2 Juni 2011

Saat Matahari Merangkak Naik [Bagian Dua (2)]


Pinjam gambar di sini.

Sambungan dari sini.



Beberapa bulan lagi kandunganku pasti akan terlihat oleh dunia. Aku malu kandungan ini akan diketahui oleh masyarakat. Pasti mereka menertawakanku. Terutama Baron, ia pasti sangat bangga…benihnya tumbuh subur di tubuhku. Apa tidak lebih baik aku menggugurkannya saja. Toh anak ini akan sangat sedih mengetahui kenyataan sebenarnya mengenai asal-muasalnya. Bayangan wajah emak berkelebat menghinggapi pikiranku. Aku tahu emak pasti sangat marah apabila kandungan ini kuaborsi.


Ingat Allah Syawal, aborsi itu dosa. Dosamu sudah sangat banyak, sekarang Allah masih memberimu kesempatan kedua agar kamu bisa kembali ke jalannya. Kenapa harus menambah beban dosa yang harus kamu pikul? Yach…aku harus mempertahankan kandungan ini. Bisikan hati kecilku menyadarkanku yang hampir gelap mata. Emak saja bisa mempertahankan keberadaanku. Pasti aku juga bisa!

Masih terlalu dini hari. Tapi ini adalah saat yang paling tepat untukku meninggalkan rumah. Aku harus pergi jauh. Jauh dari kehidupan yang membuat aku sangat tertekan. Aku hanya ingin bahagia bersama bayiku. Bayi yang akan memanggilku ibu. Jika emak dulu juga mengambil langkah untuk mengaborsiku pasti sekarang aku tak berada di sini. Di jalan yang akan membawaku pergi jauh dari rumah tempat aku telah dibesarkan oleh seorang ayah dan dua orang ibu.

“Jalankan mobilnya Pak.”

Pak Ahmad menekan gas dan mobil itu berjalan. Laki-laki itu nampaknya tak setuju dengan langkah yang kuambil.

“Saya bukan kabur Pak. Saya hanya pergi untuk sementara waktu. Saya akan kembali kalau mental saya sudah siap untuk menjalani hidup kembali bersama keluarga saya.”

“Bukan itu yang mengganjal dalam hati saya Nak Syawal. Keluarga saya pasti sangat senang menerima kedatangan Nak Syawal, tapi apa Nak Syawal sanggup hidup di kampung?”

“Oh.. itu masalahnya? Saya pasti bisa Pak. Demi anak dan orang tua saya.”

Pak Ahmad tak memperpanjang perbincangan antara kami. Hatinya mungkin masih penuh kergauan tapi berbeda dengan hatiku yang sudah mantap untuk bergabung dengan keluarganya. Dulu aku pernah mengunjunginya pada saat lebaran. Keluarganya sangat baik. Lagipula di rumah itu hanya ada ibu Pak Ahmad. Istri dan anaknya sudah lama meninggal dalam kebakaran.

Seorang laki-laki menyambut kedatangan kami di terminal bus. Berperawakan sedang dengan kulit sawo matang. Wajahnya tak begitu jelas karena matahari masih terlelap bersama bulan tadi malam. Ia membantuku mengangkat tas.

“Saya hanya bisa mengantar sampai di sini. Ini adik ipar saya, dia yang akan mengantar Nak Syawal sampai tujuan.”

Ada rasa was-was pada laki-laki yang masih seusiaku. Bagaimana kalau ia berpikiran nista seperti Baron? Astaghfirullah…kenapa pikiranku sejahat itu. Seharusnya aku mempercayainya karena Pak ahmad mengamanahkan keselamatanku padanya. Setidaknya aku bisa menanyakan namanya dan mungkin aku bisa memperkenalkan namaku padanya.

“Putra jaga Nak Syawal baik-baik ya? Nyawamu taruhannya…”

Pak Ahmad menepuk bahunya sesaat sebelum meninggalkan kami. Jadi namanya Putra. Segagah perawakannya. Pasti pekerjaan yang ia tekuni sangat berat sehingga tubuhnya berotot kekar seperti itu.

“Mari ikut saya.”

Aku mengikuti langkahnya menuju bus yang berderet di terminal yang sudah mulai ramai itu. Tak ada wanita yang kutangkap dari mataku. Semuanya laki-laki. Mungkin aku terlalu dini hari datang ke sini. Langit saja masih pekat. Ayam pun tak ada satu yang berkokok. Suara mesin bus yang dihidupkan sedikit mengusir dingin dan sepinya pagi ini. Jaket yang kukenakan tak mampu mengusir dinginnya hawa yang berkisar di dekatku.

Putra menaiki satu di antara bus itu. Aku hanya melihat warnanya yang putih susu agak kusam. Entah warnanya seperti itu atua catnya yang terlalu lama tak diganti. Aku kemudian ikut naik dan duduk di kursi yang ditunjuk laki-laki yang masih merapikan tasku di rak.

“Duduklah…”

“Terima kasih.”

Setelah aku duduk, ia ikut duduk di sebelahku. Memberikan perlindungan padaku dari tangan-tangan jahil yang mungkin akan mencolekku. Aku duduk di dekat jendela sehingga aku bisa melihat pemandangan selama perjalanan nanti. Beberapa penumpang mulai memenuhi kursi kosong yang tersisa. Tak lama berselang bus itu bergerak meninggalkan terminal. Aku menguap beberapa kali. Aku benar-benar mengantuk. Sekejap saja mataku sudah tak mampu untuk menahan godaan, aku terlelap tanpa beban padahal aku pergi tanpa meninggalkan alamat yang jelas. Aku hanya meninggalkan selembar kertas di ranjang. Isinya beberapa kalimat yang akan membuat orang tuaku tenang.

Assalamualaikum
Syawal pergi untuk menenangkan diri. Syawal tidak akan aborsi atau bunuh diri. Syawal janji… Syawal akan kembali bersama bayi ini. Syawal akan baik-baik saja, jangan cari  Syawal.
                                                                                      wassalam
                                                                                      Syawal

Entah sudah berapa lama aku terlelap ke alam mimpi. Aku tersadar oleh matahari yang membelaiku dengan kehangatannya. Sejenak aku agak terkejut saat menyadari aku tertidur di bahu Putra. Sejak tadi laki-laki itu membiarkan kepalaku membebani bahunya? Napasnya menyapu wajahku yang sangat dekat dengan wajahnya. Tatapan kami bertemu. Sekarang gurat wajahnya sangat jelas. Aku jadi salah tingkah. Perasaan apa ini?

“Sudah bangun? Haus? Lapar?”

Aku mengangguk. Sebuah kantong plastik berwarna hitam ia keluarkan dari tasnya. Isinya macam-macam makanan dan minuman. Aku meraihnya ragu-ragu.

“Dari Pak Ahmad, makanlah…”

“Kamu?”

“Aku lagi puasa.”

Puasa? Aku bergumam dalam hati. Laki-laki ini berpuasa? Hari apa ini? Senin? Aku bahkan tak ingat ini hari apa. Pikiranku memang sedang kacau. Sambil menikmati pemandangan sawah dari jendela bus aku makan kue yang ada dalam kantong itu. Segelas minuman aku tetidak habis. Aku merapikan kantong itu dan memeganginya.

“Kamu tidak ingin tanya kenapa aku mau ke kampungmu?”

Putra tersenyum tipis.

“Setiap orang punya alasan pada saat mengambil suatu keputusan tapi tidak setiap orang harus tahu alasannya. Begitu juga alasanmu. Aku bukan siapa-siapa.”

Aku tak berniat membahasnya lebih jauh. Namun aku merasa sangat beruntung akan berada di tempat yang baru bersama orang yang sangat pengertian seperti dia. Namanya Putra, akan kuingat selamanya. Anakku akan mengenalinya suatu hari nanti. Aku merasa sangat tenang dan nyaman berada di sisinya.

Ali…maafkan aku yang tak mampu menjadi pendampingmu dan sekarang aku malah pergi makin jauh darimu bersama laki-laki lain. Hidup ini hanya masalah pilihan Li… dan ini adalah jalan yang ingin aku pilih bersama anakku. Suatu hari nanti kita pasti akan bertemu di persimpangan yang lain. Saat itu semuanya pasti sudah tak sama lagi. Aku bukan Syawal yang pernah kamu kenal. Aku akan menjadi seseorang yang baru yang memandang hidup ini tak seindah dulu. Namun hidup juga tak buruk, aku tak akan menyerah seperti waktu aku minum cairan anti nyamuk. Bukan segampang itu.

Bersambung ke sini.

Related Posts

Saat Matahari Merangkak Naik [Bagian Dua (2)]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).