Saat Matahari Merangkak Naik [Bagian Tiga (3)]





Gambar pinjam di sini.

Sambungan dari sini.

Kandunganku telah memasuki usia sembilan bulan. Ibu Pak Ahmad sangat baik padaku. Adik iparnya juga menjagaku sungguh-sungguh. Tak pernah aku merasa ditelantarkan. Selalu ada yang bersedia membantuku. Aku bahkan sering periksa ke bidan. Kandunganku normal dan aku tak perlu merisaukan apa-apa. Nanti setelah bayiku cukup kuat aku akan kembali. Aku tersenyum sambil memandang bunga-bunga yang tumbuh di halaman dari jendela kamarku.


“Kak Syawal sudah siap?”

Galuh, adik Putra, menemuiku. Usianya baru 14 tahun. Duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas 3. Berambut pendek seleher, berperawakan sedang. Aku mengambil tasku dan mengikuti langkahnya. Hari ini kami akan berjalan-jalan ke pesantren tempat Putra bekerja. Hari Minggu Galuh memang menghabiskan waktunya untuk menemaniku. Ia tahu aku pasti bosan di rumah terus. Belum lagi ibu Pak Ahmad selalu pergi pagi-pagi dan pulang sore hari. Putra yang sering datang meskipun harus berangkat ke pesantren setiap hari. Galuh hanya hari Minggu sempat menemaniku karena ia sekolah sampai sore hari. Tapi sebagai gantinya setiap pagi ia selalu pamitan sebelum berangkat sekolah. Untungnya rumah mereka dekat dari rumah ini.

“Kita jalan kaki ya Kak.”

Aku mengangguk. Aku tahu jalan kaki baik untuk kandunganku dan Galuh pasti tak berani menggoncengku dengan sepeda mininya. Perutku terlalu buncit. Jalan di desa ini juga banyak lubangnya. Menyeramkan kalau harus digonceng dengan sepeda yang oleng ke kiri dan ke kanan. Lagipula jarak pesantren itu sekitar 40 menit apabila ditempuh dengan jalan kaki.

Jalanan yang rusak menyisakan batu-batu kecil di lubang yang menganga. Cahaya matahari pagi hanya sesekali menerpa wajahku karena pohon di sisi kiri kanan jalan sangat rimbun dan membuat suasana semakin sejuk. Angin meniup jilbab putihku. Sehari dalam seminggu aku baru bisa menikmati indahnya hari. Aku tak pernah memiliki keberanian untuk bergaul dengan warga desa sini. Apalagi aku sudah sering mendengar warga mencemoohku sebagai perempuan tidak benar yang telah mengandung anak di luar nikah. Aku memang tak boleh menyalahkanpendapat mereka karena mereka tak tahu apa-apa tentangku, tentang Baron, tentang bayiku.

Halaman pesantren itu sangat luas. Isinya hampir semua laki-laki. Hanya beberapa wanita yang terlihat membersihkan lantai. Mungkin mereka pekerja bukan anak pondok. Galuh memegangi tanganku membawaku mengitari halaman yang penuh bunga-bunga dan pohon yang tinggi. Suasana hijau dengan ornamen warna bunga benar-benar menenangkan perasaan. Aku melihat Putra di antara banyak orang. Meskipun dalam kerumunan sebanyak itu aku melihatnya bercahaya terang dan menyilaukan.

“Bang Putra!”

Galuh melambaikan tangan padanya. Wajah itu tersenyum hangat. Entah kenapa ada debaran hati yang mengusikku. Apakah hatiku yang dulunya pecah berkeping kini mulai menyatu kembali dan menyulam cinta yang baru? Entahlah…aku tak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata. Namun aku tak berharap lebih karena aku bukan siapa-siapa. Putra berlari ke arah kami.

Wajahnya penuh keringat. Pasti ia habis melatih anak-anak pondok itu silat. Macam-macam keahlian dimiliki Putra sehingga ia bisa bekerja di pondok ini. Galuh mengeluarkan selembar tissue untuk abangnya. Laki-laki itu menerimanya dengan tangan kanannya. Mengelap dahinya beberapa kali. Ia tak menatapku. Matanya selalu memandang adiknya.

“Kak Syawal sejak kemarin ingin ke sini. Tapi dia malu, jadi Galuh yang mengajaknya, tidak apa-apa kan Bang?”

“Tidak apa-apa, bawa saja dia melihat-lihat sekeliling.”

“Abang temanin dong… Galuh juga malu…”

Putra hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil tersenyum. Adiknya memang sangat manja, maklum anak bungsu. Semuanya minta sama saudaranya.

Kami bertiga menyusuri halaman menuju kolam yang terletak di sisi kanan. Warna airnya agak gelap kehijauan dan banyak teratai yang sedang berbunga di sana. Berbagai macam warna teratai. Sepoinya angin membuatku terbuai.

“Syawal?”

Seseorang yang sedang menanam bibit pohon bangkit dari jongkoknya dan menatapku. Tidak!!! Aku sangat mengenalnya, aku tak ingin lagi ketemu dengannya. Ia telah mengubah hidupku 180 derajat dari yang seharusnya aku jalani dan kuharapkan. Baron? Kenapa kita harus bertemu lagi? Aku tak mau mengingat apa pun tentangmu, apalagi bertatap muka. Sudah cukup aku melihat seringaianmu waktu itu. Kamu puas kan telah menghancurkan hidupku?

“Baron…”

Aku merasakan bibirku bergetar saat mengucapkan nama itu. Sudah sekian bulan aku menguburnya dalam memori yang kukunci dan ingin kulempar keluar dari kehidupanku. Matanya menatap ke dalam mataku, tatapan yang berbeda waktu malam naas itu. Ia tiba-tiba berlutut di hadapanku. Ia memegangi kedua belah kakiku yang terbungkus rok batik berwarna coklat.

“Aku mohon maaf… Kamu boleh hukum aku Wal, aku ikhlas… Aku tahu dosaku begitu besar padamu. Tapi kuharap pintu maafmu masih terbuka untukku. Aku rela kita ke pengadilan lagi, aku rela di penjara, tapi kamu tahu kan kalau mereka sudah disogok ayahku. Mereka tak mau memenjarakanku. Biar kamu saja Wal yang menghukumku.”

Mata kubasah lagi. Apa benar yang kamu ucapkan Baron? Kamu menyesali semuanya?

“Aku menyesal…”

“Aku ingin tahu alasanmu Ron.”

Wajahnya yang tadi menunduk kini terangkat ternyata matanya juga basah. Apa itu air mata buaya atau air mata kancil Ron? Aku masih belum yakin dengan perubahanmu. Apa kemungkinan seorang Baron untuk kembali ke jalan-Mu masih mungkin ya Allah?

“Aku mencintaimu…”

“Cinta? Kenapa cintamu begitu jahat Ron? Cintamu membuat hidupku hancur… Aku tidak punya kebahagiaan lagi. Sudah hancur sejak malam itu. Kenapa seperti itu? Kenapa kamu perkosa aku?”

Suaraku menjerit. Isakanku semakin keras. Gauh segera menangkap tubuhku yang hampir limbung.

“Aku kecewa karena kamu akan menikah dengan Ali, apa kurangnya aku dibanding dia Wal?”

“Kenapa harus memperkosa? Kamu bisa bilang, kamu boleh datang ke rumahku dan melamarku. Bukan dengan cara jahat seperti ini.”

“Ayahmu menolakku Wal, jauh hari sebelum Ali melamarmu aku sudah datang ke rumahmu lebih dulu. Sejak dulu aku tak pernah melupakan janji kita, tapi saat Ali yang datang kamu melupakannya begitu saja.”

“Janji apa? Aku tak pernah berjanji apa-apa denganmu.”

“Mungkin kamu sudah lupa, hanya aku yang masih mengingatnya sampai sekarang. Di tepi sungai di belakang sekolah kamu sendiri yang bilang akan menjadi pengantinku apa pun yang terjadi. Aku  kecewa dan aku khilaf. Maafkan aku, aku akan melakukan apa saja asalkan kamu mau memaafkanku.”

Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali. Bukan gampang Ron untuk memaafkan kesalahan seseorang apalagi kesalahan fatal yang telah kamu lakukan.

“Mungkin mereka butuh waktu buat berdua Luh, lebih baik kita menunggu di pendopo.”

Aku refleks menarik tangan Putra. Aku takut berdua bersama Baron. Bayangan kejadian itu masih sangat kuat melekat dalam kepalaku.

“Jangan pergi, kalian di sini saja.”

Putra menarik tangannya yang masih kupegangi pelan. Ia mengganggukkan kepalanya sebagai tanda ia akan bertahan di sini. Ia masih tak menatap mataku. Hanya wajahnya yang menghadap wajahku tapi tidak pandangannya. Ia selalu mengalihkan matanya apabila aku menatap matanya.

“Aku serius Wal, aku sangat menyesal.”

“Sebelumnya aku mungkin memang pernah mengatakan seperti itu tapi seharusnya jangan dianggap serius. Waktu itu kita kan masih sangat kecil. Kamu hanya perlu pergi jauh dari kehidupanku. Jangan pernah datang lagi, karena…ah…aduh…perutku…”

Perutku terasa sakit sekali. Ada sesuatu yang mendesak-desak ingin keluar. Apakah bayi itu? Sakitnya luar biasa..tak terungkapkan dengan kata-kata.

“Apanya yang terasa sakit Kak?”

“Bayinya seperti akan keluar…”

Putra langsung menggendongku yang tak mampu lagi berdiri. Aku memegangi lehernya.

“Aku bawa mobil, pake mobilku aja.”

Semuanya serentak mengikuti langkah Baron menuju halaman belakang pendopo. Sebuah mobil avanza bernaung di bawah pohon yang rindang. Tergesa-gesa ia membukakan pintu mobil. Putra meletakkan tubuhku di kursi belakang dan Galuh ikut duduk di kursi itu. Ia memopang kepalaku di pangkuannya. Putra langsung mengambil tempat duduk di samping Baron. Keringatku bercucuran sepanjang perjalanan itu. Bulir-bulirnya memenuhi dahiku. Aku juga mengatur pernapasanku agar aku lebih tenang dan sakitnya tidak begitu terasa.

Bersambung ke sini.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes