2 Juni 2011

Saat Matahari Merangkak Naik [Bagian Empat (4)]


Gambar pinjam di sini.

Sambungan dari sini.

Dua jam kemudian aku bisa melihat wajah bayi itu. Bayi perempuan yang sangat cantik. Mirip siapa ya? Aku bahagia melihatnya, aku bahkan hampir lupa anak itu berasal dari mana. Naluriku sebagai seorang ibu membuatku tak memikirkan semua itu. Aku sangat mencintainya. Bayi yang lahir dari rahimku sendiri.


Tiba-tiba bayangan emak, Papa, dan mama berkelebat di pikiranku. Mereka pasti senang melihat bayi yang belum sempat kuberi nama ini. Suster kemudian meletakkan bayi itu di tempat tidur yang mungil di sampingku. Aku masih tak bisa mengalihkan perhatianku dari wajah tidurnya. Putra, Baron, dan Galuh masuk ingin melihatku. Aku memberikan sebuah senyuman untuk mereka.

“Bayinya perempuan…”

Putra dan Galuh tak menyahut mereka hanya menatap Baron yang kemudian mendekati bayiku. Aku tak menghalanginya, bagaimana pun juga dia adalah ayah biologis dari anak itu. Biarlah ia menyayanginya.

“Cantik seperti kamu Wal.”

Putra menarik Galuh menuju pintu keluar.

“Putra…apa kamu tidak ingin melihat bayiku? Pasti dia senang bisa melihat orang yang selama ini telah menjaganya selama ia dalam kandungan.”

Baron memberikan isyarat agar Putra mendekati bayi yang masih terlelap dalam mimpi. Mungkin ia masih berpikir ia berada dalam perutku. Lucunya… Putra pelan berjalan menuju ranjang bayi itu. Ia menatap anakku dalam sekali. Apa artinya Putra? Kenapa tak kau tatap mataku seperti itu agar aku tahu apa isi hatimu sebenarnya. Aku ingin meyakinkan hatiku sendiri bahwa aku mulai mencintaimu.

Pintu kamarku terbuka. Seseorang yang sangat kukenal menyerbu ke dalam. Sudah lama tak bertemu Ali. Tak banyak yang berubah dari dirimu. Masih mengagumkan seperti dulu. Kenapa kamu ada di sini? Putra menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat. Mereka saling kenal? Sejak kapan?

“Terima kasih untuk bantuanmu Tra.”

“Sama-sama Li, sudah kewajibanku untuk membantumu.”

Aku masih tak mengerti. Kenapa seperti ini?

Ali langsung mendekati dan memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah jambu. Aku yang masih berbaring ragu-ragu menerimanya. Aku sudah menduga isinya sebuag cincin. Cincin yang sangat kukenal. Sudah sembilan bulan terlewat tapi cincin ini masih kamu simpan Li? Bukankah cincin ini hanya mengingatkanmu pada kenangan buruk kita?

“Maaf aku tak bisa menerimanya.”

Aku meletakkannya di tepi ranjang. Ali selalu terlihat tenang menghadapiku. Tapi aku sangat yakin sekarang, aku tak bisa mencintainya seperti dulu. Allah tak menginginkan kita bersatu Li…makanya pemerkosaan itu terjadi. Aku bukan jodohmu.

“Aku yakin kamu akan menerimanya nanti.”

Ali meraih kotak cincin itu kembali. Ia menatap Galuh kemudian Baron. Nampaknya ia masih mengenali laki-laki yang membuat pernikahan kami batal. Emosinya langsung memuncak. Sebuah tinju melayang setelah mereka berhadapan. Baron tersungkur. Bibirnya berdarah.

“Hentikan!” aku menjerit lemas. Galuh segera mendekatiku. Ia terlihat cemas. Bibirnya komat-kamit tak jelas.

Ali masih tak puas. Putra menarik laki-laki yang masih emosi itu.

“Sudah Li…tidak ada gunanya…”

“Gara-gara dia aku gagal menikah Tra.”

“Kalau kamu mukulin dia berarti kamu tidak jauh beda dengan dia. Lagian sekarang dia sudah tidak seperti dulu Li. Sudah 6 bulan ia mondok di pesantren tempatku bekerja. Dia sudah bertaubat.”

“Mungkin Allah bisa mengampuninya tapi bukan aku, Tra.”

“Astaghfirullah Li ingat sama Allah, kalau Dia bisa memaafkan Baron kamu juga harus bisa memaafkan semua kesalahannya.”

“Pukul saja Li sampai aku mati juga tidak apa-apa. Aku sadar aku salah, aku menyesal telah menjadi perusak hubungan kalian.”

“Pukulan itu tidak akan mengubah apa-apa Li, kita tetap tidak akan menikah selamanya.”

Putra membantu Baron berdiri kemudian memberi isyarat agar Galuh mengikuti langkah mereka keluar dari kamar itu. Memberikan sedikit privasi untuk kami berdua.

“Aku mohon Wal, menikahlah denganku.”

“Tidak akan pernah terjadi Li, aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang.”

“Tapi bagaimana denganku?”

“Bagaimana denganmu? Aku cuma bingung kenapa kamu tahu aku ada di sini? Kamu tinggal di mana? Tahu dari siapa? Putra? Apa hubungan kalian berdua?”

“Aku akui selama ini aku yang merencanakan agar Putra menjagamu. Aku sudah lama mengenalnya. Dulu kami tinggal di pondok pesantren yang sama. Pondok yang sekarang menjadi tempat Putra bekerja. Hanya sebuah kebetulan kalau Pak Ahmad berasal dari sini. Waktu kamu merencanakan kabur bersama Pak Ahmad, ia telah menceritakan semuanya pada kami. Papa dan mamamu juga sudah tahu. Makanya kami tidak penah mencarimu karena Putra selalu mengirimkan kabar tentangmu.”

“Pantas saja Putra begitu baik denganku, berarti dia bukan adik ipar Pak Ahmad?”

“Baru calon karena Putra akan menikah dengan adik Pak Ahmad yang sekarang sedang kuliah di Jogja.”

Jadi seperti itu Putra? Semua yang kamu lakukan untukku bukan karena keikhlasan tapi karena perintah dari sahabatmu sendiri. Kebaikan yang membuatku mulai mencintaimu. Apa kamu tidak merasakan hal yang sama? Untuk kesekian kalinya hatiku berderai. Sosokmu yang bersahaja ternyata tak lebih dari seorang pembual belaka. Kepingan hati yang telah tertata rapi kini tak jelas lagi bentuknya. Remuk bersama jiwaku yang sepi.

Bersambung ke sini.

Related Posts

Saat Matahari Merangkak Naik [Bagian Empat (4)]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).