Saat Matahari Merangkak Naik [Bagian Lima (5)]

Sumber gambar di sini.

Sambungan dari sini.


Air mata itu semakin kutahan. Aku tak ingin ada satu orang pun yang menyadari cinta bertepuk sebelah tangan ini. Allah kenapa cobaan ini bertubi-tubi datang padaku? Padahal aku merasa Putra juga menyayangiku.


“Syawal!”

Itu suara papa. Suara yang beberapa bulan sudah tak kudengar lagi. Emak dan mama menghambur memelukku. Pasti mereka sangat merindukanku. Maafkan aku yang telah meninggalkan kalian tanpa kabar sama sekali…

“Bayinya cantik sekali.”

“Mirip dengan Syawal.”

Mama dan emak sibuk menyentuh pipi bayiku yang tembem. Papa mendekatiku dan memegang tanganku. Menyentuhkan tangan kananku ke pipinya yang mulai keriput.

“Papa kangen sama kamu Wal.”

Untuk pertama kalinya papa terlihat hangat. Padahal biasanya dia sangat dingin padaku. Setiap kata-katanya hanya berisi perintah dan larangan yang harus aku patuhi.

“Syawal juga Pa.”

“Terima kasih sudah menjaga Syawal selama ini Li.”

“Bukan Ali yang menjaga Syawal, Pa. Tapi Putra, sekarang ia ada di luar bersama adiknya dan Baron.”

“Baron yang dulu?”

Aku mengangguk pelan.

“Kenapa dia ada di sini?”

“Dia masuk pondok pesantren di sini, Pa. sudah beberapa bulan tapi kami baru bertemu tadi. Dia minta maaf atas semua kesalahannya, Pa.”

******

Aku menggendong bayiku memasuki mobil papa yang beberapa menit lagi akan berangkat. Semuanya sudah naik, tinggal aku saja. Aku menatap Putra dengan pandangan berharap ia mau mengerti tentang isi hatiku. Tapi aku tahu. Sekarang sudah tak ada lagi yang perlu aku harapkan darinya toh ia akan menikah dengan orang lain.

“Makasih untuk semuanya, Putra.”

Aku hanya mampu mengucapkan terima kasih. Setelah mengenalnya aku punya cahaya lagi dalam hidupku. Putra mengajariku untuk lebih menghargai kesempatan yang aku punya.

“Sama-sama…”

Aku berharap kata-kata lain yang kau ucapkan Putra, bukan terima kasih. Lebih dari itu. Mungkin ini kesempatan satu-satunya yang kita miliki, esok pasti semuanya sudah berbeda. Tak lagi begini dan mungkin saat itu kau sudah bersamanya. Gadis yang telah mencuri hatimu.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes