mau menjadi pelampiasan karena orang yang seharusnya menjadi istrimu telah meninggalkanmu untuk selamanya. Kamu pikir aku sampai sebegitu rendahnya? Sampai-sampai aku hanya menjadi ban serep untukmu? Aku ingin menampar wajahmu Putra…Untungnya kamu berdiri di sana, aku tak mau membangunkan Putriku dengan amarahku yang meledak-ledak. Aku harus menahannya.

“Calon istriku bukan Tisya, tapi adiknya yang bungsu, Allisya. Aku sudah membatalkannya. Aku tak mampu menikahi gadis itu. Aku tak pernah mencintainya. Aku jatuh cinta hanya sekali dan itu  pun denganmu.”

“Aku pikir perasaanmu padaku biasa-biasa saja selama ini. Tak ada yang khusus, kamu juga memperlakukanku selayaknya, tak ada istimewa-istimewanya. Kenapa baru sekarang? Kenapa?”

“Maaf, selama ini aku harusnya tak menyembunyikan perasaanku. Seharusnya aku jujur pada Ali, tapi aku tak mau kehilangan sahabat karibku. Dia sangat mencintaimu, mana mungkin aku menyatakan cintaku pada perempuan yang sangat ia cintai dan ia titipkan padaku. Aku tak mau jadi pagar yang memangsa tanaman yang seharusnya ia jaga.”

Aku jadi ragu dengan semua ini. Kalau ini memang nyata kenapa harus seindah ini. Aku tak percaya…Pasti ada yang salah. Pasti ada yang tidak beres. Aku memang mencintainya tapi apa mungkin ia akan benar-benar membalas cintaku juga? Segampang itu? Memangnya ini cerita sinetron? Selalu berakhir dengan bahagia. Aku bukan Cinderella yang bersepatu kaca.

Bersambung ke sini.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes